Home Cari

foto densus 88 - Hasil Pencarian

Jika Anda merasa hasil pencarian kurang akurat, coba deh cari dengan kata kunci yang berbeda :)

Foto Densus 88


We provide another result for Foto Densus 88 at other webs or blogs around the world. This page powered by Google, Yahoo and Bing. You can search anything or different keyword using our powerful Search Form below:


Article Foto Densus 88 on other source:

0 106
Kunjungan keluarga korban penangkapan Densus 88 dari Jawa Tengah ke Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Jawa Barat Jum'at (6/6/2014)

DEPOK (Arrahmah.com) – Sejumlah wartawan media Islam yakni dari Arrahmah.com dan Kiblat.net mendapat perlakuan yang tidak sopan dan bahkan intimidasi dari aparat provost Brimob dan intel di gerbang depan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok Jum’at (6/6/2014).

Siang itu sekira jam 13.50, wartawan Arrahmah.com merapatkan sepeda motor di samping gerbang Mako. Baru selesai standar motor, langsung dipanggil oleh aparat provost Brimob berpakain PDL biru, ditanyakan keperluannya, diminta menunjukkan identitas pers bahkan KTP. Saat semua pertanyaan dijawab dan kartu identitas itu ditunjukkan, wartawan Arrahmah.com malah diminta untuk membuka jok motornya untuk digeledah.

Tak puas menggeledah motor, bahkan KTP wartawan Arrahmah.com nampak diserahkan oleh provost Brimob tersebut kepada beberapa orang berbadan tegap berpakaian preman, diduga mereka intel satuan khusus anti teror.

Setelah itu wartawan Arrahmah.com berusaha mengambil KTP tersebut seraya menkonfirmasi kebenaran berita tentang adanya kunjungan keluarga korban penangkapan Densus 88 di Klaten.

Salah seorang dari mereka yang berbadan tegap mengatakan bahwa setiap hari ada kunjungan termasuk dari Poso. Setelah itu wartawan Arrahmah diminta pergi dan tidak boleh dekat area gerbang Mako Brimob.

Hal serupa dialami oleh wartawan Kiblat.net, bahkan dia mendapat perlakuan lebih parah lagi. Aparat yang diduga intel Densus 88 ini mengintimidasinya dan menanyakan banyak hal kepadanya. Dia dilarang mengambil gambar dan diminta menghapusnya. Masih di depan gerbang utama Mako Brimob, dirinya dan juga kartu persnya difoto oleh aparat berpakaian preman, diminta fotokopi KTP-nya, diminta membuka jaket dan baju yang dikenakan serta berusaha menggeledah tas ranselnya, padahal dia sudah mengatakan sebagai pers.

Adapun kehadiran media Islam di Mako Brimob siang itu adalah demi meliput kunjungan perdana keluarga korban kezhaliman penangkapan Densus di Klaten dan beberapa tempat, sekaligus kroscek kepada aparat kepolisian. Mereka hendak mencari keadilan, setelah dilarang menemui anggota keluarga mereka meski sudah lewat masa penahanannya 7 x 24 jam.

Media Islam selama dinilai oleh beberapa fihak tidak imbang, namun saat turun ke lapangan untuk konfirmasi atas suatu hal aktual yang melibatkan polisi malah diintimidasi oleh aparat. (ukasyah/arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/06/07/media-islam-diintimidasi-saat-meliput-korban-penangkapan-densus-88.html

Category: berita

0 91
foto ilustrasi

SOLO (Arrahmah.com) – Kadir (35) warga Kampung Banyuharjo Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Solo mengaku ditangkap oleh tim Densus 88.

Pria itu kemudian disekap, pahanya dicubit pakai tang, dan dicambuk punggunya hingga memar.

Dan bukan kesakitan itu yang dia paling rasakan, namun justru dugaan sebagai teroris itu yang membuat dia dan keluarganya malu. Apalagi tetangga kaget begitu ada kabar Kadir diciduk oleh Densus 88 diduga terlibat jaringan teroris.

Kejadian itu bermula ketika Kadir akan menjalankan salat Jumat di Masjid At Taqwa tak jauh dari rumahnya.

Namun sebelum sampai masjid, tepat di Gedung Pancasila Jalan RE Martadinata dibawa secara paksa oleh dua orang yang mengenakan pakaian serba hitam layaknya petugas Densus 88.

“Saya tiba-tiba ditangkap dua orang berpakaian hitam seperti petugas Densus 88. Lalu saya dimasukkan ke sebuah mobil dan wajah saya ditutup rapat,” kata Kadir, Jumat (16/5), tulis Tribun.

Dia dipaksa untuk mengaku terlibat dalam pengeboman di Poso. Namun Kadir kekeh tidak tahu menahu hal itu.

“Saya saja tidak pernah keluar kota. Saya yakin mereka petugas Densus 88 karena pertanyaan terkait Poso. Kemarin baru menangkap terduga teroris terkait Poso di Klaten,” ujarnya.

Setelah ditangkap dan disiksa dalam kondisi ditutup wajahnya itu kemudian Kadir dikembalikan di Jalan Juanda sekitar pukul 16.00 WIB. Dia pun kaget begitu membuka penutup muka.

Sebelum ini, telah banyak peristiwa salah tangkap dan penyiksaan yang dilakukan oleh aparat boneka asing Densus 88 dengan dalih terorisme, semuanya berlalu tanpa ada konpensasi dan pemulihan nama baik para korbannya. Densus 88 dan Mabes Polri yang menaunginya tidak bertanggung jawab atas hal itu. (azm/arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/05/18/dipaksa-terlibat-bom-poso-korban-salah-tangkap-densus-88-dicubit-pahanya-pakai-tang.html

Category: berita

0 51
foto ilustrasi

JAKARTA (Arrahmah.com) – Densus 88 Antiteror Polri berhasil menangkap lima orang di Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada hari Kamis.

“Pada hari ini, dilakukan penangkapan terhadap lima orang, yaitu Arif alias Tomy, Selamet, Rofiq, Arifin dan Yusuf. Kelimanya merupakan hasil pengembangan tersangka Rifki dan Yahya alias Salim,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Ronny Frangky Sompie kepada Antara di Jakarta, Kamis (15/5/2014).

Menurut dia, berdasarkan hasil penggeledahan yang dilakukan oleh tim Densus 88 Antiteror di sebuah bengkel yang berlokasi di daerah Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, diamankan puluhan senjata api (senpi) dan senjata tajam.

Senjata itu terdiri atas 15 senpi panjang gas cal 7mm, dua senpi pendek gas cal 7mm, satu crossbow, satu panah, lima samurai panjang, enam pedang sedang dan 25 pisau lempar. Selain itu, pihaknya juga mengamankan dokumen pembuatan bom.

“Kita berupaya melakukan pencegahan terhadap perkembangan kasus terorisme di berbagai wilayah di Indonesia. Pencegahan dilakukan dengan cara mengikuti kegiatan sindikat pelaku terorisme yang sudah pernah ditangkap sebelumnya,” ujar Ronny.

Lebih jauh, dia memaparkan Densus 88 juga telah melakukan penangkapan sejumlah orang yang diduga terlibat aksi terkait peristiwa kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah.

Pada Senin (12/5/2014), pihaknya telah melakukan penangkapan terhadap Rifki alias Bondan alias Royan di rumah makan Taman Selera Pantura, Indramayu pada pukul 13.30 WIB. Tersangka masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) kerusuhan Poso bom tentena 2005 dan juga merupakan alumni camp pelatihan Moro, Filipina.

Lalu, pada Selasa (13/5), tim Densus juga menangkap Ramuji alias Kapten alias Ahmad di Jalan Brlimbing Raya, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Tengah pada pukul 13.30 WIB. Tersangka terlibat dalam pelatihan militer di Poso dan penyuplai logistik.

Kemudian, pada Rabu (14/5), dilakukan penangkapan terhadap Salim alias Ustad Yahya di Klaten, Jawa Tengah pada pukul 21.00 WIB. Tersangka masuk ke dalamn DPO kerusuhan Poso bom tentena 2005 dan alumni camp pelatihan Moro, Philipina. Salim ditangkap bersama-sama dengan Setiawan.

“Untuk selanjutnya, kita masih terus melakukan pengembangan dan penggeledahan di beberapa wilayah lain guna mencegah aksi-aksi terorisme di Indonesia,” ungkap Ronny. (azm/arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/05/16/densus-88-tangkap-lima-orang-di-klaten.html

Category: berita

0 57
foto ilustrasi

BANDUNG (Arrahmah.com) – Dua hari lalu tepatnya hari Senin (7/4/2014) Detasemen khusus 88 anti teror menangkap dua orang di Tasikmalaya. Namun berita penangkapan ini baru terpublikasi ke media usai pelaksanaan pemilu legislatif (Pileg) 2014 berakhir yakni Rabu sore ini.

“Ya ada penangkapan dua hari kemarin. Yang kami dapat (informasi) baru dua orang,” kata Kapolda Jabar Irjen Pol Mochamad Iriawan di Bandung, Rabu (9/4/2014) lansir liputan6.

Iriawan belum bisa mau memaparkan persis mengenai aksi teror yang dilakukan kedua orang yang ditangkap ini. Meski demikian dia menuturkan, berdasarkan hasil identifikasi sementara, aksi ini diduga berkaitan dengan Pileg 2014.

“Indikasi yang didapat akan lakukan aksinya pada saat Pileg,” tuturnya.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, keduanya akan dibawa ke Mabes Polri. Sementara untuk antisipasi, sejumlah personel tambahan diturunkan untuk mengamankan lokasi.

“Yang jelas kita perkuatan pasukan tambahan,” ucap Iriawan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, selain menangkap kedua tersangka, Densus juga dikabarkan menyita beberapa barang bukti berupa 10 bom pipa, satu detonator, dan satu ponsel merk Nokia.

(azm/arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/04/09/senin-densus-88-telah-menangkap-dua-orang-di-tasikmalaya.html

    0 120
    Koordinator Badan Pekerja KontraS, Haris Azhar (kiri)

    JAKARTA (Arrahmah.com) – Banyak kejanggalan dan dusta polisi dalam operasi Densus 88 anti teror Mabes Polri di Ciputat Tangerang Selatan pada malam pergantian tahun 2014. Hal ini dikemukakan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), yang melihat kejanggalan terutama pada soal tembak mati buruan pasukan burung hantu itu.

    Klaim bahwa terjadi baku tembak selama 10 jam patut dipertanyakan. “KontraS menduga rumah terduga teroris dikepung dan diberondong peluru serta bom dalam tempo yang cepat. Setelah itu, suara letusan senjata api hanya akal-akalan untuk menciptakan suasana mencekam,” rilis KontraS

    KontraS juga menerima informasi warga bahwa intel sering berkeliaran di sekitar lokasi para terduga “teroris”. Intetitas intel semakin meningkat sekitar 1 pekan sebelum penggerebakan.

    “Pada malam satu hari sebelum terjadi penggerebekan, dua orang yang diduga intel juga sempat mendatangi rumah terduga teroris,” tulis koordinator Badan Pekerja Kontras Haris Azhar.

    Informasi lainnya, pada hari Senin (30 /12/2013) terlihat beberapa mobil mondar-mandir di sekitar lokasi rumah terduga teroris. Sehingga upaya penangkapan para terduga “teroris” dalam keadaan hidup sangat mungkin dilakukan.

    “Dari informasi tersebut, disimpulkan bahwa aparat kepolisian memungkinkan melakukan penangkapan dalam keadaan hidup karena sudah memiliki informasi yang cukup, tanpa harus jatuh korban jiwa, kerugian materil dan trauma masyarakat. Tetapi tindakan tersebut tidak dilakukan,” tambah Haris.

    Selanjutnya, KontraS juga tidak menemukan bukti terjadinya tembak-menembak di tempat kejadian perkara.

    “Jika benar terjadi kontak senjata sebagaimana disampaikan oleh Polisi, berarti ada bangunan-bangunan di depan rumah yang terkena tembakan peluru milik terduga teroris. Namun sejauh ini tidak ada bekas peluru di bangunan Mushala atau rumah warga yang berada didepan rumah terduga.”

    Yang tidak kalah penting adalah kejanggalan dalam penembakan terhadap Hidayat yang diduga sebagai pimpinan terduga “teroris” Ciputat. Hidayat merupakan terduga pertama yang ditembak dibagian kepala hingga tewas di Gang Hasan, sekitar 200 meter dari rumahnya. Saat terjadi penembakan, Hidayat sedang mengendarai motor memboceng Irwan (warga) untuk membeli makanan (nasi goreng). Hidayat ditembak tanpa ada perlawanan yang membahayakan aparat. Namun menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar bahwa terjadi baku tembak antara anggota Densus 88 AT dengan Hidayat.

    Berikut ini isi selengkapnya rilis KontraS perihal kejanggalan operasi Densus 88 di Ciputat seperti dilansir situs kontras.org, Ahad (5/1/2014),

    Penanganan Teroris di Ciputat Penuh Tanda Tanya

    KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) menilai ada sejumlah kejanggalan dalam tindakan Tim Densus 88 AT saat penggerebekan terduga teroris di Jalan KH Dewantara, Gang Haji Hasan, Kampung Sawah Dalam, Ciputat, Tanggerang Selatan, pada malam 31 Desember 2013 dan berakhir pada dini hari 1 Januari 2014. Tindakan Densus 88 AT yang mengeksekusi mati terduga teroris di lokasi kejadian sudah menjadi pola yang lazim digunakan dalam setiap operasi.

