Home Cari

foto densus 88 - Hasil Pencarian

Jika Anda merasa hasil pencarian kurang akurat, coba deh cari dengan kata kunci yang berbeda :)


Foto Densus 88


We provide another result for Foto Densus 88 at other webs or blogs around the world. This page powered by Google, Yahoo and Bing. You can search anything or different keyword using our powerful Search Form below:


Article Foto Densus 88 on other source:

Multiply.com
Thank you for the support you have shown Multiply.com. May 31, 2013 officially marked the closing of our operations. You may now find your trusted online merchants in ...
Source: "http://multiply.com/"

Surabaya - Okezone.com
Minibus Rombongan Anak TK Terbalik, Empat Orang Terluka Minibus mengangkut rombongan pelajar TK dan wali murid asal Bojonegoro yang hendak rekreasi ke Surabaya ...
Source: "http://surabaya.okezone.com/"

Multiply.com
Thank you for the support you have shown Multiply.com. May 31, 2013 officially marked the closing of our operations. You may now find your trusted online merchants in ...
Source: "http://multiply.com/"

Penggrebekan | Penangkapan | Penembakan Teroris | Masalah ...
Terduga Teroris Poso yang Tewas Pengkonsumsi Miras "Dia setiap hari bekerja untuk sensor kayu. Pagi pergi pikul mesin sensor, pulangnya pikul cap tikus (minuman keras ...
Source: "http://www.tempo.co/topik/masalah/2799/PenggrebekanPenangkapan-Teroris"

Lucgen
Kekacauan Di Kabin Pesawat Singapore Airlines Akibat Turbulence Parah (Foto) – Kekacauan dalam kabin pesawat Singapore Airlines saat mengalami turbulence, Itulah...
Source: "http://lucgen.com/"

Penggrebekan | Penangkapan | Penembakan Teroris | Masalah ...
Terduga Teroris Poso yang Tewas Pengkonsumsi Miras "Dia setiap hari bekerja untuk sensor kayu. Pagi pergi pikul mesin sensor, pulangnya pikul cap tikus (minuman keras ...
Source: "http://www.tempo.co/topik/masalah/2799/PenggrebekanPenangkapan-Teroris"

Arrahmah.com - Berita Dunia Islam Terdepan
Kamis, 17 April 2014; 22:22 Tolak politisasi kampus, mahasiswa ITB usir Capres PDIP Jokowi ; 21:01 Pengadilan Mesir menjatuhi hukuman 3 tahun penjara terhadap 120 ...
Source: "http://www.arrahmah.com/"

Surabaya - Okezone.com
Minibus Rombongan Anak TK Terbalik, Empat Orang Terluka Minibus mengangkut rombongan pelajar TK dan wali murid asal Bojonegoro yang hendak rekreasi ke Surabaya ...
Source: "http://surabaya.okezone.com/"

Arrahmah.com - Berita Dunia Islam Terdepan
Kamis, 17 April 2014; 22:22 Tolak politisasi kampus, mahasiswa ITB usir Capres PDIP Jokowi ; 21:01 Pengadilan Mesir menjatuhi hukuman 3 tahun penjara terhadap 120 ...
Source: "http://www.arrahmah.com/"

Lucgen
Kekacauan Di Kabin Pesawat Singapore Airlines Akibat Turbulence Parah (Foto) – Kekacauan dalam kabin pesawat Singapore Airlines saat mengalami turbulence, Itulah...
Source: "http://lucgen.com/"

0 34
foto ilustrasi

BANDUNG (Arrahmah.com) – Dua hari lalu tepatnya hari Senin (7/4/2014) Detasemen khusus 88 anti teror menangkap dua orang di Tasikmalaya. Namun berita penangkapan ini baru terpublikasi ke media usai pelaksanaan pemilu legislatif (Pileg) 2014 berakhir yakni Rabu sore ini.

“Ya ada penangkapan dua hari kemarin. Yang kami dapat (informasi) baru dua orang,” kata Kapolda Jabar Irjen Pol Mochamad Iriawan di Bandung, Rabu (9/4/2014) lansir liputan6.

Iriawan belum bisa mau memaparkan persis mengenai aksi teror yang dilakukan kedua orang yang ditangkap ini. Meski demikian dia menuturkan, berdasarkan hasil identifikasi sementara, aksi ini diduga berkaitan dengan Pileg 2014.

“Indikasi yang didapat akan lakukan aksinya pada saat Pileg,” tuturnya.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, keduanya akan dibawa ke Mabes Polri. Sementara untuk antisipasi, sejumlah personel tambahan diturunkan untuk mengamankan lokasi.

“Yang jelas kita perkuatan pasukan tambahan,” ucap Iriawan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, selain menangkap kedua tersangka, Densus juga dikabarkan menyita beberapa barang bukti berupa 10 bom pipa, satu detonator, dan satu ponsel merk Nokia.

(azm/arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/04/09/senin-densus-88-telah-menangkap-dua-orang-di-tasikmalaya.html

    0 94
    Koordinator Badan Pekerja KontraS, Haris Azhar (kiri)

    JAKARTA (Arrahmah.com) – Banyak kejanggalan dan dusta polisi dalam operasi Densus 88 anti teror Mabes Polri di Ciputat Tangerang Selatan pada malam pergantian tahun 2014. Hal ini dikemukakan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), yang melihat kejanggalan terutama pada soal tembak mati buruan pasukan burung hantu itu.

    Klaim bahwa terjadi baku tembak selama 10 jam patut dipertanyakan. “KontraS menduga rumah terduga teroris dikepung dan diberondong peluru serta bom dalam tempo yang cepat. Setelah itu, suara letusan senjata api hanya akal-akalan untuk menciptakan suasana mencekam,” rilis KontraS

    KontraS juga menerima informasi warga bahwa intel sering berkeliaran di sekitar lokasi para terduga “teroris”. Intetitas intel semakin meningkat sekitar 1 pekan sebelum penggerebakan.

    “Pada malam satu hari sebelum terjadi penggerebekan, dua orang yang diduga intel juga sempat mendatangi rumah terduga teroris,” tulis koordinator Badan Pekerja Kontras Haris Azhar.

    Informasi lainnya, pada hari Senin (30 /12/2013) terlihat beberapa mobil mondar-mandir di sekitar lokasi rumah terduga teroris. Sehingga upaya penangkapan para terduga “teroris” dalam keadaan hidup sangat mungkin dilakukan.

    “Dari informasi tersebut, disimpulkan bahwa aparat kepolisian memungkinkan melakukan penangkapan dalam keadaan hidup karena sudah memiliki informasi yang cukup, tanpa harus jatuh korban jiwa, kerugian materil dan trauma masyarakat. Tetapi tindakan tersebut tidak dilakukan,” tambah Haris.

    Selanjutnya, KontraS juga tidak menemukan bukti terjadinya tembak-menembak di tempat kejadian perkara.

    “Jika benar terjadi kontak senjata sebagaimana disampaikan oleh Polisi, berarti ada bangunan-bangunan di depan rumah yang terkena tembakan peluru milik terduga teroris. Namun sejauh ini tidak ada bekas peluru di bangunan Mushala atau rumah warga yang berada didepan rumah terduga.”

    Yang tidak kalah penting adalah kejanggalan dalam penembakan terhadap Hidayat yang diduga sebagai pimpinan terduga “teroris” Ciputat. Hidayat merupakan terduga pertama yang ditembak dibagian kepala hingga tewas di Gang Hasan, sekitar 200 meter dari rumahnya. Saat terjadi penembakan, Hidayat sedang mengendarai motor memboceng Irwan (warga) untuk membeli makanan (nasi goreng). Hidayat ditembak tanpa ada perlawanan yang membahayakan aparat. Namun menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar bahwa terjadi baku tembak antara anggota Densus 88 AT dengan Hidayat.

    Berikut ini isi selengkapnya rilis KontraS perihal kejanggalan operasi Densus 88 di Ciputat seperti dilansir situs kontras.org, Ahad (5/1/2014),

    Penanganan Teroris di Ciputat Penuh Tanda Tanya

    KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) menilai ada sejumlah kejanggalan dalam tindakan Tim Densus 88 AT saat penggerebekan terduga teroris di Jalan KH Dewantara, Gang Haji Hasan, Kampung Sawah Dalam, Ciputat, Tanggerang Selatan, pada malam 31 Desember 2013 dan berakhir pada dini hari 1 Januari 2014. Tindakan Densus 88 AT yang mengeksekusi mati terduga teroris di lokasi kejadian sudah menjadi pola yang lazim digunakan dalam setiap operasi.

