Home Cari

asmirandah masuk agama kristen - Hasil Pencarian

Jika Anda merasa hasil pencarian kurang akurat, coba deh cari dengan kata kunci yang berbeda :)

Asmirandah Masuk Agama Kristen


We provide another result for Asmirandah Masuk Agama Kristen at other webs or blogs around the world. This page powered by Google, Yahoo and Bing. You can search anything or different keyword using our powerful Search Form below:


Article Asmirandah Masuk Agama Kristen on other source:

    0 120
    13541718551175942357

    (Arrahmah.com) – Sebuah majalah Islam beberapa tahun lalu, pernah muncul dengan cover berjudul “Modus: Dipacari, dihamili, dimurtadkan. Modus pemurtadan itu bukan cerita isapan jempol, tapi fakta yang tengah dialami dalam masyarakat Islam Indonesia. Inilah modus pemurtadan, upaya kelompok Kristen mengeluarkan seorang Muslim/Muslimah dari agamanya melalui proses pernikahan.

    Dahulu, pada 1970-an seorang menteri Orde Baru harus mengalami hal pahit setelah anak perempuannya dipacari dan dihamili oleh seorang pemuda Kristen. Saking cintanya dan takut anak yang dikandungnya tak berayah, sang anak rela ‘dinikahi’ dengan syarat murtad dari Islam.

    Jadi, perempuan Islam itu terpaksa “menikah” karena sudah hamil atau keperawanannya sudah terlanjur hilang sehingga “cinta mati” berhasil mengeluarkannya dari akidah Islam—karena sang pria memasang syarat harus berpindah keyakinan jika ingin “dinikahi”.

    Begitulah, wanita yang telah dipacari dan dihamili, akhirnya lebih memilih menggadaikan akidahnya, pindah pada keyakinan sang suami.

    Modus lainnya, ini juga sering terjadi, pria kafir itu pura-pura masuk Islam supaya bisa “menikahi” wanita Muslim. Setelah berhasil, dia kembali ke keyakinannya semula, dan mengajak perempuan yang “dinikahi”nya untuk masuk pada keyakinannya alias murtad dari Islam. Dan, anak-anaknya pun otomatis menganut keyakinan kafir orangtuanya.

    Dua modus ini banyak terjadi di tengah masyarakat kita. Karena itu, para orang tua sudah semestinya menjaga anak-anak perempuan mereka. Para perempuan Muslim sudah seharusnya menjaga diri dan kehormatan mereka dari jebakan dan modus semacam ini—kecuali bagi mereka yang memang tak peduli dengan ke-Islam-an mereka, bahkan menganggap ini adalah masalah pribadi, demi “cinta buta”nya itu.

    Sangat disayangkan, jika ada orang tua yang akhirnya pasrah melihat kenyataan anak perempuannya dimurtadkan oleh pria kafir. Meski menentang, tetapi terkadang orang tua tak melakukan tindakan apa-apa. Padahal anak perempuan yang mestinya masih menjadi hak dan kewajibannya untuk menjaga dan melindunginya, termasuk sang ayah yang paling berhak menikahkannya sebagai wali sah, namun kenyataannya hanya bisa pasrah anaknya dibawa kabur dan “dinikahi” sang pria kafir tanpa persetujuannya. Seharusnya orang tua bisa menuntut dan melaporkan pria kafir yang membawa anaknya tanpa izin dan persetujuannya.

    Tetapi, anehnya, ini yang banyak terjadi pada orang tua yang anak perempuannya dimurtadkan dan “dinikahi”. Kasus geger seorang pemain sinetron yang diberitakan murtad, mengikuti keyakinan si pria yang semula “menikahi”nya dan berpura-pura masuk Islam, lalu “pernikahan”nya dibatalkan oleh pengadilan agama—karena dianggap tak pernah ada pernikahan akibat dusta sang pria—tapi setelah itu mereka “menkah” lagi di luar negeri tanpa persetujuan orang tua perempuan, dan sang anak pun murtad.