    Berangkat dari temuan awal dan informasi media massa, KontraS menganggap kematian enam terduga teroris; Hidayat, Nurul Haq, Fauzi, Rizal, Hendi, dan Edo- tidak wajar dan mengandung unsur-unsur pelanggaran prosedur hukum serta hak asasi manusia, termasuk hak asasi warga yang terkena dampak.

    Berikut ini adalah beberapa temuan awal KontraS dilapangan dan perbandingan dengan pemberitaan media massa, termasuk keterangan dari pihak Polri;

    Pertama menurut informasi dari seorang warga sekitar(nama tidak mau disebutkan) bahwa sejak tiga bulan lalu orang-orang yang diduga intel sering berkeliaran disekitar lokasi. Intensitas mereka meningkat sekitar satu minggu sebelum terjadi penggerebekan. Pada malam satu hari sebelum terjadi penggerebekan, dua orang yang diduga intel juga sempat mendatangi rumah terduga teroris. Informasi lain sebagaimana disampaikan warga lainnya, bahwa pada hari Senin 30 Desember 2013 sudah ada beberapa mobil mondar-mandir di perkampungannya. Mobil diparkir dilapangan bola yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi penggerebekan. Dari informasi tersebut, disimpulkan bahwa aparat kepolisian memungkinkan melakukan penangkapan dalam keadaan hidup karena sudah memiliki informasi yang cukup, tanpa harus jatuh korban jiwa, kerugian materil dan trauma masyarakat. Tetapi tindakan tersebut tidak dilakukan.

    Kedua pada 31 Desember 2014, siang hari, sebelum terjadi penggerebekan, aparat kepolisian menyuruh warga menjauh dari lokasi. Sebagian warga meninggalkan lokasi pergi ke rumah-rumah saudaranya, kecuali beberapa orang yang tidak bersedia menghindar lantaran menjaga keluarganya yang sedang sakit. Penggusiran warga dari lokasi disinyalir sebagai upaya Densus 88 AT untuk meminimalisir korban dipohak penduduk sekitar dan hal ini patut diduga sebagai bagian dari mobilisasi terencana untuk penindakan terhadap terduga teroris, yang kemudian berakhir dengan korban jiwa.

    Ketiga penembakan terhadap Hidayat yang diduga sebagai pimpinan teroris Ciputat. Hidayat merupakan terduga pertama yang ditembak dibagian kepala hingga tewas di Gang Hasan, sekitar 200 meter dari rumahnya. Saat terjadi penembakan, Hidayat sedang mengendarai motor memboceng Irwan (warga) untuk membeli makanan (nasi goreng). Hidayat ditembak tanpa ada perlawanan yang membahayakan aparat. Namun menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar bahwa terjadi baku tembak antara anggota Densus 88 AT dengan Hidayat. Anggota Densus 88 AT yang sudah menguntit dari belakang dan menyergapnya ditembak oleh Dayat dengan pen gun dalam jarak dekat sehingga anggota Densus tertembak dibagian kaki kiri tepat dibawah lutut tembus ke paha kanan. Anggota Polisi yang lain yang sudah siap mengarahkan tembakan ke Dayat yang mengakibatkan Dayat meninggal. Boy Rafli Amar juga memberikan keterangan yang berbeda bahwa dua orang dilumpuhkan karena berusaha melarikan diri menggunakan motor Honda Supra B 6516 PGE.

    Keempat beberapa saat setelah penembakan Hidayat, warga berkerumun dilokasi kejadian yang terletak sekitar 200 meter dari rumah yang digerebek. Saat bersamaan, Tim Densus menggerebek rumah yang dihuni oleh terduga teroris lainnya. Rumah terduga berada didepan sebuah Mushala, hanya berjarak tiga meter. Didepan rumah terdapat tanah lapang ukuran tiga meter. Rumah tersebut terletak diantara rumah penduduk yang lain, hanya dipisahkan oleh gang kecil. Dibelakang rumah, dan samping kiri terdapat sedikit semak-semak, sementara sebelah kanan tanah kosong. Dilihat dari posisi rumah, kontak tembak kemungkinan besar terjadi dalam jarak dekat, antara lima atau 10 meter. Jika benar terjadi kontak senjata sebagaimana disampaikan oleh Polisi, berarti ada bangunan-bangunan didepan rumah yang terkena tembakan peluru milik terduga teroris. Namun sejauh ini tidak ada bekas peluru di bangunan Mushala atau rumah warga yang berada didepan rumah terduga. Selain itu, hanya rumah terduga yang ditutup dengan terpal dan police line, sementara lokasi sekitar Mushala dan rumah warga tidak diberi police line. Warga juga dapat mondar-mandir di Gang yang berjarak dua atau tiga meter dari rumah terduga. Klaim bahwa terjadi baku tembak selama 10 jam patut dipertanyakan? KontraS menduga rumah terduga teroris dikepung dan diberondong peluru serta bom dalam tempo yang cepat. Setelah itu, suara letusan senjata api hanya akal-akalan untuk menciptakan suasana mencekam.

    Kelima keterangan Komisioner Kompolnas Syafriadi Cut Ali yang mengatakan bahwa terduga melempar dua bom keluar, satu meledak satu tidak. Dan keterangan Boy Rafli Amar yang mengatakan menemukan enam bom rakitan didalam rumah dan satu ditemukan sudah meledak. Pernyataan tersebut kontradiksi. Jika mengaju ke pernyataan Syafriadi, artinya ada bekas ledakan bom diluar rumah, ada bangunan yang rusak, dan tentunya ada aparat yang terkena serpihan bom. Namun sebagaimana telah kami uraikan pada point empat tidak ada lokasi diluar rumah yang rusak dan di police line. Sementara pernyataan Boy Rafli yang menyatakan ada bom meledak didalam rumah makin memperdalam kebingungan publik. Sebab, jika satu bom meledak didalam rumah, pasti rumah tersebut rata dengan tanah dan orang-orang didalamnya hancur. Sejauh ini, rumah terduga teroris hanya terlihat bolong diatap dan beberapa bekas peluru didinding.

    Atas sejumlah fakta diatas, kami menyimpulkan:
    Pertama, terdapat sejumlah keterangan dari pihak polri yang tidak sesuai dengan gambaran dilapangan. Oleh karenanya, kedua, patut diduga terdapat pelanggaran prosedur penindakan terhadap terduga teroris. Pelanggaran ini berimplikasi pada dugaan pelanggaran hak asasi manusia, baik yang dijamin oleh Konstitusi, aturan perundang-undangan sampai aturan internal Polri–ketentuan perlindungan HAM dalam tugas pemolisian, tata cara penindakan dalam operasi melawan teroris, maupun dalam tata cara penggunaan senjata. Secara umum, peristiwa diatas dapat dilihat sebagai bagian dari tren umum operasi melawan teroris yang penuh ketidak akuntabilitasan dan tidak profesional, sebagaimana terjadi pada beberapa kasus lainnya.

    Oleh karenanya kami merekomendasikan, pertama, harus ada upaya serius evaluasi atas peristiwa diatas, termasuk upaya pemulihan yang tepat sesuai aturan hukum. Lembaga-lembaga seperti LPSK dan komnas HAM serta ombudsmen harusnya bisa berperan, meskipun sejauh ini lembaga-lembaga ini tidak berfungsi dengan baik. Kedua, Pemerintah Indonesia harus segera mengundang pelaporan khusus PBB untuk isu penghormatan HAM dalam melawan terorisme dengan harapan bisa mendapatkan masukan yang konstruktif memperbaiki tindakan-tindakan penegakan hukum untuk isu ini. Kalau polri bisa membuka diri dari negara-negara donor maka tidak ada alasan untuk tidak mengudang pelapor khusus ini. Ketiga, Polri harus membuka siapa otak dibalik jejaring panjang kelompok teroris ini, suplai senjata, alat peledak dan perekrutannya. Kami yakin melihat pola yang berulang bahwa para teroris bukanlah berdiri sendiri melainkan mendapatkan bantuan dari tangan-tangan kotor yang ingin mengambil keuntungan dari kekacauan di Indonesia. Terakhir, kami meminta komnas HAM dan lembaga-lembaga serupa seperti kompolnas agar memperbaiki diri untuk bisa menangani kasus-kasus Pemberantasan terorisme.

    Jakarta, 5 Januari 2014

    Hormat kami
    Badan Pekerja KontraS

    Haris Azhar
    Koordinator

    (azm/arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/01/05/kontras-operasi-densus-88-di-ciputat-hanya-akal-akalan-untuk-menciptakan-suasana-mencekam.html

    0 87
    sekira seratusan kaum Muslimin Solo Raya melakukan unjuk rasa menolak kebrutalan Densus 88 di Ciputat Tangerang Selatan, Jumat (3/1/2014)

    SOLO (Arrahmah.com) – Ratusan kaum Muslimin Solo Raya dari beberarapa elemen umat Islam seperti JAT dan LUIS, pada Jumat (3/1/2014) melakukan aksi unjuk rasa menolak kebiadaban Densus 88 di Ciputat, Tangerang Selatan.

    Mereka menilai sikap represif, militeristik, dan eksekusi mati Desnsus 88 terhadap 6 orang di Ciputat mengingatkan pula kasus di Batu Malang, Temanggung, Wonosobo, Jatiasih, Klaten, Mojosongo Solo, Tipes Solo, Barat PT Konimex Sukoharjo, Bandung, Kebumen, Batang, Kendal, Lamongan, Makasar dan Bima.

    “Seolah pola Densus 88 sudah kehilangan kekhususnya sebagai unit khusus Polri yang mestinya prosedural dan lebih professional dari polisi di daerah,” rilis kaum Muslimin peserta aksi.

    Kaum Muslimin juga menunjukkan beberapa fakta dan kejanggalan penembakan dan pengeboman di Ciputat Tangerang Selatan, yang menunjukan hal yang kontradiktif dalam penegakan hukum oleh Polri khususnya Densus 88, pada rilis yang diterima redaksi menyebut antara lain:

  • Mengapa 6 orang tersebut harus ditembak mati? Apa perannya? Terlibat Kasus apa? Ini perlu pembuktian, ada saksi, ada bukti. Bukan pernyataan sepihak yang tidak ada hak untuk membela diri terhadap korban. Mestinya asas praduga tak bersalah dikedepankan hingga proses ke pengadilan. Di pengadilanpun belum tentu hakim menentukan terdakwa bersalah.
  • Semangat Densus 88 untuk menembak mati mengapa hanya terjadi pada kasus terorisme? Dan tidak terjadi pada penegakan hukum pada kasus lain seperti Korupsi maupun illegal logging? Kapolri harus menjelaskan mengapa ini hanya terjadi pada korban yang kebanyakan beragama Islam yang taat beribadah? Jangan sampai terjadi isu terorisme hanya sebagai kedok yang dibungkus untuk memerangi, menyiksa dan membunuh kelompok muslim di Indonesia.
  • Mengapa Mabes Polri perlu melacak dan menyebar foto korban dalam rangka mencari data pembanding untuk DNA? Dalam hukum acara pidana menyebutkan bahwa penetapan tersangka harus jelas identitas dan memiliki 2 alat bukti untuk menguatkan. Mengapa korban terlanjur dibunuh dinihari tanggal 1 Januari 2014 dan baru 2 Januari 2014 mencari identitas alamat beserta keluarganya? Bagaimana pula menetapkan tersangka kalau alamatnya belum jelas? Bisa jadi ini justru salah sasaran/target yang dilakukan Densus 88.
  • Dalam penggerebegan apalagi Eksekusi mati di Ciputat yang di TKP hanya Densus 88, maka terkait barang buktipun di TKP hanya Densus 88 yang tau, apakah barang bukti itu benar di TKP atau keberadaan barang bukti tiba-tiba ada hanya Densus saja yang tau. Artinya bahwa validitas barang bukti di TKP sangat subyektif, sepihak dan belum tentu benar.
  • Sebelumnya Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri melakukan penggerebekan di rumah kontrakan milik Rahmat di Jalan KH Dewantoro Gang H Hasan RT 04/07 Kampung Sawah Ciputat Tangerang Selatan, Banten pada Selasa (31/12) malam hingga Rabu (1/1) dini hari. Enam Muslim meninggal dunia, mulut polisi menyebut para korban, Daeng alias Dayat alias Hidayat, Nurul Haq alias Dirman, Oji alias Tomo, Rizal alias Teguh, Hendi, dan Ujuh Edo alias Amril

    Nama-nama tersebut kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, merupakan nama yang diperoleh dari Anton, pelaku terorisme yang sebelumnya ditangkap di Banyumas, Jawa Tengah, dan seorang lagi pelaku yang selamat dalam penggerebekan di Kampung Sawah, Kecamatan Ciputat, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten. (azm/arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/01/04/elemen-muslim-solo-raya-tolak-pembantaian-densus-88-terhadap-6-muslim-di-ciputat.html

    0 101
    Anggota Komnas HAM Manager Nasution

    JAKARTA (Arrahmah.com) – Aksi kejam dan sadis Densus 88 di Ciputat Selasa (31/12/2013) hingga Rabu (1/1/2014) masih terus menuai protes dan kecaman.