    Berangkat dari temuan awal dan informasi media massa, KontraS menganggap kematian enam terduga teroris; Hidayat, Nurul Haq, Fauzi, Rizal, Hendi, dan Edo- tidak wajar dan mengandung unsur-unsur pelanggaran prosedur hukum serta hak asasi manusia, termasuk hak asasi warga yang terkena dampak.

    Berikut ini adalah beberapa temuan awal KontraS dilapangan dan perbandingan dengan pemberitaan media massa, termasuk keterangan dari pihak Polri;

    Pertama menurut informasi dari seorang warga sekitar(nama tidak mau disebutkan) bahwa sejak tiga bulan lalu orang-orang yang diduga intel sering berkeliaran disekitar lokasi. Intensitas mereka meningkat sekitar satu minggu sebelum terjadi penggerebekan. Pada malam satu hari sebelum terjadi penggerebekan, dua orang yang diduga intel juga sempat mendatangi rumah terduga teroris. Informasi lain sebagaimana disampaikan warga lainnya, bahwa pada hari Senin 30 Desember 2013 sudah ada beberapa mobil mondar-mandir di perkampungannya. Mobil diparkir dilapangan bola yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi penggerebekan. Dari informasi tersebut, disimpulkan bahwa aparat kepolisian memungkinkan melakukan penangkapan dalam keadaan hidup karena sudah memiliki informasi yang cukup, tanpa harus jatuh korban jiwa, kerugian materil dan trauma masyarakat. Tetapi tindakan tersebut tidak dilakukan.

    Kedua pada 31 Desember 2014, siang hari, sebelum terjadi penggerebekan, aparat kepolisian menyuruh warga menjauh dari lokasi. Sebagian warga meninggalkan lokasi pergi ke rumah-rumah saudaranya, kecuali beberapa orang yang tidak bersedia menghindar lantaran menjaga keluarganya yang sedang sakit. Penggusiran warga dari lokasi disinyalir sebagai upaya Densus 88 AT untuk meminimalisir korban dipohak penduduk sekitar dan hal ini patut diduga sebagai bagian dari mobilisasi terencana untuk penindakan terhadap terduga teroris, yang kemudian berakhir dengan korban jiwa.

    Ketiga penembakan terhadap Hidayat yang diduga sebagai pimpinan teroris Ciputat. Hidayat merupakan terduga pertama yang ditembak dibagian kepala hingga tewas di Gang Hasan, sekitar 200 meter dari rumahnya. Saat terjadi penembakan, Hidayat sedang mengendarai motor memboceng Irwan (warga) untuk membeli makanan (nasi goreng). Hidayat ditembak tanpa ada perlawanan yang membahayakan aparat. Namun menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar bahwa terjadi baku tembak antara anggota Densus 88 AT dengan Hidayat. Anggota Densus 88 AT yang sudah menguntit dari belakang dan menyergapnya ditembak oleh Dayat dengan pen gun dalam jarak dekat sehingga anggota Densus tertembak dibagian kaki kiri tepat dibawah lutut tembus ke paha kanan. Anggota Polisi yang lain yang sudah siap mengarahkan tembakan ke Dayat yang mengakibatkan Dayat meninggal. Boy Rafli Amar juga memberikan keterangan yang berbeda bahwa dua orang dilumpuhkan karena berusaha melarikan diri menggunakan motor Honda Supra B 6516 PGE.

    Keempat beberapa saat setelah penembakan Hidayat, warga berkerumun dilokasi kejadian yang terletak sekitar 200 meter dari rumah yang digerebek. Saat bersamaan, Tim Densus menggerebek rumah yang dihuni oleh terduga teroris lainnya. Rumah terduga berada didepan sebuah Mushala, hanya berjarak tiga meter. Didepan rumah terdapat tanah lapang ukuran tiga meter. Rumah tersebut terletak diantara rumah penduduk yang lain, hanya dipisahkan oleh gang kecil. Dibelakang rumah, dan samping kiri terdapat sedikit semak-semak, sementara sebelah kanan tanah kosong. Dilihat dari posisi rumah, kontak tembak kemungkinan besar terjadi dalam jarak dekat, antara lima atau 10 meter. Jika benar terjadi kontak senjata sebagaimana disampaikan oleh Polisi, berarti ada bangunan-bangunan didepan rumah yang terkena tembakan peluru milik terduga teroris. Namun sejauh ini tidak ada bekas peluru di bangunan Mushala atau rumah warga yang berada didepan rumah terduga. Selain itu, hanya rumah terduga yang ditutup dengan terpal dan police line, sementara lokasi sekitar Mushala dan rumah warga tidak diberi police line. Warga juga dapat mondar-mandir di Gang yang berjarak dua atau tiga meter dari rumah terduga. Klaim bahwa terjadi baku tembak selama 10 jam patut dipertanyakan? KontraS menduga rumah terduga teroris dikepung dan diberondong peluru serta bom dalam tempo yang cepat. Setelah itu, suara letusan senjata api hanya akal-akalan untuk menciptakan suasana mencekam.

    Kelima keterangan Komisioner Kompolnas Syafriadi Cut Ali yang mengatakan bahwa terduga melempar dua bom keluar, satu meledak satu tidak. Dan keterangan Boy Rafli Amar yang mengatakan menemukan enam bom rakitan didalam rumah dan satu ditemukan sudah meledak. Pernyataan tersebut kontradiksi. Jika mengaju ke pernyataan Syafriadi, artinya ada bekas ledakan bom diluar rumah, ada bangunan yang rusak, dan tentunya ada aparat yang terkena serpihan bom. Namun sebagaimana telah kami uraikan pada point empat tidak ada lokasi diluar rumah yang rusak dan di police line. Sementara pernyataan Boy Rafli yang menyatakan ada bom meledak didalam rumah makin memperdalam kebingungan publik. Sebab, jika satu bom meledak didalam rumah, pasti rumah tersebut rata dengan tanah dan orang-orang didalamnya hancur. Sejauh ini, rumah terduga teroris hanya terlihat bolong diatap dan beberapa bekas peluru didinding.

    Atas sejumlah fakta diatas, kami menyimpulkan:
    Pertama, terdapat sejumlah keterangan dari pihak polri yang tidak sesuai dengan gambaran dilapangan. Oleh karenanya, kedua, patut diduga terdapat pelanggaran prosedur penindakan terhadap terduga teroris. Pelanggaran ini berimplikasi pada dugaan pelanggaran hak asasi manusia, baik yang dijamin oleh Konstitusi, aturan perundang-undangan sampai aturan internal Polri–ketentuan perlindungan HAM dalam tugas pemolisian, tata cara penindakan dalam operasi melawan teroris, maupun dalam tata cara penggunaan senjata. Secara umum, peristiwa diatas dapat dilihat sebagai bagian dari tren umum operasi melawan teroris yang penuh ketidak akuntabilitasan dan tidak profesional, sebagaimana terjadi pada beberapa kasus lainnya.

    Oleh karenanya kami merekomendasikan, pertama, harus ada upaya serius evaluasi atas peristiwa diatas, termasuk upaya pemulihan yang tepat sesuai aturan hukum. Lembaga-lembaga seperti LPSK dan komnas HAM serta ombudsmen harusnya bisa berperan, meskipun sejauh ini lembaga-lembaga ini tidak berfungsi dengan baik. Kedua, Pemerintah Indonesia harus segera mengundang pelaporan khusus PBB untuk isu penghormatan HAM dalam melawan terorisme dengan harapan bisa mendapatkan masukan yang konstruktif memperbaiki tindakan-tindakan penegakan hukum untuk isu ini. Kalau polri bisa membuka diri dari negara-negara donor maka tidak ada alasan untuk tidak mengudang pelapor khusus ini. Ketiga, Polri harus membuka siapa otak dibalik jejaring panjang kelompok teroris ini, suplai senjata, alat peledak dan perekrutannya. Kami yakin melihat pola yang berulang bahwa para teroris bukanlah berdiri sendiri melainkan mendapatkan bantuan dari tangan-tangan kotor yang ingin mengambil keuntungan dari kekacauan di Indonesia. Terakhir, kami meminta komnas HAM dan lembaga-lembaga serupa seperti kompolnas agar memperbaiki diri untuk bisa menangani kasus-kasus Pemberantasan terorisme.