    Lantas, apa kata ayah perempuan tersebut? Ia cuma mengatakan, kalau anaknya dan pria itu menemuinya pasti dia tolak pria itu, tetapi sang anak tetap ia terima, meskipun ia sudah pindah keyakinan. “Itu hak dia, mungkin itu yang terbaik buat dia. Dia tetap anak saya pasti tetap saya terima. Kecuali dia bunuh orang atau narkoba,” kata sang ayah (detikcom, 28/1/2014).

    Inilah pernyataan orang tua yang kalah dan salah. Dia justru mengatakan, anaknya yang murtad itu tetap anaknya, karena itu hak dia pindah keyakinan dan mungkin yang terbaik buat dia. Lebih aneh lagi, sang orang tua masih bisa menerima kemurtadan anaknya, masih menerima sebagai anak, kecuali kalau membunuh dan terjerat narkoba. Jadi, keyakinan (akidah) Islam lebih rendah nilainya ketimbang jika sang anak membunuh dan mengonsumsi narkoba? Artinya, sang ayah lebih memilih anaknya murtad dibanding terjerat narkoba. Begitu murahnya harga sebuah keyakinan, akidah Islam, dibandingkan dengan narkoba atau tindakan kejahatan lainnya.

    Dalam Islam, hubungan pertalian ayah, anak dan istri itu putus, karena kekufuran—meski dalam hubungan sosial boleh saja berlangsung. Dan, hukum waris pun otomatis tak berlaku karena perbedaan keyakinan ini.

    Adalah Nabi Nuh ‘alahissalam yang tak mengakui istri dan anaknya karena membangkang dan kufur terhadap Allah. Begitu pula Nabi Luth yang istrinya ingkar dan melawan yang diperintahkan kepadanya. Dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyatakan berlepas diri dari sang ayah yang tidak mau mengkuti perintah Allah ke jalan lurus (Islam). Karena, tak ada ikatan persaudaraan jika berbeda akidah.

    Begitulah. Apa yang terjadi di tengah masyarakat kita sangat jauh berbeda dengan yang dicontohkan oleh para Nabi tersebut. Anehnya lagi, ini juga yang tejadi di tengah masyarakat Islam, sudah jelas-jelas anak perempuannya dibawa kabur dan “dinikahi” tanpa izin dan persetujuannya, tapi masih berlapang dada dengan tidak mengusut, tidak menindak dan tak melaporkan si pria yang membawa kabur anaknya tersebut. Bagaimana pertanggungjawabannya di akhirat kelak? Ironis!

    Maka, kasus Asmirandah dapat dijadikan pelajaran untuk mengingatkan para remaja dan orang tua Muslim. Di tengah fokus bahaya Syiah, Zionis, Komunis, Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme, jangan lupakan pula banyaknya kasus-kasus pemurtadan yang menimpa umat. Maka kita perlu ucapkan “terimakasih” kepada Asmirandah yang telah “mengingatkan” kita untuk tetap peduli pada kasus-kasus pemurtadan yang terus mengintai umat.

    Akhirnya untuk kaum Muslimin marilah kita perhatikan firman Allah Ta’ala di dalam Al Quran untuk kita terapkan sebagai dalil dan pengetahuan mana pernikahan yang halal dan mana yang haram.

    Wahai kaum Mukmin, janganlah kalian menikahi perempuan-perempuan musyrik kecuali mereka telah beriman. Budak perempuan Mukmin sungguh lebih baik daripada perempuan musyrik, sekalipun perempuan musyrik itu menyenangkan hati kalian. Janganlah kalian menikahkan perempuan-perempuan Mukmin dengan laki-laki musyrik sampai mereka beriman. Budak laki-laki Mukmin sungguh lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik, sekalipun laki-laki musyrik menyenangkan hati kalian. Orang-orang musyrik mengajak kalian berbuat dosa, sedangkan Allah mengajak kalian beramal shalih dan mendapatkan pengampunan-Nya dengan petunjuk-Nya. Allah telah menjelaskan dengan rinci syariat-Nya kepada manusia, supaya mereka mengetahui perbedaan pernikahan yang halal dan yang haram. (QS al-Baqarah [2]: 221).