    Bagaimana tidak kejam, orang ditembak mati saat mengendarai motor, keterangan saksi mata menyebutkan demikian. Foto yang diterima redaksi juga menunjukkan wajah korban penembakan Densus 88 yang mengenaskan. Aksi ini mengakibatkan 6 orang meninggal dunia dan bangunan rumah kontrakan hancur lebur. Belum lagi kerugian imaterial berupa puluhan warga masyarakat sekitar yang mengalami trauma atas kejadian itu.

    Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution menyebut tindakan Densus yang selalu menembak mati terduga teroris dalam setiap operasi penggerebekan justru tidak akan pernah efektif menghentikan terorisme.

    “Densus 88 jangan menjadi lembaga pencabut nyawa. Aksi kekerasan yang dipentaskan Densus 88 dengan menembak mati terduga teroris terbukti tidak efektif memberantas terorisme. Hanya mampu menjawab persoalan sesaat,” ujar Maneger dalam pesan singkat, lansir detikcom Jumat (3/1/2014).

    Menurutnya, kekerasan itu tidak akan mampu menuntaskan persoalan terorisme secara komprehensif.

    “Indonesia negara hukum, bukan negara para ‘penjegal’ yang ringan tangan mencabut senjata sesuai order,” tuturnya.

    Maneger juga mengatakan, selama ini sudah lebih 100 orang yang dituduh teroris ditembak mati Densus 88 tanpa proses hukum. Namun faktanya para pelaku teror bukan semakin berkurang tapi malah semakin banyak bermunculan. Seolah Densus 88 telah berhasil mewariskan nilai-nilai kekerasan, teror dan dendam terhadap polisi sendiri.

    Dia mendesak pemerintah untuk memastikan tidak ada bantuan asing yang mengalir terhadap Densus. Sekaligus melakukan evaluasi terhadap keberadaan Densus 88.

    “Indonesia perlu jalan baru pendekatan dan penanganan yang lebih bermartabat dan manusiawi menangani para pelaku teror. Faktor-faktor lahirnya terorisme itu kompleks sekali. Tidak sederhana. Tidak cukup dengan menembak mati terduga teroris,” imbuhnya. (azm/arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/01/03/komnas-ham-densus-88-telah-berhasil-mewariskan-nilai-nilai-kekerasan-teror-dan-dendam.html

      0 106
      Rumah kontrakan yang diserbu Densus 88 dengan tembakan dan bom kondisinya hancur lebur, bangunannya hanya tersissa 30 %, bagian yang ditutup dengan terpal plastik  itu adalah bagian dari kontrakan yang hancur. Polisi telah mendata kerugian material dan immaterial atas aksi brutal ini Kamis (2/1/2014)

      JAKARTA (Arrahmah.com) – Kali ini Indonesia Police Watch (IPW), bereaksi atas kebrutalan Densus di Ciputat. IPW meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan investigasi terhadap operasi penyerbuan secara brutal sebuah rumah petakan di Ciputat, Tangerang Selatan, oleh Tim Densus 88 pada malam pergantian tahun baru 2014.

      “Dalam kasus Ciputat, Komnas HAM harus melakukan investigasi. IPW berharap Komnas HAM mengawasi dengan ketat dan serius cara-cara kerja Densus 88,” kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane lansir Antara Jumat (3/1/2014).

      Neta menjelaskan investigasi perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada tindakan pelanggaran HAM dalam operasi itu.

      Tim Densus 88 melalui operasi penggerebekan selama ini kerap mengeksekusi nyawa para korbannya, dengan dalih terjadi tembak-menembak dan para terduga teroris melakukan perlawanan hebat terhadap polisi.

      Dia menuding beragam logika juga kerap dibangun polisi dengan menyertakan keterangan saksi-saksi yang tidak meyakinkan.

      Padahal, menurut Neta, operasi penggerebekan yang tidak transparan seperti itu justru menimbulkan kerisauan di masyarakat. Sebab bukan tidak mungkin masyarakat yang jarang bersosialisasi di sebuah wilayah tiba-tiba ditangkap, bahkan dieksekusi, lantas disebut-sebut sebagai terduga teroris.

      “Cara-cara polisi yang mengeksekusi nyawa orang-orang yang dituding sebagai teroris di lapangan tentu sangat disesalkan. Meski sudah banyak dikecam berbagai pihak, tindakan eksekusi terus terjadi,” kata dia.

      Dia menekankan bahwa tugas utama polisi adalah melumpuhkan tersangka, bukan sebagai eksekutor yang selalu menewaskan nyawa para tersangka.

      Dari TKP

      Sehubungan dengan itu, saksi mata kejadian, Yasmin mengatakan kepada arrahmah di tempat kejadian perkara, bahwa salah seorang korban yang diduga bernama Dayat ditembak saat mengendarai sepeda motor di dekat lapangan.

      Ibu beranak empat ini menyaksikan langsung dari jarak dekat kejadian penembakan terhadap Dayat. “Ya saya lihat langsung, orang saya ada di sini,” ujarnya.

      Dia mengatakan dua orang mengendarai sepeda motor ditembak beberapa kali di bagian tubuhnya langsung mati berlumuran darah di wajahnya.

      “Sedang yang satu lagi terjatuh dan masih hidup.”

      Korban yang sudah meninggal itu kemudian dibawa ke depan sebuah rumah yang berjarak 30 meter dari lokasi penembakan.

      Saat arrahmah menunjukkan foto korban Densus di Ciputat dengan wajah berlumuran darah yang beredar di dunia maya, Yasmin membenarkan bahwa dia adalah orang yang ditembak.

      Sumber lain yang tidak mau disebut namanya membenarkan, bahwa usai penembakan itu beberapa orang termasuk warga mengabadikan dengan kamera HP korban yang sudah meninggal dunia berlumuran darah dengan banyak luka tembak di tubuh dan wajahnya.

      “Wah banyak orang sih saat itu yang foto-foto,” ujarnya.

      Perilaku kejam dan sadis begitu dipertontonkan secara massif di hadapan warga Kampung Sawah Ciputat saat malam pergantian tahun itu. Bukan sesuatu yang berlebihan kiranya bila elemen masyarakat diantaranya Jamaah Anshorut Tauhid mendesak agar Komnas HAM bertindak.

      “Tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh Densus 88 tersebut merupakan tindakan extra judicial killing dan menambah banyak daftar pelanggaran HAM yang dilakukan oleh institusi penegak hukum terhadap ummat Islam, maka kami mendesak kepada pihak yang berkompenten dalam hal ini yaitu Komnas HAM untuk serius mengusut tuntas kasus ini, karena hal ini sangat mencederai nilai-nilai agama dan kemanusiaan,” tulis rilis JAT. (azm/arrahmah.com)

      Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/01/03/ipw-komnas-ham-perlu-investigasi-operasi-brutal-densus-88.html

      0 84

      Home Berita Nasional

      Senin, 25/11/2013 22:01:02 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 124

      Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf dalam diskusi bertajuk “Penanganan Tindak Pidana Terorisme dalam Perspektif Hak Asasi Manusia” yang digelar Komnas HAM di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (25/11/2013). foto: shodiq.

      Jakarta (SI Online) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Slamet Effendy Yusuf mengingatkan Detasemen Khusus 88 Anti Teror yang selama ini melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dengan menembak mati para terduga teroris. Menurut Slamet kondisi ini mirip dengan yang pernah dialami Gerakan Pemuda Anshor melalui Banser-nya yang pada 1965 melakukan pembunuhan terhadap anggota PKI.

      “Pada waktu itu kami jadi pahlawan, pahlawan antikomunis,” kata Slamet dalam diskusi bertajuk “Penanganan Tindak Pidana Terorisme dalam Perspektif Hak Asasi Manusia” yang digelar Komnas HAM di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (25/11/2013).

      Berkaca pada peristiwa yang pernah dilakukan Banser, lanjut Slamet, menjadi pelajaran bahwa penanganan sebuah peristiwa yang dilakukan dengan cara yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip kemanusiaan, di kemudian hari ternyata melahirkan gugatan yang sangat mendasar.

      “Sekarang kami, Banser, tidak dapat menepuk dada kami pahlawan, karena di sana-sini kami dicaci maki sebagai pelanggar HAM,” lanjut Ketua Umum GP Ansor periode 1985-1990 dan 1990-1995 ini.

      Melalui pengalaman yang pernah dirasakan Banser, Slamet yang juga Ketua MUI Pusat ini menasehati aparat kepolisian supaya melakukan perubahan cara menangani terorisme.

      “Jadi teman-teman polisi hendaknya sadar pada suatu hari akan mengalami gugatan-gugatan semacam itu. Oleh karena itu lebih baik dari sekarang ada perubahan-perubahan sikap dari polisi tentang bagaimana cara menangani terorisme,” ungkapnya.

      Slamet juga mengingatkan bahwa konstitusi RI, UUD 1945 Pasal 28 L tegas mengatakan hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

      red: shodiq ramadhan

      Baca Juga

      • Terus Lakukan Perlawanan, Militan Sinai Serang Konvoi Militer
      • MS Kaban : Negara akan Kuat dengan Ideologi Ketuhanan YME
      • Antisipasi Aliran Sesat, DDII Bogor Adakan Pelatihan Dai Muda

      Source: http://www.suara-islam.com/read/index/9096

      0 80

      Assalamualaikum
      Bismillaahirrahmaannirrahiim.

      Sahabat Shalih Voa Islam,

      Informasi ini dari para jurnalis yang kerap meliput desk terorist di Indonesia, setidaknya tulisan ini sebagai early-warning buat pejuang Islam yang ikhlas dan terus tidak kehilangan semangat menegakkan Jihad Islam hingga akhir hayat.

      Tujuan dari tulisan ini hanya aktivis Islam lebih waspada dengan tipu muslihat dan kelicikan Densus 88, yaitu dengan mencari ‘kelinci percobaan’ dan mengkambinghitamkan korbannya yang kebanyakan adalah aktivis muslim.

      Seperti kita ketahui bersama, Ansyaad Mbai mengunkapkan, bahwa ‘Operasi Tangkap Mati’ itu adalah tak lebih sebagai pengalihan isu demi Amerika dan penguasa RI. Tujuannya adalah agat saudara muslim yang aktif di dunia pergerakan dakwah dan jihad fii sabilillah terus menerus dimandulkan dengan isu deradikaliasi terorisme ala BNPT dan Densus 88.

      Bahkan BNPT akui penggerebekan teroris untuk pengalihan isu dan ternyata hal itu bukan omong kosong. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengakui hal tersebut.

      “Perbandingan 80 persen dan 20 persen. 20 Persennya yang pengalihan isu, tetapi kalau di era Soeharto dulu persentasenya sangat tinggi,” ujar Ansyaad saat ditemui di ruangannya, Jumat (10/5) malam

      Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengakui bahwa penggerebekan aktivis islam yang di tuduh teroris adalah pengalihan isu. Para teroris itu sebenarnya sudah dipantau cukup lama, namun kapan dilakukan penggerebekan menunggu saat yang tepat sehingga bisa memecah isu yang sedang berkembang di masyarakat.

      Penggrebekan terduga teroris sudah di setup sejak lama (baca: di jebak, di danai, di sulut semangatnya, dan di provokasi untuk membuat makar dan akhirnya lalu ditangkap), lanjut Mbai, juga menunggu moment yang tepat. Menurut Mbai, penggrebekan teroris adalah berita seksi yang bisa digunakan untuk mengalihkan isu.

      Ada beberapa cara Densus88, yaitu :

      1- DENSUS88 mempunyai intel di akun akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau (AKUN) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita-cita mati syahid atau yang sering memposting berita berita jihad

      2- Setelah target di temukan maka akun intel DENSUS88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi, maka mereka akan memulai bertanya-tanya berada dimana alamat rumahnya sambil diiringi perbincangan tentang penegakan syariat di indonesia kalau semua lancar maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia.

      3- Bagi yang akunnya sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya, si intel akan langsung menjadikan dia target dengan mengutus orang yang mengaku sebagai perindu syahid

      4- Setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban DENSUS88 ini akan langsung di beri latihan militer, atau langsung di persenjatai

      5- Setelah itu Calon korban ini di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi DENSUS88 untuk menyerbu (kita tau rata semua penyergapan TERORIS adalah rumah kontrakan)

      6- Setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan-bahan peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan,biasanya intel-intel tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom( namun bagi DENSUS88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya.