    Jakarta, 5 Januari 2014

    Hormat kami
    Badan Pekerja KontraS

    Haris Azhar
    Koordinator

    (azm/arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/01/05/kontras-operasi-densus-88-di-ciputat-hanya-akal-akalan-untuk-menciptakan-suasana-mencekam.html

    0 61
    sekira seratusan kaum Muslimin Solo Raya melakukan unjuk rasa menolak kebrutalan Densus 88 di Ciputat Tangerang Selatan, Jumat (3/1/2014)

    SOLO (Arrahmah.com) – Ratusan kaum Muslimin Solo Raya dari beberarapa elemen umat Islam seperti JAT dan LUIS, pada Jumat (3/1/2014) melakukan aksi unjuk rasa menolak kebiadaban Densus 88 di Ciputat, Tangerang Selatan.

    Mereka menilai sikap represif, militeristik, dan eksekusi mati Desnsus 88 terhadap 6 orang di Ciputat mengingatkan pula kasus di Batu Malang, Temanggung, Wonosobo, Jatiasih, Klaten, Mojosongo Solo, Tipes Solo, Barat PT Konimex Sukoharjo, Bandung, Kebumen, Batang, Kendal, Lamongan, Makasar dan Bima.

    “Seolah pola Densus 88 sudah kehilangan kekhususnya sebagai unit khusus Polri yang mestinya prosedural dan lebih professional dari polisi di daerah,” rilis kaum Muslimin peserta aksi.

    Kaum Muslimin juga menunjukkan beberapa fakta dan kejanggalan penembakan dan pengeboman di Ciputat Tangerang Selatan, yang menunjukan hal yang kontradiktif dalam penegakan hukum oleh Polri khususnya Densus 88, pada rilis yang diterima redaksi menyebut antara lain:

  • Mengapa 6 orang tersebut harus ditembak mati? Apa perannya? Terlibat Kasus apa? Ini perlu pembuktian, ada saksi, ada bukti. Bukan pernyataan sepihak yang tidak ada hak untuk membela diri terhadap korban. Mestinya asas praduga tak bersalah dikedepankan hingga proses ke pengadilan. Di pengadilanpun belum tentu hakim menentukan terdakwa bersalah.
  • Semangat Densus 88 untuk menembak mati mengapa hanya terjadi pada kasus terorisme? Dan tidak terjadi pada penegakan hukum pada kasus lain seperti Korupsi maupun illegal logging? Kapolri harus menjelaskan mengapa ini hanya terjadi pada korban yang kebanyakan beragama Islam yang taat beribadah? Jangan sampai terjadi isu terorisme hanya sebagai kedok yang dibungkus untuk memerangi, menyiksa dan membunuh kelompok muslim di Indonesia.
  • Mengapa Mabes Polri perlu melacak dan menyebar foto korban dalam rangka mencari data pembanding untuk DNA? Dalam hukum acara pidana menyebutkan bahwa penetapan tersangka harus jelas identitas dan memiliki 2 alat bukti untuk menguatkan. Mengapa korban terlanjur dibunuh dinihari tanggal 1 Januari 2014 dan baru 2 Januari 2014 mencari identitas alamat beserta keluarganya? Bagaimana pula menetapkan tersangka kalau alamatnya belum jelas? Bisa jadi ini justru salah sasaran/target yang dilakukan Densus 88.
  • Dalam penggerebegan apalagi Eksekusi mati di Ciputat yang di TKP hanya Densus 88, maka terkait barang buktipun di TKP hanya Densus 88 yang tau, apakah barang bukti itu benar di TKP atau keberadaan barang bukti tiba-tiba ada hanya Densus saja yang tau. Artinya bahwa validitas barang bukti di TKP sangat subyektif, sepihak dan belum tentu benar.
  • Sebelumnya Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri melakukan penggerebekan di rumah kontrakan milik Rahmat di Jalan KH Dewantoro Gang H Hasan RT 04/07 Kampung Sawah Ciputat Tangerang Selatan, Banten pada Selasa (31/12) malam hingga Rabu (1/1) dini hari. Enam Muslim meninggal dunia, mulut polisi menyebut para korban, Daeng alias Dayat alias Hidayat, Nurul Haq alias Dirman, Oji alias Tomo, Rizal alias Teguh, Hendi, dan Ujuh Edo alias Amril

    Nama-nama tersebut kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, merupakan nama yang diperoleh dari Anton, pelaku terorisme yang sebelumnya ditangkap di Banyumas, Jawa Tengah, dan seorang lagi pelaku yang selamat dalam penggerebekan di Kampung Sawah, Kecamatan Ciputat, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten. (azm/arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/01/04/elemen-muslim-solo-raya-tolak-pembantaian-densus-88-terhadap-6-muslim-di-ciputat.html

    0 79
    Anggota Komnas HAM Manager Nasution

    JAKARTA (Arrahmah.com) – Aksi kejam dan sadis Densus 88 di Ciputat Selasa (31/12/2013) hingga Rabu (1/1/2014) masih terus menuai protes dan kecaman.

    Bagaimana tidak kejam, orang ditembak mati saat mengendarai motor, keterangan saksi mata menyebutkan demikian. Foto yang diterima redaksi juga menunjukkan wajah korban penembakan Densus 88 yang mengenaskan. Aksi ini mengakibatkan 6 orang meninggal dunia dan bangunan rumah kontrakan hancur lebur. Belum lagi kerugian imaterial berupa puluhan warga masyarakat sekitar yang mengalami trauma atas kejadian itu.

    Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution menyebut tindakan Densus yang selalu menembak mati terduga teroris dalam setiap operasi penggerebekan justru tidak akan pernah efektif menghentikan terorisme.

    “Densus 88 jangan menjadi lembaga pencabut nyawa. Aksi kekerasan yang dipentaskan Densus 88 dengan menembak mati terduga teroris terbukti tidak efektif memberantas terorisme. Hanya mampu menjawab persoalan sesaat,” ujar Maneger dalam pesan singkat, lansir detikcom Jumat (3/1/2014).

    Menurutnya, kekerasan itu tidak akan mampu menuntaskan persoalan terorisme secara komprehensif.

    “Indonesia negara hukum, bukan negara para ‘penjegal’ yang ringan tangan mencabut senjata sesuai order,” tuturnya.

    Maneger juga mengatakan, selama ini sudah lebih 100 orang yang dituduh teroris ditembak mati Densus 88 tanpa proses hukum. Namun faktanya para pelaku teror bukan semakin berkurang tapi malah semakin banyak bermunculan. Seolah Densus 88 telah berhasil mewariskan nilai-nilai kekerasan, teror dan dendam terhadap polisi sendiri.

    Dia mendesak pemerintah untuk memastikan tidak ada bantuan asing yang mengalir terhadap Densus. Sekaligus melakukan evaluasi terhadap keberadaan Densus 88.

    “Indonesia perlu jalan baru pendekatan dan penanganan yang lebih bermartabat dan manusiawi menangani para pelaku teror. Faktor-faktor lahirnya terorisme itu kompleks sekali. Tidak sederhana. Tidak cukup dengan menembak mati terduga teroris,” imbuhnya. (azm/arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/01/03/komnas-ham-densus-88-telah-berhasil-mewariskan-nilai-nilai-kekerasan-teror-dan-dendam.html

      0 83
      Rumah kontrakan yang diserbu Densus 88 dengan tembakan dan bom kondisinya hancur lebur, bangunannya hanya tersissa 30 %, bagian yang ditutup dengan terpal plastik  itu adalah bagian dari kontrakan yang hancur. Polisi telah mendata kerugian material dan immaterial atas aksi brutal ini Kamis (2/1/2014)

      JAKARTA (Arrahmah.com) – Kali ini Indonesia Police Watch (IPW), bereaksi atas kebrutalan Densus di Ciputat. IPW meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan investigasi terhadap operasi penyerbuan secara brutal sebuah rumah petakan di Ciputat, Tangerang Selatan, oleh Tim Densus 88 pada malam pergantian tahun baru 2014.

      “Dalam kasus Ciputat, Komnas HAM harus melakukan investigasi. IPW berharap Komnas HAM mengawasi dengan ketat dan serius cara-cara kerja Densus 88,” kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane lansir Antara Jumat (3/1/2014).

      Neta menjelaskan investigasi perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada tindakan pelanggaran HAM dalam operasi itu.

      Tim Densus 88 melalui operasi penggerebekan selama ini kerap mengeksekusi nyawa para korbannya, dengan dalih terjadi tembak-menembak dan para terduga teroris melakukan perlawanan hebat terhadap polisi.

