Home Cari

nama nama tokoh syiah di indonesia - Hasil Pencarian

Jika Anda merasa hasil pencarian kurang akurat, coba deh cari dengan kata kunci yang berbeda :)

Nama Nama Tokoh Syiah Di Indonesia


We provide another result for Nama Nama Tokoh Syiah Di Indonesia at other webs or blogs around the world. This page powered by Google, Yahoo and Bing. You can search anything or different keyword using our powerful Search Form below:


Article Nama Nama Tokoh Syiah Di Indonesia on other source:

0 79
Ali Hasan Al-Halabi, tokoh murjiah yang diandalkan BNPT untuk men-deradikalisasikan kelompok Islam di Indonesia.

Oleh : Muhammad Abdullah (Pemerhati isu-isu jihad Islam)

(Arrahmah.com) – BNPT mendatangkan tiga ulama Timur Tengah dalam rangkaian program deradikalisasi terhadap para narapidana “terorisme” di Indonesia. Ketiga ulama tersebut adalah Ali Hasan Al-Halabi (ulama kelompok salafi Yordania, dikenal luas sebagai tokoh Murjiah kontemporer), dr. Najih Ibrahim (mantan pendiri dan pimpinan Jama’ah Islamiyah Mesir, pernah mendekam 25 tahun penjara di era diktator sekuler Husni Mubarak) dan Hisyam An-Najjar (sumber situs Salafi Mesir menyatakan dia ulama kelompok salafi dan caleg partai Salafi An-Nur dari provinsi Alexandria, namun penerjemah BNPT menyatakan ia adalah mantan jubir resmi Jama’ah Islamiyah Mesir).

Para ulama BNPT berada di Indonesia dari 8-14 Desember 2013, ketiganya melakukan dialog dengan napi “terorisme” di LP Cipinang dan Nusakambangan, menggelar konferensi Internasional di UI Depok dan melakukan wawancara media dengan Metro TV.
Ada beberapa hal yang perlu dicatat dari kegiatan “deradikalisasi” ketiga ulama Timteng tersebut di Indonesia.

Ali Hasan Al-Halabi (ulama kelompok salafi Yordania, dikenal luas sebagai tokoh Murjiah kontemporer)

Pertama, kehadiran ketiganya di Indonesia adalah atas inisiatif dan undangan BNPT. Maka tujuan ketiganya, walau mereka menegaskan semata-mata datang karena rasa cinta dan menginginkan kebaikan bagi para napi “terorisme” dan kaum Muslimin Indonesia, tak bisa dilepaskan dari agenda dan program-program BNPT. Islam mengajarkan kita untuk menilai seseorang dari zhahirnya. Jika seseorang datang kepada kita di atas kendaraan perang musuh, sudah wajar bahkan seharusnya bagi kita untuk waspada, curiga dan menilai secara lahiriahnya.

Kedua, ketiga ulama tersebut berbicara tentang dua tema sentral; takfir (pengkafiran) dan tafjir (peledakan). Mereka berkelit bahwa mereka tidak sedang memposisikan para napi “terorisme” sebagai para teroris yang serampangan mengkafirkan kaum muslimin. Mereka berdalih bahwa takfir dan tafjir pada saat ini merupakan perkara yg menjadi gejala umum, bukan saja di Indonesia, namun juga di Mesir, Tunisia, Libya, Yordania, Aljazair dan lain-lain. Setiap hari atau setiap pekan ada penyerangan terhadap tentara dan polisi serta perusakan gereja di Mesir.

Frame berfikir mereka tersebut jelas-jelas versi Barat dan kelompok anti Islam. Selain juga sangat bertentangan dengan fakta di lapangan, terlebih di Mesir sendiri. Ketiga ulama tersebut masih terkungkung oleh frame Barat dan anti-Islam yang mendefinisikan terorisme sebagai “gerakan yang mengangkat senjata utk membela kaum Muslimin, tanah air kaum Muslimin dan menegakkan syariat Islam.”

Kasus napi “terorisme” di Indonesia misalnya, sangat beragam latar belakang dan faktanya. Contoh, sebagiannya adalah kasus jihad membela kaum Muslimin dari serangan Nasrani di Poso dan Ambon. Dalam Islam itu adalah jihad membela diri yang disyariatkan. Sebagiannya adalah kasus latihan “militer” di Aceh, dalam Islam terhitung I’dad yang juga diperintahkan Allah Ta’ala. Sebagian lainnya adalah juru dakwah yang mendakwahkan tauhid dan penegakan syariat. Sebagian lainnya adalah kasus anggota POLRI yang terlibat kasus jual beli senjata untuk mengisi kantong pribadi. Dan ada kasus-kasus lainnya yg beragam latar dan faktanya.

dr. Najih Ibrahim (mantan pendiri dan pimpinan Jama'ah Islamiyah Mesir, pernah mendekam 25 tahun penjara di era diktator sekuler Husni Mubarak)

dr. Najih Ibrahim (mantan pendiri dan pimpinan Jama’ah Islamiyah Mesir, pernah mendekam 25 tahun penjara di era diktator sekuler Husni Mubarak)

Memukul rata semua kasus sebagai “terorisme” dan dikait-kaitkan dengan takfir dan tafjir jelas tidak akan dilakukan oleh ulama yang obyektif, jujur, amanah dan paham realita.

Sangat wajar jika kemudian umat Islam mempertanyakan kepada ketiga ulama tersebut; Kenapa Anda tidak membicarakan penyerangan dan kebiadaban milisi Nasrani terhadap kaum Muslimin di Poso dan Maluku? Kenapa Anda tidak membicarakan hukum syariat dalam masalah latihan “militer”? Kenapa Anda tidak membicarakan latihan militer orang-orang Nasrani dan Syiah di Indonesia? Kenapa pula Anda tidak membicarakan kegigihan rezim Indonesia sejak dulu sampai sekarang dalam memerangi usaha penegakan syariat? Dan banyak pertanyaan lainnya yang sangat layak ditanyakan kepada ketiga ulama tersebut.

Setidaknya ketiganya berbicara hanya menurut data dan informasi sepihak dari pihak pengundang, BNPTN yg jelas2 sangat anti Islam.

Ketiga, tentang definisi terorisme dan sosok teroris. Pasca serangan 9/11 para pengamat, illmuwan dan warga negara Barat semakin banyak yang memahami bahwa kebencian kaum Muslimin dan peperangan kaum Muslimin (mujahidin atau biasa dituding “teroris”) terhadap Amerika, Israel, Inggris, Perancis dan Barat bukanlah karena faktor mereka sebagai warga negara Barat. Namun disebabkan kezaliman-kezaliaman dan serangan-serangan Barat sendiri terhadap kaum Muslimin. Utamanya sekali di Palestina, Irak dan Afghanistan.

Kebiadaban penjajah Yahudi yang menduduki Palestina dengan dukungan Inggris dan restu negara-negara adidaya dunia seperti Amerika, Perancis dan Rusia lewat PBB pada 1948 sampai saat ini. Pembantaian penjajah Yahudi terhadap jutaan kaum Muslimin Palestina, pengusiran penjajah Yahudi terhadap jutaan kaum Muslimin Palestina, agresi militer penjajah Yahudi ke Jalur Gaza, penistaan penjajah Yahudi terhadap kesucian Masjidil Aqsha di kota Al-Quds, penggusuran rumah-rumah warga Muslim Palestina dan penghancuran lahan pertanian mereka oleh penjajah Yahudi di Tepi Barat, blokade ekonomi penjajah yahudi terhadap lebih dari satu juta warga Muslim dan seterusnya adalah kejahatan-kejahatan terorisme.

Setiap hari seluruh dunia melihat dan mendengar langsung semua kejahatan terorisme penjajah Yahudi di Palestina tersebut. Negara-negara Asia dan Afrika dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 telah mengutuk keras penjajah Yahudi tsb sbg imperialis keji. Misi kemanusiaan kapal Mavi Marmara yang berusaha menembus blokade penjajah Yahudi terhadap Gaza ternyata beranggotakan banyak warga negara Barat sendiri. Itu bukti tak terbantahkan bahwa penjajah Yahudi adalah teroris sejati, gembong teroris, tidak berperi kemanusiaan dan tidak berperi keadilan, serta penjajahan yang harus dihentikan kejahatannya; tidak saja menurut ajaran agama Islam, namun juga menurut akal sehat dan hati nurani banyak warga Barat non-Muslim sendiri.

Bukankah lebih tepat apabila ketiga ulama Timteng tersebut mendatangi pemerintah penjajah Yahudi, beramar ma’ruf nahi mungkar kepada mereka. Dan menasehati mereka untuk menghentikan penjajahan, teror, pembantaian, pengusiran, perampokan dan blokade mereka terhadap penduduk muslim Palestina? Bukankah penjajah Yahudi itu lebih berbahaya terhadap kaum Muslimin dan lebih dekat jaraknya dgn negara asal ketiga ulama Timteng tersebut? Bukankah penjajah Yahudi “Israel” hanya berjarak puluhan kilometer saja dari Mesir dan Yordan? Ataukah gajah di pelupuk mata tidak nampak, kuman di seberang lautan justru kelihatan? Siapa sebenarnya teroris, yang lebih dekat, lebih berbahaya dan lebih wajib dihentikan tindakan terorismenya? Butuh kejujuran dan keberanian memang untuk menjawabnya.

Kempat, sudah sama-sama diketahui bahwa sejak awal diproklamasikannya negara penjahah Yahudi di Palestina, Amerika Serikat adalah negara pengayom dan pelindung setianya. Amerika menggelontorkan bantuan ekonomi, politik dan militer dalam jumlah yang fantastis kepada negara penjajah Yahudi. Negara penjajah Yahudi adalah anak emas dan sekutu utama AS dan Barat di Timteng, itu sudah berita yang diketahui seluruh dunia. Para pemimpin Amerika dan Barat sendiri yang menegaskannya. Dan hal itu dibuktikan lewat kebijakan lapangan AS dan Barat dari dahulu sampai sekarang. Semua rancangan resolusi DK PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada penjajah Yahudi dimentahkan oleh veto AS dan sekutunya. Tegasnya, negara penjajah Yahudi adalah teroris kakap yang aman dan nyaman melakukan terorisme karena dilindungi oleh negara-negara penjajah dan teroris super kakap, AS dan Barat.

Kita layak mengajukan pertanyaan serupa kepada ketiga ulama timteng tersebut; Bukankah lebih tepat apabila ketiga ulama Tiimteng tersebut mendatangi pemerintah penjajah AS dan Barat, beramar ma’ruf nahi mungkar kepada mereka, dan menasehati mereka untuk menghentikan dukungan, bantuan dan perlindungan mereka kepada negara penjajah teroris Yahudi?

Kelima, ketiga ulama timteng tersebut sering berbicara tentang Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Mereka memaparkan seorang wanita pelacur yang diampuni Allah dan masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Sebaliknya seorang wanita masuk neraka karena mengurung seekor kucing tanpa memberinya makan sampai kucing itu mati kelaparan.

Adalah benar Islam adalah rahmatan lil-alamin. Kedua hadits itu juga shahih, tercantum dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim. Pertanyaannya kemudian adalah, sikap pemerintah Mesir yang menanda tangani dan mengakui kedaulatan negara penjajah Yahudi lewat perjanjian Camp David; apakah itu bisa disebut sikap menyayangi jutaan kaum Muslimin Palestina yang dijajah, dibantai, diusir dan diteror oleh negara penjajah teroris Yahudi? Hubungan diplomatik pemerintah Mesir dan pemerintah Yordania secara resmi dengan pemerintah negara penjajah teroris Yahudi; apakah itu bisa disebut sikap menyayangi jutaan kaum Muslimin Palestina yang dijajah, dibantai, diusir dan diteror oleh negara penjajah teroris Yahudi? Dari sekian banyak negara Arab, hanya Mesir dan Yordania yg memiliki Dubes di Tel Aviv dan penjajah teroris Yahudi memiliki Dubes di Kairo dan Amman. Padahal ulama Al-azhar, ulama Palestina dan dunia Islam sejak 1930an telah memfatwakan haram bagi umat Islam palestina menjual tanahnya kepada Yahudi, sampai taraf hukum murtad bagi yang menjual tanah apalagi mengakui hak Yahudi untuk menjajah Palestina.

Sikap pemerintah Mesir yang membangun tembok beton utk mengisolasi Jalur Gaza dan menghancurkan lebih dari 80 % terowongan di perbatasan Mesir – Jalur Gaza yang selama ini menjadi satu-satunya jalur masuknya sembako dan obat kepada lebih dari satu juta kaum muslimin Jalur Gaza, apakah itu bisa disebut sikap menyayangi jutaan kaum Muslimin Palestina yang dijajah, dibantai, diusir dan diteror oleh negara penjajah teroris Yahudi?

Ketika pemerintah Mesir dan Yordania bersahabat dengan pemerintah penjajah teroris Yahudi; ; apakah itu bisa disebut sikap menyayangi jutaan kaum Muslimin Palestina yang dijajah, dibantai, diusir dan diteror oleh negara penjajah teroris Yahudi?

Bukankah lebih tepat apabila ketiga ulama Timteng tersebut mendatangi pemerintah Mesir dan Yordania sendiri, beramar ma’ruf nahi mungkar kepada mereka dan menasehati mereka untuk menghentikan pengkhianatan dan kebiadaban mereka terhadap penduduk Muslim Palestina?

Keenam, ulama Timteng tersebut mengaitkan motif kedatangannya dengan peristiwa penyerangan terhadap polisi/tentara Mesir dan perusakan gereja yang terjadi hampir tiap pekan di Mesir.

Sungguh ajaib frame berfikir dan berargumen mereka; menyalahkan reaksi tanpa mau melihat aksi, menyalahkan rakyat yang dizalimi tanpa mencegah penguasa sekuler yang menzalimi.

Sudah umum diketahui bahwa di Mesir kelompok Jama’ah Jihad pada 1990 an melakukan konfrontasi dengan polisi dan tentara Mesir yang menjadi alat kekuasaan rezim sekuler husni mubarak. Langkah itu berubah total sejak Jama’ah Jihad oleh Amirnya Syaikh Aiman Az-Zawahiri melakukan fusi dgn kelompok Syaikh Usamah bin Ladin pada 1998, sehingga terbentuk kelompok Tandzhim Qa’idatul Jihad yang lebih populer dengan nama singkat Al-Qaeda. Al-Qaeda menahbiskan diri sebagai gerakan jihad global, dengan langkah utama memerangi penjajah salibis Yahudi, AS dan sekutunya yang menjajah Palestina, Afghanistan dan Irak. Sejak itu tidak ada lagi operasi serangan mujahidin Mesir yg menargetkan polisi dan tentara Mesir.

Saat militer Mesir dengan dukungan Barat, Yahudi, sekuler dan Kristen Koptik melakukan kudeta yang menggulingkan Presiden Muhammad Mursi, terjadilah demonstrasi besar-besaran menentang kudeta militer. Massa demonstran adalah rakyat sipil Mesir yang mendukung presiden Mursi. Secara biadab tentara dan polisi Mesir membubarkan demonstasi damai tersebut dengan kekerasan senjata. Militer Mesir menembak mati lebih dari 1000 demonstran sipil di Rabiah Square, Nahdah Square, Alexandria dan berbagai wilayah lainnya. Militer mesir membunuh ratusan massa demonstran yang menunaikan shalat subuh di Rabiah Square, mayoritas mereka adalah wanita, anak-anak dan orang tua. Militer menyerbu rumah sakit lapangan, membakar jenazah para demonstran dan membunuh mereka yang cedera untuk menghilangkan bukti-bukti kejahatannya. Militer Mesir melakukan operasi militer di Kairo dan Sinai. Rumah-rumah penduduk dan masjid-masjid di Sinai ancur dirudal oleh helikopter tempur Mesir.

Seluruh dunia menyaksikan hal itu, karena media massa dan media elektronik Mesir dan Internasional meliputnya. Tak heran apabila junta militer Mesir lantas memberangus kebebasan pers dan menyampaikan pendapat. Stasiun TV Al-Jazeera cabang Mesir dan TV-TV Ikhwanul muslimin dibredel dan ditutup dengan cara kekerasan. Ikhwanul Muslimin dinyatakan organisasi terlarang, pemimpin-pemimpinnya ditangkap dan diadili dengan tuduhan penggerak terorisme, demonstrasi anti kudeta militer dianggap kejahatan terorisme dan jam malam diberlakukan.

Meski militer dan polisi Mesir ganas melibas gerakan demonstrasi damai, Ikhwanul Muslimin tetap menempuh jalur damai. Jama’ah Anshar Baitil Maqdis, kelompok jihad di Sinai, yang merespon kebiadaban junta militer tersebut dengan gerakan jihad. Itupun dengan menargetkan petinggi-petinggi junta militer yaitu mentri dalam negeri, markas intelijen perang di Sinai dan Ismailiyah. Setiap kali melakukan operasi jihad, mereka selalu merilis pernyataan resmi tertulis atau video.

Di luar itu, serangan dan perusakan bisa diduga adalah operasi intelijen junta militer Mesir sendiri. Perusakan gereja misalnya, pihak gereja Koptik yang jujur pun telah menyampaikan bahwa pelakunya bukan orang Islam atau massa demonstran anti kudeta militer.

Atau pelakunya adalah intelijen penjajah Yahudi, kelompok nasionalis sekuler atau Kristen Koptik sendiri untuk mendapatkan simpati dan liputan Barat. Hal seperti itu bukan hal asing bagi Yahudi dan Kristen Koptik yang licik.

Sungguh aneh, ulama Timteng itu meributkan serangan terhada polisi/tentara atau perusakan gereja, padahal sangat mungkin pelakunya bukan umat Islam Mesir sendiri. Sungguh ajaib, mereka ramai membahas hal itu sampai di Indonesia, sementara mereka tidak membahas kebiadaban dan kejahatan junta militer yang tidak berperi kemanusiaan terhadap kaum Muslimin yang notabenenya warga negara Mesir sendiri.

Sekali lagi, kita sangat layak bertanya kepada para ulama Timteng tersebut. Bukankah lebih tepat apabila ulama Timteng tersebut mendatangi pemerintah Mesir sendiri, beramar ma’ruf nahi mungkar kepada mereka dan menasehati mereka untuk menghentikan pengkhianatan dan kebiadaban mereka terhadap penduduk muslim Mesir? Siapa yang sebenarnya teroris; junta militer Mesir yg membantai ratusan warga Muslim Mesir tak berdosa ataukah Mujahidin Anshar Baitil Maqdis yang menyerang pejabat junta militer demi membela ratusan kaum Muslimin jelata yang dibantai secara biadab? Jika tidak ada api, mungkinkah ada asap? Jika junta militer Mesir tidak membantai ratusan Muslim Mesir yang tak berdosa, bukankah Anshar Baitil Maqdis akan fokus melawan penjajah teroris Yahudi saja?

Banyak pertanyaan lain yang bisa kita ajukan kepada ketiga ulama Timteng tersebut, namun setidaknya pertanyaan-pertanyaan di atas bisa menjadi renungan bagi kaum Muslimin secara umum. Kita tidak hendak mendiskreditkan ulama, namun kita harus bersikap kritis dan obyektif. Selain itu, ulama dituntut untuk bersikap jujur, amanah, tulus dan obyektif. Wallahu a’lam bi shawab. (arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/jihad/catatan-pemikiran-ulama-deradikalisasi-bnpt-timur.html

0 66
DSC 0157 Syiah Malaysia Sering Lakukan Pertemuan dengan Syiah Indonesia

Mengenal Syi’ah
Melacak Jejak Syiah di Negeri Jiran (1)

Sabtu 19 Muharram 1435 / 23 November 2013 10:30

Kelompok Syiah di Malaysia

TIDAK mudah untuk menelusuri jejak Syiah di Malaysia. Kebijakan pemerintah menetapkan Syiah sebagai aliran terlarang, membuat kelompok yang dinilai keluar dari Islam ini bersembunyi dari permukaan. Jika di Indonesia, Syiah bebas melakukan kegiatannya, maka jangan harap itu dapat ditemukan di Malaysia.

Penelusuran Islampos melacak jejak Malaysia dimulai dari Kedah. Di Negeri yang sudah menetapkan Syiah sebagai kelompok haram ini, tidak banyak masyarakat tahu di mana tempat aktivitas Syiah. Maklum saja, mayoritas warga Malaysia menjadikan Syafi’i sebagai mazhab utama, maka keberadaan Syiah tidak dapat diterima.

“Kami hanya tahu mereka ada, tapi kami tidak tahu dimana mereka berkumpul,” terang Abdurrahman, warga Kedah.

Ketua Persatuan Ulama Kedah, Abdullah bin Din, dalam Khotbah Jum’atnya (22/11) sempat menyinggung keberadaan Syiah di wilayahnya. Fenomena perkembangan Syiah di Utara Malaysia itu dinilai berada pada titik menghawatirkan. Meski Syiah sudah ditetapkan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) sebagai aliran sesat, tapi masih ada saja kelompok Syiah berkeliaran.

Ulama muda lulusan Universitas Jordan ini menceritakan kasus cerai seorang perempuan pemeluk Syiah. Perbedaan pandangan dalam melihat Islam, membuat dirinya memutuskan tali pernikahan dengan suaminya yang seorang muslim. Fakta ini, kata Abdullah, kian membuktikan bahwa ajaran Syiah menyimpang dari Islam.

“Akhirnya perempuan tersebut menikah dengan sesama Syiah,” kata Abdullah bin Din.

Dari berbagai pertemuan Islampos kepada sejumlah ulama dan jama’ah masjid di Kedah, muncul nama Abdullah Hasan. Pria ini dinilai tokoh yang bertanggung jawab dalam menyebarkan ajaran Syiah di Kedah dan daerah-daerah di Malaysia. Karena Kedah termasuk daerah basis Syiah di Malaysia. “Dia (Abdullah Hasan) adalah Ketua Syiah Kedah,” ujar seorang jama’ah masjid Al Hadi kepada Islampos.

Para jama’ah menunjukkan bahwa Abdullah Hasan tinggal di wilayah Pendang. Di sana warga mencium adanya pergerakan aktivitas Syiah. Pasalnya, banyak warga Syiah berkumpul di wilayah Pendang tempat kediaman Abdullah Hasan.

Berbekal informasi ini, Islampos memulai pengembaraan untuk menemui tokoh yang sempat membuat geger media di Malaysia ini. Kala itu, Abdullah Hasan melapor kepada polisi karena mengaku mendapat ancaman.

Memakan waktu sekitar 25 menit dari Masjid Al Hadi Kedah, Islampos akhirnya tiba di sebuah rumah. Rumah ini terletak langsung dipinggir jalan dan diapit sawah. Dari dalam gerbang rumah, tampak seorang pria paruh baya tengah berusaha mengeluarkan mobil. Laju pria berbaju koko dan berkopiah putih itu tertahan ketika mengetahui Islampos datang. Dari balik kaca mobil, matanya mengawasi kedatangan kami.

Tadinya, Abdullah Hasan enggan untuk meladeni wawancara. Namun, setelah Islampos mengenalkan diri sebagai sebuah media dan datang dari Indonesia, Abdullah Hasan membuka diri. “10 menit saja,” katanya. Gurat kepanikan terpancar dari wajahnya.

DSC 0147 Syiah Malaysia Sering Lakukan Pertemuan dengan Syiah Indonesia

Abdullah Hasan (Tengah)

Islampos kemudian dibawa masuk ke dalam sebuah bangunan serba hitam berbentuk aula. Dari luar aula inin didahului tulisan Husainiah Az-Zahra. Dengan panjang sekira 30 meter dan lebar 10 meter, di sinilah kelompok Syiah Kedah berkumpul. “Kami melakukan ibadah sehari-hari di sini,” terang Abdullah Hasan.

Abdullah Hasan menerangkan, statistik tidak resmi menyebutkan ada 350.000 pengikut Syiah di Malaysia. Namun, pria berumur 65 tahun ini menyebut angka itu terlalu besar. “Jumlah Syiah di Malaysia sebenarnya hanya 10.000,” terangnya.

Jika di Indonesia, kelompok Syiah memiliki organisasi resmi, maka di Malaysia tidak ada satupun organisasi resmi Syiah. Karena pemerintah Malaysia melarang pembentukan organisasi Syiah.

“Kita punya organisasi tidak resmi namanya Masyarakat Awam Minoriti Syiah,”

Dengan jumlah itu, aktifitas Syiah di Malaysia berkisar pada memperingati berbagai hari raya Syiah seperti Asyura, Idul Ghadir, lahir dan wafatnya para Imam. Abdullah Hasan juga menjelaskan Syiah di Malaysia turut memperingati perayaan maulid dan wafatnya Rasulullah.

Husainiah Az-Zahra sendiri berdiri di Kedah sejak tahun 1991 sehingga sekarang. Sekitar 200 pengikut berkumpul setiap kali mengadakan majlis secara besar-besaran di situ. Seperti dikutip sebuah media di Malaysia, Abdullah Hasan mengaku sekira 80 orang Syiah biasa hadir mengikuti pengajian pada siang hari.

DSC 0133 Syiah Malaysia Sering Lakukan Pertemuan dengan Syiah Indonesia

Husainiah Az-Zahra

Abdullah mengaku kebijakan pemerintah Malaysia melarang Syiah membuat pengikut Syiah sulit mempraktikan ajarannya. Tidak banyak daya dan upaya yang mampu membuat Syiah melakukan ekspansi di Malaysia. “Saya sendiri pernah dipenjara selama dua tahun,” ujar pria berjanggut lebat ini.

Dia juga mengaku sering bertemu tokoh-tokoh Syiah di Indonesia. Abdullah kemudian menyebut nama-nama Tokoh Syiah di Indonesia yang pernah dia temui di Jakarta.

“Saya pernah ke ICC (Islamic Cultural Centre). Saya bertemu Jalaluddin Rakhmat di Hotel Borobudur, Jakarta. Selian itu, saya bertemu Hussein Shahab dan Abdullah Beik,” akunya. Dalam pertemuan itu juga, Abdullah Hasan menyebut nama Umar Shihab dari Majelis Ulama Indonesia.

Selain bertemu tokoh-tokoh Syiah di Jakarta, Abdullah Hasan juga pernah melakukan pertemuan di Palu dan Toli-Tolo. Namun Abdullah Hasan tingak ingat siapa saja nama tokoh yang dia temui. “Lebih kurang ada 70 orang yang hadir dalam pertemuan itu,” jelasnya.

Redaktur: Pizaro

Source: http://www.islampos.com/syiah-malaysia-sering-lakukan-pertemuan-dengan-syiah-indonesia-87663/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=syiah-malaysia-sering-lakukan-pertemuan-dengan-syiah-indonesia

0 143
Amir Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Thalib Al Yamani

Oleh Ustadz Muhammad Thalib Al Yamani (Amir Majelis Mujahidin)

(Arrahmah.com) – Saat meliput aksi bubarkan Syiah di beberpa tempat di Jakarta, arrahmah.com mendapati beberapa aparat kepolisian yang tercengang mendengarkan orasi para ustadz yang membeberkan bahwa Syiah bukan Islam.

Saat itu para ustadz menjelaskan beberapa fakta dan data dari kitab-kitab yang ditulis para pendeta Syiah. Antara lain syahadat orang Syiah, rukun Islam orang Syiah, rukun iman agama Syiah, Al Qurannya, sikap mereka kepada istri Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam, dan para sahabat hingga nikah mutah. Semuanya berbeda dengan ajaran agama Islam.

“Wah bahaya juga ya Syiah,” ujar salah seorang polisi yang sembari bertugas menjaga aksi, menyimak uraian seorang ustadz tentang nikah mut’ah.

Sekelumit gambaran ini menunjukkan mayoritas masyarakat Islam Indonesia khususnya, tidak mengetahui kesesatan dan bahaya Syiah. Bahkan kaum Muslimin kebanyakan masih menganggap Syiah adalah Islam. Tentunya hal ini berbahaya.

Untuk itu pada kesempatan kali ini redaksi menurunkan tulisan Amir Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Thalib Al Yamani yang dengan gamblang menjelaskan 17 doktrin Syiah yang mereka sembunyikan. Membongkar kesesatan Syiah dari kitab-kitab yang ditulis para pendeta mereka. Hal ini sangat membahayakan aqidah kaum Muslimin. Bermanfaat, insaya Allah.

Ada tujuh belas doktrin Syi’ah yang selalu mereka sembunyikan dari kaum Muslimin sebagai langkah taqiyyah (menyembunyikan Syi’ahnya) sebagai berikut.

1. Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendakinya (al-Kulainî, Ushûlul Kâfi, hlm. 259, cet. India).

Jelas doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah Subhânahu wata’âlâ, surat al-A’râf [7]: 128: Sesungguhnya bumi ini semua milik Allah, dan diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Kepercayaan Syi’ah di atas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam dengan Allah dan doktrin ini merupakan akidah syirik.

2. ‘Ali bin Abî Thâlib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang zhahir dan yang batin sebagaimana termaktub dalam surat al-Hadîd [57]: 3: “Allah lah yang ada sebelum yang lain ada, yang tetap kekal setelah yang lain musnah, yang tampak ciptaan-Nya, dan yang tidak tampak Dzat-Nya.” (Rijâlul Kashi hlm. 138).

Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah yang berdusta atas nama Khalifah ‘Ali bin Abî Thâlib. Dengan doktrin semacam ini Syi’ah menempatkan ‘Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum Muslimin dan kesucian akidahnya.

3. Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah, dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushûlul Kâfi hlm. 83).

4. Amirul Mukminin ‘Ali bin Abî Thâlib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang gaib (Ushûlul Kâfi hlm. 84).

5. Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushûlul Kâfi hlm. 278).

6. Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu, maka tentu ia tidak berhak menjadi imam (Ushûlul Kâfi hlm. 158).

7. Para imam mengetahui apa pun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal gaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushûlul Kâfi hlm. 193).

8. Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi, para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushûlul Kâfi hlm. 40). Menurut al-Kulainî, Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin ‘Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu, karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi, imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu, menurut doktrin Syi’ah, Allah bersifat bada’ (Ushûlul Kâfi hlm. 232).

9. Para imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam bersifat maksum (bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat dosa). Allah menyuruh manusia untuk menaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya, dan mereka menjadi hujjah (argumentasi kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushûlul Kâfi hlm. 165).

10. Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Shallallâhu ‘alayhi wasallam (Ibid).

11. Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah ‘Ali bin Abî Thâlib, Husein bin ‘Ali, Hasan bin ‘Ali, dan Muhammad bin ‘Ali (Ushûlul Kâfi hlm. 109).

12. Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi, dan ditambah (Ushûlul Kâfi hlm. 670). Salah satu contoh ayat al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat al-Qur’an an-Nisâ’ [4]: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Yâ ayyuhalladzîna ûwtul kitâba âminû bimâ nazzalnâ fî ‘Aliyyin nûranmubînan“. (Fashlul Khithâb, hlm. 180)

13. Menurut Syi’ah, al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushûlul Kâfi hlm. 671)

14. Menyatakan bahwa Abû Bakar, ‘Umar, Utsman bin Affan, Muâwiyah, ‘Aisyah, Hafshah, Hindûn, dan Ummul Hakâm adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi; mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Barangsiapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yâqîn hlm. 519 oleh Muhammad Baqîr al-Majlisî).

15. Menghalalkan nikah mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah empat kali derajatnya sama tingginya dengan Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alayhi wasallam (Tafsîr Minhajush Shâdiqîn hlm. 356, oleh Mullah Fathullah Kasanî).

16. Menghalalkan tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, Imam Ja’far berkata kepada temannya, “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku” (Al-Istibshar III hlm. 136 oleh Abû Ja’far Muhammad Hasan ath-Thûsî).

17. Rasulullah dan para shahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi, sebelum hari kiamat, akan datang dan dia membongkar kuburan Abû Bakar dan ‘Umar yang ada di dekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan, kedua orang ini akan disalib. (Haqqul Yaqîn hlm. 360 oleh Mulla Muhammad Baqîr al-Majlisî).

Ketujuh belas doktrin Syi’ah di atas, apakah dapat dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alayhi wasallam dan dipegang teguh oleh para shahabat serta kaum Muslimim yang hidup sejak zaman tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak mengafirkan akidah Syi’ah ini, maka dia termasuk kafir.

Kitab-kitab tersebut di atas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab Hadis Imam Bukhârî, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasâ’i, Tirmidzî, Abû Dawud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, dengan tegas harus ditolak upaya-upaya untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip.

Syi’ah Zaidiyah sebagai golongan Syi’ah yang dekat dengan Ahlus-Sunnah sebenarnya tidak ada. Karena Zaid bin Zainul Abidin bin Husain di masa hidupnya menolak dijadikan Imam oleh golongan Syi’ah. Maka doktrin Syi’ah Zaidiyah yang diatas namakan Zaid bin Zainul Abidin bin Husain adalah doktrin dusta. (Naasikhut-Tawaarih juz 2 hal 590, oleh Mirza Taqii Khan)

Penilaian ulama Islam tentang Syi’ah

Untuk memperoleh bahan kajian secara mendalam, berikut ini kami sajikan kutipan pernilaian para ulama Islam tentang. Syi’ah.

1. Imam Ahmad bin Hambal

Ibnu ‘Abdil Qawwî berkata: “Imam Ahmad telah mengafirkan orang-orang yang menjauhkan diri dari shahabat, orang yang mencela ummul Mukminin ‘Aisyah, dan menuduhnya berbuat serong, padahal Allah telah mensucikannya dari tuduhan tersebut seraya beliau kemudian membaca ayat: “Allah menasehati kalian agar kalian tidak mengulang lagi perbuatan itu selama-selamanya, jika kalian benar-benar beriman.”[1]

2. Al-Bukhârî (wafat tahun 256 H)

Ia berkata: “Bagi saya sama saja, apakah shalat di belakang imam beraliran Jahm atau Rafidhah, atau shalat di belakang imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka.”[2]

3. Ibnu Katsîr[3]

Ibnu Katsir telah mengetengahkan hadis-hadis yang sah di dalam As-Sunnah dan berisikan sanggahan terhadap anggapan adanya ayat al-Qur’an dan wasiat kepada ‘Ali yang diklaim oleh golongan Syi’ah. Kemudian beliau memberi komentar sebagai berikut: “Sekiranya masalah (wasiat) sebagaimana yang mereka perkirakan itu ada, niscayalah tidak seorang shahabat Nabi pun yang akan mengingkari. Sebab, mereka ini merupakan manusia yang paling taat kepada Allah dan Rasul-Nya, baik selama beliau masih hidup maupun sesudah beliau wafat. Karena itu, sama sekali tidak benar kalau mereka berani mengambil ketetapan mendahulukan orang yang tidak didahulukan oleh Rasulullah dan mengakhirkan orang yang didahulukan oleh Rasulullah dengan ketetapannya. Barangsiapa menganggap para shahabat yang diridhai oleh Allah dengan anggapan semacam itu, berarti menganggap semua shahabat berlaku durhaka, dan bersepakat menentang Rasulullah serta melawan putusan dan ketetapan beliau. Siapa saja yang berani berpendapat semacam ini, berarti dia telah melepaskan tali simpul Islam, kafir terhadap ijma’ seluruh umat Islam. Dan menumpahkan darah orang semacam ini lebih halal daripada membuang khamr.[4]

Dengan sah terbukti dari pendirian golongan Syi’ah sendiri, sebagaimana tersebut di atas, bahwa mereka mempunyai anggapan, sesungguhnya Rasulullah Shallallâhu ‘alayhi wasallam telah memberikan suatu dekrit untuk ‘Ali, tetapi para shahabat menolak dekrit tersebut, dan karena itu mereka murtad. Inilah pendapat yang dilontarkan oleh Syi’ah dewasa ini dan para leluhur mereka dahulu.

4. Muhammad bin ‘Alî asy-Syaukâni: [5]

Beliau berkata: “Sungguh inti dakwah Syi’ah adalah menyimpangkan agama dan melawan syariat kaum Muslimin. Tetapi yang sangat diherankan dari sikap para ulama mereka, sebagai pemimpin agama, adalah mengapa mereka membiarkan orang-orang itu melakukan kemungkaran yang tujuan dan maksudnya sangat busuk. Orang-orang yang rendah tersebut ketika bermaksud menentang syariat Islam yang suci dan menyalahi, mereka melakukan cercaan terhadap kehormatan para penegak syariat ini, yaitu orang-orang yang menjadi jalan sampainya syariat tersebut kepada kita, menjerumuskan orang-orang awam dengan caranya yang terkutuk itu dan cara setan, sehingga mereka mengutarakan celaan dan laknat kepada Khulafâur Râsyidîn. [6]

[1] Q.s. an-Nûr [24]: ayat 17, ayat ini menjadi dasar pendapat Imam Ahmad, dalam buku karya Imam Abî Muhammad Rizkullah bin ‘Abdul Qawwî at-Tamimî (wafat tahun 480 H.): al Warqah 21.

[2] Imam Bukhârî, Khalku Af’alil ‘Ibad, hlm. 125.

[3] Beliau adalah tokoh ahli hadis serta mufti yang cemerlang—sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahâbî. Nama lengkapnya Abul Fisâ’ Ismail bin ‘Umar bin Katsîr. Asy-Syaukâni berkata: “Beliau punya banyak karangan berfaedah, antara lain: Tafsîr Ibnu Katsîr, yang dapat digolongkan tafsir yang terbaik, bahkan mungkin yang paling baik.” Wafat pada tahun 774 H. (Ibnu Hajar, ad-Durâru al-Kâminah, 1:373-374; Asy-Syaukâni, al-Badr at-Thali’, 1: 153).

[4] Bacalah halaman 751 dan 1125 dari ar-Risalah.

[5] Imam Muhammad bin ‘Alî bin Muhammad bin ‘Abdillah asy-Syaukâni, seorang ulama Yaman, pengarang kitab Fathul Qadîr, Nailul Authar dan lain-lain kitab-kitab yang bermanfaat. Wafat pada tahun 1250 H., bacalah al-Badr at-Thalî’, 2: 214 – 225.

[6] Bacalah kitab Thalabul ‘Ilmi, Asy-Syaukani

(arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/17-doktrin-syiah-disembunyikan-kaum-muslimin.html

0 55
foto Habib Rizieq Syihab yang ramai beredar di dunia maya

JAKARTA (Arrahmah.com) – Beredarnya foto Habib Rizieq Syihab di dunia maya dengan beberapa tokoh Syiah akhir-akhir ini mengundang tanda tanya besar di kalangan umat Islam Indonesia. Bila hal ini dibiarkan terus tanpa ada penjelasan resmi dari pihak yang mendapat sorotan, dikhawatirkan akan ada fitnah-fitnah lanjutan yang menimpa umat Islam ini. Naudzubillah min dzalik.

Alhamdulillah Imam besar Front Pembela Islam ini cepat merespon akan hal itu. Dia membenarkan foto dirinya dengan beberapa tokoh yang di dalamnya terdapat beberapa orang Syiah. Hal ini diungkapkan langsung oleh Habib Rizieq Syihab dalam broadcast yang beredar pagi hari ini, Rabu, yang menurut sumber arrahmah.com adalah resmi dari Habib Rizieq Syihab.

Berikut ini adalah paparan Habib Rizieq, kami tampilkan seutuhnya, dengan beberapa bahasa singkatan, dan penggunaan huruf kapital yang digunakannya disempurnakan redaksinya, tanpa mengurangi kandungan isinya.

Habib Rizieq Syihab:
Asalamualaikum. Betul! Itu foto ana (foto di atas red) dan kawan-kawan saat kunjungan ke Iran selama sepekan pada bulan Mei 2006 untuk lihat program nuklir Iran.

Sebelah kiri ana Ayatullah Ali Taskhiri Ulama Syiah Iran yang sering wakili Iran dalam dialog Internasional Sunni – Syiah, dia tokoh Syiah moderat yang sering disebut Dr. Yusuf Al-Qordhowi dlm kitabnya.

Kanan ana Ulama sunni Hanafi Iran, ana lupa namanya. Ujung kanan Dr.Abdul Mu’thi saat itu Ketua Pemuda Muhammadiyah, saat ini kalau tidak salah beliau salah satu Ketua PP Muhammadiyah, di sebelahnya Uan Shahab. Ujung kiri Dr. Imam Daraquthni Tokoh Muda Muhammadiyah pendiri Partai Matahari Besar (PMB), hingga kini kalau tidak salah masih jadi pengurus di PP Muhammadiyah. Di belakang Haddad Alwi, ada Ir.Iqbal Sullam kini Sekjen PBNU. Duduk di bawah ada DR.Yose pendiri Mer-C bersama Hasan Dalil.

Kenapa ? Apakah ada yang aneh ? Kan ana sudah kasih tahu secara terbuka bahwa ana dan kawan-kawan pernah ke Iran beberapa tahun lalu. Apa ada yang sengaja eksploitasi foto tersabut untuk benarkan tuduhan ana Syiah? Mereka bodoh dan kekanak-kanakan.

Jangan panik, tenang saja. Kasih tahu saja mereka dengan santai bahwa foto ana dengan ulama Wahabi ada, dengan para pendeta ada, dengan rahib ada, dengan preman ada juga, dengan LDII pun ada, dengan Ahmadiyah saat dulu dialog ada juga, bahkan dengan monyet pun ada saat ana ke kebun binatang Ragunan. Apa itu semua berarti ana golongan mereka?

Kalau mereka berani dan yakin benar dengan tuduhan mereka, suruh saja mereka semua sekaligus untuk mubahalah dengan ana. ‘Afwan wa syukron.”

Waspada propaganda musuh Islam yang selalu mencari celah untuk memecah belah persatuan Ummat.

Fitnah Syiah

Belakangan ini Habib Muhammad Rizieq Syihab gencar mendapat tuduhan bahwa dia adalah seorang yang cenderung Syiah (tasyayu’). Bahkan ada sebagian kalangan yang dengan yakin memfitnah Habib Rizieq sebagai seorang Syiah.

Salah satu hal yang membuat kalangan penuduh itu begitu yakin adalah beredarnya sebuah foto yang menunjukkan Habib Rizieq sedang berpose bersama sejumlah tokoh Syiah di Iran.

Habib Rizieq sendiri, lansir SuaraIslamOnline dalam berbagai kesempatan telah menyampaikan kepada umat bahwa dirinya dan ormas yang dipimpinnya, FPI, adalah ahlussunnah wal jamaah. Secara lebih rinci Habib Rizieq menyampaikan dalam bidang akidah mengikuti Imam Asy’ari, sedangkan dalam bidang fiqh mengikuti Imam Syafi’i. Bagi kalangan yang masih ngotot menuduhnya sebagai seorang Syiah, Habib Rizieq secara terbuka telah menantang mereka untuk bermubahalah (bersumpah saling laknat). (azm/arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/news/2013/11/20/habib-rizieq-akui-foto-tokoh-syiah.html

0 89

Rabu, 20/11/2013 05:21:42 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 165

Habib Rizieq Syihab saat berorasi dalam aksi pembubaran Ahmadiyah di Bunderan HI, Jakarta. (foto: Budi)

Jakarta (SI Online) – Belakangan ini Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab gencar mendapat tuduhan bahwa dia adalah seorang yang cenderung Syiah (tasyayu’). Bahkan ada sebagian kalangan yang dengan yakin memfitnah Habib Rizieq sebagai seorang Syiah.

Salah satu hal yang membuat kalangan penuduh itu begitu yakin adalah beredarnya sebuah foto yang menunjukkan Habib Rizieq sedang berpose bersama sejumlah tokoh Syiah di Iran.

Habib Rizieq sendiri, dalam berbagai kesempatan telah menyampaikan kepada umat bahwa dirinya dan ormas yang dipimpinnya, FPI, adalah ahlussunnah wal jamaah. Secara lebih rinci Habib Rizieq menyampaikan dalam bidang akidah mengikuti Imam Asy’ari, sedangkan dalam bidang fiqh mengikuti Imam Syafi’i. Bagi kalangan yang masih ngotot menuduhnya sebagai seorang Syiah, Habib Rizieq secara terbuka telah menantang mereka untuk bermubahalah (bersumpah saling laknat, red).

Terkait foto yang beredar di dunia maya ini, seperti diterima Suara Islam Online, Selasa (20/11/2013) Habib Rizieq menjelaskan bahwa foto tersebut adalah foto dirinya dan rombongan delegasi dari Jakarta saat melakukan kunjungan ke Iran pada Mei 2006 lalu. Kunjungan dilakukan untuk melihat program nuklir Iran.

Foto Habib Rizieq Syihab saat berada di Iran pada 2006 lalu yang beredar di dunia maya (ist)

Dijelaskan secara rinci oleh Habib Rizieq, sosok yang berada di sebelah kirinya adalah Ayatullah Ali Tashkiri, seorang ulama Syiah Iran yang sering mewakili Iran dalam dialog internasional Sunni-Syiah. Menurut Habib Rizieq, Tasykiri adalah seorang Syiah moderat yang juga sering disebut Syeikh Dr Yusuf Al Qaradhawi dalam kitabnya.

Sementara di sebelah kanannya, kata Habib Rizieq, adalah seorang ulama Sunni bermazhab Hanafi. “Ana lupa namanya,” kata Habib Rizieq.

Di ujung kanan adalah Dr. Abdul Mu’thi yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah. Mu’thi sekarang menjabat sebagai Sekretaris PP Muhammadiyah. Sementara di sebelahnya adalah Uan Shahab.

Berada di ujung kiri adalah Imam Addaraquthni, seorang tokoh muda Muhammadiyah pendiri Partai Matahari Bangsa (PMB). Selain di Muhammadiyah, Imam sekarang adalah Sekretaris Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Selanjutnya Habib Rizieq menjelaskan, di belakang Hadad Alwi berdiri Ir H Iqbal Sulam. Iqbal sekarang menjabat sebagai salah satu Ketua PBNU. Sementara duduk di bagian depan adalah Anggota Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis, bersama Hasan Dalil, seorang tokoh Syiah Indonesia.

“Kenapa Ustadz? Apa ada yang aneh? Kan ana sudah kasih tahu secara terbuka bahwa ana dkk pernah ke Iran beberapa tahun lalu? Apa ada yang sengaja eksploitasi foto tersebut untuk benarkan tuduhan ana Syiah? Mereka bodoh dan kekanak-kenakanan Ustadz. Jangan panik,” kata Habib dalam broadcast-nya kepada Pemimpin Umum Suara Islam KH Muhamad Al Khaththath yang menanyakan perihal foto tersebut.

“Ustadz tenang saja. Kasih tahu saja mereka dengan santai bahwa foto ana dengan ulama Wahabi ada, dengan para pendeta ada, dengan rahib ada, dengan preman ada juga, dengan LDII pun ada, dengan Ahmadiyah saat dulu dialog ada juga, bahkan dengan monyet pun ada saat ana ke Kebun Binatang Ragunan. Apa itu semua berarti ana golongan mereka ???!!!,” lanjutnya.

Habib Rizieq menantang kepada kalangan yang menuduhnya sebagai seorang Syiah untuk bermubahalah. “Kalau mereka berani dan yakin benar dengan tuduhan mereka, suruh saja mereka semua sekaligus untuk mubahalah dengan ana,” tantangnya.

Tidak lupa, dia juga menghimbau kepada umat Islam untuk senantiasa mewaspadai propaganda musuh Islam yang selalu mencari celah untuk memecahbelah persatuan umat.

red: shodiq ramadhan

Baca Juga

  • Abu Ubaidah Al Jarrah, Sebaik-baik Orang Kepercayaan Umat
  • Wakil Menteri Industri dan Pertambangan Iran Ditembak Orang tak Dikenal
  • Meski Masih Kristen, Jaya Suprana Ingin Habib Rizieq jadi Gurunya
  • Hentikan Pemilukada Jika tak Ingin NKRI Hancur-Lebur
  • Wajah Ganda Penguasa Menjelang Pemilu

Source: http://www.suara-islam.com/read/index/9039

0 57

Sebelum membeli buku di toko buku anda patut waspada, cek dahulu daftar penerbit buku Syiah Sesat Mengelabui Umat Islam termasuk Penerbit Gramedia !

Simak dan Sebarkan 63 Daftar Penerbit buku-buku SESAT ALIRAN Syiah ini :

01) Penerbit : Lentera

1. Akhlak Keluarga Nabi, Musa Jawad Subhani

2. Ar-Risalah, Syaikh Ja’far Subhani

3. As-Sair Wa As-suluk, Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba’i Bahrul Ulum

4. Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Khalil Al Musawi

5. Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Khalil al-Musawi

6. Bagaimana Menyukseskan Pergaulan, Khalil al-Musawi

7. Belajar Mudah Tasawuf, Fadlullah Haeri

8. Belajar Mudah Ushuluddin, Syaikh Nazir Makarim Syirasi

9. Berhubungan dengan Roh, Nasir Makarim Syirazi

10. Ceramah-Ceramah (1), Murtadha Muthahhari

11. Ceramah-Ceramah (2), Murtadha Muthahhari

12. Dunia Wanita Dalam Islam, Syaikh Husain Fadlullah

13. Etika Seksual dalam Islam, Murtadha Muthahhari

14. Fathimah Az-Zahra, Ibrahim Amini

15. Fiqih Imam Ja’far Shadiq [1], Muhammad Jawad Mughniyah

16. Fiqih Imam Ja’far Shadiq Buku [2], Muh Jawad Mughniyah

17. Fiqih Lima Mazhab, Muh Jawad Mughniyah

18. Fitrah, Murthadha Muthahhari

19. Gejolak Kaum Muda, Nasir Makarim Syirazi

20. Hak-hak Wanita dalam Islam, Murtadha Muthahhari

21. Imam Mahdi Figur Keadilan, Jaffar Al-Jufri (editor)

22. Kebangkitan di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi

23. Keutamaan & Amalan Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan,Sayid Mahdi al-Handawi

24. Keluarga yang Disucikan Allah, Alwi Husein, Lc

25. Ketika Bumi Diganti Dengan Bumi Yang Lain, Jawadi Amuli

26. Kiat Memilih Jodoh, Ibrahim Amini

27. Manusia Sempurna, Murtadha Muthahhari

28. Mengungkap Rahasia Mimpi, Imam Ja’far Shadiq

29. Mengendalikan Naluri, Husain Mazhahiri

30. Menumpas Penyakit Hati, Mujtaba Musawi Lari

31. Metodologi Dakwah dalam Al-Qur’an, Husain Fadhlullah

32. Monoteisme, Muhammad Taqi Misbah

33. Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, Husain Mazhahiri

34. Memahami Esensi AL-Qur’an, S.M.H. Thabatabai

35. Menelusuri Makna Jihad, Husain Mazhahiri

36. Melawan Hegemoni Barat, M. Deden Ridwan (editor)

37. Mengenal Diri, Ali Shomali

38. Mengapa Kita Mesti Mencintai Keluarga Nabi Saw, Muhammad Kadzim Muhammad Jawad

39. Nahjul Balaghah, Syarif Radhi (penyunting)

40. Penulisan dan Penghimpunan Hadis, Rasul Ja’farian

41. Perkawinan Mut’ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, Ibnu Mustofa (editor)

42. Perkawinan dan Seks dalam Islam, Sayyid Muhammad Ridhwi

43. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (1), Murtadha Muthahhari

44. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (2), Murtadha Muthahhari

45. Pintar Mendidik Anak, Husain Mazhahiri

46. Rahasia Alam Arwah, Sayyid Hasan Abthahiy

47. Suara Keadilan, George Jordac

48. Yang Hangat dan Kontroversial dalam Fiqih, Ja’far Subhani

49. Wanita dan Hijab, Murtadha Muthahhari

——————–

02) Penerbit : Pustaka Hidayah

1. 14 Manusia Suci, WOFIS IRAN

2. 70 Salawat Pilihan, Al-Ustads Mahmud Samiy

3. Agama Versus Agama, Ali Syari’ati

4. Akhirat dan Akal, M Jawad Mughniyah

5. Akibat Dosa, Ar-Rasuli Al-Mahalati

6. Al-Quran dan Rahasia angka-angka, Abu Zahrah Al Najdiy

7. Asuransi dan Riba, Murtadha Muthahhari

8. Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syiah, S Husain M Jafri

9. Belajar Mudah Ushuluddin, Dar al-Haqq

10. Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Husain Ali Turkamani

11. Catatan dari Alam Ghaib, S Abd Husain Dastaghib

12. Dari Saqifah Sampai Imamah, Sayyid Husain M. Jafri

13. Dinamika Revolusi Islam Iran, M Riza Sihbudi

14. Falsafah Akhlak, Murthadha Muthahhari

15. Falsafah Kenabian, Murthada Muthahhari

16. Gerakan Islam, A. Ezzati

17. Humanisme Antara Islam dan Barat, Ali Syari’ati

18. Imam Ali Bin Abi Thalib & Imam Hasan bin Ali Ali Muhammad Ali

19. Imam Husain bin Ali & Imam Ali Zainal Abidin Ali Muhammad Ali

20. Imam Muhammad Al Baqir & Imam Ja’far Ash-Shadiq Ali Muhammad Ali

21. Imam Musa Al Kadzim & Imam Ali Ar-Ridha Ali Muhammad Ali

22. Inilah Islam, SMH Thabataba’i

23. Islam Agama Keadilan, Murtadha Muthahhari

24. Islam Agama Protes, Ali Syari’ati

25. Islam dan Tantangan Zaman, Murthadha Muthahhari

26. Jejak-jejak Ruhani, Murtadha Muthahhari

27. Kepemilikan dalam Islam, S.M.H. Behesti

28. Keutamaan Fatimah dan Ketegaran Zainab, Sayyid Syarifuddin Al Musawi

29. Keagungan Ayat Kursi, Muhammad Taqi Falsafi

30. Kisah Sejuta Hikmah, Murtadha Muthahhari

31. Kisah Sejuta Hikmah [1], Murthadha Muthahhari

32. Kisah Sejuta Hikmah [2],Murthadha Muthahhari

33. Memilih Takdir Allah, Syaikh Ja’far Subhani

34. Menapak Jalan Spiritual, Muthahhari & Thabathaba’i

35. Menguak Masa Depan Umat Manusia, Murtadha Muthahhari

36. Menolak Isu Perubahan Al-Quran, Rasul Ja’farian

37. Mengurai Tanda Kebesaran Tuhan, Imam Ja’far Shadiq

38. Misteri Hari Pembalasan, Muhsin Qara’ati

39. Muatan Cinta Ilahi, Syekh M Mahdi Al-syifiy

40. Nubuwah Antara Doktrin dan Akal, M Jawad Mughniyah

41. Pancaran Cahaya Shalat, Muhsin Qara’ati

42. Pengantar Ushul Fiqh, Muthahhari & Baqir Shadr

43. Perayaan Maulid, Khaul dan Hari Besar Islam, Sayyid Ja’far Murtadha al-Amili

44. Perjalanan-Perjalan an Akhirat, Muhammad Jawad Mughniyah

45. Psikologi Islam, Mujtaba Musavi Lari

46. Prinsip-Prinsip Ijtihad Dalam Islam, Murtadha Muthahhari& M. Baqir Shadr

47. Rasulullah SAW dan Fatimah Ali Muhammad Ali

48. Rasulullah: Sejak Hijrah Hingga Wafat, Ali Syari’ati

49. Reformasi Sufistik, Jalaluddin Rakhmat

50. Salman Al Farisi dan tuduhan Terhadapnya, Abdullah Al Sabitiy

51. Sejarah dalam Perspektif Al-Quran, M Baqir As-Shadr

52. Tafsir Surat-surat Pilihan [1], Murthadha Muthahhari

53. Tafsir Surat-surat Pilihan [2], Murthadha Muthahhari

54. Tawasul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali, Syaikh Ja’far Subhani

55. Tentang Dibenarkannya Syafa’at dalam Islam, Syaikh Ja’far Subhani

56. Tujuan Hidup, M.T. Ja’fari

57. Ummah dan Imamah, Ali Syari’ati

58. Wanita Islam & Gaya Hidup Modern, Abdul Rasul Abdul Hasan al-Gaffar

——————–

03) Penerbit : MIZAN

1. 40 Hadis [1], Imam Khomeini

2. 40 Hadis [2], Imam Khomeini

3. 40 Hadis [3], Imam Khomeini

4. 40 Hadis [4], Imam Khomeini

5. Akhlak Suci Nabi yang Ummi, Murtadha Muthahhari

6. Allah dalam Kehidupan Manusia, Murtadha Muthahhari

7. Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami-Istri, Ibrahim Amini

8. Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi, O.Hasem

9. Dialog Sunnah Syi’ah, A Syafruddin al-Musawi

10. Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington, M Riza Sihbudi

11. Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari

12. Falsafatuna, Muhammad Baqir Ash-Shadr

13. Filsafat Sains Menurut Al-Quran, Mahdi Gulsyani

14. Gerakan Islam, A Ezzati

15. Hijab Gaya Hidup Wanita Muslim, Murtadha Muthahhari

16. Hikmah Islam, Sayyid M.H. Thabathaba’i

17. Ideologi Kaum Intelektual, Ali Syari’ati

18. Ilmu Hudhuri, Mehdi Ha’iri Yazdi

19. Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat

20. Islam Alternatif, Jalaluddin Rakhmat

21. Islam dan Logika Kekuatan, Husain Fadhlullah

22. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, Ali Syari’ati

23. Islam Dan Tantangan Zaman, Murtadha Muthahhari

24. Islam, Dunia Arab, Iran, Barat Dan Timur tengah, M Riza Sihbudi

25. Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi’ah, A Syafruddin Al Musawi