      7- Perlu di ketahui bahwa para calon korban ini di beri senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama (agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru DENSUS88 bisa langsung menembak mati korban dengan alasan melakukan perlawanan saat mau di tangkap

      8- Setelah semua siap maka akan terjadilah drama penggerebekan TERORIS, dan akan di siarkan biasanya secara LIVE di tv nasional yg sudah di beri tahu sebelumnya

      9- Saat penggrebekan terjadi, biasanya akan terjadi kontak senjata, itu di karenakan sang calon korban ini sudah di doktrin untuk membenci pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama DENSUS88 sehingga saat mereka tau bahwa yang datang densus88 para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan DENSUS88 adalah mati syahid

      10- Perlu di ketahui bahwa yang di rekrut para intel ini adalah anak anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita cita mati syahid, namun tanpa sadar mereka telah di kelabui untuk menjadi tumbal DENSUS88 agar terus exist selain itu juga sebagai cara untuk meminimalisir para pejuang khilafah di indonesia

      11- Anggota/Regu DENSUS88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan skenario ini, untuk menjaga kerahasiaan operasi, mereka hanya tau bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris atau jaringan Al-Qaidah

      12- Si korban akan langsung di tembak mati di tempat tanpa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya (adapun yang masih hidup, mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar kalau yang merekrut mereka ini adalah intel DENSUS88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid (Red-mujahidin buatan densus)

      Semoga bermanfaat,
      Wassalamualaikum

      #GaZa #RioC #voa-islam

      Perang Antara Mafia China Connection VS The Godfather :

      MafiaWar (1): Popularitas Jokowi & Uang Haram Mafia ‘ChinaConnection’

      MafiaWar (2): Mafia Cina Vs The Godfather, Perang Demi Kekuasaan

      MafiaWar (3): James Riady Intelijen Cina Yang Ingin Kuasai RI

      MafiaWar (4) : Indonesia Diperbudak dan Ketagihan dijajah Asing!

      The Godfather Untold Stories :

      The Godfather(1): Sibak Topeng SBY ‘Sang Jenderal Prihatin’

      The Godfather(2): Membungkam Lawan dgn isu Korupsi & Terorisme

      The Godfather (3): SBY Galau Menjadi Teman Dekat Bunda Puteri?

      The Godfather (4): Siapa Bunda Putri & Apa Hubungan Dgn Dinasti SBY ?

      The Godfather(5): Perang Para Pemilik Dinasti Kekuasaan Indonesia

      The Godfather(6): Bakar Gedung, Habisi Dokumen Century & Hambalang

      The Godfather(7) : Istana Presiden Dikendalikan Para Broker?

      The Godfather(8) : Antasari Azhar Jilid 2 Tutupi Kasus Hambalang?

      The Godfather(9): Jangankan Rakyat, Tuhan Pun Kau Tipu!

      The Godfather (10): Konser NOAH 2 Benua 5 Negara Dari Dana Hambalang?

      The Godfather (11): Dibalik Layar Mafia Penguasa Tambang RI

      Promosikan produk anda voa-islam.com hanya Rp 20.000/hari atau Rp 500.000/bulan

      Share this post..

      Source: http://www.voa-islam.com/counter/intelligent/2013/11/09/27511/mafiawar-5-waspada-modus-densus-88-bunuhi-aktivis-islam-demi-as/

      0 97

      Sabtu, 19/10/2013 21:11:47 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 145

      Ismawati (40) isteri Suardi alias Pak Guru tengah menjawab sejumlah pertanyaan wartawan terkait suaminya yang tewas ditembak Detasemen Khusus (Densus) 88 di kediamannya Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sabtu, (19/10/2013). (foto: kompas.com)

      Bone (SI Online) – Pasca penyergapan terduga teroris yang menewaskan Suardi alias Pak Guru, di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pihak keluarga mempertanyakan aksi tembak yang dilakukan aparat di Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

      Selain menewaskan Suardi, aparat juga menangkap putra sulungnya AI (17), serta seorang lelaki J alias U (37). Saat istri Suardi ditemui wartawan di kediamannya Dusun Cebba, Desa Bila, Kecamatam Amali, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Sabtu (19/10/2013), suasana duka masih menyelimuti.

      Meski demikian, Ismawati (40), istri Suardi terlihat tegar menerima kenyataan yang menimpa suaminya. Sesekali Ismawati mengusap kepala serta memeluk kedua anaknya Iqbal (10) dan Cica (8) yang terus berada di sampingnya.

      Saat ditanya perihal keterlibatan suaminya dengan aksi terorisme, Ismawati mengaku tak mengerti. Dia mengaku, suaminya tak pernah bepergian keluar pulau, meski rutin mengikuti pengajian setiap Kamis malam.

      “Suami saya bukan terduga teroris tapi memang dituduh teroris, masak baru tuduhan sudah main tembak, kalau saya pribadi tidak terlalu bermasalah tapi kasihan anak-anaknya masih kecil-kecil, sudah dicap anak teroris. Padahal belum tentu benar bapaknya teroris atau bukan tapi saya yakin semuanya pasti ada hikmahnya,” kata Ismawati seperti dikutip Kompas.com, sambil mencucurkan air mata dan memeluk kedua anaknya.

      Ismawati pun kemudian meminta agar anaknya Ahmad Iswan (17) segera dikembalikan kepadanya. Pasalnya, AI tidak pernah terlibat pengajian. AI kebetulan pulang berlibur ikut membantu ayahnya berkebun. Namun saat pulang dari kebun itulah suami dan anaknya disergap Tim Densus 88 Antiteror.

      Sebelumnya, Tim Densus 88 Polri menembak mati Suardi (50) di Desa Alinge, Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan Kamis (17/10/2013). Selain itu Densus 88 juga menangkap dua orang lainnya yang dituduh teroris jaringan Abu Uswah.

      “Tim Densus 88 menangkap tiga terduga teroris jaringan Abu Uswah pada Kamis sekitar pukul 14.05 Wita,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, Kamis (17/10/2013).

      Dua orang yang lainnya yang ditangkap Densus 88 adalah Jodi alias Umair (37 tahun) dan Ahmad Iswan (17 tahun).

      red: abu faza/kompas.com/dbs

      Baca Juga

      • Islam Berkembang di Rusia, Namun Pembangunan Masjid Makin Dipersulit
      • Alhamdulillah, Lantai Dua dan Tiga Masjidil Haram Sudah Bisa untuk Thawaf

      Source: http://www.suara-islam.com/read/index/8769

      0 21
      Brimob saat operasi pencarian mereka yang dituduh teroris terkait jaringan Santoso di Poso (Foto : Metrosulteng.com)

      PALU (Arrahmah.com) – Salah seorang anggota Brimob yang bertugas dalam operasi penghadangan di jalur trans Sulawesi, tepatnya di depan Mapolres Parigi Moutong yang dilakukan Densus 88 Mabes Polri, Brimob Polda Sulteng dan anggota Polres Parigi Moutong Sabtu (13/9/2014) menuturkan tentang kronogi penangkapan empat orang warga negara Turki.

      Penangkapan empat orang Warga Negara Turki dan 3 warga Sulawesi Tengah yang dituduh jaringan kelompok Santoso di Poso dini hari itu katanya berlangsung dramatis.

      Menurut pengakuan salah satu anggota Brimob, yang terlibat dalam operasi itu. 7 orang yang dicurigai kelompok jaringan Santoso di Poso sudah dibuntuti sejak dari Makassar-Palu.

      Dari Palu mereka mengendari mobil daihatsu Xenia berplat B 1925 UKY menuju Poso. Saat melintasi jalur Trans Sulawesi tepatnya di depan Mapolers Parimo sekitar pukul 03;00 dini hari puluhan pasukan sudah menghadang mengarahkan kendaraan masuk ke Mapolres.

      Namun mobil yang dicuriga itu tiba-tiba berbalik arah. Polisi sempat memberi peringatan. Namun mereka tetap melaju sampai akhirnya pasukan beberapa kali membuang tembakan peringatan.

      Mobil akhirnya terjerembab. Tiga orang berhasil ditangkap dan 4 orang kabur. Polisi awalnya mencurigai empat orang itu berhasil lari ke hutan-hutan di Desa Marantale, Kecamatan Simiu, Parigi untuk mencari jalan tikus menuju Poso

      Operasi pencarian sepanjang Sabtu pagi hingga siang pun dilakukan pasukan dengan terus menyisir pegunungan, hutan. Nanti setelah masuk sore hari pasukan turun dari gunung.

      Saat turun gunung itulah, beberapa pasukan mencurigai setelah melihat beberapa ekor kambing berhamburan dari belakang rumah warga di Desa Marantale.

      “Setelah kami cek, ternyata 4 orang warga asing itu sedang bersembunyi di belakang rumah warga. Kami minta mereka angkat tangan dan menyerahkan senjata dengan bahasa Indonesia, tapi tak satu pun diantara keempat orang itu mengerti, pakai bahasa Inggris juga tidak mengerti,” ujar salah seorang anggota Brimob menceritakan operasi itu, dilaporkan Metrosulteng.com Ahad (14/9/2014).

      Namun akhirnya 4 WNA itu menyerah. Mereka ditangkap tanpa perlawanan dan langsung digiring ke Mapolda Sulteng. Didalam mobil yang mereka tumpangi Polisi menemukan satu paspor milik satu WNA berkebangsaan Turki. (azm/arrahmah.com)

      Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/09/14/kisah-kronologi-penangkapan-wn-turki-di-kandang-kambing.html

      Category: berita

      0 11
      Acara diskusi bertema “Pencegahan terorisme,” yang digelar oleh ormas kaki tangan BNPT yakni FKPT (Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme) provinsi Jawa Tengah, Ahad (7/9/2014). Foto Muslimdaily

      SOLO (Arrahmah.com) – Beberapa tokoh ormas Islam diundang dalam diskusi bertema “Pencegahan terorisme,” yang digelar oleh ormas kaki tangan BNPT yakni FKPT (Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme) provinsi Jawa Tengah, Ahad (7/9/2014).

      Tercatat beberapa ulama dan tokoh pergerakan di Solo hadir pada acara tersebut, seperti Ustadz DR Muinudinillah Basri (Dewan Syariah Kota Surakarta), Khairul RS (ketua FPI Solo), Yani Rusmanto (Hizbullah Sunan Bonang), Medi (Majelis Tafsir Al Quran) dan beberapa pengurus ormas lainnya. Sementara dua pembicara dari diskusi tersebut yaitu Prof Dr Mudjahirin Thohir MA pakar antropologi dan juga Dr Syamsul Bahri.

      Diskusi tersebut mendapat kritikan keras dari para peserta yang hadir lantaran untuk kesekian kali BNPT lewat underbownya FKPT selalu mengidentikan bahwa pelaku radikal atau terorisme adalah Islam meski hal itu selalu dibantah bahwa Islam bukan teroris. Hal ini sesuai yang disampaikan oleh pembicara pertama Mudjahirin Thohir yang menyebut ciri-ciri dari radikal adalah siapa saja yang selalu mengkritik Amerika dan negara sekutunya. Ini adalah salah satu ciri orang yang berpikiran radikal, kata dia.

      Pria kelahiran Kendal 12 Maret 1954 ini juga menyampaikan bahwa orang yang selalu mengajak dan mengajarkan agar menggunakan jilbab besar (cadar), memelihara jenggot, celana cingkrang juga disebut dengan orang yang berpikir radikal.

      Thohir berujar orang Islam selalu diminta untuk bertoleransi dan mau untuk menerima perbedaan.

      Spontan hal ini mengundang protes dari floor. Protes pertama datang dari Ustadz Dr Muinudinillah Basri, MA. bahwa banyak orang Islam menjadi tertindas tatkala mereka minoritas. Seperti di Myanmar, Afrika, Thailand dan lain sebagainya. Namun tetap saja para pelaku penyerangan terhadap umat Islam tak bisa disebut radikal atau terorisme.

      “Harusnya pemerintah itu memberikan rasa cinta kepada rakyatnya. Agar rakyatnya juga mencintai pemerintah. Bukan malah menjadikan rakyat menjadi target operasi” terang Ustadz Muin, sebagaiman dikutip dari Muslimdaily.net

      Sementara Syamsul Bahri selaku pembicara kedua juga menyampaikan tentang teori radikalisme. Namun kali ini ia bersikap akademis karena tak menyebut bahwa radikal itu identik dengan Islam.

      Saat dibuka forum dialog hujan protes para peserta juga langsung mengkitik kinerja BNPT ataupun Densus 88 selama ini. Banyaknya pelanggaran Densus 88 yang melakukan salah tangkap, salah tembak melanggar HAM sampai detik ini juga tak pernah terjamah oleh hukum di Indonesia.

      “Ketidakadilan penyikapan kekerasan di Indonesia juga menjadi penyebab lahirnya radikal. Di Papua kekerasan setiap hari terjadi. TNI dan Polisi terus ditembaki namun Densus tak pernah menginjakkan kakinya di Papua ” ujar Ketua FPI Solo Khairul RS.

      Pendapat senada juga disampaikan oleh pimpinan Hizbullah Sunan Bonang. “Program yang dilakukan oleh BNPT selama ini hanya terus memojokkan Islam”

      Acara yang dimoderatori oleh Hilmi Sakdilah (Ketua PC NU Solo) terpaksa diakhiri karena dua pembicara tak mampu menjawab dengan kebijakan yang dimiliki. “Saya raya kedua pembicara tidak berkompeten dengan banyaknya pertayaan dari semua peserta karena semua diarahkan oleh BNPT. Harusnya BNPT juga dihadirkan dalam acara ini” ujar salah satu peserta diskusi.