      Dia menuding beragam logika juga kerap dibangun polisi dengan menyertakan keterangan saksi-saksi yang tidak meyakinkan.

      Padahal, menurut Neta, operasi penggerebekan yang tidak transparan seperti itu justru menimbulkan kerisauan di masyarakat. Sebab bukan tidak mungkin masyarakat yang jarang bersosialisasi di sebuah wilayah tiba-tiba ditangkap, bahkan dieksekusi, lantas disebut-sebut sebagai terduga teroris.

      “Cara-cara polisi yang mengeksekusi nyawa orang-orang yang dituding sebagai teroris di lapangan tentu sangat disesalkan. Meski sudah banyak dikecam berbagai pihak, tindakan eksekusi terus terjadi,” kata dia.

      Dia menekankan bahwa tugas utama polisi adalah melumpuhkan tersangka, bukan sebagai eksekutor yang selalu menewaskan nyawa para tersangka.

      Dari TKP

      Sehubungan dengan itu, saksi mata kejadian, Yasmin mengatakan kepada arrahmah di tempat kejadian perkara, bahwa salah seorang korban yang diduga bernama Dayat ditembak saat mengendarai sepeda motor di dekat lapangan.

      Ibu beranak empat ini menyaksikan langsung dari jarak dekat kejadian penembakan terhadap Dayat. “Ya saya lihat langsung, orang saya ada di sini,” ujarnya.

      Dia mengatakan dua orang mengendarai sepeda motor ditembak beberapa kali di bagian tubuhnya langsung mati berlumuran darah di wajahnya.

      “Sedang yang satu lagi terjatuh dan masih hidup.”

      Korban yang sudah meninggal itu kemudian dibawa ke depan sebuah rumah yang berjarak 30 meter dari lokasi penembakan.

      Saat arrahmah menunjukkan foto korban Densus di Ciputat dengan wajah berlumuran darah yang beredar di dunia maya, Yasmin membenarkan bahwa dia adalah orang yang ditembak.

      Sumber lain yang tidak mau disebut namanya membenarkan, bahwa usai penembakan itu beberapa orang termasuk warga mengabadikan dengan kamera HP korban yang sudah meninggal dunia berlumuran darah dengan banyak luka tembak di tubuh dan wajahnya.

      “Wah banyak orang sih saat itu yang foto-foto,” ujarnya.

      Perilaku kejam dan sadis begitu dipertontonkan secara massif di hadapan warga Kampung Sawah Ciputat saat malam pergantian tahun itu. Bukan sesuatu yang berlebihan kiranya bila elemen masyarakat diantaranya Jamaah Anshorut Tauhid mendesak agar Komnas HAM bertindak.

      “Tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh Densus 88 tersebut merupakan tindakan extra judicial killing dan menambah banyak daftar pelanggaran HAM yang dilakukan oleh institusi penegak hukum terhadap ummat Islam, maka kami mendesak kepada pihak yang berkompenten dalam hal ini yaitu Komnas HAM untuk serius mengusut tuntas kasus ini, karena hal ini sangat mencederai nilai-nilai agama dan kemanusiaan,” tulis rilis JAT. (azm/arrahmah.com)

      Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/01/03/ipw-komnas-ham-perlu-investigasi-operasi-brutal-densus-88.html

      0 71

      Home Berita Nasional

      Senin, 25/11/2013 22:01:02 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 124

      Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf dalam diskusi bertajuk “Penanganan Tindak Pidana Terorisme dalam Perspektif Hak Asasi Manusia” yang digelar Komnas HAM di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (25/11/2013). foto: shodiq.

      Jakarta (SI Online) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Slamet Effendy Yusuf mengingatkan Detasemen Khusus 88 Anti Teror yang selama ini melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dengan menembak mati para terduga teroris. Menurut Slamet kondisi ini mirip dengan yang pernah dialami Gerakan Pemuda Anshor melalui Banser-nya yang pada 1965 melakukan pembunuhan terhadap anggota PKI.

      “Pada waktu itu kami jadi pahlawan, pahlawan antikomunis,” kata Slamet dalam diskusi bertajuk “Penanganan Tindak Pidana Terorisme dalam Perspektif Hak Asasi Manusia” yang digelar Komnas HAM di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (25/11/2013).

      Berkaca pada peristiwa yang pernah dilakukan Banser, lanjut Slamet, menjadi pelajaran bahwa penanganan sebuah peristiwa yang dilakukan dengan cara yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip kemanusiaan, di kemudian hari ternyata melahirkan gugatan yang sangat mendasar.

      “Sekarang kami, Banser, tidak dapat menepuk dada kami pahlawan, karena di sana-sini kami dicaci maki sebagai pelanggar HAM,” lanjut Ketua Umum GP Ansor periode 1985-1990 dan 1990-1995 ini.

      Melalui pengalaman yang pernah dirasakan Banser, Slamet yang juga Ketua MUI Pusat ini menasehati aparat kepolisian supaya melakukan perubahan cara menangani terorisme.

      “Jadi teman-teman polisi hendaknya sadar pada suatu hari akan mengalami gugatan-gugatan semacam itu. Oleh karena itu lebih baik dari sekarang ada perubahan-perubahan sikap dari polisi tentang bagaimana cara menangani terorisme,” ungkapnya.

      Slamet juga mengingatkan bahwa konstitusi RI, UUD 1945 Pasal 28 L tegas mengatakan hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

      red: shodiq ramadhan

      Baca Juga

      • Terus Lakukan Perlawanan, Militan Sinai Serang Konvoi Militer
      • MS Kaban : Negara akan Kuat dengan Ideologi Ketuhanan YME
      • Antisipasi Aliran Sesat, DDII Bogor Adakan Pelatihan Dai Muda

      Source: http://www.suara-islam.com/read/index/9096

      0 56

      Assalamualaikum
      Bismillaahirrahmaannirrahiim.

      Sahabat Shalih Voa Islam,

      Informasi ini dari para jurnalis yang kerap meliput desk terorist di Indonesia, setidaknya tulisan ini sebagai early-warning buat pejuang Islam yang ikhlas dan terus tidak kehilangan semangat menegakkan Jihad Islam hingga akhir hayat.

      Tujuan dari tulisan ini hanya aktivis Islam lebih waspada dengan tipu muslihat dan kelicikan Densus 88, yaitu dengan mencari ‘kelinci percobaan’ dan mengkambinghitamkan korbannya yang kebanyakan adalah aktivis muslim.

      Seperti kita ketahui bersama, Ansyaad Mbai mengunkapkan, bahwa ‘Operasi Tangkap Mati’ itu adalah tak lebih sebagai pengalihan isu demi Amerika dan penguasa RI. Tujuannya adalah agat saudara muslim yang aktif di dunia pergerakan dakwah dan jihad fii sabilillah terus menerus dimandulkan dengan isu deradikaliasi terorisme ala BNPT dan Densus 88.

      Bahkan BNPT akui penggerebekan teroris untuk pengalihan isu dan ternyata hal itu bukan omong kosong. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengakui hal tersebut.

      “Perbandingan 80 persen dan 20 persen. 20 Persennya yang pengalihan isu, tetapi kalau di era Soeharto dulu persentasenya sangat tinggi,” ujar Ansyaad saat ditemui di ruangannya, Jumat (10/5) malam

      Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengakui bahwa penggerebekan aktivis islam yang di tuduh teroris adalah pengalihan isu. Para teroris itu sebenarnya sudah dipantau cukup lama, namun kapan dilakukan penggerebekan menunggu saat yang tepat sehingga bisa memecah isu yang sedang berkembang di masyarakat.

      Penggrebekan terduga teroris sudah di setup sejak lama (baca: di jebak, di danai, di sulut semangatnya, dan di provokasi untuk membuat makar dan akhirnya lalu ditangkap), lanjut Mbai, juga menunggu moment yang tepat. Menurut Mbai, penggrebekan teroris adalah berita seksi yang bisa digunakan untuk mengalihkan isu.

      Ada beberapa cara Densus88, yaitu :

      1- DENSUS88 mempunyai intel di akun akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau (AKUN) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita-cita mati syahid atau yang sering memposting berita berita jihad

      2- Setelah target di temukan maka akun intel DENSUS88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi, maka mereka akan memulai bertanya-tanya berada dimana alamat rumahnya sambil diiringi perbincangan tentang penegakan syariat di indonesia kalau semua lancar maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia.