26. Jilbab Menurut Al Qur’an & As Sunnah, Husain Shahab

27. Kasyful Mahjub, Al-Hujwiri

28. Keadilan Ilahi, Murtadha Muthahhari

29. Kepemimpinan dalam Islam, AA Sachedina

30. Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Lainnya, Ali Syari’ati

31. Lentera Ilahi Imam Ja’far Ash Shadiq

32. Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari

33. Masyarakat dan sejarah, Murtadha Muthahhari

34. Mata Air Kecemerlangan, Hamid Algar

35. Membangun Dialog Antar Peradaban, Muhammad Khatami

36. Membangun Masa Depan Ummat, Ali Syari’ati

37. Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, SMH Thabathaba’i

38. Menjangkau Masa Depan Islam, Murtadha Muthahhari

39. Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer, Jalaluddin Rakhmat

40. Menyegarkan Islam, Chibli Mallat (*0

41. Menjelajah Dunia Modern, Seyyed Hossein Nasr

42. Misteri Kehidupan Fatimah Az-Zahra, Hasyimi Rafsanjani

43. Muhammad Kekasih Allah, Seyyed Hossein Nasr

44. Muthahhari: Sang Mujahid Sang Mujtahid, Haidar Bagir

45. Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al Baqir

46. Pandangan Dunia Tauhid,. Murtadha Muthahhari

47. Para Perintis Zaman Baru Islam,Ali Rahmena

48. Penghimpun Kebahagian, M Mahdi Bin Ad al-Naraqi

49. PersinggahanPara Malaikat, Ahmad Hadi

50. Rahasia Basmalah Hamdalah, Imam Khomeini

51. Renungan-renungan Sufistik, Jalaluddin Rakhmat

52. Rubaiyat Ummar Khayyam, Peter Avery

53. Ruh, Materi dan Kehidupan, Murtadha Muthahhari

54. Spritualitas dan Seni Islam, Seyyed Hossein Nasr

55. Syi’ah dan Politik di Indonesia, A. Rahman Zainuddin (editor)

56. Sirah Muhammad, M. Hashem

57. Tauhid Dan Syirik, Ja’far Subhani

58. Tema-Tema Penting Filsafat, Murtadha Muthahhari

59. Ulama Sufi & Pemimpin Ummat, Muhammad al-Baqir

——————–

04) Penerbit : YAPI JAKARTA

1.Abdullah Bin Saba’ dalam Polemik, Non Mentioned

2.Abdullah Bin Saba’ Benih Fitnah, M Hashem

3.Al Mursil Ar Rasul Ar Risalah, Muhammad Baqir Shadr

4.Cara Memahami Al Qur’an, S.M.H. Bahesti

5.Hukum Perjudian dalam Islam, Sayyid Muhammad Shuhufi

6.Harapan Wanita Masa Kini, Ali Shari’ati

7.Hubungan Sosial Dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi

8.Imam Khomeini dan Jalan Menuju Integrasi dan Solidaritas Islam, Zubaidi Mastal

9.Islam Dan Mazhab Ekonomi, Muhammad Baqir Shadr

10. Kedudukan Ilmu dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi

11. Keluarga Muslim, Al Balaghah Foundation

12. Kebangkitan Di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi

13. Keadilan Ilahi, Nasir Makarim Syirazi

14. Kenabian, Nasir Makarim Syirazi

15. Kota Berbenteng Tujuh, Fakhruddin Hijazi

16. Makna Ibadah, Muhammad Baqir Shadr

17. Menuju Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi

18. Mi’raj Nabi, Nasir Makarim Syrazi

19. Nasehat-Nasehat Imam Ali, Non Mentioned

20. Prinsip-Prinsip Ajaran Islam, SMH Bahesti

21. Perjuangan Melawan Dusta, Bi’that Foundation

22. Persaudaraan dan Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi

23. Perjanjian Ilahi Dalam Al-Qur’an, Abdul Karim Biazar

24. Rasionalitas Islam, World Shi’a Muslim Org.

25. Syahadah, Ali Shari’ati

26. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem

27. Sebuah Kajian Tentang Sejarah Hadis, Allamah Murthadha Al Askari

28. Tauhid, Nasir Makarim Syirazi

29. Wasiat Atau Musyawarah, Ali Shari’ati

30. Wajah Muhammad, Ali Shari’ati

——————–

05) Penerbit : YAPI Bangil

1. Akal dalam Al-Kafi, Husein al-Habsyi

2. Ajaran- ajaran Al-Quran, Sayid T Burqi & Bahonar

3. Bimbingan Sikap dan Perilaku Muslim, Al Majlisi Al-Qummi

4. Hawa Nafsu, M Mahdi Al Shifiy

5. Konsep Ulul Amri dalam Mazhab-mazhab Islam, Musthafa Al Yahfufi

6. Kumpulan Khutbah Idul Adha, Husein al-Habsyi

7. Kumpulan Khutbah Idul Fitri, Husein al-Habsyi

8. Metode Alternatif Memahami Al-Quran, Bi Azar Syirazi

9. Manusia Seutuhnya, Murtadha Muthahhari

10. Polemik Sunnah-Syiah Sebuah Rekayasa, Izzudddin Ibrahim

11. Pesan Terakhir Rasul, Non Mentioned

12. Pengantar Menuju Logika, Murtadha Muthahhari

13. Shalat Dalam Madzhab AhlulBait, Hidayatullah Husein Al-Habsyi

——————–

06) Penerbit : Rosdakarya

1. Catatan Kang Jalal, Jalaluddin Rakhmat

2. Derita Putri-Putri Nabi, M. Hasyim Assegaf

3. Fatimah Az Zahra, Jalaluddin Rakhmat

4. Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Jalaluddin Rakhmat

5. Meraih Cinta Ilahi, Jalaluddin Rakhmat

6. Rintihan Suci Ahlul Bait Nabi, Jalaluddin Rakhmat

7. Tafsir Al fatihah: Mukaddimah, Jalaluddin Rakhmat

8. Tafsir Bil Ma’tsur, Jalaluddin Rakhmat

9. Zainab Al-Qubra, Jalaluddin Rakhmat

——————–

07) Penerbit : Al-Hadi

1. Al-Milal wan-Nihal, Ja’far Subhani

2. Buku Panduan Menuju Alam Barzakh, Imam Khomeini

3. Fiqh Praktis, Hasan Musawa

——————–

08) Penerbit : CV Firdaus

1. Al-Quran Menjawab Dilema keadilan, Muhsin Qira’ati

2. Imamah Dan Khalifah, Murtadha Muthahhari

3. Keadilan Allah Qadha dan Qadhar, Mujtaba Musawi Lari

4. Kemerdekaan Wanita dalam Keadilan Sosial Islam, Hashemi Rafsanjani

5. Pendidikan Anak: Sejak Dini Hingga Masa Depan, Mahjubah Magazine

6. Tafsir Al Mizan: Ayat-ayat Kepemimpinan, S.M.H. Thabathaba’i

7. Tafsir Al-Mizan: Surat Al-Fatihah, S.M.H. Thabathaba’i

8. Tafsir Al-Mizan: Ruh dan Alam Barzakh, S.M.H. Thabathaba’i

9. Tauhid: Pandangan Dunia Alam Semesta, Muhsin Qara’ati

10. Al-Qur’an Menjawab Dilema Keadilan, Muhsin Qara’ati

——————–

09) Penerbit : Pustaka Firdaus

1. Saat Untuk Bicara, Sa’di Syirazi

2. Tasawuf: Dulu dan Sekarang, Seyyed Hossein Nasr

——————–

10) Penerbit : Risalah Masa

1. Akar Keimanan, Sayyid Ali Khamene’i

2. Dasar-Dasar Filsafat Islam[2], Bahesty & Bahonar

3. Hikmah Sejarah-Wahyu dan Kenabian [3], Bahesty & Bahonar

4. Kebebasan berpikir dan Berpendapat dalam Islam, Murtadha Muthahhari

5. Menghapus Jurang Pemisah Menjawab Buku al Khatib, Al Allamah As Shafi

6. Pedoman Tafsir Modern, Ayatullah Baqir Shadr

7. Kritik Terhadap Materialisme, Murtadha Muthahhari

8. Prinsip-Prinsip Islam [1], Bahesty & Bahonar

9. Syi’ah Asal-Usul dan Prinsip Dasarnya, Sayyid Muh. Kasyful Ghita

10. Tauhid Pembebas Mustadh’afin, Sayyid Ali Khamene’i

11. Tuntunan Puasa, Al-Balagha

12. Wanita di Mata dan Hati Rasulullah, Ali Syari’ati

13. Wali Faqih: Ulama Pewaris Kenabian,

——————–

11) Penerbit : Qonaah

Pendekatan Sunnah Syi’ah, Salim Al-Bahansawiy

——————–

12) Penerbit : Bina Tauhid

Memahami Al Qur’an, Murthadha Muthahhari

——————–

13) Penerbit : Mahdi

Tafsir Al-Mizan: Mut’ah, S.M.H. Thabathabai

——————–

14) Penerbit : Ihsan

Pandangan Islam Tentang Damai-Paksaan, Muhammad Ali Taskhiri

——————–

15) Penerbit : Al-Kautsar (MALANG), Bukan Pustaka Al-Kautsar Jakarta

1. Agar Tidak Terjadi Fitnah, Husein Al Habsyi

2. Dasar-Dassar Hukum Islam, Muhsin Labib

3. Nabi Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam, Husein Al Habsyi

4. Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, Husain Al Habsyi

5. 60 Hadis Keutamaan Ahlul Bait, Jalaluddin Suyuti

——————–

16) Penerbit : Al-Baqir

1. 560 Hadis Dari Manusia Suci, Fathi Guven

2. Asyura Dalam Perspektif Islam, Abdul Wahab Al-Kasyi

3. Al Husein Merajut Shara Karbala, Muhsin Labib

4. Badai Pembalasan, Muhsin Labib

5. Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib

6. Dewi-Dewi Sahara, Muhsin Labib

7. Membela Para Nabi, Ja’far Subhani

8. Suksesi, M Baqir Shadr

9. Tafsir Nur Tsaqalain, Ali Umar Al-Habsyi

——————–

17) Penerbit : Al-Bayan

1.Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri, Ibrahim Amini

2.Mengarungi Samudra Kebahagiaan, Said Ahtar Radhawi

3.Teladan Suci Kelurga Nabi, Muhammad Ali Shabban

——————–

18) Penerbit : As-Sajjad

1.Bersama Orang-orang yang Benar, Muh At Tijani

2.Imamah, Ayatullah Nasir Makarim Syirazi

3.Ishmah Keterpeliharaan Nabi Dari Dosa, Syaikh Ja’far Subhani

4.Jihad Akbar, Imam Khomeini

5.Kemelut Kepemimpinan, Ayatullah Muhammad Baqir Shadr

6.Kasyful Asrar Khomeini, Dr. Ibrahim Ad-Dasuki Syata

7.Menjawab Berbagai Tuduhan Terhadap Islam, Husin Alhabsyi

8.Nabi Tersihir, Ali Umar

9.Nikah Mut’ah Ja’far, Murtadha Al Amili

10. Nikah Mut;ah Antara Halal dan Haram, Amir Muhammad Al-Quzwainy

11. Surat-Surat Revolusi, AB Shirazi

——————–

19) Penerbit : Basrie Press

1.Ali Bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, Murtadha Muthahhari

2.Manusia Dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari

3.Fiqh Lima Mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah

——————–

20) Penerbit : Pintu Ilmu

Siapa, Mengapa Ahlul Bayt, Jamia’ah Al-Ta’limat Al-Islamiyah Pakistan

——————–

21) Penerbit : Ulsa Press

1. Mengenal Allah, Sayyid MR Musawi Lari

2.Islam Dan Nasionalisme, Muhammad Naqawi

3.Latar Belakang Persatuan Islam, Masih Muhajeri

4.Tragedi Mekkah Dan Masa Depan Al-Haramain, Zafar Bangash

5.Abu Dzar, Ali Syari’ati

6.Aqidah Syi’ah Imamiyah, Syekh Muhammad Ridha Al Muzhaffar

7.Syahadat Bangkit Bersaksi, Ali Syari’ati

——————–

22) Penerbit : Gua Hira

Kepemimpinan Islam, Murtadha Muthahhari

23) Penerbit : Grafiti

1. Islam Syi’ah: Allamah M.H. Thabathaba’i

2. Pengalaman Terakhir Syah, William Shawcross

3. Tugas Cendikiawan Muslim, Ali Syaria’ti

——————–

24) Penerbit : Effar Offset

Dialog Pembahasan Kembali Antara Sunnah & Syi’ah Sulaim Al-Basyari &

Syaraduddien Al ‘Amili

——————–

25) Penerbit : Shalahuddin Press

1. Fatimah Citra Muslimah Sejati, Ali Syari’ati

2. Gerbang Kebangkitan, Kalim Siddiqui

3. Islam Konsep Akhlak Pergerakan, Murtadha Muthahhari

4. Panji Syahadah, Ali Syari’ati.

5. Peranan Cendekiawan Muslim, Ali Syari’ati

——————–

26) Penerbit : Ats-Tsaqalain

Sunnah Syi’ah dalam Dialog, Husein Al Habsyi

——————–

27) Penerbit : Pustaka

Kehidupan Yang Kekal, Morteza Muthahari

——————–

28) Penerbit : Darut Taqrib

Rujuk Sunnah Syi’ah, M Hashem

——————–

29) Penerbit : Al-Muntazhar

1. Fiqh Praktis Syi’ah Imam Khomeini, Araki, Gulfaigani, Khui

2. Ringkasan Logika Muslim, Hasan Abu Ammar

3. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem

4. Tauhid: Rasionalisme Dan Pemikiran dalam Islam, Hasan Abu Ammar

——————–

30) Penerbit : Gramedia

Biografi Politik Imam Khomeini, Riza Sihbudi

——————–

31) Penerbit : Toha Putra

Keutamaan Keluarga Rasulullah, Abdullah Bin Nuh

——————–

34) Penerbit : Gerbang Ilmu

Tafsir Al-Amtsal (Jilid 1), Nasir Makarim Syirazi

——————–

35) Penerbit : Al-Jawad

1. Amalan Bulan Ramadhan Husein Al-Kaff

2. Mi’raj Ruhani [1], Imam Khomeini

3. Mi’raj Ruhani [2] Imam Khomeni

4. Mereka Bertanya Ali Menjawab, M Ridha Al-Hakimi

5. Pesan Sang Imam, Sandy Allison (penyusun)

6. Puasa dan Zakat Fitrah Imam Khomeini & Imam Ali Khamene’i

——————–

36) Penerbit : Jami’ah al-Ta’limat al-Islamiyah

Tuntutan Hukum Syari’at, Imam Abdul Qasim

37) Penerbit : Sinar Harapan

1. Iran Pasca Revolusi, Syafiq Basri

2. Perang Iran Perang Irak, Nasir Tamara

3. Revolusi Iran, Nasir Tamara

——————–

38) Penerbit : Mulla Shadra

1. Taman Para Malaikat, Husain Madhahiri

2. Imam Mahdi Menurut Ahlul Sunnah Wal Jama’ah, Hasan Abu Ammar

——————–

40) Penerbit : Duta Ilmu

1. Wasiat Imam Ali, Non Mentioned

2. Menuju Pemerintah Ideal, Non Mentioned

——————–

41) Penerbit : Majlis Ta’lim Amben

114 Hadis Tanaman, Al Syeikh Radhiyuddien

——————–

41) Penerbit : Grafikatama Jaya

Tipologi Ali Syari’ati

——————–

42) Penerbit : Nirmala

Menyingkap Rahasia Haji, Syeikh Jawadi Amuli

——————–

43) Penerbit : Hisab

Abu Thalib dalam Polemik, Abu Bakar Hasan Ahmad

——————–

44) Penerbit : Ananda

Tentang Sosiologi Islam, Ali Syari’ati

——————–

45) Penerbit : Iqra

Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, Ali Shari’ati

——————–

46) Penerbit : Fitrah

Tuhan dalam Pandangan Muslim, S Akhtar Rizvi

——————–

47) Penerbit : Lentera Antarnusa

Sa’di Bustan, Sa’di

——————–

48) Penerbit : Pesona

Membaca Ali Bersama Ali Bin Abi Thalib, Gh R Layeqi

——————–

49) Penerbit : Rajawali Press

Tugas Cendekiawan Muslim, Ali Shari’ati

——————–

50) Penerbit : Bina Ilmu

Demonstran Iran dan Jum’at Berdarah di Makkah, HM Baharun

——————–

51) Penerbit : Pustaka Pelita

1. Akhirnya Kutemukan Kebenaran, Muh Al Tijani Al Samawi

2. Cara Memperoleh Haji Mabrur, Husein Shahab

3. Fathimah Az-Zahra: Ummu Abiha, Taufik Abu ‘Alama

4. Pesan Terakhir Nabi, Non Mentioned

——————–

52) Penerbit : Pustaka

1. Etika Seksual dalam Islam, Morteza Muthahhari

2. Filsafat Shadra, Fazlur Rahman

3. Haji, Ali Syari’ati

4. Islam dan Nestapa Manusia Modern, Seyyed Hosein Nasr

5. Islam Tradisi Seyyed, Hosein Nasr

6. Manusia Masa Kini Dan Problem Sosial, Muhammad Baqir Shadr

7. Reaksi Sunni-Syi’ah, Hamid Enayat

8. Surat-Surat Politik Imam Ali, Syarif Ar Radhi

9. Sains dan Peradaban dalam Islam, Sayyed Hossein Nasr

——————–

53) Penerbit : Pustaka Jaya

Membina Kerukunan Muslimin, Sayyid Murthadha al-Ridlawi

——————–

54) Penerbit : Islamic Center Al-Huda

1. Jurnal Al Huda (1)

2. Jurnal Al Huda (2)

3. Syiah Ditolak, Syiah Dicari, O. Hashem

4. Mutiara Akhlak Nabi, Syaikh Ja’far Hadi

——————–

55) Penerbit : Hudan Press

1. Tafsir Surah Yasin, Husain Mazhahiri

2. Do’a-Do;a Imam Ali Zainal Abidin

——————–

56) Penerbit : Yayasan Safinatun Najah

1. Manakah Jalan Yang Lurus (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

2. Manakah Jalan Yang Lurus (2), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

3. Manakah Jalan Yang Lurus (3), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

4. Manakah Shalat Yang Benar (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

——————–

57) Penerbit : Amanah Press

Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari

——————–

58) Penerbit : Yayasan Al-Salafiyyah

Khadijah Al-Kubra Dalam Studi Kritis Komparatif, Drs. Ali S. Karaeng Putra

——————–

59) Penerbit : Kelompok Studi Topika

Hud-Hud Rahmaniyyah, Dimitri Mahayana

——————–

60) Penerbit : Muthahhari Press/Muthahhari Paperbacks

1. Jurnal Al Hikmah (1)

2. Jurnal Al Hikmah (2)

3. Jurnal Al Hikmah (3)

4. Jurnal Al Hikmah (4)

5. Jurnal Al Hikmah (5)

6. Jurnal Al Hikmah (6)

7. Jurnal Al Hikmah (7)

8. Jurnal Al Hikmah (

9. Jurnal Al Hikmah (9)

10. Jurnal Al Hikmah (10)

11. Jurnal Al Hikmah (11)

12. Jurnal Al Hikmah (12)

13. Jurnal Al Hikmah (13)

14. Jurnal Al Hikmah (14)

15. Jurnal Al Hikmah (15)

16. Jurnal Al Hikmah (16)

17. Jurnal Al Hikmah (17)

18. Shahifah Sajjadiyyah, Jalaluddin Rakhmat (penyunting)

19. Manusia dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari

20. Abu Dzar, Ali Syariati

21. Pemimpin Mustadha’afin, Ali Syariati

——————–

61) Penerbit : Serambi

1. Jantung Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri

2. Pelita Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri

——————–

62) Penerbit : Cahaya

Membangun Surga Dalam Rumah Tangga, Huzain Mazhahiri

——————–

63(Non Mentioned)

1. Sekilas Pandang Tentang Pembantain di Masjid Haram, Non Mentioned

2. Jumat Berdarah Pembantaian Kimia Rakyat Halajba 1988, Non Mentioned

3. Al-Quran dalam Islam, MH Thabathabai

4. Ajaran-Ajaran Asas Islam, Behesti

5. Wacana Spiritual, Tabligh Islam Program

6. Keutamaan Membaca Juz Amma, Taufik Yahya

7. Keutamaan Membaca Surah Yasin, Waqiah, Al Mulk, Taufik Yahya

8. Keutamaan Membaca Surah Al-Isra & Al-Kahfi, Taufik Yahya

9. Bunga Rampai Keimanan, Taufik Yahya

10. Bunga Rampai Kehidupan Sosial, Taufik Yahya

11. Bunga Rampai Pendidikan, Husein Al-Habsyi

12. Hikmah-Hikmah Sholawat ,Taufik Yahya

13. Bunga Rampai Pernikahan, Taufik Yahya

14. Hikmah-Hikmah Puasa, Taufik Yahya

15. Hikmah-Hikmah Kematian, Taufik Yahya

16. Wirid Harian, Non Mentioned

17. Do’a Kumay,l Non Mentioned

18. Do’a Harian, Non Mentioned

19. Do’a Shobah, Non Mentioned

20. Do’a Jausyan Kabir, Non Mentioned

21. Keutamaan Shalat Malam Dan Do’anya, Non Mentioned

22. Do’a Nutbah, Non Mentioned

23. Do’a Abu Hamzah Atsimali, Non Mentioned

24. Do’a Hari Arafah (Imam Husain), Non Mentioned

25. Do’a Hari Arafah (Imam Sajjad), Non Mentioned

26. Do’a Tawassul, Non Mentioned

27. Do’a Untuk Ayah dan Ibu, Non Mentioned

28. Do’a Untuk Anak, Non Mentioned

29. Do’a Khatam Qur’an, Non Mentioned

30. Doa Sebelum dan Sesudah Baca Qur’an, Non Mentioned

31. Amalan Bulan Sya’ban dan Munajat Sya’baniyah, Non Mentioned

Waspadalah terhadap buku-buku yang di infokan diatas semoga dapat diwaspadai buku-buku diatas yang telah di infokan, Barakallohu’ fiikum

Buku-Buku/Kitab-Kitab yang mengcounter Syi’ah yang patut dibaca dan dipelajari yakni:

1. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Penulis: Ustadz Drs. Hartono Ahmad Jaiz Hafidzhahulloh, Terbitan: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Juli 2005M.

2. Risalah Kepada Pecinta Ahlul Bait, Penulis: Tim Peneliti dan Kajian Dar al-Mutaqa, Riyadh, 2010M.

3. Ahlus Sunnah waljamaah Dan Dilema Syi’ah di Indonesia, Penulis: Ustadz Farid Ahmad Okbah, MA, Terbitan: Perisai Qur’an, Jakarta, September, 2012M. (Lihat di Resensi Info: http://www.nahimunkar.com/fakta-dan-data-bahaya-syiah-di-indonesia/)

4. Buku Eksklusif “ Akhirnya Kutinggalkan Syi’ah “ (Testimoni Tokoh Syi’ah), Karya: Syaikh Abu Khalifah Ali bin Muhammad al-Qudhaibi Hafidzhahulloh, yang diterjemahkan Oleh: Ustadz Ganna Pryadharizal Anaedi, Lc Hafidzhahulloh, Terbitan: Pustaka Imam Ahmad-Jakarta, November 2011.

5. Buku “ Mengapa Saya Keluar Dari Syiah? “, Penulis : Syaikh Al-Allamah Dr. Sayid Husain al-Musawi Hafidzhahulloh, Terbitan: CV. Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur,Agustus 2002.

6. Buku “Mengapa Kita Menolak Syi’ah” hal. 254-257, Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi’ah, LPPI/Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam, Jakarta, Juli 1998 M.

7. Buku Sekelumit Penyimpangan Syi’ah, Penulis: Anung Al-Hamat, Lc, M.Pd, I, Terbitan: FS3I/Forum Studi Sekte-sekte Islam, Bekasi, April 2013. (Lihat di Resensi Info: http://www.nahimunkar.com/fakta-dan-data-bahaya-syiah-di-indonesia/)
8. Buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di indonesia, Terbitan MUI/Majelis Ulama Indonesia Pusat, 2013. (Lihat di Resensi

(umar/faisal/nahimunkar/voa-islam)

Promosikan produk anda voa-islam.com hanya Rp 20.000/hari atau Rp 500.000/bulan

Share this post..

Source: http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/11/12/27556/waspada-ini-63-penerbit-buku-syiah-sesat-yang-mengelabui-umat-islam/

0 38

Sebelum membeli buku di toko buku anda patut waspada, cek dahulu daftar Buku Syiah Sesat Mengelabui Umat Islam termasuk Penerbit Gramedia !