      Sementara itu, Ketua FKPT Jawa Tengah Budi Sudaryanto berjanji akan menyampaikan hasil dari diskusi ini untuk dibawa ke BNPT. (azm/arrahmah.com)

      Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/09/12/banyak-diskriditkan-islam-hujan-protes-warnai-diskusi-pencegahan-terorisme.html

      Category: berita

      0 20
      Komandan jihad Abu Tholut alias Ibnu Muhammad alias Agus Hamzah di Lapas Klas 1A Kedungpane, Ngaliyan, Semarang (Foto Tribun Jateng)

      SEMARANG (Arrahmah.com) – Komandan jihad Abu Tholut yang sekarang menghuni di Lapas Klas 1A Kedungpane, Ngaliyan, Semarang, disebut-sebut akan melakukan deklarasi anti-ISIS di dalam Lapas, Rabu (27/8/2014). “Akan dihadiri oleh Densus 88 juga, ini kan gawe mereka, kami cuma memfasilitasi,” kata Kepala Kesatuan Keamanan Lapas, Maliki.

      Namun setelah ditunggu-tunggu kalangan media dan aparat akhirnya acara tersebut batal.
      Padahal setidaknya, satu pleton pasukan disiagakan di dalam Lapas. “Untuk pengamanan kami turunkan satu pleton anggota,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono.

      Abu Tholut alias Ibnu Muhammad alias Agus Hamzah, yang insya Allah debu-debu jihad telah menempel di tubuhnya, dikenal di kalangan jihadis sebagai ahli senjata. Dia dipidana lantaran mengorganisasi pelatihan para militer di Gunung Jalin Janto, Aceh Besar. Dia juga dipersalahkan atas kepemilikan sejumlah senjata api, seperti M16 dan AK47, serta senjata genggam. Pengadilan Negeri Jakarta Barat menjatuhkan vonis delapan tahun penjara terhadap Abu Tholut.

      Wartawan Tribun Jateng Bakti Buwono berkesempatan berbincang langsung dengan Abu Tholut di dalam Lapas Kedungpane, Rabu (27/8/2014). Dengan memperbaiki beberapa kesalahan penulisan kata, berikut redaksi relay petikan wancara tersebut.

      Tribun (T): Apa pandangan anda terhadap ISIS?
      Abu Tholut (AT) : Dari sisi tinjauan historis sebenarnya ISIS yang merebak di Indonesia bukan hal yang baru. Sudah ada di Irak dan Suriah setahun lebih diikrarkan Abu Bakar al Baghdadi.Lalu menjadi IS saja. Pada satu Ramadan lalu, ISIS diubah namanya oleh Al Baghdadi menjadi Khilafah Islamiyah. Sebenarnya itu data lama. Dan ketika Al Adnan, juru bicara mengikrakan Ibrahim bin Awwad (Abu Bakar al Baghdadi) sebagai kilafah.

      Menurut mereka seluruh organisasi Islam di luar itu dengan tegaknya kilafah ini maka harus bubar. Di sini kan ada Jamaah Islamiyah, nii,. Pokoknya semua organisasi itu oleh mereka (ISIS) sudah batal. Maknanya harus lebih ke kilafah.

      Kalau Khilafah sudah ada maka tidak boleh bentuk kelompok-kelompok lain. Haram hukumnya. Ini sifat-sifat arogan yang muncul di awal-awal. Bahkan JN (cabang Al Qaeda), Jaulani, diklaim oleh ISIS sebagai cabangnya. Bahkan menganggap Al Qaeda menyimpang. Di luar ISIS dianggap kafir.

      Pengumuman Khilafah itu hanya legalisasi mereka. Ini bukan saya yang berpendapat tapi dari ulama-ulama independen. Pemahaman ISIS sesat, hingga tindakannya juga sesat.

      T: Apa pendapat ulama-ulama indpenden yang anda tahu?
      AT: Fatwa ulama independen menyebut bahwa ISIS dinyatakan sebagai organisasi yang telah menyimpang. Mereka ini (ISIS) melakukan kebohongan-kebohongan pada umat. Itu sifat tidak layak. Mereka juga mudah menumpahkan darah orang tidak berdosa dari kalangan orang muslim dengan alasan samar-samar. Mereka tidak menghormati ulama dan pimpinan mereka sendiri. Bahkan, mereka mengakui di tubuh mereka ada kelompok Quraiys.

      Sehingga dengan demikian, wajib atas kita dan atas seluruh tokoh untuk menyatakan kalimat kebenaran dan menyelamatkan umatnya, untuk menolak mereka (ISIS).
      Dengan adanya fatwa seperti ini mereka justru tambah galak menyatakan diri sebagai Khilafah.

      T: Anda mendengar ISIS sejak kapan?
      AT: Sebelum gempar di media saya sudah mendengar konflik di Suriah kira-kira enam bulan lalu. Ada ISIS melawan Basyir Ashad dan kelompok lain. Ketika saya mendengar enam bulan lalu, saya memposisikan diri tidak punya data apa-apa. ISIS itu apa? Siapa mereka?

      Saya minta tolong maklumat (informasi) pada teman-teman di luar. Saya pelajari yang pro-ISIS mana? Yang kontra mana? Di tengah-tengah mempelajari, banyak yang pro dan kontra dengan cepat. Saya masih mempelajari.

      Begitu saya tahu, maka saya menolak ISIS. Bahkan, baiat yang diberikan kepada Khilafah itu baiat yang batil. ISIS dan Khilafah itu sama saja merupakan orang-orang sama. Cuma ganti nama saja.

      T: Khalifah menurut anda seperti apa?
      AT: Imam adalah pelindung umat. Maka umat berjuang di bawah pimpinannya. Kalau seorang menjadi imam, realitasnya punya kekuatan minimal. Maka tidak layak menjadi imam. Saya tanya wukuf di arafah hukumnya wajib. Kalau tidak ikut hajinya tidak sah. Maknanya bahwa rukun terpenting itu wukuf. Itu ilustrasinya, ada hukum yang penting yang menyatakan (keterpilihan) seorang Khilafah.

      T: Kekuatan minimal seperti apa yang dimaksud?
      AT: Saat ini umat Islam itu di seluruh dunia, seperti zaman Nabi Muhammad dan Abu Bakar as Siddiq. Seorang khalifah harus bisa melindungi umatnya. Katakanlah yang paling dekat Palestina, ada nggak kemampuan Khalifah melindunginya? Jawabannya belum bisa.

      Kalau tidak bisa janganlah mengaku sebagai pemimpin. Dia hanya minta hak dari umat, tapi kewajiban dia pada umat belum ada. Istilahnya Khalifah yang ngaku-ngaku Khalifah. Apa ya istilahnya… Mungkin Khalifah yang bodoh.

      T: Mengapa orang-orang indonesia mudah dipengaruhi paham dari luar?
      AT: Karena mereka (orang-orang) tidak mau mengkaji, atau malas mencari tahu lebih dahulu tentang suatu perkara. Sebaliknya, mereka cepat sekali bertindak. Itu ciri-ciri orang awam, bukan orang yang berilmu. Sifat orang tanpa ilmu ya begitu. Bertindak tanpa ilmu. Yang bikin saya prihatin adalah para ulama melakukan hal yang sama. Seperti ustaz Afif dan Abu Bakar Baasyir yang saya hormati. Saya engga habis pikir bagaimana caranya kok bisa (bergabung).

      T: Bukankah para ulama-ulama atau ustadz tergolong pintar?
      AT: ini bukan masalah potensi kecerdasan intelektual. Tapi soal kemauan. Mungkin karena sebelumnya sudah yakin pada satu sisi hingga apriori terhadap sisi lain. Seharusnya para ustadz jajaran orang yang mengkaji sesuatu berdasarkan metode ilmiah. Harus mempelajari semua. Misalnya ada dua data yang bertentangan, ya harus dikaji semuanya.

      T : Bagaimana caranya anda membujuk mereka (pro-ISIS) ke pandangan yang menurut anda benar?
      AT: Saya sudah mencoba bagi siapa saja kalangan teman-teman yang tidak sependapat dengan saya maka mari diskusi ilmiah. Kalau punya data-data ilmiah yang menyatakan ISIS itu benar, maka tunjukkan pada saya. Nyatanya hingga kini tidak ada bantahan yang kunjung tiba. Belakangan bantahan mereka tarik kembali.

      Kemudian banyak pemuda yang direkrut berasal dari pendidikan umum (tidak punya dasar kuat). Ditambah lagi kekurangan ISIS hanya menterjemahkan yang mendukung ISIS dan kilafahnya saja. Dan itu disebarluaskan lewat facebook, twitter dan sebagainya. Banyak sekali.

      Kemudian yang di pusat sana (Irak) pintar membentuk opini dengan media. Ditayangkan video yang menjual kepahlawanan. Apalagi jika pemuda dengan jiwa meledak-ledak gampang terpengaruh
      .
      T: Apa maknanya ISIS untuk Indonesia?
      AT : Untuk Indonesia apabila ISIS didukung, maknanya dia harus menuruti perintah Al Baghdadi. Apabila memerintahkan sesuatu tidak benar. Kira-kira bagaimana yang di bawah? Seharusnya melaksanakan perintah kan?

      Kalau dipraktikkan di Indonesia, orang di luar organisasinya dianggap kafir. Dan kafir adalah dibunuh. Apa yang terjadi di Suriah (membunuh orang beda pandangan) bisa terjadi di Indonesia.

      T: Lalu bagaimana dengan jaringan ustadz?
      AT: Saya tidak punya jaringan. Saya ini punya teman-teman tidak punya keterikatan apa-apa. Tidak banyak juga.

      Ada cerita, Ustaz Abu Bakar Baasyir bilang jika tidak ikut Khilafah (anggota JAT) silakan keluar. Ternyata yang keluar banyak. Lebih banyak dibanding yang mendukung.

      T: Lalu lebih memilih atau mendukung Khalifah atau Indonesia
      AT: Bagaimanapun juga cita-cita seorang Muslim adalah bagaimana Alquran dan Hadist nabi nyata sebagai pedoman hidupnya. Dalam arti lain, syariat Islam harus jadi pedoman hidupnya. Saya kira bukan hanya saya, tapi seluruh orang Muslim harus melakukan itu semua. (samirmusa/arrahmah.com)

      Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/08/29/pandangan-jihadis-alumni-afghanistan-abu-tholut-tentang-isis.html

      Category: berita

      0 17
      Foto ilistrasi

      Oleh: Harits Abu Ulya

      Pemerhati Kontra Terorisme & Direktur CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)

      (Arrahmah.com) – Di awal bulan Agustus 2014 isu ISIS bak bola salju bergulir liar, persepsi publik digiring oleh media massa kepada kondisi kegentingan atas kepentingan nasional. Isu kisruh Pilpres juga menghangat yang akhirnya mencapai titik klimaksnya pasca ketetapan MK 21 Agustus 2014. Setelah itu isu bergeser menyentuh soal format kabinet baru di iringi geliat isu sensitif kenaikan BBM. Kenapa sensitif, karena menyangkut soal perut (baca;kehidupan ekonomi) ratusan juta rakyat kecil. Disamping impact-nya juga bisa sangat politis terhadap posisi dan eksistensi penguasa baru produk rezim pemilu 2014.

      Diluar itu semua, ada sebuah proyek legislasi yang lolos dari perhatian khalayak, yang sejatinya masih terkait isu terorisme dan IS/ISIS. Yaitu; BNPT menempuh “gerilya” penggalangan untuk mendapatkan suport lahirnya Undang-Undang (UU) BNPT. Di DPR juga sudah dimulai langkah penyiapan draft akademik, nantinya akan dilanjutkan penyusunan draft RUU BNPT agar bisa masuk dalam program legislasi DPR. Saat ini secara kelembagaan BNPT eksistensinya berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 46 tahun 2010.

      Pada awalnya berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Nomor: Kep-26/Menko/Polkam/11/2002 dibentuklah “Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme (DKPT)” dengan tugas membantu Meteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan dalam merumuskan kebijakan bagi pemberantasan tindak pidana terorisme, yang meliputi aspek penangkalan, pencegahan, penanggulangan, penghentian penyelesaian dan segala tindakan hukum yang diperlukan, dan Presiden SBY mengangkat Irjen Pol. Drs. Ansyaad Mbai, M.M. sebagai Ketua DKPT.

      Pada Rapat Kerja antara Komisi I DPR dan Menkopolhukam (31 Agustus 2009) DPR memutuskan merekomendasikankepada Pemerintah untuk membentuk suatu “badan” yang berwenang secara operasional melakukan tugas.

      Berdasarkan rekomendasi Komisi I DPR tersebut dan assessment terhadap dinamika terorisme, maka pada tanggal 16 Juli 2010 Presiden Republik Indonesia menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, dan mengangkat Irjen Pol (Purn) Drs. Ansyaad Mbai, M.M. sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (Keputusan Presiden Nomor 121/M. Tahun 2010).

      Dari DKPT (2002) menjadi BNPT (2010), yang sejak awal Ansyaad Mbai menjadi kepala di institusi tersebut. Namun sekarang BNPT masih merasa perlu legitimasi kuat dengan sebuah regulasi baru (UU). Pertanyaan penting; UU BNPT untuk apa? Apa argumentasi BNPT atas kebutuhan UU tersebut? Visible-kah rencana pembuatan UU BNPT?

