Home Cari

kisah orang minang yang murtad - Hasil Pencarian

Jika Anda merasa hasil pencarian kurang akurat, coba deh cari dengan kata kunci yang berbeda :)

Kisah Orang Minang Yang Murtad


We provide another result for Kisah Orang Minang Yang Murtad at other webs or blogs around the world. This page powered by Google, Yahoo and Bing. You can search anything or different keyword using our powerful Search Form below:


Article Kisah Orang Minang Yang Murtad on other source:

0 64

Perspektif

Senin 7 Muharram 1435 / 11 November 2013 06:25

BAGI kalangan komunis di tanah air, nama Dipa Nusantara Aidit adalah legenda yang bersemayam di dada. Namanya tidak lekang meski Orde Baru pernah intensif mencampakkannya di keranjang sampah sejarah. Usaha pencampakan tersebut mungkin berhasil di kalangan umat Islam, tetapi tidak demikian dengan para penghambanya, termasuk yang hari ini latah memujanya hanya karena Aidit dan partainya disapu Soeharto. Gara-gara Soeharto, Aidit disuka. Sungguh naif, memang, pemahlawan yang ada di sebagian saudara kita.

Soal Aidit dikagumi, ada satu pelajaran yang patut direnungi bagi umat Islam. Sang empu nama asli Djafar Nawawi, adalah putra seorang haji di tanah Bangka. Djafar disebut-sebut dekat dengan kehidupan Islam. Mengaji Al-Qur`an bukan hal asing dengan kesehariannya. Tidak berbeda dengan para pemberontak komunis pada 12 November 1926 di beberapa tik di ranah Minang, pelakunya juga bukan orang-orang yang asing dengan sendi syara. Betapa tidak mengenal Islam kalau sebagian mereka adalah murid di Sumatera Thawalib Padang Panjang. Perguruan dien ini sejatinya membawa pengaruh kuat Islam pembaruan (kaum muda, istilah populernya). Tetapi, daya tarik komunis yang dibawa Haji Datuk Batuah dengan slogan komunisme itu memiliki elan vital antipenjajahan, amat membekas di hati anak-anak muda yang tengah di puncak kecintaan berislam.

Mungkin tersebab kekaguman ide asing yang dianggap selaras dengan ajaran agamanya pulan, Haji Misbach pun tidak sungkan memproklamasikan sebagai seorang komunis. Pemuka Islam yang di kemudian lebih beken sebagai pentolan PKI pra-Indonesia merdeka. Senyampang dengan Aidit, Misbach pun bukan figur yang gagap dengan ajaran Islam. Sedari kecil, Islam sudah melekat dengan kehidupannya.

Islam boleh terbawa lahir lantaran orangtua Djafar, Batuah, Misbach juga Muslim. Pun lingkungan mereka di sana kuat keislamannya. Namun kita bertanya-tanya: mengapa mereka jadi tidak berislam sebagaimana yang kita percaya terbebas dari polusi isme di luar Islam? Mengapa mereka percaya isme lain untuk sekadar menentang kolonialisme? Tidak tahukah mereka tentang paripurnanya Islam sehingga tidak lagi butuh isme dari luar untuk alat perjuangan? Apakah berislam mereka hanya kulit saja?

Jusuf Roni pada dekade 1960-an adalah aktivis Serikat Pelajar Muslimin Indonesia (SEPMI)—organisasi sayap Partai Syarikat Islam Indonesia. Roni dikenal sebagai aktivis Islam yang militan. Pedakwah tangguh yang gesit berceramah dari satu tempat ke tempat lain untuk mensyiarkan kebaikan. Pesona Roni menjadi daya tarik sendiri, hingga saat menaiki mimbar banyak massa ingin mendengarnya.

Sayang, iman memang—seperti ditulis dalam Al-Qur`an—adalah kuasa Allah. Dekade 1970-an Roni menjadi musuh umat Islam. Dari pendakwah militan Islam berbalik menjadi penghujat Islam dalam balutan agama Nasrani. Roni dengan sadar memilih keluar dari Islam: murtad. Hari ini namanya sayup, meski beberapa teman seangkatannya di Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) masih eksis di pentas nasional. Dalam kesenyapan, Roni dari beberapa data yang saya dapat, dia tidaklah pasif. Dia berbuat, bergerak, tapi bukan lagi untuk—istilah salah seoran temannya—menegakkan kalimat Liilahi Kalimatillah, melainkan untuk illah yang lain.