      3- Bagi yang akunnya sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya, si intel akan langsung menjadikan dia target dengan mengutus orang yang mengaku sebagai perindu syahid

      4- Setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban DENSUS88 ini akan langsung di beri latihan militer, atau langsung di persenjatai

      5- Setelah itu Calon korban ini di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi DENSUS88 untuk menyerbu (kita tau rata semua penyergapan TERORIS adalah rumah kontrakan)

      6- Setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan-bahan peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan,biasanya intel-intel tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom( namun bagi DENSUS88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya.

      7- Perlu di ketahui bahwa para calon korban ini di beri senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama (agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru DENSUS88 bisa langsung menembak mati korban dengan alasan melakukan perlawanan saat mau di tangkap

      8- Setelah semua siap maka akan terjadilah drama penggerebekan TERORIS, dan akan di siarkan biasanya secara LIVE di tv nasional yg sudah di beri tahu sebelumnya

      9- Saat penggrebekan terjadi, biasanya akan terjadi kontak senjata, itu di karenakan sang calon korban ini sudah di doktrin untuk membenci pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama DENSUS88 sehingga saat mereka tau bahwa yang datang densus88 para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan DENSUS88 adalah mati syahid

      10- Perlu di ketahui bahwa yang di rekrut para intel ini adalah anak anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita cita mati syahid, namun tanpa sadar mereka telah di kelabui untuk menjadi tumbal DENSUS88 agar terus exist selain itu juga sebagai cara untuk meminimalisir para pejuang khilafah di indonesia

      11- Anggota/Regu DENSUS88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan skenario ini, untuk menjaga kerahasiaan operasi, mereka hanya tau bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris atau jaringan Al-Qaidah

      12- Si korban akan langsung di tembak mati di tempat tanpa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya (adapun yang masih hidup, mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar kalau yang merekrut mereka ini adalah intel DENSUS88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid (Red-mujahidin buatan densus)

      Semoga bermanfaat,
      Wassalamualaikum

      #GaZa #RioC #voa-islam

      Perang Antara Mafia China Connection VS The Godfather :

      MafiaWar (1): Popularitas Jokowi & Uang Haram Mafia ‘ChinaConnection’

      MafiaWar (2): Mafia Cina Vs The Godfather, Perang Demi Kekuasaan

      MafiaWar (3): James Riady Intelijen Cina Yang Ingin Kuasai RI

      MafiaWar (4) : Indonesia Diperbudak dan Ketagihan dijajah Asing!

      The Godfather Untold Stories :

      The Godfather(1): Sibak Topeng SBY ‘Sang Jenderal Prihatin’

      The Godfather(2): Membungkam Lawan dgn isu Korupsi & Terorisme

      The Godfather (3): SBY Galau Menjadi Teman Dekat Bunda Puteri?

      The Godfather (4): Siapa Bunda Putri & Apa Hubungan Dgn Dinasti SBY ?

      The Godfather(5): Perang Para Pemilik Dinasti Kekuasaan Indonesia

      The Godfather(6): Bakar Gedung, Habisi Dokumen Century & Hambalang

      The Godfather(7) : Istana Presiden Dikendalikan Para Broker?

      The Godfather(8) : Antasari Azhar Jilid 2 Tutupi Kasus Hambalang?

      The Godfather(9): Jangankan Rakyat, Tuhan Pun Kau Tipu!

      The Godfather (10): Konser NOAH 2 Benua 5 Negara Dari Dana Hambalang?

      The Godfather (11): Dibalik Layar Mafia Penguasa Tambang RI

      Promosikan produk anda voa-islam.com hanya Rp 20.000/hari atau Rp 500.000/bulan

      Share this post..

      Source: http://www.voa-islam.com/counter/intelligent/2013/11/09/27511/mafiawar-5-waspada-modus-densus-88-bunuhi-aktivis-islam-demi-as/

      0 77

      Sabtu, 19/10/2013 21:11:47 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 145

      Ismawati (40) isteri Suardi alias Pak Guru tengah menjawab sejumlah pertanyaan wartawan terkait suaminya yang tewas ditembak Detasemen Khusus (Densus) 88 di kediamannya Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sabtu, (19/10/2013). (foto: kompas.com)

      Bone (SI Online) – Pasca penyergapan terduga teroris yang menewaskan Suardi alias Pak Guru, di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pihak keluarga mempertanyakan aksi tembak yang dilakukan aparat di Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

      Selain menewaskan Suardi, aparat juga menangkap putra sulungnya AI (17), serta seorang lelaki J alias U (37). Saat istri Suardi ditemui wartawan di kediamannya Dusun Cebba, Desa Bila, Kecamatam Amali, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Sabtu (19/10/2013), suasana duka masih menyelimuti.

      Meski demikian, Ismawati (40), istri Suardi terlihat tegar menerima kenyataan yang menimpa suaminya. Sesekali Ismawati mengusap kepala serta memeluk kedua anaknya Iqbal (10) dan Cica (8) yang terus berada di sampingnya.

      Saat ditanya perihal keterlibatan suaminya dengan aksi terorisme, Ismawati mengaku tak mengerti. Dia mengaku, suaminya tak pernah bepergian keluar pulau, meski rutin mengikuti pengajian setiap Kamis malam.

      “Suami saya bukan terduga teroris tapi memang dituduh teroris, masak baru tuduhan sudah main tembak, kalau saya pribadi tidak terlalu bermasalah tapi kasihan anak-anaknya masih kecil-kecil, sudah dicap anak teroris. Padahal belum tentu benar bapaknya teroris atau bukan tapi saya yakin semuanya pasti ada hikmahnya,” kata Ismawati seperti dikutip Kompas.com, sambil mencucurkan air mata dan memeluk kedua anaknya.

      Ismawati pun kemudian meminta agar anaknya Ahmad Iswan (17) segera dikembalikan kepadanya. Pasalnya, AI tidak pernah terlibat pengajian. AI kebetulan pulang berlibur ikut membantu ayahnya berkebun. Namun saat pulang dari kebun itulah suami dan anaknya disergap Tim Densus 88 Antiteror.

      Sebelumnya, Tim Densus 88 Polri menembak mati Suardi (50) di Desa Alinge, Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan Kamis (17/10/2013). Selain itu Densus 88 juga menangkap dua orang lainnya yang dituduh teroris jaringan Abu Uswah.

      “Tim Densus 88 menangkap tiga terduga teroris jaringan Abu Uswah pada Kamis sekitar pukul 14.05 Wita,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, Kamis (17/10/2013).

      Dua orang yang lainnya yang ditangkap Densus 88 adalah Jodi alias Umair (37 tahun) dan Ahmad Iswan (17 tahun).

      red: abu faza/kompas.com/dbs

      Baca Juga

      • Islam Berkembang di Rusia, Namun Pembangunan Masjid Makin Dipersulit
      • Alhamdulillah, Lantai Dua dan Tiga Masjidil Haram Sudah Bisa untuk Thawaf

      Source: http://www.suara-islam.com/read/index/8769

        0 92

        Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai ada sejumlah kejanggalan yang dilakukan Densus 88 AT dalam penggerebekan terduga teroris di Ciputan pada malam tahun baru kemarin. Kejanggalan terutama pada soal tembak mati teroris.

        Berikut kejanggalan yang diterima detikcom, Minggu (5/1/2014), dari rilis Kontras:

        1. Lokasi rumah terduga teroris telah lama diintai

        KontraS menerima informasi warga bahwa intel sering berkeliaran di sekitar lokasi terduga teroris. Intetitas intel semakin meningkat sekitar 1 minggu sebelum penggerebakan.

        “Pada malam satu hari sebelum terjadi penggerebekan, dua orang yang diduga intel juga sempat mendatangi rumah terduga teroris,” kata koordinator Kontras Aris Azhar.

        Informasi lainnya, pada hari Senin 30 Desember 2013 terlihat beberapa mobil mondar-mandir di sekitar lokasi rumah terduga teroris.

        2. Intel sempat minta warga mengungsi

        Pada 31 Desember 2014, siang hari, sebelum terjadi penggerebekan, aparat kepolisian menyuruh warga menjauh dari lokasi. Sebagian warga meninggalkan lokasi pergi ke rumah-rumah saudaranya, kecuali beberapa orang yang tidak bersedia menghindar lantaran menjaga keluarganya yang sedang sakit.