      Tulisan ini mencoba memberikan perspektif terkait soal-soal diatas dan perkara-perkara yang melingkupinya.

      Pertama; BNPT dalam urusan terorisme sejatinya layaknya KPK, menjadi institusi “super body” dengan cakupan tugas pokok, fungsi, peran, anggaran, personel dan peralatannya.Kapasitas SDM pilihan dan dianggap terbaik, berpengalaman secara teknis, intinya cukup profesional (adanya kompetensi, tanggung jawab, berintegritas). Berdasarkan kajian bisa jadi bagi pimpinan BNPT; Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perubahan Peraturan Nomor 46 Tahun 2010 tentang BNPT, telah terjadi perubahan kapasitas pada struktur organisasi BNPT. Akan tetapi hal tersebut dianggap hanya menyentuh soal penguatan jabatan, belum pada tingkat pengembangan fungsi.

      “Super Body” artikulasi real yang diinginkan adalah optimalisasi fungsi. Karenanya UU (Undang-Undang) adalah legitimasi kuat untuk mengoperasionalkan fungsinya. Keinginan lahirnya Undang-Undang lebih tampak di dasari logika dan nafsu “hegemoni” kelembagaan dibandingkan logika “kebutuhan”. Hipotesa ini bisa dikonfirmasi dengan capaian kinerja dan soliditas organisasi serta seberapa nihilnya “gap” antar lembaga terkait.

      Kedua; fenomena terorisme adalah sebuah realitas komplek, kelahirannya tidak bergantung kepada pemicu tunggal. Fenomena komplek yang lahir dari beragam faktor yang juga komplek. Ada faktor domestik seperti kesenjangan ekonomi (kemiskinan), ketidak-adilan, marginalisasi, kondisi politik dan pemerintahan, sikap represif rezim yang berkuasa, kondisi sosial yang sakit, dan faktor lain yang melekat dalam karakter kelompok dan budaya. Ada faktor internasional seperti ketidak-adilan global, politik luar negeri yang arogan dari negera-negara kapitalis (AS), imperialisme fisik dan non fisik dari negara adidaya di dunia Islam, standar ganda dari negara superpower, dan sebuah potret tata hubungan dunia yang tidak berkembang sebagaimana mestinya (unipolar). Selain itu adanya realitas kultural terkait substansi atau simbolik dengan teks-teks ajaran agama yang dalam interpretasinya cukup variatif. Ketiga faktor tersebutkemudian bertemu dengan faktor-faktor situasional yang sering tidak dapat dikontrol dan diprediksi, akhirnya menjadi titik stimulan lahirnya aksi kekerasan ataupun terorisme.

      Terlihat, bagi BNPT yang paling penting ada “teroris” di Indonesia, berkembang dan berkelindan dengan jejaring “teroris” global. Tapi nihil dari kejernihan membaca secara utuh aspek dan latarbelakang politik kekinian lahirnya “warr on terrorism” dimana Barat (USA, cs) menjadi desainer (dalang) dan Islam menjadi bidikan utamanya.Melalui beragam isu semisal Arab Sprin, fenomena al Qaida, ISIS/ISIL/IS di kawasan Timur Tengah, Iraq-Suriah membuat BNPT lebih dramatis memposisikan “Indonesia darurat terorisme” dan secara aktual menjadi lembaga yang sangat pragmatisme dan menegasikan kompleksitas persoalan yang ditangani. Ditambah asumsi BNPT; resonansi terorisme yang bermula dari kawasan Timur Tengah kemudian memasuki wilayah Afrika Utara, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Tenggara. Maka Indonesia adalah basis potensial tumbuhnya “terorisme” dengan beragam identitas sekalipun obyeknya tidak bergeser secara signifikan. Di sisi lain, ideologi “Khilafah” yang menjadi target capaian dari entitas yang di cap radikal bahkan teroris dianggap sangat potensial mendapat dukungan masyarakat muslim Indonesia. Maka dalam sudut pandang “nation state” ini sangat kontraproduktif (berbahaya).

      Mindset ini lebih tepat di sebut politics of fear, sebagai upaya pengambil kebijakan (pemerintah) untuk mengembangkan dan memanfaatkan keyakinan dan asumsi khalayak umum tentang bahaya, resiko, dan ketakutan demi meraih tujuan tertentu. Dan contoh empiriknya; isu terrorisme telah memberikan kuasa bagi para pemimpin di Barat untuk menciptakan ketakutan dan irasionalitas di hadapan publik sehingga mereka punya kuasa untuk melakukan apa saja. Ketakutan terhadap terorisme efektif untuk memobilisasi massa agar mendukung aksi-aksi militer dan aksi represif lainnya. Ini pola yang seolah terintegrasi kepada sosok kepala BNPT, Ansyaad Mbai yang sudah 12 tahun lebih mengangkangi peran ini.

      Dalam konteks kepentingan diatas maka rasionalisasinya bagi BNPT adalah membutuhkan legitimasi yang kuat sekaligus sebagai lembaga yang “power full” menangani kontra terorisme. Eksistensinya melibatkan banyak instansi terkait, termasuk didalamnya adalah Polri dan TNI dan Institusi Intelijen. Maka persoalan fundamental bagi BNPT adalah lahirnya regulasi (UU) yang bisa menterjamahkan diksi “power full” tersebut, baik menyangkut eksistensi kelembagaan, peran fungsi maupun piranti-piranti regulasi lain yang dibutuhkan (misal; amandemen UU Nomor 15 tahun 2003)

      Ketiga; apakah upaya penguatan regulasi (legal frame) bagi eksistensi BNPT visible? Untuk menjawabnya banyak faktor yang perlu di pertimbangkan dan dikaji ulang, antara lain;

      Faktor pertama; sejak kelahiran BNPT (2010) yang sebelumnya DKPT (2002) bersama Densus-88 sangat kerap mendapatkan sorotan publik. Mulai dari para tokoh masyarakat, pimpinan ormas, akademisi, pengamat, analis sampai rakyat jelata memberikan komentar dan kritikan tajam. Dari kritikan konstruktif hingga dorongan upaya pembubaran Densus-88 dan BNPT. Ini realitas sosiologis yang tidak bisa di abaikan. Faktor penyebabnya terkait kinerja BNPT bersama Densus-88 yang dianggap sering “melukai” rasa keadilan umat Islam di Indonesia. Ditambah lagi sikap dan pandangan BNPT (khususnya Ansyaad Mbai) konsep dan statemen dihadapan publik seringkali sangat tidak peduli dengan perasaan umat Islam. Dari suguhan “terroristaimant” media massa, khalayak juga belajar dan mengambil kesimpulan secara liar, ada yang memberi apresiasi namun tidak kalah kuatnya adalah sikap resistensi dan antipati terhadap cara-cara overacting penindakan orang-orang yang diduga teroris.

      Faktor kedua; kalangan politisi di DPR dari komisi terkait (Komisi I dan III) juga kerap memberikan kritikan tajam. BNPT dianggap keinerjanya tidak bagus, tidak efektif, kurang transfaran soal dana, BNPT tidak memiliki blue print (konsep) yang jelas, dan bahkan penilaian bahwa kinerja BNPT tidak akuntable juga muncul. Meski di sisi lain politisi (Komisi III) juga memperjuangkan kenaikan anggaran (keuangan) bagi BNPT. Secara faktual memang sejauh ini BNPT tidak pernah didengar oleh publik mendedah secara transfaran di hadapan DPR maupun rakyat, terkait penggunaan uang rakyat-negara (APBN) begitu juga capaian kinerja semenjak tahun 2010 di bentuk.

      Faktor ketiga; keberadaan BNPT sebagai lembaga dengan peran dan fungsinya secara real banyak melahirkan overlaping dan gap (koordinasi yang tidak optimal) dengan lembaga-lembaga lain semisal TNI, BIN, BAIS dan lainnya. TNI sendiri membentuk Desk Anti Teror (DAT), bahkan di Kementerian Polhukam juga ada Desk Anti Teror, tentu bagi BNPT ketika tidak memiliki mekanisme hubungan kerja yang jelas akan membuat split dan kontra produktif. Apalagi jika yang dilibatkan oleh BNPT (dengan asumsi; power full) adalah banyak lembaga terkait; BIN, BAIS, Kejaksaan Agung, Kemenlu, Kemenhukam, Kemendagri, Kemenag, Kemendiknas, Kemeninfo, TNI, Polri, Perguruan Tinggi dan lainnya maka peluang disharmonisasi sangat sulit dihindarkan. Penggabungan resources yang dimiliki mulai dari legalitas, SDM, teknologi, anggaran, kelembagaan (organisasi) untuk membuat rancangan (desain) program penanggulangan terorisme dalam jangka panjang dan pelibatan yang luas bukan soal sederhana. Efektifitas sangat mungkin tereduksi karena postur organisasi dan pola kerja serta mekanisme koordinasi overlaping.

      Dengan kewenangan yang diberikan kepada BNPT membentuk satgas termasuk pelibatan unsur Polri dan TNI dalam rangka penindakan, kerap dilapangan memunculkan “satgas liar” yang main tembak (bunuh) tanpa ada pertanggungjawaban.

      Faktor keempat; dengan Perpres Nomor 46 Tahun 2010 saja BNPT bersama Densus-88 sudah banyak melahirkan kontraksi di tengah masyarakat Indonesia (muslim mayoritas). Traumatik sejarah masyarakat atas rezim orde baru dengan Opsus-nya Ali Murtopo terulang di sosok Ansyaad Mbai dengan BNPT-nya plus Densus-88. Langkah-langkah penindakan yang di duga kuat sarat dengan pelanggaran HAM membuat masyarakat beropini bahwa perang melawan terorisme bukan semata-mata melawan dan menumpas sebuah kejahatan yang dikatagorikan exstra ordinary crime, melainkan diboncengi muatan politik dan ideologi dimana Islam dan umatnya menjadi target operasi. Ruang demokrasi yang di usung oleh Indonesia tidak berbanding lurus dengan profesionalisme penegak hukum untuk bisa menjamin rasa keadilan semua warga negara. Seperti dalam sebuah laporan final tim investigasi Komnas HAM (2013) terkait penindakan BNPT bersama Densus 88 dalam lima (5) tahun terakhir di simpulkan;

      Dalam penanganan tindak pidana terorisme terdapat bukti terjadinya pelanggaran hak asasi manusia sebagaimana dijamin dan diatur dalam Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia.Bentuk-bentuk perbuatan (type of acts) pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam Peristiwa Penindakan Tindak Pidana Terorisme, terutama pada perbuatan sebagai berikut :

    • Hak untuk Hidup
    • Hak untuk bebas dari penyiksaan
    • Hak untuk Tidak Mendapat Perlakuan yang Kejam, Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat
    • Hak untuk tidak ditangkap dan/atau ditahan secara sewenang-wenang
    • Hak Atas Rasa Aman bagi masyarakat
    • Hak Milik
    • Hak Anak
    • Hak Atas Informasi
    • Oleh karena itu upaya penguatan legal frame bagi BNPT mengharuskan evaluasi total dan komprehensif atas kinerjanya terlebih dahulu. Sebuah evaluasi yang transfaran dan akuntable, karena diluar uang hibah dari negara donor sesungguhnya BNPT bersama Densus 88 menggunakan uang rakyat ini juga perlu audit. Apakah semua uang tersebut untuk menciptakan solusi atau sebaliknya justru bagian dari trouble yang dihadapi oleh rakyat Indonesia terkait isu terorisme. Banyak produk UU (Undang-Undang) menjadi sia-sia menghabiskan uang rakyat karena di batalkan MK atau tidak visibel untuk di implementasikan. Diluar itu, negara jelas telah mengeluarkan anggaran untuk menggaji dan memberi tunjangan kepada semua aparat BNPT.Sebagai contoh kelas jabatan tertinggi atau kelas 17 yaitu Kepala BNPT mendapatkan tunjangan kinerja sebesar Rp 19.360.000 dan kelas paling rendah mendapatkan tunjangan Rp 1.563.000. Tunjangan kinerja ini dibayarkan terhitung mulai bulan Januari 2012. Lantas UU (Undang-Undang) BNPT yang lagi di desain kelahirannya tersebut untuk kepentingan apa dan siapa? Masyarakat jadi mengerti, isu teroris, ISIS/IS dan Khilafah yang terus di goreng oleh BNPT itu tidak lebih sebagai bagian dari upaya rasionalisasi agar pihak legislatif mengaminkan nafsu “super body” nya BNPT.