Pemahlawanan adalah kata kerja yang penuh kesukaran. Penuh liku untuk menuju kata benda yang mewujudinya. Pahlawan di sini, belum tentu di sana. Pahlawan di kita, tidak demikian di mereka. Pahlawan sama halnya kebimbangan ketika direlatifkan parameternya. Lain bila kita menolakinya dari ketegasan pada kriteria yang dimiliki. Perkara orang lain mencela, itu bukan perkara. Maka, sebagai Muslim otentik, kita bisa meletakkan di mana dan bagaimana Djafar, Batuah, Misbach ataupun Roni berada. Tiada bimbang apalagi gundah.

Pahlawan memang pekerjaan menyibukkan buat kita di kemudian hari. Toh orang yang disebut biasa-biasa saja. Tidak ambil pusing dengan putusannya, tidak terkecuali dengan kesesatan yang dianggapnya jalan lurus menuju kebaikan. Hanya, kita perlu ambil pelajaran di sini. Memetik hikmah dari penggelinciran diri orang-orang yang berasal dari lingkungan dan komunitas saleh. Dibesarkan dari kalangan yang mengenal apa dan siapa pahlawan Islam, tetapi di ujung hayat malah jadi penikam agama sendiri.

Nama-nama di atas berikan satu pelajaran indah: mengenalkan Islam sejak dini tidaklah memadai bila ditempuh dengan cara-cara sesuai tradisi. Mengenalkan nama-nama Allah; menceritakan kisah Nabi dan Rasul; mendaraskan ayat-ayat Ilahi—semua ini masih sebatas hafalan yang melekat kuat di kepala para pemuda Muslim militan. Soal iman bersemayam di hati, cara-cara lama patutlah ditengok. Jangan-jangan yang hafalan ditekankan, tetapi luput mengecek adakah iman sudah sampai hingga batas balig tiba.

Saya jadi teringat beberapa nama aktivis Muslim taat yang tidak butuh lama pada hari ini menjadi pecundang dakwah. Dulu teriak antikorupsi, sekarang asyik di tampuk kekuasaan korup. Menikmati panen jabatan, atau paling kecil sekadar jadi juru bicara sang koruptor. Mereka memang belum setergelincir Djafar dan nama-nama sebelumnya. Mereka belum berganti iman dan isme mungkar. Prosesnyalah yang diduga mirip hingga mereka konversi untuk enggan menjadi pahlawan sesungguhnya.

Orang-orang di dunia pendidikan mewejangi begini: tidak baik mengajari dengan menjejalkan sejak dini semua pengetahuan. Membiarkan anak tumbuh dan berkembang secara wajar, dengan mengiringinya melalui pembimbingan, akan lebih baik ketimbang mendoktrin ini dan itu. Kiranya Djafar dan nama yang tersebut di sini tidak kurang ilmu Islam. Sejak kecil sudah akrab dengan wawasan Islam. Hingga mereka balig dan berinteraksi dengan isme berbeda, semua ini masih hadir. Tapi tidak dengan iman di dada. Iman tergerus karena ketiadaan percaya diri pada isme atau iman baru yang tampil menggoda. Atas nama lebih militan hadapi kolonialisme ataukah lebih humanis terhadap sesama, iman asali ditepikan. Bahkan, dalam kasus Roni, iman berganti haluan drastis. Syahadat ditukarkan.

Anak-anak muda aktivis pun demikian. Di organisasinya dijejali ini dan itu. Segudang idealisme yang sayangnya luput ditelisik oleh para mentor: adakah di dada sudah tertancap. Yang jamak, banyak mentor puas kadernya yang militan sudah sukses di atas, tapi esoknya syok lantaran sudah berganti haluan. Sang mentor lupa, mereka pun berandil atas konversi idealisme anak didiknya. Dulu mereka luput soal keimanan yang hadir di dada; hanya berpuas dengan hal-hal lahiriah.

Sebuah pelajaran bagi pada murabbi dalam komunitas Muslim pergerakan. Adakah yang kaubina sudah benar berubah dari kegelapan? Adakah yang kaubina sudah benar sesalah tampilan luar, sekuat hafalan yang berada di kepala? Atau, dia hanya menjalani rutinitas dan ritus gerakan kita, sementara imannya masih mudah dikoyak berjutaan rupiah atau dolar? Atau, berganti dengan isme yang dianggap mendekati kebenaran lantaran lebih memasuki isi sanubarinya?