        “Pengusiran warga dari lokasi disinyalir sebagai upaya Densus 88 AT untuk meminimalisir korban dipihak penduduk sekitar dan hal ini patut diduga sebagai bagian dari mobilisasi terencana untuk penindakan terhadap terduga teroris, yang kemudian berakhir dengan korban jiwa,” jelasnya.

        3. Hidayat ditembak tanpa perlawanan bukan dalam baku tembak

        Hidayat adalah terduga teroris pertama yang ditempat oleh Densus 88 AT. Hidayat disebut ditembak tanpa perlawanan saat keluar dengan seorang warga untuk membeli makan malam.

        “Hidayat ditembak tanpa ada perlawanan yang membahayakan aparat. Namun menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar bahwa terjadi baku tembak antara anggota Densus 88 AT dengan Hidayat,” kata Aris.

        Menurut Aris, Densus 88 AT telah menguntit Hidayat dari belakang dan menyergapnya. Anggota polisi telah siap mengarahkan tembakan ke Dayat yang mengakibatkan Dayat meninggal. Boy Rafli Amar juga disebut memberikan keterangan yang berbeda soaldua orang dilumpuhkan karena berusaha melarikan diri menggunakan motor Honda Supra B 6516 PGE.

        4. Lokasi baku tembak yang janggal

        Usai menembak Dayat, polisi langsung menggerebek rumah terduga teroris lainnya. Disebut terjadi baku tembak, namun KontraS tidak menemukan bukti terjadinya tembak-menembak.

        “Jika benar terjadi kontak senjata sebagaimana disampaikan oleh Polisi, berarti ada bangunan-bangunan di depan rumah yang terkena tembakan peluru milik terduga teroris,” ujar Haris.

        “Namun sejauh ini tidak ada bekas peluru di bangunan Mushala atau rumah warga yang berada didepan rumah terduga,” tambahnya.

        5. Soal penemuan bom di rumah terduga teroris

        KontraS menyebut ada keterangan yang berbeda soal penemuan bom di rumah terduga teroris. Namun anehnya tidak ada bekas bom yang meledak di luar rumah terduga teroris.

        Keterangan yang berbeda tersebut berasal dari Komisioner Kompolnas Syafriadi Cut Ali yang mengatakan bahwa terduga melempar dua bom keluar, satu meledak satu tidak, sedangkan keterangan Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan menemukan enam bom rakitan di dalam rumah dan satu ditemukan sudah meledak.

        “Pernyataan tersebut kontradiksi. Jika mengacu ke pernyataan Syafriadi, artinya ada bekas ledakan bom di luar rumah, ada bangunan yang rusak. Sementara pernyataan Boy Rafli yang menyatakan ada bom meledak di dalam rumah makin memperdalam kebingungan publik. Sebab, jika satu bom meledak di dalam rumah, pasti rumah tersebut rata dengan tanah dan orang-orang didalamnya hancur. Sejauh ini, rumah terduga teroris hanya terlihat bolong di atap dan beberapa bekas peluru di dinding,” jelasnya. (detik.com, 5/1/2014)

        Source: http://hizbut-tahrir.or.id/2014/01/05/ini-kejanggalan-penggerebekan-terduga-teroris-di-ciputat-versi-kontras/

        0 108
        Ustadz Iskandar

        JAKARTA (Arrahmah.com) – Penangkapan tim Densus 88 Polri terhadap Ustadz Iskandar dengan sangat kasar di Kota Bima Nusa Tenggara Barat, Ahad (15/12/2013), masih terus menjadi pemberitaan. Kecaman keras mengalir dari pembaca arrahmah.com menyikapi hal itu.

        Tapi belum lagi itu surut, sudah muncul foto Ustadz Iskandar dalam penampilan yang jauh berbeda dengan biasanya sebagai guru ngaji, berjenggot dan songkok putih. Pada antaranews terpampang foto Ustadz Iskandar alias Abu Qutaibah yang sudah jauh berbeda dan tak bisa dikenali, kecuali pada teks foto tersebut tertulis nama sang Ustadz yang dicintai masyarakat Bima ini. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

        Pada foto itu nampak seorang yang disebut dalam titel foto adalah Iskandar diapit oleh aparat Densus saat tiba di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, namun tampilannya sangat mengenaskan, wajahnya tanpa sehelai jenggotpun dan mengenakan kacamata hitam dengan frame merah, membuat orang-orang yang mengenalnya menjadi tanda tanya besar.

        Sudah diapakan saja sang ustadz ini, selain di babat jenggot dan dikenakan kacamata tersebut oleh para jundut thowaghit ini.

        Sekali lagi umat Islam dibuat marah, kedzaliman sudah sepantasnya mendapatkan balasan atas kedzaliman pula, sebagaimana firman Allah Ta’ala “Wa jaza’u sayyiatin syyiatun mitsluha, bagi orang yang berbuat buruk kepada orang lain, maka balasannya adalah perlakuan buruk yang setimpal.” (Q.S. Asyuro : 40)

        Jelas aparat Densus melakukan kezhaliman dan kekejaman. Balas kezhaliman tersebut bagi yang mampu, bersabar untuk yang belum, itu yang sering disampaikan para ulama.

        Meski terlihat sangar dan perkasa, sesungguhnya yakinlah aparat Densus adalah paling takut dan pengecut. Lihat penampilan mereka di hadapan publik yang menggunakan sebo penutup wajah agar tak dikenali oleh mujahidin.

        Toh Densus 88 sudah ditantang oleh Mujahidin Indonesia Timur, sebagaimana yang ditulis oleh Abigjasmine dalam kolom comment Selasa, 13 Safar 1435 H / 17 Desember 2013

        “Densus 88 anshorut thoghut ini dari tahun lalu ditantang duel Mujahidin Indonesia Timur di pegunungan Tamanjeka, sampai sekarang ga berani mengejar masuk ke Tamanjeka, malah yang dikorbankan brimob dan polisi lokal Poso. Giliran sama guru ngaji over akting, inilah aslinya Densus 88-laknatullah alaihi.”

        Sedangkan pembaca arrahmah yang lain Bondanmbozo menulis:

        “Kalau umat Islam mengangkat bendera jihad untuk melawan ketidak adilan aparat, baru tahu nanti apakah si Densus tetap akan sangar atau kocar kacir.”

        Sementara Muhammd Abdullah menulis dengan memberi kesabaran kepada para ustadz atas ujian yang sedang dialami sebagai sunatulloh perjuangan dakwah tauhid dan jihad.

        “Sungguh ajaib urusan orang Muslim itu. Ketika ia diuji dengan kesusahan dan ia bersabar maka itu kebaikan buat dia, ketika ia diuji dengan kesenangan dan dia bersyukur itu juga kebaikan buat orang muslim.

        Tidaklah pukulan yang diterima orang Islam itu melainkan akan menghapuskan 1 keburukannya di dunia atau menaikkan 1 derajatnya di surga.
        Dan tidaklah mereka yang memukul dengan 1 pukulan melainkan akan menurunkan 1 derajatnya di neraka. Lihat : Al-Buruj ayat 8-12″

        Redaksi menulis terjemah tafsiriyah atas ayat tersebut, “Kaum kafir penggali parit itu menyiksa orang-orang mukmin, karena mereka beriman kepada Allah Tuhan yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Tuhan yang memiliki kekuasaan di semua langit dan bumi. Tuhan yang Maha menyaksikan apa saja. Orang-orang yang menyakiti kaum mukmin laki-laki dan perempuan dan tidak bertaubat atas dosa-dosa mereka, akan mendapat siksa Jahanam. Mereka akan merasakan siksa jahanam membakar diri mereka. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal solih berhak mendapat surga-surga dibawah surga mengalir sungai-sungai. Itulah kemenangan yang besar bagi kaum mukmin. Wahai Muhammad, siksa Tuhanmu di akhirat sangat berat.” (Al Buruj (85) : 8-12). (azm/arrahmah.com)

        Source: http://www.arrahmah.com/news/2013/12/21/kezhaliman-lanjutan-terhadap-ustadz-iskandar.html

        0 71

        Selasa, 26/11/2013 11:35:03 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 20

        Posko Pengobatan Tim MER-C di di Kawit Barangay Hall (foto: MER-C)

        Cebu, Filipina (SI Online) – Tim Bedah MER-C yang dipimpin dokter Abdul Mughni yang bertolak ke Cebu Filipina pada Jumat malam (22/11), telah tiba dengan selamat di Bandara Mactan Cebu, Sabtu (23/11) pukul 11.30 waktu setempat. Setiba di Cebu, Tim langsung berkoordinasi dengan Health Management Center guna mengurus perizinan dan pemetaan lokasi-lokasi bencana yang dianggap penting.