      Sejatinya langkah mencegah dan memutus perkembangan terorisme itu menuntut putusnya mata rantai tindak kekerasan. Solusinya? Meminjam kata Noam Chomsky, “Kita harus berhenti terlibat didalamnya”. Memerangi terorisme dengan tindakan teror dan terorisme akan mengembangbiakkan aksi-aksi terorisme berikutnya. (arrahmah.com)

      Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/08/28/undang-undang-bnpt-untuk-apa-siapa.html

      Category: berita

      0 34
      foto ilustrasi

      Oleh: Harits Abu Ulya

      Pemerhati Kontra Terorisme & Direktur CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)

      (Arrahmah.com) – Pada hari Selasa, (13/05/2014) sekitar pukul 13.00 WIB Densus88 kembali menangkap seseorang yang bernama Ramuji (28) alias Kapten di Desa Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran Lamongan Jatim. Pasal terorismelah yang dipakai menjerat Ramuji, dengan asumsi Ramuji terkait jaringan Santoso cs (Mujahidin Indonesia Timur). Sangkaan lebih lanjut, Ramuji terlibat pelatihan merakit bom di pegunungan Poso Sulteng. Ramuji aktif mengirim logistik ke kelompok Santoso.Dan di perkirakan akan melakukan bom bunuh diri pada Pilpres Juli 2014.

      Dibulan sebelumnya, beruntun pada tanggal 16 dan 17 April 2014 dua orang diduga pelaku teror juga ditangkap yaitu Paimin alias Ade dan Ardi.Keduanya juga di sangka jaringan Santoso cs. Paimin di tangkap di daerah kelurahan Lawanga, Poso kota Utara. Dan Ardi ditangkap saat pulang dari pasar Sentral Poso menuju rumahnya di Kayamanya. Keduanya di tuduh terlibat peledakan bom di Pantango Lemba pada bulan Februari 2014 yang menyebabkan lobang besar di tengah jalan. Dan keduanya juga di tuduh mengikuti pelatihan militer pada tahun 2011, selain menjadi kurir Santoso.

      Saya mengeja dari dua peristiwa terpisah tapi saling dikaitkan dengan muara yang sama yaitu Santoso dan Poso, serta cerita tentang ancaman “teroris” terhadap Pilpres 2014. Dari penelusuran, saya dapatkan beberapa realitas (fakta lapangan) antara lain;

      Pertama;Seorang Ramuji saban hari kerap dijumpai di TPI (tempat pelelangan ikan) di Brondong Paciran Lamongan. Dia hanya seorang kuli bongkar ikan, dulunya pernah jadi “kapten” sebuah istilah yang disematkan untuk orang pencari ikan dan dia sebagai pemegang kemudi perahu ikannya. Dan para nelayan yang berprofesi sebagai “kapten” tidak hanya seorang Ramuji. Jadi bukan “kapten” seorang perwira rendah dengan senjata api di pinggang, tapi seorang pemegang kemudi perahu ikan. Barangkali media menyebut nama Ramuji alias Kapten hasil copy paste dari satu sumber yaitu pihak kepolisian. Dan Ramuji kelihatanya belum beruntung saat menjalani profesi sebagai kapten, akhirnya memilih menjadi kuli jasa bongkar ikan dan kerja serabutan lainnya.

      Dia lahir di Blimbing Kecamatan Paciran, dari kecil hingga dewasa tumbuh di Blimbing. Untuk menopang kehidupan ekonominya Ramuji di bantu istrinya dengan menjahit pakaian di rumah.Ia dikaruniai seorang putri yang masih kecil, usianya sekitar 3 tahun dan Ramuji kurang lebih sudah 4 tahun menjalani pekerjaan kuli jasa bongkar ikan dan serabutan untuk menghidupi istri dan seorang anaknya. Ia tinggal di rumah yang sangat sederhana di Desa Blimbing dekat TPI (tempat pelelangan ikan) Kecamatan Paciran.Ia di tangkap Densus88 di desa tetangga, Kandang Semangkon Kecamatan Paciran. Penuturan kawan-kawan Ramuji yang biasa bergaul dan ketemu hampir saban hari di TPI (tempat pelelangan ikan), yang ditahu ia tidak pernah kemana-kemana apalagi pergi jauh luar pulau.Dan kawan-kawannya sangat heran dengan tuduhan Ramuji pernah ikut pelatihan di Poso untuk merakit bom dan kemudian juga menjadi kurir kelompok Santoso.Bahkan yang lebih mengagetkan adalah tuduhan Ramuji akan melakukan bom bunuh diri di Pilpres Juli mendatang.

      Benarkah sangkaan dan perkiraan Densus88 bahwa Ramuji akan melakukan bom bunuh diri di Pilpres Juli 2014? Yang pasti bahwa Ramuji ditangkap hanya berdasarkan dugaan dan perkiraan intelijen. Dan analisa saya, alasan atau argumen dasar penangkapan Ramuji ini adalah narasi yang dibuat-buat. Sarat aroma rekayasa, untuk kepentingan proyek kontra terorisme yang banyak kehilangan momentum.

      Untuk menegaskan aroma rekayasa, saya bisa beber realitas (sebagai fakta kedua) berikutnya terkait kasus bom dibulan Februari 2014 lalu di Poso, dimana dua orang ditangkap menjadi tertuduh (Paimin alias Ade dan Ardi).Dan ledakan bom tersebut juga dituduhkan sebagai produk pelatihan yang dikendalikan Santoso cs, seperti halnya rencana bom bunuh diri Ramuji adalah hasil pelatihan Santoso di pegunungan Poso.

      Kedua; pada tanggal 25 Februari 2014 pihak aparat mengungkapkan temuan bom dari Desa Pantangolemba, Poso Pesisir Selatan. Kemudian disusul kejadian yang mengagetkan masyarakat, di malam harinya sekitar pukul 23.55 Wita tepatnya di jalan depan kuburan masuk menuju Desa Pantangolemba RT-01 Dusun I, Desa Pantangolemba Kecamatan Poso Pesisir Selatan Kabupaten Poso terjadi Bom meledak.

      Saat kejadian situasi desa sangat sunyi, warga sangat terkejut karena suara ledakan bom tersebut sangat keras.Bahkan sangking kerasnya, bunyi ledakan terasa dan terdengar sampai ke tetanga desa seperti Desa Patiunga, Desa Bethania,Desa Tabalu,Desa Kasiguncu, Desa Masamba, Desa Saatu, dan Desa Penedapa Kecamatan Poso Pesisir. Dari kejadian ledakan bom tersebut tidak ada korban sipil maupun aparat.Hanya jalan yang menuju desa Pantangolemba berlubang lumayan besar, dan jalan sempit tersebut sempat tidak bisa dilalui roda dua (2) dan roda empat (4). Dan jejak ledakan meninggalkan lobang kurang lebih 2 meter dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Dan peristiwa ledakan bom ini membuat masyarakat Pantanggolemba resah, karena sebelum ledakan sudah ditemukan rangkaian bom di depan bangunan Baruga Adat Desa Pantangolemba yang kemudian diekpos oleh pihak kepolisian setempat.

      Analisa saya; bahwa sangat mungkin kasus ledakan ini adalah rekayasa belaka.Ada pihak-pihak yang bernafsu, Poso ingin terus dijaga sebagai “panggung” dan lahan proyek atas nama “kontra terorisme”. Dari penelusuran didapatkan fakta yang mengejutkan sebelum kejadian perkara yang merupakan indikasi penting untuk mengendus adanya aroma rekayasa;

      Bersumber keterangan Bapak Datodaga (51), seorang petani yang merangkap Bendahara Desa Patanggolemba yang beragama Nasrani (Kristen) dari Suku Pamona, dengan alamat Desa Pantanggolemba Kecamatan Poso Pesisir Selatan Kabupaten Poso. Sebelum ditemukan benda yang mencurigakan (yang kemudian diumumkan sebagai bom) dan peristiwa ledakan bom dimalam harinya, Datodaga sempat bersua (berpapasan) dan berkomunikasi dengan seorang tidak dikenal (OTK) yang mencurigakan. OTK tersebut sempat bertanya-tanya kepada Datodaga dimana jalan ke Padanglembara. Dan Pak Datodaga sempat bertanya ke OTK, tentang asal dari OTK tersebut. Kemudian orang tidak dikenal tersebut mengaku dari BFF Poso. Selanjutnya Pak Datodaga menunjukkan arah jalan ke Padamlembara yang dimaksud oleh OTK. Saat itu OTK tersebut dengan penampilan; memakai jaket warna abu-abu, baju kemeja, celana jeans, sepatu kulit warna hitam dengan penampilan rapi dengan menggunakan Moge (motor gede) tapi Pak Datodaga tidak mengetahui jenisnya.

      Sekitar pukul 15.40 Wita OTK ini terlihat meluncur dari arah TKP dimana bom meledak menuju ke arah Poso. Dan OTK tersebut ada warga yang menyaksikan singgah di rumah salah satu anggota Brimob yang ada di Desa Pantangolemba. Sebelumnya OTK yang mencurigakan sudah melintasi rumah anggota Brimob tersebut tapi karena merasa ada yang melihat (mencurigai) dirinya kemudian berputar balik dan masuk kerumah anggota Brimob itu.

      Tidak berselang lama sekitar pukul 16.00 Wita, atas dasar sebuah informasi kemudian salah seorang anggota Babinsa setempat mendatangi rumah anggota Brimob tersebut dan menanyakan perihal OTK, tapi mendapat jawaban bahwa orang tersebut sudah kembali pulang dan disampaikan juga bahwa bahwa orang tersebut (OTK) adalah temannya dari Brimob Moengko.Inilah fakta penting sebelum peristiwa bom meledak di Pantangolemba,dan bisa menjelaskan tentang “sandiwara teror”.

      Dari daya ledak yang cukup besar, bom tersebut menurut analisa saya bukanlah karya Santoso cs. Yang lebih menggelikan lagi, buat apa meledakkan bom di jalan sepi dengan hanya berefek melubangi jalan. Apa hanya ingin memberikan pesan bahwa mereka masih eksis dan punya cadangan bom yang cukup buat meneror?. Ditemukannya bom dan peristiwa ledakan bom di Patangolemba dengan melacak kejadian-kejadian (indikasi) sebelumnya tercium kuat ini hanya drama alias rekayasa.Bahkan tidak menutup kemungkinan pihak aparat sendiri yang bermain dengan segala target dan kepentingan dibelakangnya.

      Pelan tapi pasti, menurut saya rekayasa-rekayasa akan terungkap. Bahkan narasi-narasi dusta tentang ancaman “terorisme” terhadap pemilu dan lainya akan terbongkar kedustaannya. Meski narasi dagelan ini tetap saja memakan korban tidak hanya seorang Ramuji, Paimin, Ardi yang ditangkap atau bahkan nyawa yang akan melayang. Semoga masyarakat makin melek, dan siapapun yang membaca paparan saya ini mau mengoreksi diri. Sudah bukan waktunya dengan arogansi kekuasaan memegang stempel “teroris” dipakai untuk bisnis “nyawa”.

      (arrahmah.com)

      Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/05/16/ramuji-ditangkap-dengan-narasi-terroristainment.html

      Category: berita

        0 132

        Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai ada sejumlah kejanggalan yang dilakukan Densus 88 AT dalam penggerebekan terduga teroris di Ciputan pada malam tahun baru kemarin. Kejanggalan terutama pada soal tembak mati teroris.

        Berikut kejanggalan yang diterima detikcom, Minggu (5/1/2014), dari rilis Kontras:

        1. Lokasi rumah terduga teroris telah lama diintai

        KontraS menerima informasi warga bahwa intel sering berkeliaran di sekitar lokasi terduga teroris. Intetitas intel semakin meningkat sekitar 1 minggu sebelum penggerebakan.

        “Pada malam satu hari sebelum terjadi penggerebekan, dua orang yang diduga intel juga sempat mendatangi rumah terduga teroris,” kata koordinator Kontras Aris Azhar.

        Informasi lainnya, pada hari Senin 30 Desember 2013 terlihat beberapa mobil mondar-mandir di sekitar lokasi rumah terduga teroris.

        2. Intel sempat minta warga mengungsi

        Pada 31 Desember 2014, siang hari, sebelum terjadi penggerebekan, aparat kepolisian menyuruh warga menjauh dari lokasi. Sebagian warga meninggalkan lokasi pergi ke rumah-rumah saudaranya, kecuali beberapa orang yang tidak bersedia menghindar lantaran menjaga keluarganya yang sedang sakit.

        “Pengusiran warga dari lokasi disinyalir sebagai upaya Densus 88 AT untuk meminimalisir korban dipihak penduduk sekitar dan hal ini patut diduga sebagai bagian dari mobilisasi terencana untuk penindakan terhadap terduga teroris, yang kemudian berakhir dengan korban jiwa,” jelasnya.

        3. Hidayat ditembak tanpa perlawanan bukan dalam baku tembak

        Hidayat adalah terduga teroris pertama yang ditempat oleh Densus 88 AT. Hidayat disebut ditembak tanpa perlawanan saat keluar dengan seorang warga untuk membeli makan malam.

        “Hidayat ditembak tanpa ada perlawanan yang membahayakan aparat. Namun menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar bahwa terjadi baku tembak antara anggota Densus 88 AT dengan Hidayat,” kata Aris.

        Menurut Aris, Densus 88 AT telah menguntit Hidayat dari belakang dan menyergapnya. Anggota polisi telah siap mengarahkan tembakan ke Dayat yang mengakibatkan Dayat meninggal. Boy Rafli Amar juga disebut memberikan keterangan yang berbeda soaldua orang dilumpuhkan karena berusaha melarikan diri menggunakan motor Honda Supra B 6516 PGE.