    (azm/isa/salamonline/arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/02/01/modus-kristenisasi-yang-terus-berulang-dipacari-dizinahi-dimurtadkan.html

    0 71

    Minggu, 01/12/2013 10:06:15 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 61

    Ilustrasi: Film Cinta tapi Beda karya sineas liberal Hanung Bramantyo.

    Atas nama cinta, saat ini semakin marak dan seakan menjadi trend modern, ‘pernikahan beda agama’. Cinta memang buta, sehingga mampu mengalahkan segalanya, termasuk menghilangkan sekat agama. Kasus pernikahan aktris Asmirandah yang kontroversial misalnya. Hal ini menimbulkan kemarahan di kalangan umat Islam yang masih peduli dengan agamanya.

    Allah berfirman, “Orang Yahudi dan Kristen tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS Al Baqarah:120). Bagaimana tips untuk mencegah terjadinya pernikahan beda agama?

    Tujuan Pernikahan

    Tujuan fisik pernikahan adalah untuk menyalurkan hasrat biologis terhadap lawan jenis, sehingga dapat mengembangkan keturunan sebagai pelanjut tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

    Tujuan moral pernikahan adalah untuk melakukan pengabdian kepada Tuhan dengan sebaik-baiknya dan dengan pengabdian ini akan diharapkan adanya intervensi dalam kehidupan berkeluarga yang akhirnya akan melahirkan generasi-generasi yang taat dan saleh.

    Sakralnya tujuan pernikahan menunjukkan bahwa pernikahan bukanlah sekadar uji coba. Jika tidak mampu melanjutkannya dapat diberhentikan dengan seketika.

    Hukum Pernikahan Beda Agama

    Pernikahan antara pria non-muslim dengan wanita muslim, ulama sepakat untuk mengharamkan. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: “Kami (kaum muslim) menikahi wanita Ahli Kitab, tetapi mereka (pria Ahli Kitab) tidak boleh menikahi wanita kami”. Status pria di keluarga adalah imam, sehingga dia sanggup membimbing dan tidak terbawa arus. Sebaliknya wanita, sifatnya lemah sehingga mudah mengikuti suami, akhirnya berpindah keyakinan.

    Pria muslim dilarang menikah dengan wanita non-muslim, kecuali wanita ahli kitab (QS Al Maidah: 5). Menurut Yusuf Al-Qardlawi, kebolehan nikah dengan Kitabiyah tidak mutlak. Syaratnya: (1) Kitabiyah itu benar-benar berpegang pada ajaran samawi. Tidak ateis, tidak murtad dan tidak beragama yang bukan agama samawi; (2) Wanita Kitabiyah yang muhshanah (memelihara kehormatan diri dari perbuatan zina); (3) Ia bukan Kitabiyah yang kaumnya berada pada status permusuhan atau peperangan dengan kaum Muslimin. (4) Di balik perkawinan dengan Kitabiyah itu tidak akan terjadi fitnah, yaitu mafsadat atau kemurtadan.

    Setelah mempertimbangkan bahwa mafsadahnya lebih besar daripada maslahatnya, maka MUI memfatwakan perkawinan antara pria muslim dengan wanita ahli kitab haram hukumnya. Keputusan Musyawarah Nasional ke II Majlis Ulama Indonesia No. 05/Kep/Munas II/MUI/1980 tanggal 1 juni 1980 tentang Fatwa, yang menetapkan pada angka 2 perkawinan Antar Agama Umat Beragama, bahwa:

    1) Perkawinan wanita muslimah dengan laki-laki non muslimah adalah haram hukumya.

    2) Seorang laki-laki muslim diharamkan mengawini wanita bukan muslimah.

    Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor: 4/MUNAS VII/MUI/8/2005 per-tanggal 9-22 Jumadil Akhir 1426 H. / 26-29 Juli 2005 M tentang haramnya pernikahan pria muslim dengan wanita Ahli Kitab berdasarkan pertimbangan kemaslahatan, dan kesadaran adanya persaingan antara agama.

    Sahabat Hudzaifah dan Sahabat Thalhah pernah menikah dengan wanita Ahli Kitab tetapi akhirnya wanita tersebut masuk Islam. Anak-anak hasil pernikahan mereka tetap mengikuti agama suami (yaitu Islam).

    Dampak Pernikahan Beda Agama

    Perkawinan tidak akan langgeng dan tentram karena tidak bisa menyatukan pandangan tentang segala sesuatu. Jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya atau tingkat pendidikan saja dapat mengakibatkan kegagalan perkawinan.

    Setelah anak lahir, timbullah masalah dalam pendidikan agama anak. Anak diberikan kebebasan memilih agama, padahal dia bingung untuk mengikuti ayahnya atau ibunya.

    Meskipun ayah atau ibu telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga aqidah anaknya, tetap saja anak akan mengalami distorsi aqidah. Betapa hancurnya hati ayah atau ibu yang muslim karena tidak bisa menjaga fitrah anak-anaknya. Padahal jalinan cinta kepada anak lebih kuat daripada kepada istri atau suaminya yang masih kafir.

    Perbedaan agama akan memicu konflik rumah tangga, sehingga tidak mungkin terbentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Bahkan keluarga besar dari kedua belah pihak pun akan menentang.

    Kehidupan rumah tangga pasangan beda agama membuat batin tersiksa dan tidak akan pernah tenang selamanya.

    Jika akhirnya terjadi perceraian, maka anak-anak akan mengalami kehidupan yang timpang.

    Cara memilih Pasangan Hidup

    Dari Abu Hurairah ra dari Nabi Saw, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

    Pilih pasangan yang memiliki ilmu agama yang cukup, berakhlak mulia, dan taat beragama.
    Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki: “Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”

    Tips Mencegah Pernikahan Beda Agama

    Perbanyak sholat istikhoroh agar setiap saat kita mendapat petunjuk untuk memilih yang terbaik menurut Allah, bukan menuruti hawa nafsu.

    Tidak bergaul akrab atau bersahabat dengan lawan jenis non muslim.

    Carilah lingkungan luar rumah (bermain, sekolah, kerja) yang kondusif untuk menjalankan syariat Islam. Waspadai modus kristenisasi dengan mengeluarkan muslimah dari rumah dengan alasan emansipasi wanita. Lalu di luar rumah (kantor, kampus) terjadilah percampuran aqidah dengan lawan jenis.

    Perkuat kepribadian kita dengan banyak membaca kajian keislaman dan perbanyak amalan sunnah: sholat sunnah, puasa sunnah, sebagai benteng untuk menjaga aqidah dan syariat Islam.

    Jangan berkhalwat, bercampur baur dengan lawan jenis. Interaksi dengan lawan jenis hanya sebatas selama ada keperluan yang dibolehkan oleh agama, bukan masalah pribadi (curhat).

    Berdoalah semenjak memasuki usia baligh agar mendapat pasangan hidup yang sholeh, bertanggung jawab, berjuang untuk Islam.

    Mintalah doa dari orangtua atau orang orang terdekat, para guru kita agar mendoakan kita mendapat pasangan yang sholeh, berilmu, berjuang untuk Islam.

    Jangan melayani godaan lawan jenis yang tidak sesuai dengan syariat, maka kita akan memperoleh pasangan yang berbuat sesuai dengan syariat.

    Tunjukkan jati diri kita dengan keterikatan terhadap syariat Islam pada setiap perkataan dan perbuatan. Termasuk berbusana muslim dengan sempurna.