        Usai mendapatkan informasi, tim langsung meluncur ke arah utara Cebu, tepatnya Municipality of Medellin yang turut dilanda bencana dahsyat topan Haiyan pada 8-9 November 2013 lalu. Di sini tim mengunjungi Bogo-Medellin Medical Center, sebuah rumah sakit umum daerah setempat yang juga tampak mengalami kerusakan pada beberapa bagian ruangan akibat topan.

        Setelah berkoordinasi dengan Kepala dan staf RS serta mengevaluasi kebutuhan medis, Tim MER-C memutuskan untuk memberikan bantuan terlebih dahulu di wilayah ini. Malam itu, tim pun beristirahat di ruangan laboratorium yang sudah disiapkan oleh pihak RS, untuk melepas lelah setelah sehari semalam melakukan perjalanan.

        Esok harinya, Ahad (24/11), untuk mengefektifkan waktu dan pekerjaan, dokter Abdul Mughni selaku Ketua membagi timnya yang terdiri dari 9 relawan menjadi 2, yaitu Tim Bedah dan Tim Mobile Clinic. Tim Bedah berfokus membantu penanganan pasien-pasien trauma di RS sementara Tim Mobile Clinic bertugas menyisiri wilayah-wilayah utara Cebu yang menjadi sasaran topan Haiyan.

        Dokter Abdul Mughni, dokter Dany Kurniadi, dokter Nurul Qomaruzzaman dan Ita Muswita (perawat bedah) sejak Ahad pagi langsung membantu menangani pasien yang dirawat maupun yang datang ke IGD RS. Hari itu juga dilakukan tindakan operasi dengan kasus fraktur pergelangan tangan kiri (Radius Ulna). Walaupun dengan peralatan operasi yang seadanya, yaitu ketiadaan alat electric cauter, namun operasi berhasil diselesaikan dalam waktu kira-kira satu setengah jam.

        Seperti padatnya kegiatan Tim Bedah di RS, Tim yang memberikan pelayanan medis mobile clinic juga demikian halnya. Tim disambut antusias oleh warga masyarakat korban topan, tepatnya warga di Barangay of Kawit. Di wilayah ini kerusakan akibat topan terlihat di sana-sini. Meskipun rumah dan bangunan tempat tinggal mereka terkena sapuan topan, tapi warga tidak mengungsi. Mereka membuat tenda di samping reruntuhan dan sisa rumah.

        Bertempat di Kawit Barangay Hall yang berjarak sekitar satu jam dari Bogo Medelin Medical Center, Tim Mobile yang terdiri dari 2 dokter umum, 1 perawat dan 2 non medis melayani satu-persatu warga yang datang. Obat-obatan yang diberikan tim adalah obat-obatan yang dibawa dari Indonesia, sumbangan para donatur.

        Meskipun ramai warga yang berkumpul, namun mereka terlihat dengan sabar dan tertib mengantri untuk mendapatkan pengobatan. Tercatat warga yang berobat pada hari itu mencapai 216 orang.

        Tim dijadwalkan masih akan menginap di Bogo-Medellin Medical Center satu hari lagi sebelum bergerak ke wilayah bencana topan lainnya. Hal ini dikarenakan masih ada warga korban topan Haiyan yang memerlukan bantuan penanganan operasi, seperti fraktur pergelangan tangan bawah dan necrotic wound debridemant.

        red: shodiq ramadhan

        Baca Juga

        • Terus Lakukan Perlawanan, Militan Sinai Serang Konvoi Militer
        • Densus 88, Operator Penyadapan Australia
        • Muslim Korea Butuh Masjid dan Makanan Halal
        • Arab akan Murtad dan Kaum Lain Menggantikannya
        • Wakil Menteri Industri dan Pertambangan Iran Ditembak Orang tak Dikenal

        Source: http://www.suara-islam.com/read/index/9100

        0 35

        Home Berita Nasional

        Minggu, 24/11/2013 21:48:20 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 23

        Menkokesra Agung Laksono (foto: Antara)

        Jakarta (SI Online) – Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan, Indonesia tidak akan merasa dirugikan bila terjadi pemutusan hubungan dengan Australia di bidang kerja sama pendidikan.

        “Indonesia tidak akan dirugikan bila ada penghentian kerja sama pendidikan, toh selama ini mahasiswa Indonesia yang lebih banyak kuliah di Australia bila dibandingkan mahasiswa Australia yang kuliah di Indonesia,” kata Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono ketika dihubungi Antara dari Jakarta, Ahad (24/11/2013).

        Agung berpendapat, Australia selama ini lebih diuntungkan dengan banyaknya mahasiswa Indonesia yang berkuliah di sana.

        Agung juga menambahkan, Indonesia berhak meminta penjelasan atas penyadapan yang dilakukan Australia. “Australia sudah selayaknya memberikan penjelasan, bahkan jika perlu menyampaikan permintaan maaf kepada Indonesia,” katanya.

        Bukan hanya soal pendidikan, menurut Agung, Indonesia tidak akan dirugikan jika menghentikan berbagai kerja sama di bidang lain dengan Australia.

        Sementara itu, agung juga menambahkan, penyadapan yang dilakukan Australia diharapkan bisa meningkatkan minat para pemuda di Indonesia untuk menciptakan teknologi antisadap. “Saya percaya generasi muda Indonesia mampu melakukan itu,” katanya.

        red: abu faza
        sumber: ANTARA

        Baca Juga

        • Densus 88, Operator Penyadapan Australia
        • PUSHAMI Desak Polri Putus Kerjasama Anti Teror dengan Australia
        • Protes Kunjungan OKI, Teroris Budha Hancurkan Masjid
        • Terkait Penyadapan, PM Australia : Jangan Harap Kami Minta Maaf
        • Wakil Menteri Industri dan Pertambangan Iran Ditembak Orang tak Dikenal

        Source: http://www.suara-islam.com/read/index/9077

        0 60

        Kamis, 24/10/2013 12:08:57 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 27

        Kadaker Madinah Ahmad JAuhari (foto: abdul halim)

        Madinah (SI Online) – Mulai Jumat dinihari besok Waktu Arab Saudi (WAS), sebanyak 192 kloter (kelompok terbang) atau 78 ribu orang jamaah haji Indonesia gelombang kedua mulai berdatangan ke kota suci Madinah al Munawwarah, setelah selesai menjalankan ibadah haji di kota suci Makkah al Mukarramah. Sedangkan jamaah haji gelombang pertama mulai meninggalkan Makkah menuju Jeddah untuk kembali ke tanah air, sebab sebelumnya mereka telah berada di Madinah dengan melakukan sholat arbain (sholat wajib lima waktu selama delapan hari).

        “Hari pertama (Jum’at ) akan tiba tujuh kloter, selanjutnya setelah normal akan tiba sebelas kloter setiap harinya sampai tanggal 9 Nopember nanti,” ujar Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Ahmad Jauhari, kepada wartawan Media Center Haji (MCH) di Madinah, Rabu malam (23/10).

        Untuk itu petugas dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Madinah sudah siap menyambut kedatangan para jamaah haji yang semuanya menggunakan bus melalui terminal hijrah di Madinah.

        Adapun kloter pertama yang datang adalah Kloter 5 Banjarmasin pada Jum’at dinihari pukul 01.30, kemudian disusul Kloter 11 Lombok. Sementara pada Jum’at siang akan datang Kloter 11 Balikpapan, Kloter 37 dan 38 Solo serta Kloter 32 dan 33 Jakarta-Bekasi.

        Menurut Ahmad Jauhari, untuk mengantisipasi jamaah yang kebingungan di Masjid Nabawi karena baru pertama kali datang, maka para petugas akan dikonsentrasikan di Masjid Nabawi. Sebab hal itu sering terjadi pada jamaah haji gelombang pertama lalu.

        “Banyak Kloter yang datang pada malam hari dan jamaah langsung sholat subuh di Masjid Nabawi padahal belum mengetahui medan sehingga banyak juga yang kebingungan dan tersesat ketika akan kembali ke pemondokannya,” ungkap Ahmad Jauhari.

        Sementara itu sejumlah pedagang kali lima dan pedagang toko di dan sekitar Masjid Nabawi sudah mengantisipasi akan kedatangan jamaah haji Indonesia gelombang kedua ini. Mereka yang rata-rata bisa berbahasa Indonesia itu mengetahui kalau jamaah haji Indonesia hobi dan getol berbelanja oleh-oleh untuk dibawa ke tanah airnya.