Nah, bila kita mampu memenuhi kehadiran iman di dada mereka, tidak lagi penting apakah mereka menjadi pahlawan atau tidak. Karena modal iman sudah melekat, pemahlawanan mereka masing-masing hanya menunggu momentum masa dan zaman. Kalaupun hanya dikenal jadi manusia biasa, paling tidak nama mereka tidak merusak diri kita. Mereka tetap dengan iman di dada. Tidak minder di hadapan isme dan iman lain. Dan di situlah amal jariyah kita terpetik kelak, insya Allah. []

Redaktur: Saad Saefullah

Source: http://www.islampos.com/menghadirkan-iman-bagi-sang-pahlawan-86258/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menghadirkan-iman-bagi-sang-pahlawan

0 117

بسم الله الرحمن الرحيم

Ketika ormas-ormas Islam dan LKAAM telah bersepakat untuk turun ke jalan tgl 6 September, saya yang mewakili MUI Sumbar mempertaruhkan diri saya dan lembaga di hadapan kawan-kawan semua agar mereka jangan melakukannya untuk saat itu.

Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan dari ormas Islam dan Ninik Mamak dari LKAAM yang bersedia menahan diri karena menghargai permintaan tersebut.

Namun, tidak turun ke jalan itu disepakati dengan dua syarat yaitu: tidak dilanjutkannya pembangunan fisik proyek Super Blok LG dan tidak dibuat buntunya dialog yang sudah terjadi.

Ini semua kami lakukan demi menjaga ketentraman Ranah Minang khususnya kota Padang.

Ini lah yang telah saya sampaikan kepada Kapolda Sumbar secara lisan dalam pertemuan dengan Kapolda.

Tapi setelah ditunggu begitu lama ternyata janji Walikota padang untuk mendatangkan si James T Riyadi tidak juga dipenuhi maka MUI mengingatkan bahwa ingkar janji itulah yang menyulut berkobarnya emosi ormas-ormas Islam dan ninik mamak yang sangat bisa kami rasakan.

Karena itu MUI tidak bertanggung jawab lagi bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Akhirnya permohonan MUI untuk tidak turun ke jalan, saya nyatakan “TELAH DICABUT” dalam pertemuan kemarin.

Segala resiko yang akan terjadi adalah tanggung jawab walikota yang tidak memenuhi janji,

MUI juga tidak rela bila nanti umat Islam yang disalahkan karena sudah cukup lama keshabaran mereka untuk menahan diri !!! Wallahu al-Musta’an

Dr FB. Buya Gusrizal. Beliau di MUI padang. Klau dibukittinggi sebagai penasehat radio izzis fm dam pembina al nadwah li izzatil islam

بسم الله الرحمن الرح

Ormas-ormas Islam dan LKAAM telah bersepakat untuk turun ke jalan tgl 6 September,

Saya yang mewakili MUI Sumbar mempertaruhkan diri Saya dan lembaga di hadapan kawan-kawan semua agar mereka jangan melakukannya untuk saat itu.

Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan dari ormas Islam dan Ninik Mamak dari LKAAM yang bersedia menahan diri karena menghargai permintaan tersebut.

Namun, tidak turun ke jalan itu disepakati dengan dua syarat yaitu:

1. Tidak dilanjutkannya pembangunan fisik proyek Super Blok LG

2. Tidak dibuat buntunya dialog yang sudah terjadi.

Ini semua kami lakukan demi menjaga ketentraman Ranah Minang khususnya kota Padang.

Ini lah yang telah saya sampaikan kepada Kapolda Sumbar secara lisan dalam pertemuan dengan Kapolda.

Tapi setelah ditunggu begitu lama ternyata janji Walikota Padang untuk mendatangkan si James T Riady tidak juga dipenuhi maka MUI mengingatkan bahwa ingkar janji itulah yang menyulut berkobarnya emosi ormas-ormas Islam dan ninik mamak yang sangat bisa kami rasakan.

Karena itu MUI tidak bertanggung jawab lagi bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Akhirnya permohonan MUI untuk tidak turun ke jalan, saya nyatakan “TELAH DICABUT” dalam pertemuan kemarin.