    Pilih teman yang bisa meningkatkan keimanan dan ketaatan kita, jauhi teman yang melemahkan. Teman yang sholeh akan memberi teladan yang baik untuk dunia dan akhirat kita. Dia akan mengoreksi jika kita melakukan kesalahan.

    Perdalam kajian Al Qur’an, sehingga kita lebih mengenal Allah dan Islam, memperkuat keimanan serta mendapat petunjukNya.

    Waspadai program kristenisasi 3M: Memacari, menghamili dan memurtadkan. Berhati-hati dan waspada terhadap tipu muslihat orang-orang kafir termasuk Yahudi dan Kristen.

    Jangan tertipu dengan virus pluralisme, yang menyatakan bahwa semua agama benar, semua agama sama, hanya istilahnya saja yang berbeda. Hanya Islam yang diterima Allah Swt (QS Ali Imron: 19).

    Ingatlah Allah Swt setiap waktu agar timbul ketenangan dan kekuatan untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya (QS. Ar-Ra’d: 28)’.

    Orangtua harus bersikap tegas terhadap anaknya dalam masalah pergaulan dengan lawan jenis. Segera luruskan jika terjadi sedikit saja penyimpangan. Orangtua bertanggung jawab menjaga fitrah anak.

    Ikuti kajian-kajian ke-Islaman, perjuangan membela Islam, update perkembangan kaum muslimin sedunia, cari info perkembangan musuh-musuh Islam dalam berbagai modus operandinya untuk menyesatkan umat Islam.

    Ikuti wadah komunitas aktivis Islam yang sibuk memperdalam ke-Islaman dan memperjuangkan Islam.

    Ikuti berbagai media massa yang memperjuangkan aspirasi umat Islam, jangan hanya mengikuti media massa nasional maupun internasional yang dikuasai kaum kafir dan menyudutkan Islam.

    [Ummu Hafizh]

    Baca Juga

    • AILA Menolak Tegas Pekan Kondom Nasional
    • Waspadai Pemurtadan Umat Islam
    • Tiga Tahun Perang di Suriah, Lebih dari 11 Ribu Anak Tewas
    • Inilah Sejumlah Persoalan Umat di Bekasi
    • Undangan MTI ke-37: Fitnah Media terhadap Islam

    Source: http://www.suara-islam.com/read/index/9158

    0 106

    Senin, 25/11/2013 14:12:14 | syaiful falah | Dibaca : 151

    Asmirandah saat mengenakan jilbab

    Jakarta (SI Online) – Asmirandah mengajukan pembatalan pernikahannya dengan Jonas Rivano di Pengadilan Agama Depok. Masalah keyakinan pun menjadi alasan Andah melakukan hal itu.

    Pasangannya Jonas telah mempermainkan agama dengan berpura-pura masuk Islam untuk menikahi Andah. Hal itu pun diungkapkan Humas PA Depok, Suryadi Sag SH saat ditemui di kantornya, Depok, Jawa Barat pada Senin (22/11/2013). “Pihak termohon (Jonas) tidak sungguh menyakini agama,” ujarnya.

    Pengajuan tersebut terdaftar dengan nomor 2390/PDT.G/2013/PA.dpk. Asmirandah mengajukan permohonan itu pada tanggal 7 November 2013 melalui kuasa hukumnya, Afdhal Zikri, SH.

    Humas PA Depok, Suryadi Sag SH menuturkan, pihaknya akan menggelar sidang perdana perkara tersebut pada Rabu, 27 November 2013. “Iya perkara tersebut sudah masuk sejak 7 November 2013,” kata Suryadi saat ditemui di kantornya, Senin (25/11/2013).

    Perkara tersebut tidak termasuk dalam perceraian. Menurut Suryadi, pengadilan agama juga menerima perkara seperti yang diajukan Asmirandah, yaitu pembatalan pernikahan.

    Untuk menikahi Andah pada Oktober lalu, Jonas memang telah menjadi mualaf. Tapi setelah berita tentang pernikahannya dengan Andah terkuak ke publik, Jonas sempat membantah dirinya berganti keyakinan.