        4. Lokasi baku tembak yang janggal

        Usai menembak Dayat, polisi langsung menggerebek rumah terduga teroris lainnya. Disebut terjadi baku tembak, namun KontraS tidak menemukan bukti terjadinya tembak-menembak.

        “Jika benar terjadi kontak senjata sebagaimana disampaikan oleh Polisi, berarti ada bangunan-bangunan di depan rumah yang terkena tembakan peluru milik terduga teroris,” ujar Haris.

        “Namun sejauh ini tidak ada bekas peluru di bangunan Mushala atau rumah warga yang berada didepan rumah terduga,” tambahnya.

        5. Soal penemuan bom di rumah terduga teroris

        KontraS menyebut ada keterangan yang berbeda soal penemuan bom di rumah terduga teroris. Namun anehnya tidak ada bekas bom yang meledak di luar rumah terduga teroris.

        Keterangan yang berbeda tersebut berasal dari Komisioner Kompolnas Syafriadi Cut Ali yang mengatakan bahwa terduga melempar dua bom keluar, satu meledak satu tidak, sedangkan keterangan Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan menemukan enam bom rakitan di dalam rumah dan satu ditemukan sudah meledak.

        “Pernyataan tersebut kontradiksi. Jika mengacu ke pernyataan Syafriadi, artinya ada bekas ledakan bom di luar rumah, ada bangunan yang rusak. Sementara pernyataan Boy Rafli yang menyatakan ada bom meledak di dalam rumah makin memperdalam kebingungan publik. Sebab, jika satu bom meledak di dalam rumah, pasti rumah tersebut rata dengan tanah dan orang-orang didalamnya hancur. Sejauh ini, rumah terduga teroris hanya terlihat bolong di atap dan beberapa bekas peluru di dinding,” jelasnya. (detik.com, 5/1/2014)

        Source: http://hizbut-tahrir.or.id/2014/01/05/ini-kejanggalan-penggerebekan-terduga-teroris-di-ciputat-versi-kontras/

        0 140
        Ustadz Iskandar

        JAKARTA (Arrahmah.com) – Penangkapan tim Densus 88 Polri terhadap Ustadz Iskandar dengan sangat kasar di Kota Bima Nusa Tenggara Barat, Ahad (15/12/2013), masih terus menjadi pemberitaan. Kecaman keras mengalir dari pembaca arrahmah.com menyikapi hal itu.

        Tapi belum lagi itu surut, sudah muncul foto Ustadz Iskandar dalam penampilan yang jauh berbeda dengan biasanya sebagai guru ngaji, berjenggot dan songkok putih. Pada antaranews terpampang foto Ustadz Iskandar alias Abu Qutaibah yang sudah jauh berbeda dan tak bisa dikenali, kecuali pada teks foto tersebut tertulis nama sang Ustadz yang dicintai masyarakat Bima ini. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

        Pada foto itu nampak seorang yang disebut dalam titel foto adalah Iskandar diapit oleh aparat Densus saat tiba di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, namun tampilannya sangat mengenaskan, wajahnya tanpa sehelai jenggotpun dan mengenakan kacamata hitam dengan frame merah, membuat orang-orang yang mengenalnya menjadi tanda tanya besar.

        Sudah diapakan saja sang ustadz ini, selain di babat jenggot dan dikenakan kacamata tersebut oleh para jundut thowaghit ini.

        Sekali lagi umat Islam dibuat marah, kedzaliman sudah sepantasnya mendapatkan balasan atas kedzaliman pula, sebagaimana firman Allah Ta’ala “Wa jaza’u sayyiatin syyiatun mitsluha, bagi orang yang berbuat buruk kepada orang lain, maka balasannya adalah perlakuan buruk yang setimpal.” (Q.S. Asyuro : 40)

        Jelas aparat Densus melakukan kezhaliman dan kekejaman. Balas kezhaliman tersebut bagi yang mampu, bersabar untuk yang belum, itu yang sering disampaikan para ulama.

        Meski terlihat sangar dan perkasa, sesungguhnya yakinlah aparat Densus adalah paling takut dan pengecut. Lihat penampilan mereka di hadapan publik yang menggunakan sebo penutup wajah agar tak dikenali oleh mujahidin.

        Toh Densus 88 sudah ditantang oleh Mujahidin Indonesia Timur, sebagaimana yang ditulis oleh Abigjasmine dalam kolom comment Selasa, 13 Safar 1435 H / 17 Desember 2013

        “Densus 88 anshorut thoghut ini dari tahun lalu ditantang duel Mujahidin Indonesia Timur di pegunungan Tamanjeka, sampai sekarang ga berani mengejar masuk ke Tamanjeka, malah yang dikorbankan brimob dan polisi lokal Poso. Giliran sama guru ngaji over akting, inilah aslinya Densus 88-laknatullah alaihi.”

        Sedangkan pembaca arrahmah yang lain Bondanmbozo menulis:

        “Kalau umat Islam mengangkat bendera jihad untuk melawan ketidak adilan aparat, baru tahu nanti apakah si Densus tetap akan sangar atau kocar kacir.”

        Sementara Muhammd Abdullah menulis dengan memberi kesabaran kepada para ustadz atas ujian yang sedang dialami sebagai sunatulloh perjuangan dakwah tauhid dan jihad.

        “Sungguh ajaib urusan orang Muslim itu. Ketika ia diuji dengan kesusahan dan ia bersabar maka itu kebaikan buat dia, ketika ia diuji dengan kesenangan dan dia bersyukur itu juga kebaikan buat orang muslim.

        Tidaklah pukulan yang diterima orang Islam itu melainkan akan menghapuskan 1 keburukannya di dunia atau menaikkan 1 derajatnya di surga.
        Dan tidaklah mereka yang memukul dengan 1 pukulan melainkan akan menurunkan 1 derajatnya di neraka. Lihat : Al-Buruj ayat 8-12″

        Redaksi menulis terjemah tafsiriyah atas ayat tersebut, “Kaum kafir penggali parit itu menyiksa orang-orang mukmin, karena mereka beriman kepada Allah Tuhan yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Tuhan yang memiliki kekuasaan di semua langit dan bumi. Tuhan yang Maha menyaksikan apa saja. Orang-orang yang menyakiti kaum mukmin laki-laki dan perempuan dan tidak bertaubat atas dosa-dosa mereka, akan mendapat siksa Jahanam. Mereka akan merasakan siksa jahanam membakar diri mereka. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal solih berhak mendapat surga-surga dibawah surga mengalir sungai-sungai. Itulah kemenangan yang besar bagi kaum mukmin. Wahai Muhammad, siksa Tuhanmu di akhirat sangat berat.” (Al Buruj (85) : 8-12). (azm/arrahmah.com)

        Source: http://www.arrahmah.com/news/2013/12/21/kezhaliman-lanjutan-terhadap-ustadz-iskandar.html

        0 83

        Selasa, 26/11/2013 11:35:03 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 20

        Posko Pengobatan Tim MER-C di di Kawit Barangay Hall (foto: MER-C)

        Cebu, Filipina (SI Online) – Tim Bedah MER-C yang dipimpin dokter Abdul Mughni yang bertolak ke Cebu Filipina pada Jumat malam (22/11), telah tiba dengan selamat di Bandara Mactan Cebu, Sabtu (23/11) pukul 11.30 waktu setempat. Setiba di Cebu, Tim langsung berkoordinasi dengan Health Management Center guna mengurus perizinan dan pemetaan lokasi-lokasi bencana yang dianggap penting.

        Usai mendapatkan informasi, tim langsung meluncur ke arah utara Cebu, tepatnya Municipality of Medellin yang turut dilanda bencana dahsyat topan Haiyan pada 8-9 November 2013 lalu. Di sini tim mengunjungi Bogo-Medellin Medical Center, sebuah rumah sakit umum daerah setempat yang juga tampak mengalami kerusakan pada beberapa bagian ruangan akibat topan.

        Setelah berkoordinasi dengan Kepala dan staf RS serta mengevaluasi kebutuhan medis, Tim MER-C memutuskan untuk memberikan bantuan terlebih dahulu di wilayah ini. Malam itu, tim pun beristirahat di ruangan laboratorium yang sudah disiapkan oleh pihak RS, untuk melepas lelah setelah sehari semalam melakukan perjalanan.

        Esok harinya, Ahad (24/11), untuk mengefektifkan waktu dan pekerjaan, dokter Abdul Mughni selaku Ketua membagi timnya yang terdiri dari 9 relawan menjadi 2, yaitu Tim Bedah dan Tim Mobile Clinic. Tim Bedah berfokus membantu penanganan pasien-pasien trauma di RS sementara Tim Mobile Clinic bertugas menyisiri wilayah-wilayah utara Cebu yang menjadi sasaran topan Haiyan.

        Dokter Abdul Mughni, dokter Dany Kurniadi, dokter Nurul Qomaruzzaman dan Ita Muswita (perawat bedah) sejak Ahad pagi langsung membantu menangani pasien yang dirawat maupun yang datang ke IGD RS. Hari itu juga dilakukan tindakan operasi dengan kasus fraktur pergelangan tangan kiri (Radius Ulna). Walaupun dengan peralatan operasi yang seadanya, yaitu ketiadaan alat electric cauter, namun operasi berhasil diselesaikan dalam waktu kira-kira satu setengah jam.

        Seperti padatnya kegiatan Tim Bedah di RS, Tim yang memberikan pelayanan medis mobile clinic juga demikian halnya. Tim disambut antusias oleh warga masyarakat korban topan, tepatnya warga di Barangay of Kawit. Di wilayah ini kerusakan akibat topan terlihat di sana-sini. Meskipun rumah dan bangunan tempat tinggal mereka terkena sapuan topan, tapi warga tidak mengungsi. Mereka membuat tenda di samping reruntuhan dan sisa rumah.

        Bertempat di Kawit Barangay Hall yang berjarak sekitar satu jam dari Bogo Medelin Medical Center, Tim Mobile yang terdiri dari 2 dokter umum, 1 perawat dan 2 non medis melayani satu-persatu warga yang datang. Obat-obatan yang diberikan tim adalah obat-obatan yang dibawa dari Indonesia, sumbangan para donatur.

        Meskipun ramai warga yang berkumpul, namun mereka terlihat dengan sabar dan tertib mengantri untuk mendapatkan pengobatan. Tercatat warga yang berobat pada hari itu mencapai 216 orang.

        Tim dijadwalkan masih akan menginap di Bogo-Medellin Medical Center satu hari lagi sebelum bergerak ke wilayah bencana topan lainnya. Hal ini dikarenakan masih ada warga korban topan Haiyan yang memerlukan bantuan penanganan operasi, seperti fraktur pergelangan tangan bawah dan necrotic wound debridemant.

        red: shodiq ramadhan

        Baca Juga

        • Terus Lakukan Perlawanan, Militan Sinai Serang Konvoi Militer
        • Densus 88, Operator Penyadapan Australia
        • Muslim Korea Butuh Masjid dan Makanan Halal
        • Arab akan Murtad dan Kaum Lain Menggantikannya
        • Wakil Menteri Industri dan Pertambangan Iran Ditembak Orang tak Dikenal

        Source: http://www.suara-islam.com/read/index/9100

        0 46

        Home Berita Nasional

        Minggu, 24/11/2013 21:48:20 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 23

        Menkokesra Agung Laksono (foto: Antara)

        Jakarta (SI Online) – Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan, Indonesia tidak akan merasa dirugikan bila terjadi pemutusan hubungan dengan Australia di bidang kerja sama pendidikan.

        “Indonesia tidak akan dirugikan bila ada penghentian kerja sama pendidikan, toh selama ini mahasiswa Indonesia yang lebih banyak kuliah di Australia bila dibandingkan mahasiswa Australia yang kuliah di Indonesia,” kata Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono ketika dihubungi Antara dari Jakarta, Ahad (24/11/2013).

        Agung berpendapat, Australia selama ini lebih diuntungkan dengan banyaknya mahasiswa Indonesia yang berkuliah di sana.

        Agung juga menambahkan, Indonesia berhak meminta penjelasan atas penyadapan yang dilakukan Australia. “Australia sudah selayaknya memberikan penjelasan, bahkan jika perlu menyampaikan permintaan maaf kepada Indonesia,” katanya.

        Bukan hanya soal pendidikan, menurut Agung, Indonesia tidak akan dirugikan jika menghentikan berbagai kerja sama di bidang lain dengan Australia.

        Sementara itu, agung juga menambahkan, penyadapan yang dilakukan Australia diharapkan bisa meningkatkan minat para pemuda di Indonesia untuk menciptakan teknologi antisadap. “Saya percaya generasi muda Indonesia mampu melakukan itu,” katanya.

        red: abu faza
        sumber: ANTARA

        Baca Juga

        • Densus 88, Operator Penyadapan Australia
        • PUSHAMI Desak Polri Putus Kerjasama Anti Teror dengan Australia
        • Protes Kunjungan OKI, Teroris Budha Hancurkan Masjid
        • Terkait Penyadapan, PM Australia : Jangan Harap Kami Minta Maaf
        • Wakil Menteri Industri dan Pertambangan Iran Ditembak Orang tak Dikenal

        Source: http://www.suara-islam.com/read/index/9077