Simak dan Sebarkan 63 Daftar buku-buku SESAT ALIRAN Syiah ini :

01) Penerbit : Lentera

1. Akhlak Keluarga Nabi, Musa Jawad Subhani

2. Ar-Risalah, Syaikh Ja’far Subhani

3. As-Sair Wa As-suluk, Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba’i Bahrul Ulum

4. Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Khalil Al Musawi

5. Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Khalil al-Musawi

6. Bagaimana Menyukseskan Pergaulan, Khalil al-Musawi

7. Belajar Mudah Tasawuf, Fadlullah Haeri

8. Belajar Mudah Ushuluddin, Syaikh Nazir Makarim Syirasi

9. Berhubungan dengan Roh, Nasir Makarim Syirazi

10. Ceramah-Ceramah (1), Murtadha Muthahhari

11. Ceramah-Ceramah (2), Murtadha Muthahhari

12. Dunia Wanita Dalam Islam, Syaikh Husain Fadlullah

13. Etika Seksual dalam Islam, Murtadha Muthahhari

14. Fathimah Az-Zahra, Ibrahim Amini

15. Fiqih Imam Ja’far Shadiq [1], Muhammad Jawad Mughniyah

16. Fiqih Imam Ja’far Shadiq Buku [2], Muh Jawad Mughniyah

17. Fiqih Lima Mazhab, Muh Jawad Mughniyah

18. Fitrah, Murthadha Muthahhari

19. Gejolak Kaum Muda, Nasir Makarim Syirazi

20. Hak-hak Wanita dalam Islam, Murtadha Muthahhari

21. Imam Mahdi Figur Keadilan, Jaffar Al-Jufri (editor)

22. Kebangkitan di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi

23. Keutamaan & Amalan Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan,Sayid Mahdi al-Handawi

24. Keluarga yang Disucikan Allah, Alwi Husein, Lc

25. Ketika Bumi Diganti Dengan Bumi Yang Lain, Jawadi Amuli

26. Kiat Memilih Jodoh, Ibrahim Amini

27. Manusia Sempurna, Murtadha Muthahhari

28. Mengungkap Rahasia Mimpi, Imam Ja’far Shadiq

29. Mengendalikan Naluri, Husain Mazhahiri

30. Menumpas Penyakit Hati, Mujtaba Musawi Lari

31. Metodologi Dakwah dalam Al-Qur’an, Husain Fadhlullah

32. Monoteisme, Muhammad Taqi Misbah

33. Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, Husain Mazhahiri

34. Memahami Esensi AL-Qur’an, S.M.H. Thabatabai

35. Menelusuri Makna Jihad, Husain Mazhahiri

36. Melawan Hegemoni Barat, M. Deden Ridwan (editor)

37. Mengenal Diri, Ali Shomali

38. Mengapa Kita Mesti Mencintai Keluarga Nabi Saw, Muhammad Kadzim Muhammad Jawad

39. Nahjul Balaghah, Syarif Radhi (penyunting)

40. Penulisan dan Penghimpunan Hadis, Rasul Ja’farian

41. Perkawinan Mut’ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, Ibnu Mustofa (editor)

42. Perkawinan dan Seks dalam Islam, Sayyid Muhammad Ridhwi

43. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (1), Murtadha Muthahhari

44. Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur’an (2), Murtadha Muthahhari

45. Pintar Mendidik Anak, Husain Mazhahiri

46. Rahasia Alam Arwah, Sayyid Hasan Abthahiy

47. Suara Keadilan, George Jordac

48. Yang Hangat dan Kontroversial dalam Fiqih, Ja’far Subhani

49. Wanita dan Hijab, Murtadha Muthahhari

——————–

02) Penerbit : Pustaka Hidayah

1. 14 Manusia Suci, WOFIS IRAN

2. 70 Salawat Pilihan, Al-Ustads Mahmud Samiy

3. Agama Versus Agama, Ali Syari’ati

4. Akhirat dan Akal, M Jawad Mughniyah

5. Akibat Dosa, Ar-Rasuli Al-Mahalati

6. Al-Quran dan Rahasia angka-angka, Abu Zahrah Al Najdiy

7. Asuransi dan Riba, Murtadha Muthahhari

8. Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syiah, S Husain M Jafri

9. Belajar Mudah Ushuluddin, Dar al-Haqq

10. Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Husain Ali Turkamani

11. Catatan dari Alam Ghaib, S Abd Husain Dastaghib

12. Dari Saqifah Sampai Imamah, Sayyid Husain M. Jafri

13. Dinamika Revolusi Islam Iran, M Riza Sihbudi

14. Falsafah Akhlak, Murthadha Muthahhari

15. Falsafah Kenabian, Murthada Muthahhari

16. Gerakan Islam, A. Ezzati

17. Humanisme Antara Islam dan Barat, Ali Syari’ati

18. Imam Ali Bin Abi Thalib & Imam Hasan bin Ali Ali Muhammad Ali

19. Imam Husain bin Ali & Imam Ali Zainal Abidin Ali Muhammad Ali

20. Imam Muhammad Al Baqir & Imam Ja’far Ash-Shadiq Ali Muhammad Ali

21. Imam Musa Al Kadzim & Imam Ali Ar-Ridha Ali Muhammad Ali

22. Inilah Islam, SMH Thabataba’i

23. Islam Agama Keadilan, Murtadha Muthahhari

24. Islam Agama Protes, Ali Syari’ati

25. Islam dan Tantangan Zaman, Murthadha Muthahhari

26. Jejak-jejak Ruhani, Murtadha Muthahhari

27. Kepemilikan dalam Islam, S.M.H. Behesti

28. Keutamaan Fatimah dan Ketegaran Zainab, Sayyid Syarifuddin Al Musawi

29. Keagungan Ayat Kursi, Muhammad Taqi Falsafi

30. Kisah Sejuta Hikmah, Murtadha Muthahhari

31. Kisah Sejuta Hikmah [1], Murthadha Muthahhari

32. Kisah Sejuta Hikmah [2],Murthadha Muthahhari

33. Memilih Takdir Allah, Syaikh Ja’far Subhani

34. Menapak Jalan Spiritual, Muthahhari & Thabathaba’i

35. Menguak Masa Depan Umat Manusia, Murtadha Muthahhari

36. Menolak Isu Perubahan Al-Quran, Rasul Ja’farian

37. Mengurai Tanda Kebesaran Tuhan, Imam Ja’far Shadiq

38. Misteri Hari Pembalasan, Muhsin Qara’ati

39. Muatan Cinta Ilahi, Syekh M Mahdi Al-syifiy

40. Nubuwah Antara Doktrin dan Akal, M Jawad Mughniyah

41. Pancaran Cahaya Shalat, Muhsin Qara’ati

42. Pengantar Ushul Fiqh, Muthahhari & Baqir Shadr

43. Perayaan Maulid, Khaul dan Hari Besar Islam, Sayyid Ja’far Murtadha al-Amili

44. Perjalanan-Perjalan an Akhirat, Muhammad Jawad Mughniyah

45. Psikologi Islam, Mujtaba Musavi Lari

46. Prinsip-Prinsip Ijtihad Dalam Islam, Murtadha Muthahhari& M. Baqir Shadr

47. Rasulullah SAW dan Fatimah Ali Muhammad Ali

48. Rasulullah: Sejak Hijrah Hingga Wafat, Ali Syari’ati

49. Reformasi Sufistik, Jalaluddin Rakhmat

50. Salman Al Farisi dan tuduhan Terhadapnya, Abdullah Al Sabitiy

51. Sejarah dalam Perspektif Al-Quran, M Baqir As-Shadr

52. Tafsir Surat-surat Pilihan [1], Murthadha Muthahhari

53. Tafsir Surat-surat Pilihan [2], Murthadha Muthahhari

54. Tawasul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali, Syaikh Ja’far Subhani

55. Tentang Dibenarkannya Syafa’at dalam Islam, Syaikh Ja’far Subhani

56. Tujuan Hidup, M.T. Ja’fari

57. Ummah dan Imamah, Ali Syari’ati

58. Wanita Islam & Gaya Hidup Modern, Abdul Rasul Abdul Hasan al-Gaffar

——————–

03) Penerbit : MIZAN

1. 40 Hadis [1], Imam Khomeini

2. 40 Hadis [2], Imam Khomeini

3. 40 Hadis [3], Imam Khomeini

4. 40 Hadis [4], Imam Khomeini

5. Akhlak Suci Nabi yang Ummi, Murtadha Muthahhari

6. Allah dalam Kehidupan Manusia, Murtadha Muthahhari

7. Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami-Istri, Ibrahim Amini

8. Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi, O.Hasem

9. Dialog Sunnah Syi’ah, A Syafruddin al-Musawi

10. Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington, M Riza Sihbudi

11. Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari

12. Falsafatuna, Muhammad Baqir Ash-Shadr

13. Filsafat Sains Menurut Al-Quran, Mahdi Gulsyani

14. Gerakan Islam, A Ezzati

15. Hijab Gaya Hidup Wanita Muslim, Murtadha Muthahhari

16. Hikmah Islam, Sayyid M.H. Thabathaba’i

17. Ideologi Kaum Intelektual, Ali Syari’ati

18. Ilmu Hudhuri, Mehdi Ha’iri Yazdi

19. Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat

20. Islam Alternatif, Jalaluddin Rakhmat

21. Islam dan Logika Kekuatan, Husain Fadhlullah

22. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, Ali Syari’ati

23. Islam Dan Tantangan Zaman, Murtadha Muthahhari

24. Islam, Dunia Arab, Iran, Barat Dan Timur tengah, M Riza Sihbudi

25. Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi’ah, A Syafruddin Al Musawi

26. Jilbab Menurut Al Qur’an & As Sunnah, Husain Shahab

27. Kasyful Mahjub, Al-Hujwiri

28. Keadilan Ilahi, Murtadha Muthahhari

29. Kepemimpinan dalam Islam, AA Sachedina

30. Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Lainnya, Ali Syari’ati

31. Lentera Ilahi Imam Ja’far Ash Shadiq

32. Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari

33. Masyarakat dan sejarah, Murtadha Muthahhari

34. Mata Air Kecemerlangan, Hamid Algar

35. Membangun Dialog Antar Peradaban, Muhammad Khatami

36. Membangun Masa Depan Ummat, Ali Syari’ati

37. Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, SMH Thabathaba’i

38. Menjangkau Masa Depan Islam, Murtadha Muthahhari

39. Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer, Jalaluddin Rakhmat

40. Menyegarkan Islam, Chibli Mallat (*0

41. Menjelajah Dunia Modern, Seyyed Hossein Nasr

42. Misteri Kehidupan Fatimah Az-Zahra, Hasyimi Rafsanjani

43. Muhammad Kekasih Allah, Seyyed Hossein Nasr

44. Muthahhari: Sang Mujahid Sang Mujtahid, Haidar Bagir

45. Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al Baqir

46. Pandangan Dunia Tauhid,. Murtadha Muthahhari

47. Para Perintis Zaman Baru Islam,Ali Rahmena

48. Penghimpun Kebahagian, M Mahdi Bin Ad al-Naraqi

49. PersinggahanPara Malaikat, Ahmad Hadi

50. Rahasia Basmalah Hamdalah, Imam Khomeini

51. Renungan-renungan Sufistik, Jalaluddin Rakhmat

52. Rubaiyat Ummar Khayyam, Peter Avery

53. Ruh, Materi dan Kehidupan, Murtadha Muthahhari

54. Spritualitas dan Seni Islam, Seyyed Hossein Nasr

55. Syi’ah dan Politik di Indonesia, A. Rahman Zainuddin (editor)

56. Sirah Muhammad, M. Hashem

57. Tauhid Dan Syirik, Ja’far Subhani

58. Tema-Tema Penting Filsafat, Murtadha Muthahhari

59. Ulama Sufi & Pemimpin Ummat, Muhammad al-Baqir

——————–

04) Penerbit : YAPI JAKARTA

1.Abdullah Bin Saba’ dalam Polemik, Non Mentioned

2.Abdullah Bin Saba’ Benih Fitnah, M Hashem

3.Al Mursil Ar Rasul Ar Risalah, Muhammad Baqir Shadr

4.Cara Memahami Al Qur’an, S.M.H. Bahesti

5.Hukum Perjudian dalam Islam, Sayyid Muhammad Shuhufi

6.Harapan Wanita Masa Kini, Ali Shari’ati

7.Hubungan Sosial Dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi

8.Imam Khomeini dan Jalan Menuju Integrasi dan Solidaritas Islam, Zubaidi Mastal

9.Islam Dan Mazhab Ekonomi, Muhammad Baqir Shadr

10. Kedudukan Ilmu dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi

11. Keluarga Muslim, Al Balaghah Foundation

12. Kebangkitan Di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi

13. Keadilan Ilahi, Nasir Makarim Syirazi

14. Kenabian, Nasir Makarim Syirazi

15. Kota Berbenteng Tujuh, Fakhruddin Hijazi

16. Makna Ibadah, Muhammad Baqir Shadr

17. Menuju Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi

18. Mi’raj Nabi, Nasir Makarim Syrazi

19. Nasehat-Nasehat Imam Ali, Non Mentioned

20. Prinsip-Prinsip Ajaran Islam, SMH Bahesti

21. Perjuangan Melawan Dusta, Bi’that Foundation

22. Persaudaraan dan Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi

23. Perjanjian Ilahi Dalam Al-Qur’an, Abdul Karim Biazar

24. Rasionalitas Islam, World Shi’a Muslim Org.

25. Syahadah, Ali Shari’ati

26. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem

27. Sebuah Kajian Tentang Sejarah Hadis, Allamah Murthadha Al Askari

28. Tauhid, Nasir Makarim Syirazi

29. Wasiat Atau Musyawarah, Ali Shari’ati

30. Wajah Muhammad, Ali Shari’ati

——————–

05) Penerbit : YAPI Bangil

1. Akal dalam Al-Kafi, Husein al-Habsyi

2. Ajaran- ajaran Al-Quran, Sayid T Burqi & Bahonar

3. Bimbingan Sikap dan Perilaku Muslim, Al Majlisi Al-Qummi

4. Hawa Nafsu, M Mahdi Al Shifiy

5. Konsep Ulul Amri dalam Mazhab-mazhab Islam, Musthafa Al Yahfufi

6. Kumpulan Khutbah Idul Adha, Husein al-Habsyi

7. Kumpulan Khutbah Idul Fitri, Husein al-Habsyi

8. Metode Alternatif Memahami Al-Quran, Bi Azar Syirazi

9. Manusia Seutuhnya, Murtadha Muthahhari

10. Polemik Sunnah-Syiah Sebuah Rekayasa, Izzudddin Ibrahim

11. Pesan Terakhir Rasul, Non Mentioned

12. Pengantar Menuju Logika, Murtadha Muthahhari

13. Shalat Dalam Madzhab AhlulBait, Hidayatullah Husein Al-Habsyi

——————–

06) Penerbit : Rosdakarya

1. Catatan Kang Jalal, Jalaluddin Rakhmat

2. Derita Putri-Putri Nabi, M. Hasyim Assegaf

3. Fatimah Az Zahra, Jalaluddin Rakhmat

4. Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Jalaluddin Rakhmat

5. Meraih Cinta Ilahi, Jalaluddin Rakhmat

6. Rintihan Suci Ahlul Bait Nabi, Jalaluddin Rakhmat

7. Tafsir Al fatihah: Mukaddimah, Jalaluddin Rakhmat

8. Tafsir Bil Ma’tsur, Jalaluddin Rakhmat

9. Zainab Al-Qubra, Jalaluddin Rakhmat

——————–

07) Penerbit : Al-Hadi

1. Al-Milal wan-Nihal, Ja’far Subhani

2. Buku Panduan Menuju Alam Barzakh, Imam Khomeini

3. Fiqh Praktis, Hasan Musawa

——————–

08) Penerbit : CV Firdaus

1. Al-Quran Menjawab Dilema keadilan, Muhsin Qira’ati

2. Imamah Dan Khalifah, Murtadha Muthahhari

3. Keadilan Allah Qadha dan Qadhar, Mujtaba Musawi Lari

4. Kemerdekaan Wanita dalam Keadilan Sosial Islam, Hashemi Rafsanjani

5. Pendidikan Anak: Sejak Dini Hingga Masa Depan, Mahjubah Magazine

6. Tafsir Al Mizan: Ayat-ayat Kepemimpinan, S.M.H. Thabathaba’i

7. Tafsir Al-Mizan: Surat Al-Fatihah, S.M.H. Thabathaba’i

8. Tafsir Al-Mizan: Ruh dan Alam Barzakh, S.M.H. Thabathaba’i

9. Tauhid: Pandangan Dunia Alam Semesta, Muhsin Qara’ati

10. Al-Qur’an Menjawab Dilema Keadilan, Muhsin Qara’ati

——————–

09) Penerbit : Pustaka Firdaus

1. Saat Untuk Bicara, Sa’di Syirazi

2. Tasawuf: Dulu dan Sekarang, Seyyed Hossein Nasr

——————–

10) Penerbit : Risalah Masa

1. Akar Keimanan, Sayyid Ali Khamene’i

2. Dasar-Dasar Filsafat Islam[2], Bahesty & Bahonar

3. Hikmah Sejarah-Wahyu dan Kenabian [3], Bahesty & Bahonar

4. Kebebasan berpikir dan Berpendapat dalam Islam, Murtadha Muthahhari

5. Menghapus Jurang Pemisah Menjawab Buku al Khatib, Al Allamah As Shafi

6. Pedoman Tafsir Modern, Ayatullah Baqir Shadr

7. Kritik Terhadap Materialisme, Murtadha Muthahhari

8. Prinsip-Prinsip Islam [1], Bahesty & Bahonar

9. Syi’ah Asal-Usul dan Prinsip Dasarnya, Sayyid Muh. Kasyful Ghita

10. Tauhid Pembebas Mustadh’afin, Sayyid Ali Khamene’i

11. Tuntunan Puasa, Al-Balagha

12. Wanita di Mata dan Hati Rasulullah, Ali Syari’ati

13. Wali Faqih: Ulama Pewaris Kenabian,

——————–

11) Penerbit : Qonaah

Pendekatan Sunnah Syi’ah, Salim Al-Bahansawiy

——————–

12) Penerbit : Bina Tauhid

Memahami Al Qur’an, Murthadha Muthahhari

——————–

13) Penerbit : Mahdi

Tafsir Al-Mizan: Mut’ah, S.M.H. Thabathabai

——————–

14) Penerbit : Ihsan

Pandangan Islam Tentang Damai-Paksaan, Muhammad Ali Taskhiri

——————–

15) Penerbit : Al-Kautsar (MALANG), Bukan Pustaka Al-Kautsar Jakarta

1. Agar Tidak Terjadi Fitnah, Husein Al Habsyi

2. Dasar-Dassar Hukum Islam, Muhsin Labib

3. Nabi Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam, Husein Al Habsyi

4. Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, Husain Al Habsyi

5. 60 Hadis Keutamaan Ahlul Bait, Jalaluddin Suyuti

——————–

16) Penerbit : Al-Baqir

1. 560 Hadis Dari Manusia Suci, Fathi Guven

2. Asyura Dalam Perspektif Islam, Abdul Wahab Al-Kasyi

3. Al Husein Merajut Shara Karbala, Muhsin Labib

4. Badai Pembalasan, Muhsin Labib

5. Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib

6. Dewi-Dewi Sahara, Muhsin Labib

7. Membela Para Nabi, Ja’far Subhani

8. Suksesi, M Baqir Shadr

9. Tafsir Nur Tsaqalain, Ali Umar Al-Habsyi

——————–

17) Penerbit : Al-Bayan

1.Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri, Ibrahim Amini

2.Mengarungi Samudra Kebahagiaan, Said Ahtar Radhawi

3.Teladan Suci Kelurga Nabi, Muhammad Ali Shabban

——————–

18) Penerbit : As-Sajjad

1.Bersama Orang-orang yang Benar, Muh At Tijani

2.Imamah, Ayatullah Nasir Makarim Syirazi

3.Ishmah Keterpeliharaan Nabi Dari Dosa, Syaikh Ja’far Subhani

4.Jihad Akbar, Imam Khomeini

5.Kemelut Kepemimpinan, Ayatullah Muhammad Baqir Shadr

6.Kasyful Asrar Khomeini, Dr. Ibrahim Ad-Dasuki Syata

7.Menjawab Berbagai Tuduhan Terhadap Islam, Husin Alhabsyi

8.Nabi Tersihir, Ali Umar

9.Nikah Mut’ah Ja’far, Murtadha Al Amili

10. Nikah Mut;ah Antara Halal dan Haram, Amir Muhammad Al-Quzwainy

11. Surat-Surat Revolusi, AB Shirazi

——————–

19) Penerbit : Basrie Press

1.Ali Bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, Murtadha Muthahhari

2.Manusia Dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari

3.Fiqh Lima Mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah

——————–

20) Penerbit : Pintu Ilmu

Siapa, Mengapa Ahlul Bayt, Jamia’ah Al-Ta’limat Al-Islamiyah Pakistan

——————–

21) Penerbit : Ulsa Press

1. Mengenal Allah, Sayyid MR Musawi Lari

2.Islam Dan Nasionalisme, Muhammad Naqawi

3.Latar Belakang Persatuan Islam, Masih Muhajeri

4.Tragedi Mekkah Dan Masa Depan Al-Haramain, Zafar Bangash

5.Abu Dzar, Ali Syari’ati

6.Aqidah Syi’ah Imamiyah, Syekh Muhammad Ridha Al Muzhaffar

7.Syahadat Bangkit Bersaksi, Ali Syari’ati

——————–

22) Penerbit : Gua Hira

Kepemimpinan Islam, Murtadha Muthahhari

23) Penerbit : Grafiti

1. Islam Syi’ah: Allamah M.H. Thabathaba’i

2. Pengalaman Terakhir Syah, William Shawcross

3. Tugas Cendikiawan Muslim, Ali Syaria’ti

——————–

24) Penerbit : Effar Offset

Dialog Pembahasan Kembali Antara Sunnah & Syi’ah Sulaim Al-Basyari &

Syaraduddien Al ‘Amili

——————–

25) Penerbit : Shalahuddin Press

1. Fatimah Citra Muslimah Sejati, Ali Syari’ati

2. Gerbang Kebangkitan, Kalim Siddiqui

3. Islam Konsep Akhlak Pergerakan, Murtadha Muthahhari

4. Panji Syahadah, Ali Syari’ati.

5. Peranan Cendekiawan Muslim, Ali Syari’ati

——————–

26) Penerbit : Ats-Tsaqalain

Sunnah Syi’ah dalam Dialog, Husein Al Habsyi

——————–

27) Penerbit : Pustaka

Kehidupan Yang Kekal, Morteza Muthahari

——————–

28) Penerbit : Darut Taqrib

Rujuk Sunnah Syi’ah, M Hashem

——————–

29) Penerbit : Al-Muntazhar

1. Fiqh Praktis Syi’ah Imam Khomeini, Araki, Gulfaigani, Khui

2. Ringkasan Logika Muslim, Hasan Abu Ammar

3. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem

4. Tauhid: Rasionalisme Dan Pemikiran dalam Islam, Hasan Abu Ammar

——————–

30) Penerbit : Gramedia

Biografi Politik Imam Khomeini, Riza Sihbudi

——————–

31) Penerbit : Toha Putra

Keutamaan Keluarga Rasulullah, Abdullah Bin Nuh

——————–

34) Penerbit : Gerbang Ilmu

Tafsir Al-Amtsal (Jilid 1), Nasir Makarim Syirazi

——————–

35) Penerbit : Al-Jawad

1. Amalan Bulan Ramadhan Husein Al-Kaff

2. Mi’raj Ruhani [1], Imam Khomeini

3. Mi’raj Ruhani [2] Imam Khomeni

4. Mereka Bertanya Ali Menjawab, M Ridha Al-Hakimi

5. Pesan Sang Imam, Sandy Allison (penyusun)

6. Puasa dan Zakat Fitrah Imam Khomeini & Imam Ali Khamene’i

——————–

36) Penerbit : Jami’ah al-Ta’limat al-Islamiyah

Tuntutan Hukum Syari’at, Imam Abdul Qasim

37) Penerbit : Sinar Harapan

1. Iran Pasca Revolusi, Syafiq Basri

2. Perang Iran Perang Irak, Nasir Tamara

3. Revolusi Iran, Nasir Tamara

——————–

38) Penerbit : Mulla Shadra

1. Taman Para Malaikat, Husain Madhahiri

2. Imam Mahdi Menurut Ahlul Sunnah Wal Jama’ah, Hasan Abu Ammar

——————–

40) Penerbit : Duta Ilmu

1. Wasiat Imam Ali, Non Mentioned

2. Menuju Pemerintah Ideal, Non Mentioned

——————–

41) Penerbit : Majlis Ta’lim Amben

114 Hadis Tanaman, Al Syeikh Radhiyuddien

——————–

41) Penerbit : Grafikatama Jaya

Tipologi Ali Syari’ati

——————–

42) Penerbit : Nirmala

Menyingkap Rahasia Haji, Syeikh Jawadi Amuli

——————–

43) Penerbit : Hisab

Abu Thalib dalam Polemik, Abu Bakar Hasan Ahmad

——————–

44) Penerbit : Ananda

Tentang Sosiologi Islam, Ali Syari’ati

——————–

45) Penerbit : Iqra

Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, Ali Shari’ati

——————–

46) Penerbit : Fitrah

Tuhan dalam Pandangan Muslim, S Akhtar Rizvi

——————–

47) Penerbit : Lentera Antarnusa

Sa’di Bustan, Sa’di

——————–

48) Penerbit : Pesona

Membaca Ali Bersama Ali Bin Abi Thalib, Gh R Layeqi

——————–

49) Penerbit : Rajawali Press

Tugas Cendekiawan Muslim, Ali Shari’ati

——————–

50) Penerbit : Bina Ilmu

Demonstran Iran dan Jum’at Berdarah di Makkah, HM Baharun

——————–

51) Penerbit : Pustaka Pelita

1. Akhirnya Kutemukan Kebenaran, Muh Al Tijani Al Samawi

2. Cara Memperoleh Haji Mabrur, Husein Shahab

3. Fathimah Az-Zahra: Ummu Abiha, Taufik Abu ‘Alama

4. Pesan Terakhir Nabi, Non Mentioned

——————–

52) Penerbit : Pustaka

1. Etika Seksual dalam Islam, Morteza Muthahhari

2. Filsafat Shadra, Fazlur Rahman

3. Haji, Ali Syari’ati

4. Islam dan Nestapa Manusia Modern, Seyyed Hosein Nasr

5. Islam Tradisi Seyyed, Hosein Nasr

6. Manusia Masa Kini Dan Problem Sosial, Muhammad Baqir Shadr

7. Reaksi Sunni-Syi’ah, Hamid Enayat

8. Surat-Surat Politik Imam Ali, Syarif Ar Radhi

9. Sains dan Peradaban dalam Islam, Sayyed Hossein Nasr

——————–

53) Penerbit : Pustaka Jaya

Membina Kerukunan Muslimin, Sayyid Murthadha al-Ridlawi

——————–

54) Penerbit : Islamic Center Al-Huda

1. Jurnal Al Huda (1)

2. Jurnal Al Huda (2)

3. Syiah Ditolak, Syiah Dicari, O. Hashem

4. Mutiara Akhlak Nabi, Syaikh Ja’far Hadi

——————–

55) Penerbit : Hudan Press

1. Tafsir Surah Yasin, Husain Mazhahiri

2. Do’a-Do;a Imam Ali Zainal Abidin

——————–

56) Penerbit : Yayasan Safinatun Najah

1. Manakah Jalan Yang Lurus (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

2. Manakah Jalan Yang Lurus (2), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

3. Manakah Jalan Yang Lurus (3), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

4. Manakah Shalat Yang Benar (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

——————–

57) Penerbit : Amanah Press

Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari

——————–

58) Penerbit : Yayasan Al-Salafiyyah

Khadijah Al-Kubra Dalam Studi Kritis Komparatif, Drs. Ali S. Karaeng Putra

——————–

59) Penerbit : Kelompok Studi Topika

Hud-Hud Rahmaniyyah, Dimitri Mahayana

——————–

60) Penerbit : Muthahhari Press/Muthahhari Paperbacks

1. Jurnal Al Hikmah (1)

2. Jurnal Al Hikmah (2)

3. Jurnal Al Hikmah (3)

4. Jurnal Al Hikmah (4)

5. Jurnal Al Hikmah (5)

6. Jurnal Al Hikmah (6)

7. Jurnal Al Hikmah (7)

8. Jurnal Al Hikmah (

9. Jurnal Al Hikmah (9)

10. Jurnal Al Hikmah (10)

11. Jurnal Al Hikmah (11)

12. Jurnal Al Hikmah (12)

13. Jurnal Al Hikmah (13)

14. Jurnal Al Hikmah (14)

15. Jurnal Al Hikmah (15)

16. Jurnal Al Hikmah (16)

17. Jurnal Al Hikmah (17)

18. Shahifah Sajjadiyyah, Jalaluddin Rakhmat (penyunting)

19. Manusia dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari

20. Abu Dzar, Ali Syariati

21. Pemimpin Mustadha’afin, Ali Syariati

——————–

61) Penerbit : Serambi

1. Jantung Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri

2. Pelita Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri

——————–

62) Penerbit : Cahaya

Membangun Surga Dalam Rumah Tangga, Huzain Mazhahiri

——————–

63(Non Mentioned)

1. Sekilas Pandang Tentang Pembantain di Masjid Haram, Non Mentioned

2. Jumat Berdarah Pembantaian Kimia Rakyat Halajba 1988, Non Mentioned

3. Al-Quran dalam Islam, MH Thabathabai

4. Ajaran-Ajaran Asas Islam, Behesti

5. Wacana Spiritual, Tabligh Islam Program

6. Keutamaan Membaca Juz Amma, Taufik Yahya

7. Keutamaan Membaca Surah Yasin, Waqiah, Al Mulk, Taufik Yahya

8. Keutamaan Membaca Surah Al-Isra & Al-Kahfi, Taufik Yahya

9. Bunga Rampai Keimanan, Taufik Yahya

10. Bunga Rampai Kehidupan Sosial, Taufik Yahya

11. Bunga Rampai Pendidikan, Husein Al-Habsyi

12. Hikmah-Hikmah Sholawat ,Taufik Yahya

13. Bunga Rampai Pernikahan, Taufik Yahya

14. Hikmah-Hikmah Puasa, Taufik Yahya

15. Hikmah-Hikmah Kematian, Taufik Yahya

16. Wirid Harian, Non Mentioned

17. Do’a Kumay,l Non Mentioned

18. Do’a Harian, Non Mentioned

19. Do’a Shobah, Non Mentioned

20. Do’a Jausyan Kabir, Non Mentioned

21. Keutamaan Shalat Malam Dan Do’anya, Non Mentioned

22. Do’a Nutbah, Non Mentioned

23. Do’a Abu Hamzah Atsimali, Non Mentioned

24. Do’a Hari Arafah (Imam Husain), Non Mentioned

25. Do’a Hari Arafah (Imam Sajjad), Non Mentioned

26. Do’a Tawassul, Non Mentioned

27. Do’a Untuk Ayah dan Ibu, Non Mentioned

28. Do’a Untuk Anak, Non Mentioned

29. Do’a Khatam Qur’an, Non Mentioned

30. Doa Sebelum dan Sesudah Baca Qur’an, Non Mentioned

31. Amalan Bulan Sya’ban dan Munajat Sya’baniyah, Non Mentioned

Waspadalah terhadap buku-buku yang di infokan diatas semoga dapat diwaspadai buku-buku diatas yang telah di infokan, Barakallohu’ fiikum

Buku-Buku/Kitab-Kitab yang mengcounter Syi’ah yang patut dibaca dan dipelajari yakni:

1. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Penulis: Ustadz Drs. Hartono Ahmad Jaiz Hafidzhahulloh, Terbitan: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Juli 2005M.