    “Untuk masalah aku mualaf ini kebenaran, aku tidak menjadi mualaf, tidak ucap dua kalimat syahadat, aku Kristen,” ujar pria yang akrab disapa Vanno itu.

    Pernyataan Jonas yang membantah dirinya menjadi mualaf juga sempat membuat Front Pembela Islam (FPI) geram. Organisasi masyarakat itu menilai Jonas telah memainkan agama.

    “Jonas Rivano telah mempermainkan agama kami. Dia di beberapa media telah mengingkari keislamannya, padahal kita punya bukti-bukti keislamannya sebelum dia menikah,” ujar Ketua FPI Depok Habib Idrus Al Ghadri di kantornya, Rabu (13/11/2013).

    Keterlibatan FPI dalam kasus ini dikarenakan ada unsur penistaan agama, bukan untuk mencampuri urusan rumah tangga orang lain.

    red: syaiful
    sumber: detik

    Baca Juga

    • Ustadz Arifin Ilham : Sahabatku, Inilah Kiat-kiat Taubat Nasuha
    • Pengadilan Pakistan akan Adili Musharraf Atas Tuduhan Penghianatan
    • Proses Masuknya Islam ke China akan Dipentaskan di Taman Ismail Marzuki
    • Hati-hati, Pemurtadan Lewat Modus Pernikahan
    • Amerika Tegaskan Jepang adalah Sekutu dan Teman Dekatnya

    Source: http://www.suara-islam.com/read/index/9084

    0 150
    gal239276400

    (Arrahmah.com) – Kasus pernikahan Jonas Rivanno dan Asmirandah sempat mengundang perhatian publik. Pasalnya beberapa saat setelah berlangsung penikahan Jonas melalui media membuat pernyataan yang mengejutkan. Pernyataan itu adalah bahwa ia mengaku tak pernah masuk Islam.

    Kontan keluarga Asmiranda yang Muslim kaget. Karena sebelum acara pernikahan berlangsung Jonas Rivanno yang semula beragama Kristen lebih dulu mengucapkan ikrar syahadatain salah satu syarat seseorang masuk Islam.

    Prosesi sakral pengucapan syahadatain oleh Jonas Rivanno itu disaksikan oleh keluarga Asmirada dan seorang ustadaz. Acara yang sakral itu juga diabadikan tak hanya dalam bentuk foto tapi juga dengan disyuting video.

    Pernyataan Jonas Rivanno bahwa ia tak pernah masuk Islam bukanlah pernyataan yang biasa dan remeh temeh yang hanya dapat dibatalkan dan dicabut dengan menyampaikan permintaan maaf.

    Pernyataan Rivano itu, juga tak cukup dengan mengugurkan akad nikah yang telah berlangsung antara Asmiranda-dengan Rivano, karena mereka berbeda agama, setelah mengatakan bahwa ia tak pernah masuk Islam. Yang dipersoalkan adalah penghinaan terhadap lembaga pernikahan dan penistaan terhadaap Islam.

    Pernyataan Rovano sangat jelas jelas bahwa itu adalah penghinahan terhadap lembaga pernikahan. Dan yang lebih serius adalah penghinaan terhadap Islam. Dikatakan sebagai penghinaan karena dengan hanya berpura-pura masuk Islam sudah bisa menikahi gadis Islam. Lalu setelah menikah dengan mudah ia berbalik dan kembali kepada agamanya yang semula.

    Atas sikapnya itu, Jonas tak cukup dengan minta maaf. Tindakannya itu harus ditindaklanjuti dengan gugatan ke pengadilan. Karena ia telah nyata-nyata melakukan penistaan terhadap Islam. Harus ada lembaga Islam yang menggugat Jonas ke pengadilan karena ia telah menghina dan menista Islam dengan berpua-pura masuk Islam.