        “Kami sudah siap jika jamaah haji Indonesia akan datang kembali ke Madinah ini. Kami senang karena jamaah haji Indonesia suka berbelanja,” ungkap Sirajul, salah seorang pedagang kurma yang mengaku dari India.

        Karena mereka sudah bertahun-tahun berdagang di Madinah, maka mereka tahu kebiasaan jamaah haji Indoensia yang suka memborong barang dagangan para pedagang termasuk pedagang kaki lima di dan sekitar Masjid Nabawi, bahkan mereka sampai bisa berbahasa Indonesia meski sangat terbatas.

        Rep: Abdul Halim

        Baca Juga

        • Suaminya Ditembak Mati Densus 88, Ismawati : Masak Baru Tuduhan Sudah Main Tembak?
        • Polisi Tunisia Berani Usir Presiden dan Perdana Menterinya
        • Belum Ditetapkan jadi Hari Libur, Muslim Malawi tak Bisa Rayakan Idul Adha
        • Kematian Jamaah Haji Menurun, Gangguan Jiwa Bertambah

        Source: http://www.suara-islam.com/read/index/8811

        0 53

        Jakarta (voa-islam.com) Ketika LHI dihadapkan ke persidangan korupsi, dia membuat kesaksian mengejutkan. Dia menyebutkan keterlibatan Bunda Puteri yang merupakan orang dekat SBY.

        Mendengar pernyataan itu, sontak SBY meradang. “Saya katakan 1000 persen Luthfi bohong,” kata SBY.

        Isu ini pun menggelinding ramai. Berbagai ulasan dan komentar muncul. Termasuk beredarnya foto-foto yang membuktikan kedekatan menteri-menteri SBY dengan Bunda Puteri.

        Sebelum isu berkembang lebih jauh, sehingga bisa memojokkan SBY dan Partai Demokrat; seperti biasa, aparat Densus88 segera turun untuk membuat kasus penyergapan teroris.

        Hal ini selalu dilakukan setiap SBY terpojok. Sebenarnya semua media, baik cetak maupun elektronik, sudah bosan dengan isu terorisme; kecuali TVOne dan MetroTV. Hanya dua TV itu saja yang menganggap isu terorisme sebagai “kecintaan gue banget”.

        Ketika SBY (Demokrat) sedang terpojok, oleh isu apapun, segera saja keluar isu-isu terorisme agar isu itu cepat dicaplok media-media doyan fitnah.

        “Hayo-hayo, mari-mari. Ini ada isu baru. Makan anak-anak, makan. Ini isu kesukaan kalian. Makan yang rakus, jangan malu-malu. Kita ini kotoran, hidup dari kotoran, berbisnis kotoran, memberi makan anak-isteri dari kotoran juga. Hayo-hayo, terus sikat,” pesan sang bos seraya menaburkan isu-isu terorisme.

        Inilah perjudian politik zaman modern. Pemimpin ketika berkuasa lupa segala-galanya, terutama lupa rasa malu. Kalau ada masalah-masalah, mereka jadikan “kaum teroris” sebagai tumbal untuk menyembunyikan kebusukan diri.

        Kembali ke istilah “bohong 1000 persen”. Sebenarnya, apa maksud kalimat itu? Apa ada kebohongan 1000 persen? Ukuran bohong itu kan bervariasi dari bohong 1 persen sampai 100 persen. Bohong sangat sedikit nilainya 1 persen, bohong sedang 50 persen, dan bohong sempurna 100 persen. Setelah itu tidak ada lagi bohong melebihi 100 persen.

        Ketika bicara tentang sifat sesuatu, apakah sifat perbuatan, sifat manusia, sifat benda, dan lainnya ukuran yang biasa dipakai: sedikit, sedang, banyak.

        Kalau memakai prosentase, dihitung dari angka minimum (katakanlah) 1 persen, sampai angka maksimum 100 persen. Tidak ada ukuran sifat di atas 100 persen, apalagi sampai 1000 persen.

        Beda kalau berbicara suatu variabel yang fluktuatif, mengalami perubahan, peningkatan, atau penurunan. Nilainya bisa melebihi 100 persen. Misalnya, ketika tahun 1997 kurs rupiah anjlok dari rata-rata Rp. 2.500,- per dolar Amerika menjadi Rp. 10.000,- per dolar; itu artinya nilai rupiah merosot 300 persen. Disini boleh menggunakan angka persentase di atas 100 persen.

        Singkat kata, kalau bicara soal sifat (kualitas) sesuatu, nilai persentasenya maksimum 100 persen. Tidak bisa lebih dari itu. Makanya ketika ada seorang pemimpin, bergelar doktor, jendral pula, mengatakan istilah “bohong 1000 persen”; itu bentuk pembodohan. Coba gambarkan, apa yang disebut “bohong 1000 persen” itu?

        Kalau kita tidak bisa berperan mengangkat derajat kecerdasan masyarakat, ya setidaknya jangan memperparah kebodohan mereka. Kalau pemimpin tidak malu-malu menampakkan kebodohannya, rakyat pasti akan lebih parah bodohnya.

        Adalah bukan tanpa alasan ketika Luthfi mengangkat sebuah isu untuk men-torpedo posisi SBY dan Demokrat. Secara struktural PKS dan Demokrat masih “besanan politik”; tapi SBY seperti membiarkan saja Luthfi dihajar oleh KPK lewat isu korupsi. Maka Luthfi pun putar otak untuk melakukan “serangan balasan”.

        Secara hukum, tidak ada masalah kalau Luthfi tidak mengangkat nama Bunda Puteri. Tapi secara politik, Luthfi butuh posisi Bunda Puteri untuk meng-ganyang SBY Cs. Dan isu Bunda Puteri ini jelas-jelas telah menambah buruk rapot kepemimpinan SBY. Kesan yang muncul, bukan politik kenegarawanan yang selama ini bicara, tapi cara-cara mafia.

        Padahal kalau mau jujur, PKS sejak awal sudah diingatkan agar “tidak dekat-dekat” dengan Demokrat. Tapi ya sudahlah, semua sudah pada tahu, PKS lebih concern dengan posisi kekuasaan di kabinet; meskipun risikonya mereka babak-belur juga.

        Politik ala SBY itu tidak pernah memiliki kesetiaan. Sejujurnya, yang membantu SBY naik ke pentas adalah PBB dan Yusril Ihza Mahendra. Itu terjadi pada Pilpres 2004 lalu.

        Tapi setelah berjaya, SBY Cs lupa sama sekali PBB dan Yusril. Apalagi –dalam kaitan dengan PKS- SBY merasa takut jika partai ini akan melakukan politik “pagar makan tanaman”.

        Isu terorisme sering muncul ketika citra SBY dan Demokrat mulai rusak di mata publik. Menjelang Pemilu 2014 kemungkinan isu terorisme akan semakin laris-manis.

        Seperti pengamat, kasus-kasus terorisme selalu muncul sebagai “kran” untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu besar yang sedang membelit SBY dan Demokrat.

        Sekarang tinggal ditanya ke aparat kepolisian: Masih berapa banyak stok “calon teroris” yang sudah masuk daftar sergapan?

        Para “calon teroris” itu nantinya akan menjadi tumbal untuk menyelamatkan kekuasaan rezim Neolib dan kaki tangannya. Sampai di titik ini, negara tidak lagi dipimpin “hikmat kebijaksaan”, tetapi dipimpin dengan cara-cara mafia.

        Sudah sepantasnya, kita memohon kepada Allah Al Mujib agar mengumpulkan seluruh penderitaan dan sengsara yang selama ini dialami para terduga teroris, para korban terbunuh, korban terluka dan dipenjara, seluruh keluarga mereka, serta kaum Muslimin yang secara tidak langsung ikut menderita; agar semua penderitaan itu dilipat-gandakan, lalu ditimpakan kepada SBY, sanak keluarga, anak keturunan, serta para pendukungnya. Sehingga mereka semua bisa segera memahami makna kezhaliman yang mereka lakukan.

        Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Abdurrahman

        Promosikan produk anda voa-islam.com hanya Rp 20.000/hari atau Rp 500.000/bulan

        Share this post..

        Source: http://www.voa-islam.com/counter/intelligent/2013/10/23/27271/presiden-sby-dan-bohong-1000-persen/