2. Risalah Kepada Pecinta Ahlul Bait, Penulis: Tim Peneliti dan Kajian Dar al-Mutaqa, Riyadh, 2010M.

3. Ahlus Sunnah waljamaah Dan Dilema Syi’ah di Indonesia, Penulis: Ustadz Farid Ahmad Okbah, MA, Terbitan: Perisai Qur’an, Jakarta, September, 2012M. (Lihat di Resensi Info: http://www.nahimunkar.com/fakta-dan-data-bahaya-syiah-di-indonesia/)

4. Buku Eksklusif “ Akhirnya Kutinggalkan Syi’ah “ (Testimoni Tokoh Syi’ah), Karya: Syaikh Abu Khalifah Ali bin Muhammad al-Qudhaibi Hafidzhahulloh, yang diterjemahkan Oleh: Ustadz Ganna Pryadharizal Anaedi, Lc Hafidzhahulloh, Terbitan: Pustaka Imam Ahmad-Jakarta, November 2011.

5. Buku “ Mengapa Saya Keluar Dari Syiah? “, Penulis : Syaikh Al-Allamah Dr. Sayid Husain al-Musawi Hafidzhahulloh, Terbitan: CV. Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur,Agustus 2002.

6. Buku “Mengapa Kita Menolak Syi’ah” hal. 254-257, Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi’ah, LPPI/Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam, Jakarta, Juli 1998 M.

7. Buku Sekelumit Penyimpangan Syi’ah, Penulis: Anung Al-Hamat, Lc, M.Pd, I, Terbitan: FS3I/Forum Studi Sekte-sekte Islam, Bekasi, April 2013. (Lihat di Resensi Info: http://www.nahimunkar.com/fakta-dan-data-bahaya-syiah-di-indonesia/)
8. Buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di indonesia, Terbitan MUI/Majelis Ulama Indonesia Pusat, 2013. (Lihat di Resensi

(umar/faisal/nahimunkar/voa-islam)

Promosikan produk anda voa-islam.com hanya Rp 20.000/hari atau Rp 500.000/bulan

Share this post..

Source: http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/11/12/27556/waspada-ini-63-daftar-buku-syiah-sesat-mengelabui-umat-islam/

0 56

Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama Hadratus Syaikh KH.

Hasyim Asy’ari (1292-1366 H, 1875-1947 M) Tentang Syi’ah

(Fatwa Syaikh Hasyim Asy’ari dan Habib Salim bin Ahmad
bin Jindan tentang Syi’ah Imamiyah)

ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﺔ
ﺍﻷﻭﻟﻰ: ﻓﺼﻞ ﻓﻲ ﺑﻴﺎﻥ ﺗﻤﺴﻚ ﺃﻫﻞ ﺟﺎﻭﻯ ﺑﻤﺬﻫﺐ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ
ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ، ﻭﺑﻴﺎﻥ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﻇﻬﻮﺭ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻧﺘﺸﺎﺭﻫﺎ ﻓﻲ ﺃﺭﺽ ﺟﺎﻭﻯ،
ﻭﺑﻴﺎﻥ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﻴﻦ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ. ﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﻠﻤﻮﺍ
ﺍﻷﻗﻄﺎﺭ ﺍﻟﺠﺎﻭﻳﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﺯﻣﺎﻥ ﺍﻟﺴﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﺨﺎﻟﻴﺔ ﻣﺘﻔﻘﻲ ﺍﻵﺭﺍﺀ
ﻭﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻣﺘﺤﺪﻱ ﺍﻟﻤﺄﺧﺬ ﻭﺍﻟﻤﺸﺮﺏ، ﻓﻜﻠﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﻨﻔﻴﺲ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ، ﻭﻓﻲ ﺃﺻﻮﻝ
ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ، ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ
ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ
ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ. ﺛﻢ ﺇﻧﻪ ﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﻋﺎﻡ ﺍﻟﻒ ﻭﺛﻼﺛﻤﺎﺋﺔ
ﻭﺛﻼﺛﻴﻦ ﺃﺣﺰﺍﺏ ﻣﺘﻨﻮﻋﺔ ﻭﺁﺭﺍﺀ ﻣﺘﺪﺍﻓﻌﺔ ﻭﺃﻗﻮﺍﻝ ﻣﺘﻀﺎﺭﺑﺔ، ﻭﺭﺟﺎﻝ
ﻣﺘﺠﺎﺫﺑﺔ، ﻓﻤﻨﻬﻢ ﺳﻠﻔﻴﻮﻥ ﻗﺎﺋﻤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺳﻼﻓﻬﻢ ﻣﻦ
ﺍﻟﺘﻤﺬﻫﺐ ﺑﺎﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﻭﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﺎﻟﻜﺘﺐ ﺍﻟﻤﻌﺘﺒﺮﺓ ﺍﻟﻤﺘﺪﺍﻭﻟﺔ،
ﻭﻣﺤﺒﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻭﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ، ﻭﺍﻟﺘﺒﺮﻙ ﺑﻬﻢ ﺃﺣﻴﺎﺀ
ﻭﺃﻣﻮﺍﺗﺎ، ﻭﺯﻳﺎﺭﺓ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭﺗﻠﻘﻴﻦ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻋﻨﻪ ﻭﺍﻋﺘﻘﺎﺩ
ﺍﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻭﻧﻔﻊ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﻮﺳﻞ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ… ﻭﻣﻨﻬﻢ ﺭﺍﻓﻀﻴﻮﻥ
ﻳﺴﺒﻮﻥ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻭﻳﻜﺮﻫﻮﻥ
ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ، ﻭﻳﺒﺎﻟﻐﻮﻥ ﻫﻮﻯ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻋﻠﻲ ﻭﺃﻫﻞ
ﺑﻴﺘﻪ ﺭﺿﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﺟﻤﻴﻌﻦ، ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻣﺤﻤﺪ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ
ﺍﻟﻘﺎﻣﻮﺱ: ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻳﺮﺗﻘﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻗﺔ ﺃﻋﺎﺫﻧﺎ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻨﻬﺎ. ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻋﻴﺎﺽ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﻔﺎ: ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ
ﺑﻦ ﻣﻐﻔﻞ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ
ﻓﻲ ﺃﺻﺤﺎﺑﻲ ﻻ ﺗﺘﺨﺬﻭﻫﻢ ﻏﺮﺿﺎ ﺑﻌﺪﻯ ﻓﻤﻦ ﺃﺣﺒﻬﻢ ﻓﺒﺤﺒﻲ ﺃﺣﺒﻬﻢ
ﻭﻣﻦ ﺃﺑﻐﻀﻬﻢ ﻓﺒﺒﻐﻀﻲ ﺃﺑﻐﻀﻬﻢ ﻭﻣﻦ ﺁﺫﺍﻫﻢ ﻓﻘﺪ ﺁﺫﺍﻧﻰ ﻭﻣﻦ
ﺁﺫﺍﻧﻰ ﻓﻘﺪ ﺁﺫﻯ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣﻦ ﺁﺫﻯ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﺷﻚ ﺃﻥ ﻳﺄﺧﺬﻩ ( ﻭﻗﺎﻝ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) ﻻ ﺗﺴﺒﻮﺍ ﺃﺻﺤﺎﺑﻲ ﻓﻤﻦ
ﺳﺒﻬﻢ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﻟﻌﻨﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ﻻ ﻳﻘﺒﻞ ﺍﻟﻠﻪ
ﻣﻨﻪ ﺻﺮﻓﺎ ﻭﻻ ﻋﺪﻻ ( ﻭﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ )ﻻ ﺗﺴﺒﻮﺍ
ﺃﺻﺤﺎﺑﻲ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺠﺊ ﻗﻮﻡ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻳﺴﺒﻮﻥ ﺃﺻﺤﺎﺑﻲ ﻓﻼ
ﺗﺼﻠﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ ﺗﺼﻠﻮﺍ ﻣﻌﻬﻢ ﻭﻻ ﺗﻨﺎﻛﺤﻮﻫﻢ ﻭﻻ ﺗﺠﺎﻟﺴﻮﻫﻢ
ﻭﺇﻥ ﻣﺮﺿﻮﺍ ﻓﻼ ﺗﻌﻮﺩﻭﻫﻢ ( ﻭﻋﻨﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) ﻣﻦ
ﺳﺐ ﺃﺻﺤﺎﺑﻲ ﻓﺎﺿﺮﺑﻮﻩ ( ﻭﻗﺪ ﺃﻋﻠﻢ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﺃﻥ ﺳﺒﻬﻢ ﻭﺁﺫﺍﻫﻢ ﻳﺆﺫﻳﻪ ﻭﺃﺫﻯ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺣﺮﺍﻡ
ﻓﻘﺎﻝ )ﻻ ﺗﺆﺫﻭﻧﻲ ﻓﻲ ﺃﺻﺤﺎﺑﻲ ﻭﻣﻦ ﺁﺫﺍﻫﻢ ﻓﻘﺪ ﺁﺫﺍﻧﻰ ( ﻭﻗﺎﻝ
)ﻻ ﺗﺆﺫﻭﻧﻲ ﻓﻲ ﻋﺎﺋﺸﺔ ( ﻭﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﻓﺎﻃﻤﺔ )ﺑﻀﻌﺔ ﻣﻨﻰ ﻳﺆﺫﻳﻨﻲ
ﻣﺎ ﺁﺫﺍﻫﺎ (. ﺍﻫـ )ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﻫﺎﺷﻢ ﺃﺷﻌﺮﻱ، ﺭﺳﺎﻟﺔ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ، ﺹ 10-9 (.

Maqolah 1
Pasal untuk menjelaskan penduduk Jawi berpegang kepada madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah, dan awal kemunculan bid’ah dan meluasnya di Jawa, serta macam-macam ahli bid’ah di zaman ini. Umat Islam yang mendiami wilayah Jawa sejak zaman dahulu telah bersepakat dan menyatu
dalam pandangan keagamaannya.

Di bidang fikih, mereka berpegang kepada mazhab Imam Syafi’i, di bidang ushuluddin berpegang kepada mazhab Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, dan di bidang tasawuf berpegang kepada mazhab Abu Hamid Al-Ghazali dan Abu Al-Hasan
Al-Syadzili, semoga Allah meridhoi mereka semua. Kemudian pada tahun 1330 H muncul kelompok, pandangan, ucapan dan tokoh-tokoh yang saling berseberangan dan beraneka ragam.

Di antara mereka adalah kaum Salaf yang memegang teguh tradisi para tokoh pendahulu mereka dengan bermazhab dengan satu mazhab dan kitab-kitab mu’tabar, kecintaan terhadap Ahlul Bait Nabi, para wali dan orang-orang salih,
selain itu juga tabarruk dengan mereka baik ketika masih hidup atau setelah wafat, ziarah kubur, mentalqin mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini syafaat, manfaat doa dan tawassul serta lain sebagainya.

Di antara mereka juga ada golongan rofidhoh yang suka mencaci Sayidina Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu anhum, membenci para sahabat nabi dan berlebihan dalam mencintai Sayidina ‘Ali dan anggota keluarganya, semoga Allah meridhoi mereka semua.

Berkata Sayyid Muhammad dalam Syarah Qamus, sebagian mereka bahkan sampai pada tingkatan kafir dan zindiq, semoga Allah melindungi kita dan umat Islam dari aliran ini.

Berkata Al-Qadhi ‘Iyadh dalam kitab As-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Musthafa , dari Abdillah ibn Mughafal, Rasulullah sallallahu alayhi wasallam bersabda:

“Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku. Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku tiada. Barangsiapa mencintai mereka, maka semata-mata karena mencintaiku.
Dan barang siapa membenci mereka, maka berarti semata-mata karena membenciku. Dan barangsiapa menyakiti mereka berarti dia telah menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku berarti dia telah menyakiti Allah. Dan barangsiapa telah menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan menghukumnya.” (HR. al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi
Juz V/hal. 696 hadits No. 3762)

Rasulullah sallallahu alayhi wasallam bersabda:
“Janganlah kamu mencela para sahabatku, Maka siapa yang mencela mereka, atasnya laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah Ta’ala tidak akan menerima amal darinya pada hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah.” (HR. Abu Nu’aim, Al-Thabrani dan Al-Hakim)

Rasulullah sallallahu alayhi wasallam bersabda:
“Janganlah kamu mencaci para sahabatku, sebab di akhir zaman nanti akan datang suatu kaum yang mencela para sahabatku, maka jangan kamu menyolati atas mereka dan shalat bersama mereka, jangan kamu menikahkan mereka
dan jangan duduk-duduk bersama mereka, jika sakit jangan kamu jenguk mereka.” Nabi sallallahu alayhi wasallam telah kabarkan bahwa mencela dan menyakiti mereka adalah juga menyakiti Nabi, sedangkan menyakiti Nabi haram hukumnya.

Rasul sallallahu alayhi wasallam bersabda:
“Jangan kamu sakiti aku dalam perkara sahabatku, dan siapa yang menyakiti mereka berarti menyakiti aku.” Beliau bersabda, “Jangan kamu menyakiti aku dengan cara menyakiti Fatimah. Sebab Fatimah adalah darah dagingku, apa saja yang menyakitinya berarti telah menyakiti aku.” (Risalat Ahli Sunnah wal Jama’ah, h.9-10)

ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: ﻭﻟﻴﺲ ﻣﺬﻫﺐ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺯﻣﻨﺔ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﺓ ﺑﻬﺬﻩ
ﺍﻟﺼﻔﺔ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻻ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻣﻴﺔ ﻭﺍﻟﺰﻳﺪﻳﺔ
ﻭﻫﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻻﻋﺘﻤﺎﺩ ﻋﻠﻰ ﺃﻗﺎﻭﻳﻠﻬﻢ. ﺍﻫـ )ﺍﻟﺸﻴﺦ
ﻣﺤﻤﺪ ﻫﺎﺷﻢ ﺃﺷﻌﺮﻱ، ﺭﺳﺎﻟﺔ ﻓﻲ ﺗﺄﻛﺪ ﺍﻷﺧﺬ ﺑﻤﺬﺍﻫﺐ ﺍﻷﺋﻤﺔ
ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ، ﺹ 29 (.

Maqolah 2
Bukanlah yang disebut mazhab pada masa-masa sekarang ini dengan sifat yang demikian itu kecuali Mazahib Arba’ah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad).

Selain dari pada itu, seperti mazhab Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah, mereka adalah ahul bid’ah yang tidak boleh berpegang kepada pandangan-pandangan mereka. ( Risalah fi Ta’akkud Al-Akhdzi bi Al-Madzahib Al-Arba’ah, h.29)
ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﺔ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: ﺃﻣﺎ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﺍﻟﻤﻬﺘﺪﻭﻥ ﺍﻟﻤﺘﻤﺴﻜﻮﻥ ﺑﺴﻨﺔ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺑﻌﺪﻩ ﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻳﻦ، ﻭﻫﻢ ﺍﻟﻄﺎﺋﻔﺔ ﺍﻟﻨﺎﺟﻴﺔ،
ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻭﻗﺪ ﺍﺟﺘﻤﻌﺖ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻓﻲ ﻣﺬﺍﻫﺐ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﻮﻥ
ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﻮﻥ ﻭﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﻮﻥ ﻭﺍﻟﺤﻨﺒﻠﻴﻮﻥ، ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺧﺎﺭﺟﺎ ﻋﻦ ﻫﺬﻩ
ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ. ﺍﻫـ ﺍﻫـ )ﺍﻟﺸﻴﺦ
ﻣﺤﻤﺪ ﻫﺎﺷﻢ ﺃﺷﻌﺮﻱ، ﺯﻳﺎﺩﺓ ﺗﻌﻠﻴﻘﺎﺕ، ﺹ 25-24 (.

Maqolah 3
Adapun Ahlusunnah mereka adalah para Ahli Tafsir, Hadits dan Fiqih. Sungguh merekalah yang mendapat petunjuk dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi Muhammad sallallahu alayhi wasallam dan para khalifah yang rasyid setelah
beliau.

Mereka adalah ‘kelompok yang selamat’ (thaifah najiyah). Para ulama berkata, pada saat ini kelompok yang selamat itu terhimpun dalam mazhab yang empat; Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali. Maka siapa saja yang keluar atau di luar empat mazhab itu adalah ahlul bid’ah di masa ini (Ziyadat Ta’liqat, h. 24-25)

ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﺔ ﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔ ﻭَﺍﺻْﺪَﻉْ ﺑِﻤَﺎﺗُﺆْﻣَﺮُ ﻟِﺘَﻨْﻘَﻤِﻊَ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉُ ﻋَﻦْ ﺍَﻫْﻞِ
ﺍْﻟﻤَﺪَﺭِﻭَﺍﻟْﺤَﺠَﺮِ. ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “ﺍِﺫَﺍﻇَﻬَﺮَﺕِ
ﺍﻟْﻔِﺘَﻦُ ﺍَﻭِﺍﻟْﺒِﺪَﻉُ ﻭﺳُﺐَّ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻲْ ﻓَﻠْﻴُﻈْﻬِﺮِﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢُ ﻋِﻠْﻤَﻪُ ﻓَﻤَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ
ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﻟَﻌْﻨَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺍَﺟْﻤَﻌِﻴْﻦَ
Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas dari semua orang.

Rasulullah sallallahu alayhi wasallam bersabda: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu,
maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat dan semua orang.” (Muqadimah Qanun Asasi Nahdlatul ulama)

Fatwa Al-Habib Al-Musnid Syekh Salim bin Ahmad bin Jindan (1324-1389 H, 1906-1969 M) Tentang Syi’ah dan
Rofidhoh

ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ: ﻣﻦ ﻫﻢ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ؟ ﻫﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻨﺘﺤﻠﻮﻥ ﺣﺐ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﺒﻴﺐ ﻭﻟﻴﺴﻮﺍ ﻛﺬﻟﻚ ﻭﻳﺰﻋﻤﻮﻥ ﺃﻧﻬﻢ ﺃﺗﺒﺎﻉ ﺃﻛﺎﺑﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻣﺜﻞ
ﺍﻟﺤﺴﻨﻴﻦ ﻭﺃﺑﻴﻬﻤﺎ ﻭﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﻭﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻨﻬﻢ ﻭﻫﻢ ﻳﺘﺒﺮﺃﻭﻥ ﻣﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻭﻋﻤﺮﻭ
ﺑﻦ ﺍﻟﻌﺎﺹ ﻭﺃﻧﺼﺎﺭﻫﻢ ﺭﺿﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ﻓﻴﺴﺒﻮﻧﻬﻢ.
) ﺍﻟﺮﺍﻋﺔ ﺍﻟﻐﺎﻣﻀﺔ ﻓﻲ ﻧﻘﺾ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ, ﺹ 1 (

Siapakah golongan Rofidhoh itu? Mereka adalah kaum yang suka mengklaim palsu kecintaan terhadap ahlul bait, padahal mereka tidaklah demikian. Mereka mengaku sebagai pengikut para tokoh utama ahlul bait seperti Al-Hasan dan
Al-Husain dan ayah mereka berdua (Sy. ‘Ali bin Abi Thalib), juga ‘Ali bin Al-Husain (Zainal Abidin), dan Zaid bin ‘Ali—semoga Allah meridhoi mereka, namun mereka berlepas diri dari Sy. Abu Bakr, Sy. ‘Umar, Sy. ‘Utsman, Sy. Mu’awiyah,
Sy. ‘Amr bin ‘Ash dan para penolong mereka, dan mencaci mereka semuanya. ( Kitab Ar-Ra’at Al-Ghamidhoh fi Naqdh Kalam Al-Rafidhoh , hlm. 1)

ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: ﻭﺍﺗﻔﻖ ﺑﺠﻮﺍﺯ ﻟﻌﻦ ﺷﺎﺗﻤﻬﻢ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ
ﻣﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﻗﻮﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ: ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ
ﻳﺴﺒﻮﻥ ﺃﺻﺤﺎﺑﻲ ﻓﻘﻮﻟﻮﺍ ﻟﻌﻨﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻛﻢ ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﺭﻳﺐ ﻓﻲ
ﺫﻟﻚ ﻷﻥ ﺷﺮﺍﺭ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺴﺒﻮﻥ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻧﺒﻴﻬﻢ , ﻭﺍﻟﺴﺐ
ﻭﺍﻟﺬﻡ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺳﻨﺔ
ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻭﺍﻟﺸﻴﻌﺔ. ﻓﻬﺆﻻﺀ ﻳﺴﻤﻴﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻳﻬﻮﺩ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ,
ﺑﻞ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﺧﻴﺮﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﻟﻮ ﺳﺄﻟﻨﺎ ﺭﺟﻼ ﻳﻬﻮﺩﻳﺎ ﻋﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ
ﻣﻮﺳﻰ ﻟﻴﻘﻮﻝ ﻫﺆﻻﺀ ﺧﻴﺎﺭﻧﺎ ﻭﺃﺣﺒﺎﺀﻧﺎ ﻭﻟﻮ ﺳﺄﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺼﺮﺍﻧﻲ ﺃﻳﻀﺎ
ﻋﻦ ﺣﻮﺍﺭﻱ ﻋﻴﺴﻰ ﻟﻴﻘﻮﻝ ﻫﺆﻻﺀ ﻫﻢ ﺳﺎﺩﺗﻨﺎ ﻭﺧﻴﺎﺭﻧﺎ ﻭﻟﻮ ﺳﺄﻟﻨﺎ
ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾ ﻭﺍﻟﺸﻴﻌﺔ ﻋﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﻟﻴﻘﻮﻟﻮﻥ ﺇﻧﻬﻢ ﺃﺷﺮﺍﺭﻧﺎ
ﻭﻇﺎﻟﻤﻮﻧﺎ ﻗﺎﺗﻠﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﻰ ﻳﺆﻓﻜﻮﻥ! ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
ﻭﺃﺫﻧﺎﺑﻬﻢ ﺛﺒﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻣﻊ ﺇﺛﺒﺎﺕ
ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺰﻋﻤﻮﻥ
ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻣﺴﻠﻤﻴﻦ, ﺃﻭﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﺴﻠﻤﻮﻥ ﻣﻦ
ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ؟؟؟ ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻴﺲ ﺑﺄﻣﺎﻧﻴﻜﻢ ﻭﻻ ﺃﻣﺎﻧﻲ
ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻣﻦ ﻳﻌﻤﻞ ﺳﻮﺀﺍ ﻳﺠﺰ ﺑﻪ )ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ: 122 ( ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ
ﻣﺴﻠﻤﺎ ﻳﺰﻋﻢ ﺃﻧﻪ ﻣﻦ ﺃﻣﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ
ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺍﻟﻀﺎﻟﺔ ﺧﺎﺭﺝ ﻋﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﻨﺎﺭ ) ﺍﻟﺮﺍﻋﺔ ﺍﻟﻐﺎﻣﻀﺔ ﻓﻲ ﻧﻘﺾ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ , ﺹ 8-7 (

Disepakati akan bolehnya melaknat orang yang mencerca para sahabat.

Di riwayatkan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu anhu , sabda Nabi sallallahu alayhi wasallam , “Jika kamu melihat orang-orang yang mencela para sahabatku maka ucapkanlah laknat Allah atas kejahatan kalian!” (HR. Tirmidzi dan Al-Khatib).
Hal ini tak diragukan lagi sebab orang-orang yang mencaci para sahabat nabi adalah seburuk-buruk umat ini. Cacian dan cercaan kepada para sahabat nabi sallallahu alayhi wasallam adalah tradisi kaum rofidhoh dan syiah secara umum.

Mereka itulah yang dinamakan ‘Yahudi Islam’, yaitu kaum yahudi-nya umat ini.

Bahkan umat Yahudi lebih baik daripada mereka, sebab jika kita tanyakan tentang sahabat nabi Musa, mereka jawab, mereka adalah para kekasih orang-orang pilihan kami. Jika kita tanyakan orang nasrani tentang para hawari nabi Isa, mereka jawab, bahwa hawari Isa adalah para pemimpin dan orang terbaik kami. Namun jika kita tanyakan tentang para sahabat nabi Muhammad sallallahu alayhi wasallam kepada kaum rofidhoh dan syiah, mereka jawab, bahwa para
sahabat adalah orang-orang yang jahat dan zalim!

Semoga Allah perangi mereka karena ucapan keji itu.Kesimpulannya, kaum rafidhoh dan para pengekornya (syiah) telah ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah adalah ahli neraka dengan penetapan kekufuran atas mereka dan telah keluar dari agama Islam, betapa pun mereka tetap mengaku muslim.

Sebab, bukankah Yahudi dan Nasrani juga tetap mengaku muslim (pasrah) kepada Allah, dan mengklaim diri mereka ahli syurga?!

Oleh karena itulah, Allah berfirman: bukan karena angan-angan kalian dan juga angan-angan ahli kitab, siapa saja yang mengerjakan keburukan maka ia akan dibalas setimpal (QS. An-Nisa: 122). Dan jika dia tetap kukuh mengaku muslim dari umat Muhammad sallallahu alayhi wasallam, maka ia tergolong pengikut sekte sesat dan telah keluar dari garis sunnah dan jama’ah, dan termasuk ahli neraka. (hlm.7-8)

ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﺔ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ: ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻣﺴﻠﻢ ﻣﺨﻠﺺ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻋﺎﻟﻢ ﺑﻠﺬﺓ
ﺇﺳﻼﻣﻪ ﻭﻃﻌﻢ ﺇﻳﻤﺎﻧﻪ ﺃﻥ ﻳﺆﺩﻱ ﺷﻜﺮﻩ ﻷﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﻓﻀﻼ
ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻟﻜﻦ ﻭﺟﺪﻧﺎ ﺃﺷﺮﺍﺭ ﻫﺬﻩ
ﺍﻷﻣﺔ ﻭﻳﻬﻮﺩﻫﺎ ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾ ﺳﺒﻮﻩ ﻭﻃﻌﻨﻮﻩ ﻭﺭﻣﻮﻩ ﺑﺎﻟﻈﻠﻢ ﻭ
ﺣﺎﺷﺎ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻠﻄﻴﺐ ﺻﺎﺣﺐ ﺳﻮﺀ – ﻳﻌﻨﻲ ﺑﺎﻟﻄﻴﺐ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾ ﻫﻢ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻭﻥ , ﻭﺣﻜﻤﻨﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ
ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺳﺐ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻳﻦ ﻻ ﻳﺤﺒﻬﻢ ﺇﻻ ﻣﺆﻣﻦ ﻭﻻ ﻳﺒﻐﻀﻬﻢ ﺇﻻ
ﻣﻨﺎﻓﻖ ﻣﻌﺎﻧﺪ ﻛﺎﻓﺮ ﻣﻠﻌﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﺍﻷﺭﺿﻴﻦ ﻭﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﺃﻻ ﺇﻥ
ﻟﻌﻨﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻳﻦ ) ﺍﻟﺮﺍﻋﺔ ﺍﻟﻐﺎﻣﻀﺔ ﻓﻲ ﻧﻘﺾ ﻛﻼﻡ
ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ, ﺹ 11 (

Maka wajib atas setiap muslim yang ikhlas dalam imannya, dan merasakan kelezatan islam dan rasa imannya, untuk menunaikan rasa terimakasih kepada Abu Bakr As-Shiddiq, terlebih lagi kepada Rasulullah sallallahu alayhi wasallam .
Akan tetapi kita telah dapati seburuk-buruk umat ini dan yahudinya, yaitu kaum rafidhoh, telah mencaci dan mendiskreditkan beliau (Abu Bakr radhiallahu anhu) dan menuduhnya berbuat zalim.

Sungguh mustahil orang yang baik (yaitu Nabi Muhammad) memiliki teman yang jahat, namun kaum rofidhoh itulah orang kafir, dan kami telah memvonis kekufuran atas siapa saja yang mencaci salah seorang sahabat Nabi Muhammad
sallallahu alayhi wasallam , seperti Khulafa’ Rasyidin.