    Jika kasus ini tak ditindaklanjuti hingga ke pengadilan, maka orang seperti Rivano akan mudah begitu saja menyatakan Islam hanya karena ingin menikahi gadis Islam kemudian kembali murtad. Dalam Islam ketentuan terhadap orang murtad harus dibunuh.

    Tak mustahil ada ribuan kasus serupa yang dialami Muslimah. Boleh jadi banyak yang akhirnya muslimah yang dinikahi itu diajak murtad oleh orang-orang yang hanya berpura-pura masuk Islam kemudian murtad.

    Kasus seperti ini harus dihentikan. Umat Islam harus bersama-sama menjaga kehormatan Islam dengan melayangkan gugatan ke pengadilan jika ada orang yang melakukan penghinaan terhadap islam dengan cara berpura-pura masuk Islam.

    Para ulama dan asatidz, harus bersatu bersama umat Islam untuk melakukan gugatan kepengadilan atas tindakan Jonas Rivano yang telah terbukti melecehkan dan menghina Islam.

    Berikut ini adalah salinan fatwa beberapa Ulama Ahlus Sunnah tentang: “Hukum menikah dengan non Muslim”

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarakatuh

    Bismillahirrahmanirrahim
    Kasus Pernikahan seorang Muslimah yang menimpa artis Asmirandah dan Jonas Rivanno yang plin plan dalam agamanya membuat kita umat Islam binggung dan bagaimana sich hukumnya menikah dengan Non Muslim bukankah Alloh telah menjelaskan bahwa menikah itu harus dengan yang seaqidah sebagaimana bunyi ayat ini:

    “Perempuan-perempuan bermoral buruk hanya patut menjadi isteri bagi laki-laki bermoral buruk. Laki-laki bermoral burukhanya patut menjadi suami bagi perempuan-perempuan bermoral buruk )”. (Terjemah QS. An Nuur : 26).

    Di antara masalah yang membuat miris hati kaum Muslimin yang konsisten dengan ajaran Islam, banyaknya orang yang menikah dengan pasangan yang berbeda aqidah tanpa mengindahkan larangan dan aturan agama. Oleh sebab itu, masalah tersebut perlu dibahas dengan merujuk kepada Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam dengan penjelasan para ulama.

    Muslimah menikah dengan laki-laki non muslim

    Tidak ada seorang ulama pun yang membolehkan wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, bahkan ijma’ ulama menyatakan haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, baik dari kalangan musyrikin (Budha, Hindu, Majusi, Shinto, Konghucu, Penyembah kuburan dan lain-lain) ataupun dari kalangan orang-orang murtad dan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani). Hal ini berdasarkan firman Alloh

    “Wahai orang-orang beriman, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepada kalian untuk hijrah, maka hendaklah kalian uji keimanan mereka. Allah Maha Mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman, janganlah kalian kembalikan perempuan-perempuan mukmin itu kepada suami-suami mereka yang kafir. Perempuan-permpuan mukmin itu tidak lagi halal bagi laki-laki kafir itu dan laki-laki kafir itu tidak halal bagi permpuan-perempuan mukmin.” (Al Mumtahanah: 10)

    Di dalam ayat ini, sangat jelas sekali Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa wanita muslimah itu tidak halal bagi orang kafir. Dan di antara hikmah pengharaman ini adalah bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Dan sesungguhnya laki-laki itu memilki hak qawamah (pengendalian) atas istrinya dan si istri itu wajib mentaatinya di dalam perintah yang ma’ruf. Hal ini berarti mengandung makna perwalian dan kekuasaan atas wanita, sedangkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan kekuasaan bagi orang kafir terhadap orang muslim atau muslimah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    “Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan kebenaran hujjah orang-orang mu’min.” (An Nisaa: 141).

    Kemudian suami yang kafir itu tidak mengakui akan agama wanita muslimah, bahkan dia itu mendustakan Kitabnya, mengingkari Rasulnya dan tidak mungkin rumah tangga bisa damai dan kehidupan bisa terus berlangsung bila disertai perbedaan yang sangat mendasar ini.