Segala resiko yang akan terjadi adalah tanggung jawab walikota yang tidak memenuhi janji,

MUI juga tidak rela bila nanti umat Islam yang disalahkan karena sudah cukup lama keshabaran mereka untuk menahan diri !!! Wallahu al-Musta’an

Penulis: Dr FB. Buya Gusrizal. Beliau di MUI Padang, bidang Fatwa & di Bukittinggi sebagai penasehat radio

Izzis fm dam pembina al Nadwah li izzatil islam

Kronologis penolakan Umat Islam Sumatera Barat:

Untuk lebih jelas coba buka di fb group umat Islam Minangkabau menolak pemurtadan berkedok investasi atau juga di fb atas nama Buya Gusrizal gazahar beliau kordinasinya dan ketua bidang fatwa sumbar..

https://m.facebook.com/groups/1419676808245487?__user=100000203985060

Kronologis singkatnya:

Pihak lippo grup yg dipimpin James Riady akan membangun rumah sakit yg bernama siloam, termasuk didalamnya ada mall, sekolah dan perguruan tinggi.

Dan ini udah peletakan batu pertama yg dihadiri oleh para pejabat kota padang dll bahkan sampai dewan syura Pks Hilmy aminuddin.

Akan tetapi sebagian ulama (Buya Gusrizal Gazahar ) mencium ada misi pemurtadan maka dengan gigih dan semangat untuk satu kata tidak ada tawar menawar yaitu: Tolak pembangunan RS siloam di ranah Minang. Yang awalnya hanya sedikit ormas dan lsm yg peduli dgn hal ini. Berkat kegigihan beliau utk menolak dan terus mendakwahkan untuk menolak baik lewat radio maupun ceramah beliau. Sehingga bersatulah umat Islam untuk menolak.

Yang puncak nya insyaAllah akan kumpul di masjid Nurul Iman Padang hari Selasa nanti yg bertepatan tahun baru hijriyah..

TRADISI MISI TIPU MUSLIHAT DALAM BIBEL

Maraknya pengkristenan terhadap umat Islam yang dilakukan dengan cara tipu-menipu oleh para misionaris, tidak begitu mengagetkan, karena dalam kitab agama mereka banyak mengumbar kisah tipu-menipu. Berikut ini adalah beberapa daftar tipu muslihat yang dimuat dalam buku Indeks Kesalahan Alkitab:

1. Nabi Yakub berkonspirasi dengan ibunya untuk menipu Nabi Ishak, ayah kandungnya

Alkitab (Bibel) kitab Kejadian 27:1-40 mengisahkan bahwa Ishak, putra Nabi Ibrahim yang kedua mempunyai seorang Istri yaitu Ribkah dan dua orang putra yaitu Esau dan Yakub.

Karena Ishak sudah tua dan tidak bisa melihat lagi, maka sesuai dengan tradisi, dia harus memberkati anaknya yang sulung, yaitu Esau.

Rupanya, Ribkah adalah ibu yang pilih kasih kepada anaknya. Dia lebih mengasihi Yakub daripada Esau, anak sulungnya. Maka dengan sangat liciknya Ribkah dan Yakub menyusun rekayasa jahat agar yang diberkati oleh Ishak adalah Yakub itu.

Dengan tipuan muslihat yang ulung, Yakub dengan bantuan ibunya mengelabui Ishak yang sudah buta. Ketika Esau berburu binatang, Yakub memakai pakaian Esau dan menghadap ayahnya, mengaku sebagai Esau. Sedangkan ibunya merayu Ishak dengan suguhan masakan kesukaan Ishak. Setelah Ishak yakin bahwa anak yang di hadapannya itu adalah Esau, maka ia pun melakukan prosesi pemberkatan dalam nama Tuhan: “Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia,” kata Ishak.

…Sejak berhasil menipu ayahnya itulah Yakub alias Israel dalam Bibel diberkati Tuhan…

Sejak berhasil menipu ayahnya itulah Yakub alias Israel dalam Bibel diberkati Tuhan. Sementara Esau baru pulang berburu setelah pemberkatan dilakukan. Esau pun menangis meraung-raung karena hak pemberkatan sebagai anak yang sulung telah dirampas oleh konspirasi ibu dan adik kandungnya.

Dalam Bibel cetakan Indonesia, kisah penipuan ini diberi judul perikop “Yakub diberkati Ishak sebagai Anak Sulung.” Padahal, judul yang pas untuk konspirasi penipuan itu adalah: “Dalam nama Tuhan Nabi Ishak ditipu oleh istri dan anak kandungnya,” atau “Esau dikianati adik dan ibu kandungnya,” atau “Anak durhaka dan istri durhaka menipu Nabi Ishak yang malang,” atau “Pemberkatan Tuhan yang salah alamat kepada penipu dan pengkhianat yang durhaka.”