Hanya orang mukminlah yang mencintai mereka, dan hanya orang munafik, keras kepala, dan kafir lah yang membenci mereka. Orang itu dikutuk dari tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, ingatlah bahwa laknat Allah atas orang-orang
kafir! (hlm. 11).

[Abu Taqi Machicky Mayestino] [Ukhwatuna/rojul/voa-islam]

Promosikan produk anda voa-islam.com hanya Rp 20.000/hari atau Rp 500.000/bulan

Share this post..

Source: http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/11/09/27512/fatwa-pendiri-nu-hasyim-asyari-terkait-kesesatan-syiah/

0 67

JAKARTA (voa-islam.com) – Gerakan menyadarkan masyarakat akan kesesatan ajaran Syi’ah terus dilakukan, di antaranya melalui pembagian gratis buku menerangkan penyimpangan ajaran Syi’ah. Di masjid Al-Ittihad Tebet Jakarta Selatan, Buku Panduan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berjudul “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” dibagikan gratis kepada Jamaah shalat Jum’at (8/11/2013) siang tadi.

“Ya, saya liat sendiri, Buku tersebut dibagikan kepada Jamaah di tangga masjid,” Ujar seorang jamaah bernama Furqan kepada voa-islam.com selepas shalat Jum’at.

Menurut penuturan Furqan, tumpukan buku tersebut ditenteng oleh seseorang dan dibagikan secara gratis kepada jamaah di tangga masuk masjid saat jamaah akan menunaikan shalat Jum’at.

Dari beberapa informasi yang sampai kepada kami, ada beberapa ormas yang siap mencetak & membagikan gratis buku yang menjelaskan kesesatan Syi’ah tersebut kepada masyarakat Muslim tanah air. Hal ini karena ternyata banyak dari umat Islam yang belum paham hakikat Syi’ah, penyimpangan, dan bahayanya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, MUI Pusat mengeluarkan buku baru yang menjelaskan kesesatan ajaran Syi’ah dengan judul “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”. Buku ini menjawab sikap “tak jelas & bimbang” yang selama ini ditunjukkan lembaga keulamaan tertinggi di Indonesia ini, karena adanya beberapa oknum yang berpaham tasyayyu’ di dalamnya.

Dalam kata pengantar buku tersebut disampaikan bahwa isi buku tersebut merupakan keterangan resmi dari MUI Pusat mengenai kesesatan ajaran Syiah. “Buku saku ini dimaksudkan untuk menjadi pedoman umat Islam Indonesia dalam mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syi’ah, sebagaimana yang terjadi di Indonesia, sebagai ‘Bayan’ resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tujuan agar umat Islam tidak terpengaruh oleh faham Syi’ah dan dapat terhindar dari bahaya yang akan mengganggu stabilitas dan keutuhan NKRI.” (hlm. 7-8)

Isi dan tujuan buku ini dijelaskan oleh Tim Penulis dalam pendahuluan yang terletak pada halaman 12-16, seperti dilansir laman resmi LPPI Makassar, Rabu (23/10)

“Atas dasar tugas dan tanggung jawab luhur dalam membina dan menjaga umat pada berbagai aspeknya, dan sebagai bentuk tanggungjawab kehadapan Allah SWT dalam meluruskan aqidah dan syari’ah umat, MUI memberikan panduan kepada umat, dengan berbagai cara, antara lain dengan mengeluarkan fatwa, memberi taushiyyah, atau membuat buku panduan –seperti buku panduan tentang Syiah ini- setelah dilakukan penelitian dan pengkajian secara mendalam.

Buku panduan ini sebagian merupakan penjelasan teknis dan rinci dari remokendasi Rapat Kerja Nasional MUI pada Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 bahwa Faham Syiah mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan umat Islam harus meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya faham ini, juga fatwa MUI 22 Jumadil Akhir 1418H./25 Oktorber 1997 tentang Nikah Mut’ah. Dalam konsiderannya, Fatwa ini menyatakan bahwa mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tidak mengakui dan menolak paham Syiah secara umum dan nikah mut’ah secara khusus.

Dalam buku panduan ini secara garis besar memuat tentang sejarah Syiah, penyimpangan Syiah, pergerakan dan metode penyebaran Syiah di Indonesia, dan sikap MUI terhadap Syiah.

Hadirnya buku panduan ini merupakan wujud dari tanggung jawab dan sikap tegas MUI itu, dengan harapan umat Islam Indonesia mengenal Syiah dengan benar dan kemudian mewaspadai serta menjauhi dakwah mereka, karena dalam pandangan MUI faham Syiah itu menyimpang dari ajaran Islam, dan dapat menyesatkan umat.” (hlm. 13-15)

Karena itu, dengan hadirnya buku ini diharapkan masyarakat tidak lagi dibuat bingung oleh ulah beberapa oknum yang mengatasnamakan MUI untuk mengatakan Syiah tidak sesat, seperti yang pernah termuat dalam Harian Fajar Makassar yang menyebutkan, MUI: Syiah Sah Sebagai Mazhab Islam. Juga, beberapa sikap tokoh yang menyederhanakan persoalan Sunni-Syiah, seperti Syafi’i Ma’arif, Din Syamsuddin, Aqil Siradj dan lain-lain. (PurWD/voa-islam.com)

Promosikan produk anda voa-islam.com hanya Rp 20.000/hari atau Rp 500.000/bulan

Share this post..

Source: http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/11/08/27490/buku-mui-menjelaskan-kesesatan-syiah-dibagikan-gratis-saat-jumatan/

0 101
Umar Shahab duduk disamping ketua pelaksana acara ustadz Aqib sebelum pelarangan dirinya untuk berbicara pada sesi kedua, setelah shalat zuhur.

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua Dewan Syura Ahlul Bait Indonesia, Umar Shahab secara tiba-tiba dilarang menyampaikan isi makalahnya dalam acara Seminar sehari dan Diskusi Interaktif Sunni-Syiah yang diadakan di Gedung Diklat Kimia Farma, Polonia, Jakarta Timur pada Selasa, 5 November 2013.

Pada acara yang bertajuk “Polemik Suksesi kekhalifahan dan Tragedi Berdarah Karbala: Pengaruhnya terhadap perkembangan Mazhab Islam”, Umar Shahab yang tiba di tempat diskusi pukul 11.30 WIB diminta tidak berbicara di depan hadirin karena makalahnya provokatif dan dinilai panitia tidak ilmiah.

Ketua penyelenggara acara diskusi Sunni-Syiah, Ustadz Aqib mengatakan bahwa Umar Shahab yang mewakili kelompok syiah memang diminta untuk tidak menyampaikan makalahnya karena tulisannya yang berjudul, “Saksikan Aku adalah Syiah” dianggap provokatif dan menyimpang dari tema yang diminta oleh pihak panitia.

“Setelah kami tinjau dari makalah yang dia buat, ternyata tidak sesuai dengan apa yang diminta. Kita bukan apa-apa inikan forum ilmiah, forum akademis. Jadi yang diminta adalah tema: Upaya Pendekatan (Taqrib) kaum Sunni dengan Syiah dalam rangka Ukhuwah Islamiyah. Tapi, dia (Umar Shahab) membawakan judul: Saksikan Aku Adalah Syiah,” ujar Aqib kepada Kiblatnet seusai diskusi berlangsung.

Selain itu, dalam makalah yang ditulis Umar Shahab tidak ada rujukan ilmiah berupa catatan kaki, sebagaimana tulisan ilmiah pada umumnya.

“Secara ilmiah, masing-masing pemakalah memiliki referensi dan rujukan, berupa catatan kaki (footnote). Tapi kalau liat disini, itu gak ada,” tuturnya seraya menunjukkan makalah Umar Shahab yang hanya berjumlah 10 halaman, paling tipis dibandingkan makalah pembicara yang lain.

“Kalau namanya ilmiah itu harus ada footnote, ada rujukan,” protesnya.

Pihak panitia diskusi menyatakan secara langsung kepada Umar Shahab bahwa makalah ini tidak dapat dipresentasikan karena tidak memenuhi standar ilmiah. Namun, permintaan dari panitia ini dimaklumi oleh Umar Shahab.

“Kita minta di-pending dulu, karena ini tidak ilmiah, dan beliau (Umar Shahab) memaklumi” ujarnya.

Berdasarkan pemantauan Kiblatnet di lapangan, saat beberapa peserta mengetahui bahwa Umar Shahab dilarang menyampaikan presentasinya, sejumlah peserta langsung bergegas pulang.

“Ah, kita pulang aja, ada pembicara yang di-blok,” ujar salah seorang ibu-ibu yang bersama sejumlah peserta perempuan lainnya lantas bergegas keluar.

Salah seorang bapak-bapak lainnya juga kecewa dengan batalnya tokoh syiah Indonesia itu gagal naik podium.

“Kenapa digagalkan? Biarkan dia bicara. Dia harus mempertanggungjawabkan isi makalah ini!” sergah pria setengah baya yang terlihat kecewa.

Pihak panitia kemudian menenangkan para peserta dan menjelaskan bahwa Umar Shahab tidak diperkenankan mempresentasikan makalahnya, semata karena alasan akademis.

(Kiblatnet/arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/news/2013/11/05/makalahnya-provokatif-tidak-ilmiah-umar-shahab-dilarang-bicara.html

0 42

Gubernu Jawa Timur H Soekarwo yang pernah mengeluarkan Pergub No. 55 tahun 2012 tentang aliran sesat

Oleh: Kholili Hasib

MESKI Jawa Timur mayoritas Muslimnya menganut tradisi Nadlatul Ulama (NU), namun juga menjadi salah satu basis utama daerah penyebaran aliran Syiah.

Gerakan dakwah Syiah mulai muncul sekitar tahun 80-an, sebagai pengaruh dari Revolusi Iran pada tahun 1979 di bawah Ayatullah Khomeini.

Umumnya, Syiah membangun basis di daerah Tapal Kuda dan sekitarnya. Karena itu, wilayah konflik antara Syiah dengan warga NU masih sering terjadi di sekitar daerah Tapal Kuda. Atau di daerah yang basis nadliyyinnya cukup kuat, seperti Madura.

Untuk mengatasi kasus itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerbitkan Pergub No. 55 tahun 2012 tentang aliran sesat. Dalam pasal 4 ayat 1 ditulis: “Setiap kegiatan keagamaan dilarang berisi hasutan, penodaan, penghinaan dan/atau penafsiran yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama yang dianut di Indonesia, sehingga dapat menimbulkan gangguan ketentraman dan ketertiban masyarakat.

Pertikaian terjadi memang selalu dipicu oleh dakwah menghasut dan penodaan terhadap Sahabat Nabi. Sedangkan Sahabat Nabi di kalangan Sunni sangat dihormati. Meski begitu, adanya Pergub No. 55 tersebut tak begitu berdampak bagi Syiah sendiri. Ekspansi dakwah tetap berlangsung dengan beberapa pendekatan.

Pendekatan Dakwah

Setidaknya terdapat tiga tipe gerakan dakwah Syiah di Jawa Timur; yaitu melalui pendirian lembaga pendidikan, kelompok pengajian untuk kaum tradisional dan ekspansi ke kampus.

Daerah Bangil, Malang, Jember, Bondowoso, Probolinggo merupakan tempat-tempat yang banyak dihuni komunitas Syiah. Lembaga pendidikan yang paling maju terdapat di Malang dan Bangil. Di kota Malang, mereka mendirikan lembaga pendidikan unggul yaitu lembaga pendidikan al-Kautsar yang menyelenggarakan pendidikan mulai TK dan SD.

Di Bangil, mereka memiliki lembaga bernama YAPI (Yayasan Pendidikan Islam al-Ma’hadul Islami) didirikan oleh tokoh kharismatik Syiah, almarhum Habib Husein al-Habsyi. Habib Husein al-Habsyi merupakan tokoh Syiah yang sangat berpengaruh. Di tangan dia, lahir kader-kader intelektual yang dikirim ke Qum, Iran.

Bahkan, kabarnya, YAPI menjadi salah satu pusat kaderisasi Syiah, selain di Bandung. Habib Husein, yang mantan aktivis Masyumi, tertarik dengan Iran sejak meletus Revolusi. Kekaguman kepada Khomeini membelokkan pemikirannya kepada aliran Syiah.

Di wilayah inilah potensi gesekan dengan Sunni cukup besar. Ada beberapa sebab untuk melihat kasus ini.

Pertama, di antaranya, komunitas Syiah ini berada di tengah-tengah warga NU. Warga NU yang memiliki ghirah (semangat) di daerah ini tentu saja tidak melupakan sepak terjang Syiah pada medio antara tahun 80-an sampai 90-an. Dakwah Syiah pada tahun-tahun itu lebih terbuka. Sampai banyak pula anak-anak warga NU yang belajar di lembaga tersebut beralih menjadi Syiah.

Penyebab utamanya bukan sekedar banyaknya anak muda yang berkonversi ke Syiah, namun militansi Syiah justru dinilai kerap memancing warga.

Pada tahun 2007, dari laporan PCNU Jember, terdapat sekitar 30 orang warga Dusun Sumberlucu, Kecamatan Ledokombo Jember yang pindah ke Syiah.

Dalam edaran yang ditanda tangani Ketua Takmir Masjid Nurul Islam diceritakan bahwa sejak konversi 30 warag NU ke Syiah itu, warga Desa Sumberlucu resah.

Karena warga yang NU dihujat, dilecehkan, bahkan dikatakan ajaran NU sesat dan menyesatkan. Bahkan, salah seorang dai Syiah terang-terangan mencela Abu Bakar dan Umar bin Khattab dalam ceramah. Hal itu selalu memancing emosi dan konflik kecil.

Di daerah-daerah yang memiliki basis tradisional kuat, Syiah memakai pendekatan akhlak dan kajian ala tradisional. Seperti di Jember, dai Syiah mengadakan pengajian maupun kajian rutin dengan pendekatan bahasa daerah, atau ceramah yang bisa menyentuh hati masyarakat nadliyyin tradisional.

Dai Syiah cenderung mengikuti selera masyarakat, di mana pendekatan pengajiannya mirip dengan yang selama ini menjadi tradisi Kiai NU di pedesaan.

Pendekatan ini rupanya cukup efektif bagi Syiah. Gaya ini tidak mudah dikenali oleh kaum tradisional NU di daerah-daerah tertentu.

Pengelabuhan itu rupanya menghasilkan hasil yang efektif. Terbukti terdapat di daerah tertentu puluhan kepala keluarga eksodus ke Syiah. Pertama-tema, dikenalkan keutamaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibandingkan para Sahabat yang lain. Setelah, fanatisme kepada Ali bin Abi Thalib tertanam, pelan-pelan para jama’ah memiliki pemahaman, tiada kemulyaan bagi Sahabat-sahabat Nabi. Menariknya, pendekatan ala tradisional ini tidak diterapkan di kampus-kampus.

Sekitar tahun 90-an hingga tahun awal tahun 2000-an Syiah sudah masuk kampus-kampus di Jawa Timur. Di Unair Surabaya dan Unibraw Malang ditengarahi terdapat komunitas kajian mahasiswa Syiah. Mereka mendirikan IJABI Intelectual Community dan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia).

Di kampus-kampus yang terdapat komunitas IJABI, Syiah mendirikan kelompok-kelompok kajian dan diskusi. Tahun 2000-an mereka menolak kelompok kajiannya disebut halaqah.

Mungkin untuk membedakan dengan jamaah mahasiswa Muslim lainnya.Kajian mereka lebih terbuka, menggunakan pendekatan akademik. Dan tidak mau disebut Syiah. Saat ini, gerakan Syiah di kampus cenderung menurun. Syiah Jawa Timur lebih fokus membidik kaum tradisional dan pendirian lembaga pendidikan.*

Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya

Berlanjut ke ARTIKEL Kedua

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/01/7106/ekspansi-dan-kegagalan-toleransi-syiah-di-jawa-timur-1.html

0 41

Mengenal Syi’ah

Oleh Saad Saefullah — Rabu 25 Zulhijjah 1434 / 30 October 2013 09:03

IRAN merupakan negara Syiah terbesar. Selain Iran, negara manakah lagi yang bersekongkol dengan Yahudi atau Zionis dengan menunjukkan diri mereka sebagai pejuang Islam sedangkan mereka sebenarnya bekerjasama dengan Yahudi atau Zionis?

Lebanon

Lebanon adalahnegara syiah ketiga. Hasan Nasrullah yang digambarkan sebagai pejuang Islam disokong habis-habisan. Mereka mengaitkan Hizbullah dengan hizbullah yang disebut di dalam Al-Quran.

Saluran teve Lebanon Al-Manar sering memperlihatkan rekaman dimana mereka mengangkat bendera-bendera Khomeini. Apa kaitan Khomeini dengan Lebanon? Nampak jelas mereka berusaha menjadikan Lebanon negara syiah yang ketiga, setelah Iran dan Iraq.

Bahrain

Bahrain hari ini hampir 60% rakyatnya pro-Syiah. Bahrain berseberangan dengan Saudi. Di Bahrain, keluarga Al-Khalifa telah memerintah sejak 1783. Sekarang monarki konstitusional dengan majelis legislatif terpilih; Syiah yang mayoritas menuntut kekuatan lebih besar daripada penguasa Sunni. Dan, ini menunjukkan betapa pengaruh Syiah di Bahrain semakin kuat, dan akan menjadi ancaman stabilitas khususnya di negara-negara Teluk.

Suriah

Siapa pemerintah Suriah? Basyar al-Assad. Basyar al-Assad ini akidahnya Syiah Nushairiah. Dahulu kita tidak pernah mendengar istilah Nushairiah, tetapi pada hari ini kita dengar. Ulama terdahulu telah membahas Nushairiah ini secara detil. Mereka ini akidah Syiah yang lebih ekstr3m, dipanggil kategori Bathiniyyah, agama bagi mereka lebih kepada simbolik, antaranya bagi mereka Ali itu Tuhan. Bahkan mereka sanggup mempertuhankan imam mereka, menabikan, dan merasulkan pemimpin-pemimpin mereka. Sehingga mendakwa malaikat Jibril telah bersalah menyampaikan wahyu kepada Muhammad, sepatutnya Jibril menurunkan wahyu kepada Ali.

Semua orang bisa melihat di youtube bagaimana orang yang taksub kepada Basyar Al-Assad menyembah gambarnya. Di Suriah, Syiah lebih kurang 30% saja. 70% adalah ahlus sunnah. Dalam waktu tiga tahun belakangan ini, sekitar 100.000 muslim Sunni dibunuh sudah oleh rezim al-Assad. Jumlah ini jauh melebihi pembantaian Israel terhadap rakyat Palestina dalam kurun waktu 64 tahun yang “menghabisi” nyawa orang Palestina sebanyak kira-kira 60.000.

Libya

Seterusnya Libya. Libya juga pengaruh Syiah, tokohnya Muammar Ghaddafi cenderung kepada Syiah Fathimiyyah. Sebab itu di dalam ucapannya beberapa tahun lalu (sudah diterjemahkan) secara tegas ia mengatakan “kita Daulah Fathimiyyah, Mesir tidak boleh lari, mereka juga adalah Daulah Fathimiyyah. Kita akan bangkitkan Daulah Fathimiyyah.” Fathimiyyah ini Syiah, dan ulama-ulama Timur Tengah telah memfatwakan akidah mereka menyeleweng dari akidah ahlus sunnah wal jamaah. Kebangkitan masyarakat Libya adalah atas dasar korupsi. Jadi unsur-unsur (Syiah) itu ada.

Bagaimana dengan Indonesia? Untuk saat ini, jumlah Syiah di Indonesia masih sedikit, namun mereka bukan hanya menggeliat. Tapi melakukan manuver besar ke segala lini. Di Indonesia, Syiah dapat menyebarkan ajarannya dengan bebas. Satu yang dianggap bermasalah ketika Syiah menyebarkan agamanya adalah ia selalu mengatasnamakan Islam. Padahal, sudah jelas dan nyata, Syiah dan Islam berbeda secara aqidah. Wallahua’lam. []

Source: http://www.islampos.com/mana-saja-negara-negara-syiah-84710/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mana-saja-negara-negara-syiah

0 62

Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com

Pizaro saat peluncuran bukunya di Jakarta

“SIAPA ini Pizaro?” Pertanyaan itu dilontarkan Abdullah, bukan nama sebenarnya, kepada seorang jurnalis. Dia sedang mencari tahu tentang Pizaro, seseorang yang disebut-sebut gemar memecah-belah umat. Abdullah, salah seorang kader sebuah Ormas Islam yang berpusat di Jakarta, mendapat informasi dan perintah itu dari seorang penganut Syiah, sebut saja namanya Ahmad.

“Pizaro tuh dihabisin ajalah!” perintah Ahmad kepada Abdullah.

Siapa dan mengapa dengan pria yang hendak dihabisi nyawanya itu? Adalah Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, yang baru saja menulis buku tentang Syiah. Melalui berbagai tulisan dan kegiatannya, pria asli Minang kelahiran Jakarta, 31 Agustus 1985 ini kerap mengungkap masalah Syiah.

Menjadi aktivis dakwah Islam memang bukan pilihan yang ringan. Dampak baik dan buruk harus selalu siap dihadapi. Pizaro, panggilannya, paham benar akan hal ini. Teror demi teror pun bukan barang baru.

Beberapa waktu lalu pria yang menulis sebuah buku berjudul “Zionis & Syiah Bersatu Hantam Islam” mengungkapkan hubungan Zionis-Syiah. Sejak terbitnya buku itu pada Juli 2013, Pizaro mengaku kerap mendapat teror.

“Iya, sering (teror) itu. Apalagi setelah saya bikin buku ini ya. Banyak saya dicari orang Syiah,” ungkapnya saat berbagi cerita dengan hidayatullah.com di Polonia, Jakarta Timur, Kamis, 24 Oktober lalu.

Beruntung bagi Pizaro, orang Syiah yang hendak menghabisinya sekitar dua bulan lalu itu tampaknya tidak berbuat lebih jauh. Pasalnya, Abdullah segera tahu siapa pria yang dicari itu sebenarnya.

“Pizaro itu wartawan, dia tuh orang (Jurnalis Islam Bersatu) JITU, di belakangnya tuh FIPS. Di FIPS itu (ada) Ustadz Farid (Okbah), Ustadz Bachtiar Natsir, Ustadz Adian (Husain),” terang AD, inisial jurnalis yang ditanya Abdullah di atas, seperti ditirukan Pizaro. Info teror itu didapatkan Pizaro dari rekannya sesama anggota JITU tersebut.

Mengetahui Pizaro didukung FIPS (Forum Indonesia Peduli Syam) dan sejumlah tokoh anti Syiah di atas, Abdullah hingga kini tidak menindaklanjuti perintah sekaligus ancaman Ahmad untuk Pizaro.

Diserbu Anggota IJABI

Meski kerap diteror, Pizaro semakin hari semakin gencar mengkampanyekan bahaya Syiah, apalagi dengan lahirnya buku “Zionis & Syiah Bersatu Hantam Islam”. Berbagai acara bedah buku tersebut digelar di banyak daerah. Menariknya, kalangan Syiah tidak tinggal diam atas kehadiran bukunya.

“Kalau lagi bedah buku, selalu datang orang Syiah itu. Datang dalam skala besar. Di Bandung (didatangi rombongan) satu bis, sekitar 1 bulan lalu,” tutur wartawan Islampos.com ini.

Bahkan orang-orang Syiah itu, lanjutnya, terang-terangan mengaku dari Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Satu hari sebelum acara, mereka sudah menelepon panitia bedah buku.

“Kami dari IJABI berencana akan datang bedah buku besok,” ujar Pizaro menirukan konfirmasi IJABI.

“Cuma panitianya ini agak tegas juga, bagus juga. Dia bilang, ‘Silahkan Anda (IJABI. Red) datang, kami tidak akan menghalangi. Tapi jangan bikin keributan.” Akhirnya mereka datang nggak berani bersuara,” sambung Pizaro sembari menirukan pernyataan panitia bedah buku yang saat itu diorganisasi oleh Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI).*/Bersambung

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/10/28/7040/pernah-diteror-dan-diserbu-anggota-ijabi-1-bis.html

0 95

Senin, 28/10/2013 12:23:46 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 253

Rais Syuriah PBNU KH Syaifuddin Amtsir sedang berbincang dengan Kedua Dewan Syuro Ijabi Jalaluddin Rahmat dalam seminar internasional dalam rangka peringatan Idul Ghadir di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu, 16/10/2013. (foto: shodiq)

Jakarta (SI Online) – Ikatan Jamah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi), salah satu organisasi kaum Syiah di Indonesia pada Sabtu, 26 Oktober 2013 lalu, di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, menggelar peringatan Idul Ghadir. Acara peringatan dikemas dalam bentuk seminar internasional bertajuk “Imam Ali as Putra Ka’bah Pemersatu Ummat”.

Selain tokoh syiah Indonesia yang sekaligus Ketua Dewan Syuro Ijabi Jalaluddin Rahmat, panitia mengundang tokoh NU dan Muhammadiyah sebagai pembicara, yakni Rois Syuriah PBNU KH Syaifuddin Amsir, MA dan Ketua PP Aisiyah yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof Dr Masyitoh Chusnan. Selain mereka juga hadir budayawan Ridwan Saidi, Dubes Paraguay dan Dubes Iran serta seorang cendekiawan dari Iran.

Berikut adalah kutipan lengkap isi pidato Rois Syuriah PBNU KH Syaifuddin Amsir dalam seminar yang iikuti sekitar 1500 pengikut Syiah Indonesia itu:

Saya sudah cukup lama membuat suatu kesimpulan yang saya belum pernah menemukan bagaimana rasanya membuat kesimpulan itu menjadi berubah. Yaitu sejak tahun ’81, waktu datang delegasi yang diutus oleh pemerintah Iran, yang saya masih ingat namanya, Syekh Abdul Qadir Al Katiri Asy Syafii. Beliau datang mengawal salah satu orang alim besar dari Iran sana yang begitu mengesankan saya pada saat memaparkan apa yang ia rasakan tentang Indonesia dengan pernik-pernik pandangannya yang berupa-rupa, yang bermacam-macam terhadap Iran itu

Saat itu Abdul Qadir Al Katiri Asy Syafii, yang mungkin ia dari Kurdistan, memeluk saya saat saya menerjemahkan kalimat-kalimatnya buat para mahasiswa, buat anak-anak SMA, anak-anak sekolah madrasah yang datang ingin tahu rupa dari revolusi dan dari kembalinya al Imam Ayatullah Ruhullah al Khameini itu berikut pengantarnya-pengantarnya.

OIoo begini rupanya, revolusi Iran ditulis secara lengkap oleh Prof Dr Nasir Tamara yang belum jadi profesor saat itu sekitar tahun ’81. Dan saya menjadi terkejut juga ketika berkomentar, sampai saya tidak tahu lagi namanya, Ayatullah dari Iran itu yang berkata, “Kalian itu masih banyak yang terkungkung dengan kejahatan pers internasional. Sebab kalian hanya mendengar info yang dilansir dari koran-koran di Indoensia bahwa kami orang Iran memenjarakan ilmuwan-ilmuwan dari kalangan sunni. Bila anda datang kesana anda akan melihat sesuatu yang sama sekali berbeda bahwa kamilah yang menghormati ilmu dan menghormati para ilmuwan sunni yang kami posisikan pada tempatnya yang benar. Dia ilmuwan kami beri jatah mereka sebagai ilmuwan.”

Pada jumpa pertama di tahun ’81 di Jakarta di Kedutaan Iran itu saya mendengar info seperti ini. Dan betapa hebatnya, menurut perasaan saya, ketika dalam pemaparan yang menggebu-gebu itu beliau hanya membagikan-bagikan kepingan-kepingan seperti uang dari logam, kepingan logam itu yang bersimbolkan Masjidil Haram..ee Masjidil Aqsha. Bagaimana dengan Masjidil Aqsha?. Itulah tawaran mereka. Siapa yang berkuasa di sana sekarang ini?. Orang tahu Masjid Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah yang kedua-duanya masih dalam kekuasaan kaum muslimin, tapi bagaimana dengan Al Aqsha?.

Eee saya kira suatu pertanyaan yang dirasakan siapa saja, “man lam yahtamma bi amril muslimina falaysa minhum.” Itulah yang tersemat dalam ingatan saya.

Hadirin hadirot yang saya cintai saya mulyakan

Kesimpulan yang saya maksud saat itu, bila tujuan sama, bila jalannya sama, bila yang disembah sama, bila kitab sucinya sama, tetapi dalam kesamaan-kesamaan yang begitu mendominasi seluruh daerah pemikiran di dunia Islam, lalu dari sesuatu yang serba sama muncul tuduhan-tuduhan saling salah dan saling berbeda maka semua orang akan berkesimpulan tidak ada yang benar di dalam dunia Islam. Tidak ada lagi yang patut diikuti di dalam dunia Islam.