2. Nabi Yakub ditipu Laban, mertuanya dengan diberi umpan Lea untuk disetubuhinya (Kejadian 29:21-25).

Nabi Yakub dalam Bibel mengabdi kepada Laban selama tujuh tahun supaya dapat menikahi Rahel anak bungsunya yang cantik. Setelah tujuh tahun mengabdi, Yakub menagih janji kepada Laban untuk dapat menikahi sang putri, Rahel. Maka sesuai dengan kesepakatan, pesta pernikahan Yakub dan Rahel pun digelar.

Tetapi Laban berlaku curang, pada malam pertama pengantin, ia memberikan umpan Lea kepada Yakub untuk disetubuhinya. Lea adalah anak pertama Laban yang parasnya kurang cantik.

…Pagi hari setelah bangun tidur dari malam pertama pengantin, Yakub baru sadar bahwa wanita yang ditiduri semalam bukanlah Rahel yang diidolakannya. Maka ia pun protes kepada Laban mertuanya dan berkata, Mengapa Paman menipu saya…

Pagi hari setelah bangun tidur dari malam pertama pengantin, Yakub baru sadar bahwa wanita yang ditiduri semalam bukanlah Rahel yang diidolakannya. Maka ia pun protes kepada Laban mertuanya dan berkata, “Mengapa Paman perlakukan saya begini? Bukankah saya bekerja untuk mendapat Rahel? Mengapa Paman menipu saya?” (Kejadian 29:25, BIS).

3. Tamar menipu Yehuda (Putra Nabi Yakub), mertuanya dengan menyamar sebagai wanita sundal supaya ditiduri

Dalam Bibel kitab Kejadian 38:11-30 dikisahkan bahwa Tamar menjadi janda setelah ditinggal mati Onan, suaminya. Onan mati dihukum Tuhan karena melakukan kejahatan onani.

Karena ingin mempunyai anak, maka Tamar menipu mertuanya dengan menyamar sebagai wanita sundal (pelacur) di suatu malam. Karena lihai berakting, Tamar berhasil mengelabui Yehuda, mertuanya sehingga transaksi mesum pun dilakukan. Setelah tawar-menawar harga, akhirnya disepakati sekali satu kali main (short time) dibayar dengan seekor kambing muda. Bayarnya pun boleh belakangan alias kredit. (ayat 16-17).

…Karena ingin mempunyai anak, maka Tamar menipu mertuanya dengan menyamar sebagai wanita pelacur di suatu malam. Dari perbuatan zina menantu (Tamar) dengan mertuanya (Yehuda) itu, lahirlah dua anak kembar Peres dan Zerah. Dari benih Peres inilah di belakang hari lahir Yesus Kristus…

Dari perbuatan zina incest menantu (Tamar) dengan mertuanya (Yehuda putra Nabi Yakub) itu, lahirlah dua anak kembar Peres dan Zerah (ayat 27-30). Dari benih Peres inilah di belakang hari lahir Yesus Kristus (Injil Matius 1:3, Lukas 3:33).

4. Nabi penipu dan fasik

Tuhan dalam Bibel senantiasa mengutus para hamba-Nya, yakni nabi-nabi, untuk membimbing umat-Nya ke jalan yang benar: “Dari sejak waktu nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir sampai waktu ini, Aku mengutus kepada mereka hamba-hamba-Ku, para nabi, hari demi hari, terus-menerus” (Yeremia 7:25, 25:4).

Tetapi dalam Bibel terdapat pula nabi-nabi fasik yang hobi melakukan tipu-menipu:

“Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, semuanya mengejar untung, baik nabi maupun imam semuanya melakukan tipu” (Yeremia 6:13, 8:10).

“Sungguh, baik nabi maupun imam berlaku fasik; di rumah-Ku pun juga Aku mendapati kejahatan mereka, demikianlah firman Tuhan” (Yeremia 23:11).

Bila Nabi utusan Tuhan adalah penipu dan fasik, lalu bagaimana dengan mental dan moral para pengikutnya? [Abuya/ust.Dimas/taz]

Promosikan produk anda voa-islam.com hanya Rp 20.000/hari atau Rp 500.000/bulan

Share this post..

Source: http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/11/02/27412/mui-padang-tolak-kristenisasi-berkedok-bisnis-james-riady/