Kata syi’i, antum mukhtiin, ya sunniyin kamu ini orang salah semua hai ahli sunnah. Kata sunni kamu juga orang serba salah semua hai orang-orang syiah. Lalu datang pertanyaan bila kedua pihak cuma bisa menyalahkan lantas siapa yang benar?. (tepuk tangan)

Untuk Indonesia, saya kan masih ikut mengalami meskipun serba sedikit ya zaman pemberontakan PKI di tahun ’65 itu. Sebelumnya kan muncul ke atas, yang mereka eluk-elukkan dengan sebutan Nasakom. Maafkan saya menyebut ini, dulu simbol mereka boleh didendangkan sedikit ya sesuai dengan lagu yang ada:

(menyanyi)

Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu
Nasakom satu cita sosialisme pasti jaya.

saya anak SD waktu itu

Iki piye iki piye iki piye
sandang pangan larange koyo ngene
akibate salah urus ranok kabeh
mulo ayo diganyang wae
yo saiki yo saiki yo saiki
wes ono deklarasi ekonomi
senjata ampuh mitayani
kanggo mbasmi kaum korupsi..

(tepuk tangan)

Lagu itu menyembul dari ranahnya orang-orang Komunis di Indoneisa. Tapi dengan begitu gesitnya, cerdiknya, dia menggabung ini NASAKOM dia bilang. Disini nasionalis, disini agama, disini komunis. Tapi ujung cerita kata Pak Jurmawel Ahmad sang auditur saat itu, “Anda berdua-dua menggencet agama, nasionalis hurufnya tiga, komunis hurufnya tiga, orang beragama hanya satu huruf, NASAKOM”.

Itu yg masih saya ingat di zaman itu. Kalau ini bolehlah dikritisi sebagai sesuatu yang saling bertabrakan untuk menjepit yang dibuat malang, nasionalisme agama komunis. Tapi kalo syii-sunni yang ini kiblatnya ya ada di kiblat di Mekkah yang ini Qur’annya Qur’anuna wahid, kalau main salah-salahan habislah semuanya. Itulah yang saya simpulkan saat itu.

Makanya dalam pertemuan terakhir yang saya pikirkan saya sangat terpesona dengan apa yang saya bawa pulang ke Indonesia saat saya diundang ke Iran sana. Saya ketemu banyaknya ulama ahlussunah wal jamaah dan banyaknya ulama-ulama dari kalangan syiah yang semuanya sepakat untuk berkata “falaysia ma’na taqrib bi an yanqariba an sunni syiiyan wa an yanqariba syi’i sunniyan”, arti taqrib itu bukan berarti secara total membuat suatu perubahan secara total sampai orang syii berubah menjadi sunni, atau sunni berubah menjadi syii, kata mereka.

Saya terangkan, itu diungkapkan oleh puluhan ulama baik dari kalangan sunni maupun dari kalangan syi’i. Bahkan yang benar adalah dari perbedaaan-perbedaan bisa dicari persamaan-persamaan, dari persamaan-persamaan bisa dicari alat-alat persatuan.

Sambutan saya cuma sampai disini mudah-mudahan ada manfaatnya. Maafkan bila terkhilaf.
red: shodiq ramadhan

Baca Juga

  • Majelis Mujahidin : Waspadai Perayaan Idul Ghadir Syiah di Indonesia
  • Menang di Survey Capres Syariah, Habib Rizieq : Saya tidak Pernah Bermimpi Mencapreskan Diri
  • Innalillahi, Istri Ketua MUI Pusat KH Ma’ruf Amin Meninggal Dunia

Source: http://www.suara-islam.com/read/index/8846

0 115

Sabtu, 26/10/2013 19:17:46 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 223

Ridwan Saidi saat berpidato dalam Seminar Internasional Idul Ghadir bertema

Jakarta (SI Online) – Siapa yang tak kenal Ridwan Saidi?. Lelaki tua berambut putih panjang dan sering nongol di salah satu stasiun televisi swasta nasional dalam acara diskusi para pengacara ini sering disebut sebagai Budayawan Betawi. Apalagi semasa muda Ridwan adalah Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI). Dia juga bekas anggota DPR dari partai Islam, PPP. Mantan politisi, ahli debat dan budayawan adalah predikat untuk lelaki yang tinggal di kawasan Bintaro ini.

Itu sosok Ridwan Saidi yang dahulu. Lalu bagaimana dengan Ridwan Saidi yang sekarang?.

“Salam bahagia buat Ijabi. Hidup Ijabi..hidup Ijabi…”, itulah teriakan pertama yang disampaikan Ridwan saat memulai pidato dalam seminar internasional Idul Ghadir bertema “Imam Ali as Putra Ka’bah Pemersatu Ummat” yang diselenggarakan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (26/10/2013).

Mendengar teriakan Ridwan itu, sontak ruang Auditorium Smesco yang dipenuhi sekitar seribu lima ratusan anggota Ijabi itu bergemuruh. Ijabi adalah organisasi kaum syiah di Indonesia dengan tokoh sentralnya Jalaluddin Rahmat.

Setelah berteriak lantang memuja Ijabi, lalu mulailah Ridwan menyampaikan uraian pidatonya. Agar predikat sebagai budayawan dan sejarahwan tidak pudar, maka isi pidatonya menggunakan pendekatan sejarah.

Ridwan mengaku pernah belajar pada seorang keturunan munsyid, namanya Kong Musa. Oleh Kong Musa dia diajari tentang Maulid Nabi, yang nyanyian itu ia ingat kembali karena mengikuti perayaan Idul Ghadir yang digelar Ijabi hari ini. Lalu menyanyilah Ridwan Saidi:

zaman berzaman ya maula ya Rasulullah
lahirlah nabi ya maula di tanah Makkah
wafatnya nabi ya maula negeri Madinah
tinggalkan putri ya maula Siti Fatimah

“Ini cerita saya usia lima tahun, karena kita anak Betawi masuk pengajian duu sebelum sekolah. Ini saya teringat,” kata Ridwan.

Pembicara peringatan Idul Ghadir, dari kiri ke kanan: Dubes Iran, Dubes Paraguay (yang baru masuk Islam), tokoh Iran, Masyitoh Chusnan (Rektor UMJ), KH Syaifuddin Amsir (Rais Syuriyah PBNU), Jalaluddin Rahmat (Ijabi).

Peringatan Idul Ghadir ala Persia ini menurut Ridwan bukanlah hal baru. Menurutnya ada kaitan sejarah dengan masuknya Islam ke Jakarta yang dibawa Syekh Qura yang dia klaim berasal dari Champa (Kambodia). Sementara Islam Champa yang dianut Syekh Qura, kata Ridwan, terpengaruh oleh Persia.

“Saya memperhatikan kaligrafi Persia itu didominasi oleh huruf Lam. Saya tidak tahu Islam Cam Lam yang di Kambodia, yang menjadi anutan Syekh Qura, saya kira yang sangat berkaitan dengan Persia,” katanya.

Kajian tentang kedatangan Islam ke Indonesia ini, kata Ridwan, harus terus diperdalam supaya dapat saling mengerti dan memahami bila ada perbedaan-perbedaan. Juga supaya tidak terjadi serangan-serangan fisik yang menurutnya tidak dapat dipahami.

Bela Ahmadiyah

Saat menyinggung soal sikap umat Islam dalam menghadapi perbedaan inilah, tiba-tiba Ridwan Saidi menghubungkannya dengan kasus Ahmadiyah. Ridwan pun lantas dengan lantangnya menyampaikan pembelaannya terhadap aliran sesat buatan penjajah Inggris itu.

“Karena misalnya apa yang dialami oleh jemaah Ahmadiyah. Saya tidak mengerti, setahu saya Partai Masyumi yang dipimpin Muhammad Natsir, anggota istimewanya antara lain Muhammadiyah, Ahmadiyah juga menjadi anggota istimewa partai Masyumi,” kata Ridwan.

Lalu, Ridwan melanjutkan, “Kalau sekarang mereka disesatkan saya tidak mengerti, bagaimana memutuskan menjadi sesat itu. Yangterjadi di beberapa tempat mereka diusir dari kampung halamannya dan sebagainya. Ini kita tidak bisa benarkan.”

Kata Ridwan, tidak perlu ada permusuhan-permusuhan yang bahkan menjurus pada keinginan untuk memusnahkan karena perbedaan-perbedaan itu. Karena menurutnya, Indonesia adalah sebuah negara yang tidak membatasi perkembangan agama, maupun pahaman-pahaman agama sejauh itu tidak menista pemahaman yang lain, sejauh tidak mengejek pemahaman yang lain.

Dukung Ijabi dan Jalal

Setelah menguraikan pidato dengan pendekatan sejarah, lantas Ridwan mulai masuk pada ranah politik. Ridwan mengkritik ormas-ormas Islam yang lahir ada zaman Belanda dan kini sudah berusia ratusan tahun yang ia lihat terlalu sibuk mengurusi urusan-urusan sosial dan pendidikan. Menurut Ridwan, ormas-ormas itu telah terjebak pada proyek-proyek sosial.

Sementara tokoh Islam, kata Ridwan, saat ini sudah tidak menonjol kiprahnya dalam pentas kepemimpinan nasional. Karena itu ia menyampaikan harapannya kepada Ijabi dan Jalaludin Rahmat supaya tidak ikut terjebak seperti kebanyakan ormas pendahulunya.

“Harapan saya, saya tahu Yayasan Muthahari banyak sekolah, tapi janganlah terjebak. Karena dengan demikian kita tidak punya dinamika lagi,” ungkapnya.

Ijabi, kata Ridwan, harus bisa menarik pelajaran dari ormas sebelumnya yang telah berusia seabad lebih. Sumbangan terhadap kepemimpinan nasional harus ditingkatkan, karena sekarang ini sumbangan kepemimpinan Islam di pentas nasional agak sepi. “Pak Jalal jangan sibuk internal Ijabi, masuklah akseslah kepemimpinan nasional.,” katanya.

Indonesia, kata Ridwan, memerlukan orang seperti Jalal. Karena Jalal telah membuktikan dengan kerja kerasnya selama 13 tahun terakhir dalam membangun dan mengembangkan Ijabi.

“Indonesia memerlukan seorang Ajengan Jalaluddin Rahmat. Orang yang pandai berkomunikasi, orang yang sabar dan ngga mudah marah, itu diperlukan. Dan bisa menyampaikan pendapatnya secara rileks, secara santai,” kata Ridwan memuji.

Setelah memuji-muji Ijabi dan Jalal, karena waktu pidato yang terbatas, Ridwan kemudian menyampaikan ucapan selamat kepada Ijabi dan ucapan dirinya yang juga mengaku turut merayakan Idul Ghadir. Hanya anehnya, disinilah sepertinya Ridwan tidak mengerti apa itu Idul Ghadir. Ridwan mengira Idul Ghadir sama dengan Lebaran Anak Yatim di Betawi.

“Saya mengucapkan selamat kepada Ijabi, juga saya turut merayakan Idul Ghadir. Dan sebenarnya dalam konsep kebudayaan Betawi ada lebaran anak yatim. Sekarang diangkat kembali tapi duluan kami. Dulu kita ngga pakai acara gedong-gedongan , kita lakukan lebaran Idul Fitri, lebaran haji, lebaran yatim 10 Muharram. Nah sekarang diangkat..tapi duluan kami orang Betawi ada tiga lebaran,” ungkapnya.

Padahal Idul Ghadir ini adalah hari raya kaum Syiah dalam memperingati peristiwa Ghadir Khum. Sementara Ghadir Khum adalah sebuah peristiwa yang diklaim oleh kaum Syiah sebagai ‘proklamasi’ pewarisan kekuasaan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai penerus Rasulullah dalam memimpin umat Islam. Melalui Ghadir Khum, kata kaum Syiah, berarti pemegang kekuasaan yang sah setelah wafatnya Rasulullah adalah Ali, bukan yang lain.

Pidato Ridwan Saidi kurang lebih 13 menit itu kemudian diakhiri dengan ucapan terima kasih. Bukan hanya terima kasih pada Ijabi dan Jalal, Ridwan juga senang karena anak-anak HMI banyak yang menjadi anggota Ijabi.

“Terima kasih Kang Jalal, terima kasih Ijabi. Saya lihat banyak anak-anak HMI yang aktif di Ijabi. Saya senang sekali mereka rupanya menemukan jari dirinya di Ijabi. Ya silahkan saja. Maaf kalu ada kesalahan, lanjutkan terus,” pungkasnya.

Puja-puji Ridwan untuk Ijabi itu pun lantas ditutup dengan salam.

red: shodiq ramadhan

Baca Juga

  • Ketua MUI Pusat Mendukung Penuh Berlakunya Syariat Islam di Brunei
  • Pendidikan untuk Anak Laki-Laki 17 Tahun
  • Perjalanan Religius Budiman Sudjatmiko di Tanah Haram
  • Sudah Tes Urin dan Rambut, Akil Mochtar Negatif Gunakan Narkoba

Source: http://www.suara-islam.com/read/index/8831

0 101

Nasional

Oleh Al Furqon — Sabtu 21 Zulhijjah 1434 / 26 October 2013 16:37

ADA yang menarik di acara perayaaan hari raya Syiah Idul Ghadir berkedok seminar Internasional Imam Ali yang digelar di Gedung SMESCO, Jakarta, Sabtu (26/10/2013) pagi hingga siang tadi.

Selain dihadiri beberapa tokoh seperti Duta besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh, tokoh betawi kontroversial Ridwan Saidi dan juga tokoh perempuan PP Muhammadiyah Siti Masyitoh Chusnan, acara yang digelar IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) ini juga menjual produk-produk berbau Syiah.

Selama ini banyak masyarakat umum tidak mengetahui yang namanya batu Karbala yang biasa dipakai untuk shalat kaum Syiah. Namun dalam acara perayaan Idul Ghadir kaum Syiah, pihak penyelenggara secara terang-terangan menjual ‘batu keramat’ yang konon katanya produk dari tanah Karbala tersebut.

Batu berbentuk segi enam berwarna coklat muda ini dijual bebas di salah satu stand yang terletak di depan ruangan convention Hall tempat digelarnya perayaan Idul Ghadir. Dalam pantauan Islampos.com, batu ‘pelengkap’ ibadah shalat kaum Syiah ini dijual dengan dua jenis, yang berbentuk kecil seukuran koin dan satu lagi agak lebih besar. Dan ada yang produk Iraq juga ada yang produk Iran dan sama-sama berasal dari Karbala, klaim penjualnya kepada Islampos.com.

Selain menjual batu Karbala, juga dijual buku-buku Syiah, seperti buku penjelasan yang melegitimasi kawin Mut’ah ala Syiah, pokok-pokok Aqidah Syiah dan sebagainya.[fq/islampos]

Source: http://www.islampos.com/batu-karbala-dijual-pada-perayaan-idul-ghadir-syiah-ijabi-84259/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=batu-karbala-dijual-pada-perayaan-idul-ghadir-syiah-ijabi

0 53

Oleh: Ustadz dr. Haidar Abdullah Bawazir

(Arrahmah.com) – Kaum muslimin meyakini dengan sebenar-benar keyakinan bahwa sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia pilihan dari kalangan umat ini. Mereka adalah generasi terbaik yang telah dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk mendampingi Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Keutamaan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Adapun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi, dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan pula dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz “Sebaik-baik umatku”, Muttafaqun ‘alaihi)

Allah Subhanahu wata’ala melarang hamba-hamba-Nya untuk menyakiti kaum mukminin secara umum, baik dengan cara mencela, mengghibah, mengolok-olok, dan yang semisalnya. Lebih buruk lagi jika yang dicela adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, pembawa warisan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (al- Ahzab: 58)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan ayat ini, “Betapa banyak manusia yang masuk ke dalam ancaman ini: orang-orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, kaum Rafidhah yang selalu mendiskreditkan para sahabat, mencela mereka dengan sesuatu yang Allah Subhanahu wata’ala telah membebaskan mereka darinya, dan melabeli mereka dengan sifat yang bertolak belakang dengan penjelasan Allah Subhanahu wata’ala tentang mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11/241)

Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat tersebut, “Dari ayat ini, al-Imam Malik rahimahullah -dalam sebuah riwayat- mengambil kesimpulan hukum tentang kafirnya kaum Syiah Rafidhah yang membenci para sahabat. Beliau berkata, ‘Sebab, para sahabat membuat mereka (Syiah) jengkel, dan siapa yang mengghibah para sahabat, dia kafir berdasarkan ayat ini.’ Sebagian ulama menyepakati beliau dalam hal ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 12/135) Larangan mencela sahabat Nabi lebih ditegaskan lagi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا ما بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Jangan kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang kalian berinfak emas sebesar Bukit Uhud, tidak akan menyamai infak satu mud yang mereka keluarkan, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 3470, Muslim no. 2541, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat Muslim disebut dengan lafadz, “Jangan kalian mencela seorang pun dari sahabatku”. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2540, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Rafidhah bukan hanya memaki tetapi mengkafirkan para sahabat termasuk Sayidina Abu Bakar, Umar dan Sahabat-sahabat besar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain dan berlepas diri dari mereka semua. Syiah Imamiyah Ithna Asyariyyah, syiah yang dianut oleh khomeini dan pemerintah Iran tidak berbeda dari pehamaman Rafidhah itu karena kitab-kitab mereka yang muktabar penuh dengan caci maki dan riwayat-riwayat yang mengkafirkan para sahabat termasuk sahabat besar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita akan mengemukakan beberapa contoh dari kitab-kitab mereka sendiri.

Sebelum itu perlulah diketahui bahawa perselisihan pendapat ulama hanya terkait kafir atau tidaknya orang yang mencaci dan memburuk-burukkan para Sahabat tetapi mereka tidak berselisih pendapat tentang kafirnya orang yang mengkafirkan para sahabat agung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti Sayyidina Abu Bakar, Omar, Abd. Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah dan lain-lain.

Syiah didalam kitab-kitab mereka jelas telah mengkafirkan para Sahabat termasuk Sahabat agung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tersebut tadi. Menafikan perkara ini sama seperti menafikan siang pada waktu matahari berada ditengah langit atau perkara ini hanya dapat dinafikan oleh orang-orang yang buta mata hatinya, sebagaimana tidak bergunanya cahaya matahari yang terang benderang itu kepada orang yang buta matanya.

Disini kita akan kemukakan beberapa contoh dari kitab Syiah Imamiyah Ithna Asyariyyah sendiri bahwa mereka mengatakan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah murtad sepeninggal Baginda. Pendapat mereka ini tidak berbeda dari dahulu sampai sekarang.

  • At-Tusi meriwayatkan dalam “Rijal al-Kasyi” bahawa Abu Ja’afar (Muhammad al-Baqir) berkata bahawa para sahabat telah murtad setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghiffari dan Salman al-Farisi (Rijal al-Kasyi j.1 hal.6)

  • At-Tusi meriwayatkan lagi dari Humran katanya; Aku berkata kepada Abu Ja’far “Alangkah sedikitnya bilangan kita sehingga kalau kita berkumpul untuk merebahkan seekor biri-biri pun tidak akan mampu”. Humran berkata: Maka Abu Ja’far berkata “Mahukah aku ceritakan perkara yang lebih aneh dari itu?”. Humran berkata “Ya”. Maka Abu Jaa’far berkata “Orang-orang Muhajirin dan Ansar telah pergi (murtad) kecuali tiga (dan beliau pun mengisyaratkan dengan tangannya).” (ibid)

  • Diriwayatkan dari Abi Jaa’far as “Anak-anak Ya’qub bukan nabi tetapi mereka adalah cucu dari anak-anak para Nabi. Mereka tidak meninggalkan dunia melainkan didalam keadaan bahagia. Mereka telah bertaubat dan menyesal diatas apa yang mereka lakukan tetapi Abu Bakar dan Omar telah meningal dalam keadaan tidak bertaubat dan tidak menyesali apa yang telah dilakukan oleh mereka terhadap Amirul Mu’minin Ali Rhadiallahu’anhu. Mereka berdua dilaknat oleh Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (Al-Kulaini, ar-raudhah min al-kafi, j. 8, hal 246)

  • Diriwayatkan dari Abi Jaa’far as kata beliau “Para sahabat telah murtad sepeninggalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali tiga orang dari mereka.” Perawi bertanya “Siapakah yang tiga itu?”. Abi Jaa’far menjawab “Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghiffari dan Salma al-farisi.” (ibid hal.246)

  • Ayatullah al-Uzma sayyid Murtadha al-Hussaini al-Fairuzabadi didalam kitabnya “As-sab’ah min as-salaf” telah mengkafirkan Abu Bakar, Omar, Othman, Abd. Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Abu Ubaidah al-Jarrah, Muawiyah, Abu Said al-Khudri, Bara’ bin Azib dan lain-lain (Lihat hal. 29,32,71,78,81,85,107,120 dan 211)

  • Ayatullah al-Uzma Khomeini didalam kitabnya “Kasyful al-asrar” telah mengkafirkan Saidina Omar (lihat hal 137 dan 176 edisi Arab dan hal 119 dan 153 edisi Parsi). Beliau menganggap Abu Bakar dan Omar jahil tentang hukum Allah dan mereka menjadikannya sebagai bahan permainan kanak-kanak (hal 110-111 edisi Parsi). Beliau juga menuduh Abu Bakar dan Omar mereka hadis atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (hal 131 dan 138 edisi Arab, 114 dan 120 edisi Parsi)

  • Syaikh kaum Rafidhah yang bernama Ni’matullah al-Jazairi berkata, “Telah datang beberapa riwayat khusus yang menerangkan bahwa setan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi neraka Jahannam, lalu digiring ke Padang Mahsyar. Di sana setan melihat seorang lelaki di hadapannya yang sedang digiring oleh malaikat penyiksa dan di lehernya terdapat 120 belenggu dari neraka Jahannam. Setan pun mendekat kepadanya dan bertanya, ‘Apa yang dilakukan oleh orang sengsara ini sehingga siksaannya lebih berat dariku, padahal akulah yang menyimpangkan seluruh makhluk dan menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan?’ Umar berkata kepada setan, ‘Aku tidak melakukan sesuatu pun selain merampas khilafah Ali bin Abi Thalib’.” (al-Anwar an- Nu’maniyah, 1/81—82)

  • Syiah yang berkembang di Indonesia adalah penghujat sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

    Syiah yang berkembang di Indonesia adalah syiah Rofidhoh yaitu “penghujat sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam“. Di indonesia tidak berkembang kecuali satu aliran syiah yaitu syiah imamiyah ithna asyariyah yang di impor dari Iran. Kebencian sekte ini kepada sahabat telah dijelaskan sebagaimana terdapat pada literatur literatur utama mereka yg telah disebutkan diatas. Janganlah kita tertipu oleh ucapan orang yang mengatakan bahwa syiah di Indonesia dapat dibagi kepada beberapa golongan yang tidak semuanya menghujat sahabat. Tanyakan kepada mereka Siapakah yang mereka puja dan tokohkan? Bukankah si khomeini yang menghujat sahabat dalam buku bukunya? Literatur apakah yang mereka pakai untuk mempelajari agama mereka? Bukankah jawabannya adalah ” Alkafi, Biharul anwar dan kitab kitab rujukan syiah lain yang penuh dengan hujatan kepada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Di indonesia prilaku orang orang yang mengaku syiah atau mereka yang tidak mengaku syiah tetapi mendakwahkan pemikiran syiah tidak berbeda jauh dalam hal hujatan mereka kepada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagai contoh:

  • Pemutarbalikan fakta sejarah banyak dilakukan Emilia isteri Jalaludin Rakhmat dalam bukunya berjudul “40 Masalah Syiah”. Pada halaman 83, ia menuduh istri dan sahabat Nabi, Aisyah, Thalhah, Zubayr dan sahabat-sahabat “yang satu aliran dengan mereka” memerangi Imam Ali. “Sebelumnya, mereka berkomplot untuk membunuh Utsman,” tulisnya.

  • Jalaludin Rahmat yang dalam ceramahnya bersikap sangat tidak sopan kepada Aisyah ra

  • Husein bin hamid alattas, pengisi kajian rutin di radio “Rasil”, walaupun ia tidak mengakui sebagai “syi’i” tetapi sering melakukan hujatan kepada sahabat. Ia mengakui bahwa ia memang penghujat sahabat Muawiyah ra . (pengakuan di depan banyak orang pada acara mubahalah di radio rasil)

  • Menghujat sahabat adalah konsekuensi Aqidah imamiyah

    Mereka meyakini bahwa sebelum meninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berwasiat bahwa pemimpin umat sepeninggal beliau adalah Ali bin Abi Thalib ra. Keyakinan ini membawa konsekuensi bahwa naiknya Abu Bakar ra memimpin umat merupakan pengkhianatan kepada wasiat tersebut. Demikian juga dua kholifah setelahnya dan semua sahabat dianggap telah menghianati wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dianggap telah murtad sepeninggal Rasulullah.

    Dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini, “Tiga macam manusia yang Allah Subhanahu wata’ala tidak akan melihat mereka, tidak menyucikan mereka, dan mereka mendapat siksaan yang pedih:

  • orang yang mengakui kepemimpinan dari Allah Subhanahu wata’ala yang bukan miliknya,

  • orang yang mengingkari imamah yang berasal dari Allah Subhanahu wata’ala, dan

  • orang yang menyangka bahwa keduanya—Abu Bakr dan Umar memiliki kedudukan di dalam Islam.” (al-Kafi, Kitabul Hujjah, 1/373, Tafsir al-Iyyasyi, 1/178)

  • Meyakini adanya wasiat imamah kepada Ali ra dan penghujatan kepada sahabat adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Apabila syiah di indonesia mereka mengaku tidak membenci sahabat maka konsekuensinya mereka harus melepaskan keyakinan bahwa Ali ra telah menerima wasiat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini sangat mustahil, kalau mereka melakukan ini maka mereka akan terhukum sebagai orang kafir sesuai dengan ajaran mereka

    Kesesatan syiah dalam hal kebencian mereka kepada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saja sudah cukup sebagai bahan pertimbangan bahwa mereka tidak layak hidup berdampingan dengan umat islam di Indonesia. Apalagi dikaitkan dengan kesesatan kesesatan mereka yang lain. Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah hati seseorang dengki terhadap salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali menunjukkan bahwa kedengkiannya terhadap kaum muslimin lebih kuat lagi.” (al-Ibanah hlm. 41, karya Ibnu Baththah)

    Abu Zur’ah ar-Razi radhiyallahu ‘anhu juga berkata,

    إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ عِنْدَنَا حَقٌّ وَالْقُرْآنَ حَقٌّ وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ وَإِنَّمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَجْرَحُوا شُهُودَنَا اللهِ لِيُبْطِلُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةُ

    “Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq (munafik). Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menurut kami adalah benar, al-Qur’an juga kebenaran, serta yang menyampaikan al-Qur’an dan Sunnah kepada kita adalah sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya mereka ingin mencerca saksi-saksi agama kita agar mereka dapat membatalkan al- Kitab dan as-Sunnah. Celaan justru lebih pantas untuk mereka, dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah, Khathib al-Baghdadi, hlm. 49).

    Karena itu sudah selayaknya MUI pusat segera mengeluarkan fatwa tentang kesesatan syiah.

    Wallahu’alam bish shawab…

    (Ukasyah/arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/syiah-agama-penghujat-sahabat-rasulullah-shallallahu-alaihi-wasallam.html

    0 52

    Editorial

    Oleh Pizaro — Jumat 20 Zulhijjah 1434 / 25 October 2013 10:36

    Dok. Buku Syiah yang menyatakan Idul Ghodir lebih agung dari Idul Fitri dan Idul Adha

    Kelompok Syi’ah di Indonesia semakin terbuka aktivitasnya dalam memecah belah umat Islam, melalui pelestarian dan perayaan kebencian dan dendam terhadap para sahabat Nabi Muhammad saw terkemuka, khususnya Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan r.a. Hari Sabtu (26/10/2013), di Gedung Smesco Jln Gatot Subroto, Jakarta Selatan, kaum Syiah akan merayakan Hari Raya terbesar dalam agama mereka, yaitu “Idul Ghadir”.

    Menurut situs Syiah, pada hari raya Idul Ghadir umat syiah dianjurkan membaca doa khusus selepas shalat 2 rakaat. Di dalam doa tersebut, ternyata kaum Syiah tak pernah lepas dari cacian dan pelaknatan terhadap sahabat-sahabat terbaik Nabi Muhammad saw, diantara petikan doanya sbb:

    فَإِنَّا يَا رَبَّنَا بِمَنِّكَ وَ لُطْفِك أَجَبْنَا دَاعِيَكَ وَ اتَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ وَ صَدَّقْنَاهُ وَ صَدَّقْنَا مَوْلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَ كَفَرْنَا بِالْجِبْتِ وَ الطَّاغُوْتِ، فَوَلِّنَا مَا تَوَلَّيْنَا وَ احْشُرْنَا مَعَ أَئِمَّتِنَا، فَإِنَّا بِهِمْ مُؤْمِنُوْنَ مُوْقِنُوْنَ وَ لَهُمْ مُسَلِّمُوْنَ، آمَنَّا بِسِرِّهِمْ وَ عَلاَنِيَتِهِمْ وَ شَاهِدِهِمْ وَ غَائِبِهِمْ وَ حَيِّهِمْ وَ مَيِّتِهِمْ وَ رَضِيْنَا بِهِمْ أَئِمَّةً وَ قَادَةً وَ سَادَةً وَ حَسْبُنَا بِهِمْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ اللَّهِ دُوْنَ خَلْقِهِ لاَ نَبْتَغِيْ بِهِمْ بَدَلاً وَ لاَ نَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهِمْ وَلِيْجَةٍ وَ بَرِئْنَا إِلَى اللَّهِ مِنْ كُلِّ مَنْ نَصَبَ لَهُمْ حَرْبًا مِنَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَ الْآخِرِيْنَ وَ كَفَرْنَا بِالْجِبْتِ وَ الطَّاغُوْتِ وَ الْأَوْثَانِ الْأَرْبَعَةِ وَ أَشْيَاعِهِمْ وَ أَتْبَاعِهِمْ وَ كُلِّ مَنْ وَالاَهُمْ مِنَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ مِنْ أَوَّلِ الدَّهْرِ إِلَى آخِرِهِ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نُشْهِدُكَ أَنَّا نَدِيْنُ بِمَا دَانَ بِهِ مُحَمَّدٌ وَ آلُ مُحَمَّدٍ

    Ya tuhan kami sesungguhnya kami dengan anugerah dan lutuf mu Telah menerima utusanmu, mengikuti rasul, mempercayai pemimpin kaum mu’minin dan mengkafirkan taghut, maka jagalah iman dan wilayah kami kumpulkan kami bersama Imam-imam kami, sesungguhnya kami mengimani dan meyakini mereka, tunduk kepada mereka, beriman kepada lahir, batin, kehadiran keghaiban, kematin dan kehidupan mereka, dan kami merelakan mereka sebagai Imam, pemimpin dan tuan, dan cukuplah mereka bagi kami sebagai perantara menuju Allah tanpa mahkluk yang lain, Kami tidak menginginkan ganti mereka, kami tidak akan menjadikan kawan selain mereka, kami mensucikan diri dihadapan Allah dari musuh mereka dari jin dan Manusia dari awal sampai akhir, kami mengkafirkan taghut (musuh-musuh mereka) , penyembah empat berhala, pengikut mereka dan semuaYang mencintai mereka dari jin dan manusia dari awal sampai akhir. Ya Allah sesungguhnya kami bersaksi kepadamu bahwasanya kami menganut agama yang dianut oleh Mohammad dan keluarga Mohammad

    (Lihat doa lengkapnya di http://www.ipabionline.com/2012/11/amalan-lengkap-hari-raya-idul-ghadir.html)

    Siapakah yang dimaksud dengan Thagut dan 4 berhala yang dijelaskan oleh al-Majlisi dalam Biharul Anwar vol.11/517 “Kami meyakini al-Bara’ah (doktrin berlepas diri dan benci) kepada 4 berhala laki-laki dan 4 berhala perempuan serta seluruh kelompok dan pengikutnya. Mereka semua adalah makhluq Allah yang paling buruk di muka bumi.

    Tidak benar keimanan seorang kpd Allah, Rasul dan para imam hingga ia membenci musuh-musuhnya”. Yang dimaksud 4 berhala laki-laki adalah Abu Bakr, Umar, Utsman dan Muawiyah. Adapun 4 berhala wanita adl Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummu HakamSebagaimana dimaklumi, kitab-kitab utama syiah dijejali aneka cacian dan laknat serta pengkafiran terhadap Abu Bakar ra dan Umar bin al-Khattab ra, sehingga keduanya tak segan-segan dijuluki oleh syiah sebagai al-Jibt dan al-Thagut, demikian pula gelar Haman dan Fir’aun, atau julukan keji lainnya. Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini dalam kitabnya al-Ushul min al-Kaafi, kitab al Hujjah, Vol.I/373, hadits no.4, menukilkan sebuah riwayat yang disandarkan kepada Abu Abdillah:

    “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan disucikan, dan bagi mereka adzab yang pedih: Orang yang mengaku berhak imamah dari Allah yang bukan haknya, dan orang yang menentang imamah dari Allah, dan orang yang meyakini bahwa mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) termasuk orang Islam.”

    Demikian pula Al-Kaf’ami dalam kitabnya al-Mishbah, hal.552 menyebutkan doa yang berisi laknat terhadap Abu Bakar dan Umar yang dinamakan dengan Doa Shanamai Quraisy (Doa laknat atas dua berhala Quraisy). Dia menyebutkan bahwa doa ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu. “Ya Allah limpahkan shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, dan laknatlah dua berhala Quraiys, dan kedua jibt dan thaghutnya (maksudnya: syetan yang disembah selain Allah-Pent), kedua tukang dustanya, dan kedua putrinya yang telah menyelisihi perintah-Mu dan mengingkari wahyu-Mu.. Tak ketinggalan Ali al-Hara-iri dalam kitabnya Ilzam al-Nashib fii Itsbaat al-Hujjah al-Ghaib, Vol.II/266 menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai Fir’aun dan Hamman. Diriwayatkan, Al-Mufadhall bertanya, ‘Wahai tuanku, siapakah Fir’aun dan Hamman itu?’ Sang Imam menjawab, ‘Abu Bakar dan Umar’.”

    Maka memberikan izin acara atau menghadiri/mengirim perwakilan ke acara idul ghadir sama saja artinya ikut merayakan penistaan dan pengkafiran kepada sahabat nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan membenarkan klaim Syiah dalam hal rukun imamah rafidhah.

    Inilah titik krusial yang tidak banyak dipahami oleh pemerintah dan sebagian tokoh ormas Islam. Sebab dampaknya sangat besar bagi kemurnian akidah islam yang diwariskan Rasulullah dan salafu salih. Sungguh mengizinkan acara Idul Ghadir bukanlah acara yang sepele, sudah seharunya pemerintah melindungi akidah warganya dari aliran sesat karena Islam adalah agama mayoritas bagi bangsa Indonesia.

    Source: http://www.islampos.com/memberikan-izin-perayaan-idul-ghadir-sama-dengan-ikut-menistakan-dan-mengkafirkan-sahabat-nabi-84089/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=memberikan-izin-perayaan-idul-ghadir-sama-dengan-ikut-menistakan-dan-mengkafirkan-sahabat-nabi

    0 80

    Oleh Muhammad Faisal

    (Arrahmah.com) – Konflik antara Sunni dan Syiah di Indonesia kian hari kian memanas. Konflik tersebut disebabkan oleh perbedaan prinsip/pokok dalam keyakinan kedua kelompok. Di antara perbedaan yang mencolok diantara kedua kubu yaitu, Sunni (Ahlussunnah) memuliakan para Sahabat Nabi karena merekalah yang berjuang membantu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam serta menyebarkan Islam ini ke berbagai penjuru. Adapun Syiah sangat membenci para Sahabat Nabi, mencela mereka, bahkan hingga pada tingkat pengkafiran.

    Syi’ah merupakan salah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

    Menurut beberapa riwayat sejarah, Syiah didirikan oleh seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’.Inti ajaran Syi’ah terletak pada masalah Imam yang mereka pusatkan pada tokoh-tokoh ahlul bait. Mereka menetukan 12 Imam, yaitu: Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali bin Abi Thalib, Ali bin Husein Zaenal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-Kazim, Ali Ar-Ridha, Muhammad Al-Jawad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari, Muhammad Al-Muntazhar (Al-Mahdi). Syi’ah meyakini bahwa kedua belas imam tersebut ma’shum (terlepas dari salah dan dosa) dan yang paling berhak melaksanakan Imamah.

    Syi’ah memiliki empat referensi utama dalam membangun alirannya. Yang pertama, Al-Kafi yang ditulis oleh Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq Al-Kulaini. Dia adalah seorang ulama Syi’ah terbesar di zamannya. Dalam kitab itu terdapat 16.199 hadits. Menurut kalangan Syi’ah, Al-Kafi adalah kitab yang paling terpercaya. Kedua, Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, dikarang oleh Muhammad bin Babawaih al-Qummi. Terdapat di dalamnya 3.913 hadits musnad dan 1.050 hadits mursal. Ketiga, At-Tahzib. Ditulis oleh Muhammad At-Tusi yang dijuluki Lautan Ilmu. Keempat, Al-Istibshar, juga ditulis oleh Al-Qummi mencakup 5.001 hadits.

    Aliran ini telah tersebar ke berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia. Data dan fakta mengenai perkembangan Syiah di Indonesia bisa di lihat dalam buku ini, yang berjudul Ahlussunnah waljamaah dan Dilema Syiah di Indonesia yang ditulis oleh Farid Ahmad Okbah, M.A.

    Setelah menjelaskan definisi, pokok-pokok, dan ciri-ciri Ahlussunnah waljamaah pada bab pertama. Penulis memaparkan secara singkat definisi Syiah, sejarah, pokok-pokok ajaran, dan penyimpangannya pada bab kedua.

    Penulis yang merupakan pakar Syiah ini juga menyebutkan beberapa sejarah pengkhianatan Syiah pada bab keempat. Diantara pengkhianatannya adalah pembunuhan Khalifah Umar bin Khattab oleh Abu Lu’luah al-Majusi. Kaum Syiah menjulukinya dengan “Baba Syujauddin” (sang pembela agama yang gagah berani). Kuburannya di Iran dikunjungi dan dihormati oleh kaum Syiah. Bahkan para ulama Syiah berdo’a “Ya Allah kumpulkan kami di akhirat kelak bersama Abu Lu’luah” (hal.48)

    Pada bab kelima penulis memaparkan data dan fakta perkembangan Syiah di Indonesia. Ratusan yayasan Syiah telah tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya adalah Yayasan Muthahhari Bandung, Yayasan al-Muntazhar di Jakarta, Yayasan Mulla Shadra Bogor, dan Yayasan Fikratul Hikmah di Sulawesi Selatan. Syiah juga gencar menerbitkan buku-buku Syiah. Lentera, Mizan, Hidayah, al-Huda, al-Jawwad adalah beberapa nama penerbit Syiah yang terkenal. (lihat hal.55-66)

    Selain itu, Syiah juga banyak mengirim kadernya untuk melanjutkan pendidikan di Iran. Setiap tahunnya sekitar 300 mahasiswa Indonesia ke Iran. Syiah juga memiliki beberapa organisasi, diantaranya adalah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Ikatan Pemuda Ahlul Bait Indonesia (IPABI), dan Ahlul Bait Indonesia (ABI). Beberapa Lembaga pendidikan milik syiah adalah SMA Plus Muthahhari Bandung dan Jakarta, dan Ma’had Yapi Bangil, Jawa Timur. (hal.60-61)

    Pada bab-bab berikutnya penulis memaparkan data-data mengenai Syiah di beberapa media. Lebih lengkapnya, silahkan membaca buku “Ahlussunnah waljamaah dan Dilema Syiah di Indonesia” ini. Buku ini sangat pantas untuk dibaca untuk mengetahui fakta dan data perkembangan Syiah di Indonesia.

    • Judul Buku: Ahlussunnah Waljamaah dan Dilema Syi’ah di Indonesia
    • Penulis: Farid Ahmad Okbah, MA
    • Editor: Tim Perisai Qur’an
    • Penerbit: Perisai Qur’an Jakarta
    • Cetakan Pertama September 2012.
    • Tebal 288 halaman.

    (arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/news/2013/10/25/fakta-data-perkembangan-syiah-indonesia.html

    0 84

    Oleh: Adian Husaini

    JAKARTA (voa-islam.com) -Kelompok Syi’ah di Indonesia semakin terbuka aktivitasnya dalam memecah belah umat Islam, melalui pelestarian dan perayaan kebencian dan dendam terhadap para sahabat Nabi Muhammad saw terkemuka, khususnya Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan r.a. Hari Sabtu (26/10/2013), di Gedung Smesco Jln Gatot Subroto, Jakarta Selatan, kaum Syiah akan merayakan Hari Raya terbesar dalam agama mereka, yaitu “Idul Ghadir”.

    Perayaan Hari Raya Idul Ghadir ini semakin membuktikan bahwa Syiah memang satu aliran yang secara mendasar berbeda dengan kaum Muslim lainnya. Penolakan dan penistaan kepada para sahabat Nabi yang utama justru dirayakan sebagai ibadah yang agung menjadi Hari Raya tersendiri. Mereka menganggap Idul Ghadir adalah hari raya terbesar yang melebihi keagungan ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. ‘Idul Ghadir adalah sebuah perayaan atas anggapan mereka mengenai pengangkatan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sebagai khalifah di kebun Ghadir Khum.

    Menurut pemuka Syiah, Idul Ghadir adalah hari ketika Nabi saw menunjuk Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah penerus kepemimpinan umat setelah wafatnya Rasulullah SAW. Yang kata mereka Jibril turun menyampaikan wahyu kepada Nabi berkenaan dengan hal ini, bahkan Idul Ghadir menurut mereka adalah Hari Raya terbesar. (Lihat Idul Ghadir A’zhamul A’yad fil Islam/ Idul Ghadir Hari Raya Terbesar dalam Islam, karangan Sayyid Muhammad Husain Al-Syirazi, hal. 12).

    Salah satu situs Syiah di Indonesia menulis, “Hari ke 18 bulan Dzulhijjah merupakan hari Ghadir Khum, Ied al-Akbar (hari raya besar), hari raya keluarga Muhammad Saw dan termasuk hari raya yang paling besar. Allah SWT tidak mengutus seorang nabi kecuali merayakan hari raya ini dan menjaga kehormatannya (?!). Nama hari ini di langit adalah Yaumu al-‘Ahdu al-Ma’hud (hari yang dijanjikan) dan di bumi Yaumu al-Mitsaq al-Ma’khudz (hari perjanjian) dan al-Jam’u al-Masyhud (hari perkumpulan). (nama-nama khusus bagi Idul Ghadir itu dikutip dari doa Sayid Thawus yang menukilnya dari Syaikh Al-Mufid,

    اَللَّهُمَّ فَكَمَا جَعَلْتَهُ عِيْدَكَ الْأَكْبَرَ وَ سَمَّيْتَهُ فِي السَّمَاءِ يَوْمَ الْعَهْدِ الْمَعْهُوْدِ وَ فِي الْأَرْضِ يَوْمَ الْمِيْثَاقِ الْمَأْخُوْذِ وَ الْجَمْعِ الْمَسْؤُوْلِ

    “Ya Allah sebagaimana engkau jadikan hari ini hari rayamu yang paling besar dan engkau beri nama dilangit dengan “Yaum al-Ahd al-Ma’hud” (hari perjanjian yang dijanjikan) dan dibumi dengan “Yaum al-Mitsaq” (hari perjanjian) Dan hari pertanyaan, lihat http://www.ipabionline.com/2012/11/amalan-lengkap-hari-raya-idul-ghadir.html)

    Menurut versi Syiah Rafidhah, dikemukakan salah satu riwayat. Diceritakan bahwasanya mereka bertanya kepada Imam Shadiq as, “Apakah kaum muslimin mempunyai hari raya selain hari Jum’at, hari raya Fitri dan Adha?” beliau menjawab: ”Iya, yaitu hari raya yang kehormatannya melebihi seluruh hari raya”. Perawi mengatakan, “Hari raya apa itu?” beliau menjawab, “Hari itu adalah hari dimana Rasulullah SAW menobatkan Amirul Mukminin as sebagai khalifahnya dan bersabda: “barang siapa yang menganggap aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya”, hari itu adalah hari kedelapan belas bulan Zulhijjah“. Perawi bertanya lagi, “Apa yang harus dikerjakan di hari itu?” beliau menjawab, ”Berpuasa, beribadah, menyebut-nyebut Muhammad dan keluarganya dan bershalawatlah atas mereka”. Rasulullah SAWW telah berwasiat kepada Amiril Mukminin as untuk merayakan hari raya ini, begitu juga setiap nabi berwasiat kepada washinya supaya merayakan hari ini.” (Lihat http://www.ipabionline.com/2012/11/amalan-lengkap-hari-raya-idul-ghadir.html)

    Menurut situs Syiah Rafidhah, di hari itu umat syiah dianjurkan membaca doa khusus selepas shalat 2 rakaat. Di dalam doa tersebut, ternyata kaum Syiah tak pernah lepas dari cacian dan pelaknatan terhadap sahabat-sahabat terbaik Nabi Muhammad saw, diantara petikan doanya sbb:

    فَإِنَّا يَا رَبَّنَا بِمَنِّكَ وَ لُطْفِك أَجَبْنَا دَاعِيَكَ وَ اتَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ وَ صَدَّقْنَاهُ وَ صَدَّقْنَا مَوْلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَ كَفَرْنَا بِالْجِبْتِ وَ الطَّاغُوْتِ، فَوَلِّنَا مَا تَوَلَّيْنَا وَ احْشُرْنَا مَعَ أَئِمَّتِنَا، فَإِنَّا بِهِمْ مُؤْمِنُوْنَ مُوْقِنُوْنَ وَ لَهُمْ مُسَلِّمُوْنَ، آمَنَّا بِسِرِّهِمْ وَ عَلاَنِيَتِهِمْ وَ شَاهِدِهِمْ وَ غَائِبِهِمْ وَ حَيِّهِمْ وَ مَيِّتِهِمْ وَ رَضِيْنَا بِهِمْ أَئِمَّةً وَ قَادَةً وَ سَادَةً وَ حَسْبُنَا بِهِمْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ اللَّهِ دُوْنَ خَلْقِهِ لاَ نَبْتَغِيْ بِهِمْ بَدَلاً وَ لاَ نَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهِمْ وَلِيْجَةٍ وَ بَرِئْنَا إِلَى اللَّهِ مِنْ كُلِّ مَنْ نَصَبَ لَهُمْ حَرْبًا مِنَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَ الْآخِرِيْنَ وَ كَفَرْنَا بِالْجِبْتِ وَ الطَّاغُوْتِ وَ الْأَوْثَانِ الْأَرْبَعَةِ وَ أَشْيَاعِهِمْ وَ أَتْبَاعِهِمْ وَ كُلِّ مَنْ وَالاَهُمْ مِنَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ مِنْ أَوَّلِ الدَّهْرِ إِلَى آخِرِهِ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نُشْهِدُكَ أَنَّا نَدِيْنُ بِمَا دَانَ بِهِ مُحَمَّدٌ وَ آلُ مُحَمَّدٍ

    Ya tuhan kami sesungguhnya kami dengan anugerah dan lutuf mu Telah menerima utusanmu, mengikuti rasul, mempercayai pemimpin kaum mu’minin dan mengkafirkan taghut, maka jagalah iman dan wilayah kami kumpulkan kami bersama Imam-imam kami, sesungguhnya kami mengimani dan meyakini mereka, tunduk kepada mereka, beriman kepada lahir, batin, kehadiran keghaiban, kematin dan kehidupan mereka, dan kami merelakan mereka sebagai Imam, pemimpin dan tuan, dan cukuplah mereka bagi kami sebagai perantara menuju Allah tanpa mahkluk yang lain, Kami tidak menginginkan ganti mereka, kami tidak akan menjadikan kawan selain mereka, kami mensucikan diri dihadapan Allah dari musuh mereka dari jin dan Manusia dari awal sampai akhir, kami mengkafirkan taghut (musuh-musuh mereka) , penyembah empat berhala, pengikut mereka dan semua Yang mencintai mereka dari jin dan manusia dari awal sampai akhir. Ya Allah sesungguhnya kami bersaksi kepadamu bahwasanya kami menganut agama yang dianut oleh Mohammad dan keluarga Mohammad

    (Lihat doa lengkapnya di http://www.ipabionline.com/2012/11/amalan-lengkap-hari-raya-idul-ghadir.html)

    Siapakah yang dimaksud dengan Thagut dan 4 berhala yang mereka kafirkan itu? Sebagaimana dimaklumi, kitab-kitab utama syiah dijejali aneka cacian dan laknat serta pengkafiran terhadap Abu Bakar ra dan Umar bin al-Khattab ra, sehingga keduanya tak segan-segan dijuluki oleh syiah sebagai al-Jibt dan al-Thagut, demikian pula gelar Haman dan Fir’aun, atau julukan keji lainnya. Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini dalam kitabnya al-Ushul min al-Kaafi, kitab al Hujjah, Vol.I/373, hadits no.4, menukilkan sebuah riwayat yang disandarkan kepada Abu Abdillah:

    “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan disucikan, dan bagi mereka adzab yang pedih: Orang yang mengaku berhak imamah dari Allah yang bukan haknya, dan orang yang menentang imamah dari Allah, dan orang yang meyakini bahwa mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) termasuk orang Islam.”

    Demikian pula Al-Kaf’ami dalam kitabnya al-Mishbah, hal.552 menyebutkan doa yang berisi laknat terhadap Abu Bakar dan Umar yang dinamakan dengan Doa Shanamai Quraisy (Doa laknat atas dua berhala Quraisy). Dia menyebutkan bahwa doa ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu. “Ya Allah limpahkan shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, dan laknatlah dua berhala Quraiys, dan kedua jibt dan thaghutnya (maksudnya: syetan yang disembah selain Allah-Pent), kedua tukang dustanya, dan kedua putrinya yang telah menyelisihi perintah-Mu dan mengingkari wahyu-Mu.. Tak ketinggalan Ali al-Hara-iri dalam kitabnya Ilzam al-Nashib fii Itsbaat al-Hujjah al-Ghaib, Vol.II/266 menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai Fir’aun dan Hamman. Diriwayatkan, Al-Mufadhall bertanya, ‘Wahai tuanku, siapakah Fir’aun dan Hamman itu?’ Sang Imam menjawab, ‘Abu Bakar dan Umar’.”

    Sebenarnya kapan pertama kali hari Idul Ghodir ini diselebrasikan? Menurut ulama syi’ah, awal mula selebrasi Idul Ghodir ini pertamakali terjadi dalam sejarah pada saat Ali bin Abi Thalib berkuasa sebagai khalifah.

    Situs syiah menulis, “Sekitar 30 tahun setelah rombongan besar kaum Muslimin berkumpul di Ghadir Khum, untuk pertama kalinya umat Islam kembali memperingati hari bersejarah dan paling menentukan bagi nasib Umat Islam di era kekhilafahan Imam Ali dan kehadiran beliau di Kufah. Pada hari Jumat bertepatan dengan peringatan hari raya Ghadir, Imam Ali di hadapan kaum Muslimin yang berkumpul dalam acara shalat Jumat menyampaikan Khutbah mengenai Ghadir. Beliau menyampaikan kembali peristiwa Ghadir bagi umat Islam yang tidak hadir dalam peristiwa besar itu, maupun masyarakat yang tidak mengetahuinya. Sayidina Ali bin Abi Thalib menyebut hari Ghadir sebagai hari raya terbesar umat Islam. Pernyataan beliau tersebut menegaskan urgensi tradisi memperingati hari raya Ghadir sebagai hari paling bersejarah bagi umat Islam yang harus diperingati setiap tahun.” (Lihat artikel “Idul Ghodir dalam Perspektif Imam Ali” yang dirilis hari Selasa, 22 Oktober 2013 di situs http://indonesian.irib.ir/headline2)

    Para para ulama dan sejarawan muslim terkemuka mencatat, tradisi selebrasi Idul Ghadir baru dimulai sejak era Daulah Buwaihi menguasai sebagian wilayah Irak di abad ke-4 H. Itu artinya perayaan tersebut tidak pernah dilakukan oleh kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya hidup, maupun di era tabi’in dan tabi’ tabi’in yang disebutkan oleh Rasul bahwa mereka adalah 3 periode Islam yang terbaik. “Khairunnasi qorni tsumma al-ladzina yaluunahum tsumma al-ladzina yaluunahum”. Bahkan tidak pula diperingati pada saat Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib ra berkuasa pasca syahidnya Sayidina Utsman bin Affan ra.

    “Perayaan Hari Raya Idul Ghadir itu memang tidak ada dalilnya dalam Islam,” tegas Prof. Dr. Mohammad Baharum, pakar tentang Syiah dari MUI Pusat.

    Itu bisa dipahami bahwa perayaan Idul Ghadir ini adalah suatu rekayasa kelompok Syi’ah. Nabi saw bersabda: “Siapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka hal itu tertolak” (HR. Muslim)

    Keyakinan adanya pelantikan Ali di Ghadirkhum, telah dibantah oleh seluruh ulama sahabat, tabiin dan generasi setelahnya. Peristiwa itu tidak pernah diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis yang sahih seperti al-Bukhari dan Muslim. Hadis Ghadir Khum “Man kuntu mawlahu fa ‘Aliyyun mawlah” dengan redaksi yang berbeda-beda diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Al-Hakim. Menurut para ulama, teks hadis itu sebatas keutamaan Ali dan bukan pengangkatan khalifah sesudah beliau. Teks hadis itu jelasnya bukan kepemimpinan umat (al-wilayah/al-imarah), melainkan kasih sayang dan tolong menolong yang muncul dari dua pihak (al-walayah/al-muwalah yang darinya berasal kata ‘al-waliyyu’ dan ‘al-mawla’ sebagaimana teks hadis, ed.).

    Jika teks hadis itu menegaskan (sharih) tentang pelantikan Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah, pasti sudah digunakan sebagai dalil dan hujjah oleh Ali bin Abi Thalib saat Rasulullah wafat sebelum pengangkatan Abu Bakr ra sebagai khalifah, atau pada saat musyawarah enam tokoh sahabat setelah wafatnya Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab ra untuk menetapkan khalifah baru, dan juga telah dijadikan dalil oleh Abu Musa Al-Asy’ari ra untuk memantapkan posisi Khalifah Ali pada saat peristiwa Tahkim (arbitrase) antara Khalifah Ali dan Mu’awiyah pasca perang Shiffin. Namun tak ada satu sahabat pun, termasuk Ali yang memahaminya demikian. Sahabat adalah orang yang paling memahami maksud perkataan Rasul dan kemurnian bahasa Arab mereka tidak diragukan lagi. Pemahaman ulama sahabat yang menjadi ijma’ adalah bentuk kepastian petunjuk (Qoth’iy Dilalah) dalam memahami Al-Qur’an dan hadits.

    Karena sifat ajarannya yang sangat destruktif dan dilandasi dengan semangat kebencian terhadap tokoh-tokoh panutan umat Islam, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dan para sahabat Nabi lainnya – sangat aneh jika pemerintah SBY mendukung acara tersebut. Acara seperti jelas memecah belah umat Islam dan menistakan agama Islam.

    Sudah sangat gamblang, hari raya umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia hanya 2 yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Diluar kedua hari raya itu jelas suatu bid’ah agama yang sesat. Ia bukan hanya merusak akidah umat Islam Indonesia, tetapi juga mengancam keutuhan dan persatuan umat Islam di Indonesia ini yang meyakini dan mengamalkan akidah ahlusunnah wal jama’ah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sejak lama telah mengukuhkan hal tersebut dengan menegaskan bahwa mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut paham Sunni (Ahlu Sunnah wal Jama’ah) yang tidak mengakui dan menolak paham Syi’ah secara umum dan ajarannya tentang nikah mut’ah secara khusus (Fatwa Nikah Mut’ah 25 Oktober 1997, lihat Himpunan Fatwa MUI: 376).

    Promosikan produk anda voa-islam.com hanya Rp 20.000/hari atau Rp 500.000/bulan

    Share this post..

    Source: http://www.voa-islam.com/counter/intelligent/2013/10/24/27291/diamdiam-sby-prosyiah-dalam-merayakan-hari-raya-sesat-idul-ghadir/