    Dan di antara dalil yang mengharamkan pernikahan ini adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala ,

    “Dan jangalah kalian menikahkan permpuan-perempuan mukmin dengan laki-laki musyrik sampai mereka beriman.” (Al Baqarah: 221).

    Di dalam ayat ini, Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang para wali (ayah, kakek, saudara, paman dan orang-orang yang memiliki hak perwalian atas wanita) menikahkan wanita yang menjadi tanggung jawabnya dengan orang musyrik. Yang dimaksud musyrik di sini adalah semua orang yang tidak beragama Islam, mencakup penyembah berhala, Majusi, Yahudi, Nashrani dan orang yang murtad dari Islam.

    Ibnu Katsir Asy Syafi’iy rahimahullah berkata, “Janganlah menikahkan wanita-wanita muslimat dengan orang-orang musyrik.”

    Al Imam Al Qurthubiy rahimahullah berkata, “Janganlah menikahkan wanita muslimah dengan orang musyrik. Dan Umat ini telah berijma’ bahwa laki-laki musyrik itu tidak boleh menggauli wanita mu’minah, bagaimanapun bentuknya, karena perbuatan itu merupakan penghinaan terhadap Islam.”

    Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, (Ulama ijma’) bahwa muslimah tidak halal menjadi istri orang kafir.

    Syaikh Abu Bakar Al Jaza’iriy hafidhahullah berkata, “Tidak halal bagi muslimah menikah dengan orang kafir secara mutlaq, baik Ahlul Kitab ataupun bukan.”

    Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah berkata, “Laki-laki kafir tidak halal menikahi wanita muslimah,” berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, “Dan jangalah kalian menikahkan permpuan-perempuan mukmin dengan laki-laki musyrik sampai mereka beriman.” (Al Baqarah: 221).

    Jelaslah bahwa pernikahan antara muslimah dengan laki-laki non muslim itu adalah haram, tidak sah dan bathil.

    Muslim menikah dengan wanita-wanita non muslim.

    Sebagaimana wanita muslimah haram dinikahi oleh laki-laki non muslim, begitu juga laki-laki muslim haram menikah dengan wanita non Islam, berdasarkan Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala,

    “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.” (QS.Al Baqarah: 221).

    Ayat ini secara umum menerangkan keharaman laki-laki muslim menikah dengan wanita musyrik (kafir), meskipun ada ayat yang mengecualikan darinya, yakni untuk wanita ahlu kitab, yang akan kita bahas nanti. Tidak boleh seorang muslim menikahi wanita Budha, Hindu, Konghucu, Shinto, wanita yang murtad dari Islam. Dan jika seorang laki-laki kafir masuk Islam sedangkan istrinya tidak atau bila si istri murtad dari Islam, maka dia harus melepaskannya, berdasar-kan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala

    “Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan wanita-wanita kafir.” (QS. Al Mumtahanah: 10).

    Di dalam hal ini, sama saja baik wanita itu murtad masuk agama Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) atau agama lainnya atau tidak masuk agama mana-mana atau dia itu tidak shalat, tetap pernikahannya lepas, karena Islam tidak mengakui statusnya saat masuk agama barunya, berbeda kalau memang dia dari awalnya termasuk Ahlul Kitab, maka hal ini memiliki hukum tersendiri.

    Namun dari keharaman menikahi wanita kafir ini dikecualikan terhadap wanita dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) yang memang sejak awal dia memeluk agama ini, bukan karena murtad, ini adalah pendapat Jumhur Ulama, yang didasarkan pada Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala ,

    “Perempuan-perempuan mukmin dan permpuan-perempuan Yahudi dan Nasrani yang menjaga kehormatannya dihalalkan untuk kalian jadikan isteri dengan memberikan maskawin kepada mereka bukan untuk dizinai dan untuk dijadikan gundik.” (QS. Al Maidah: 5)

    Namun demikian, para ulama menganggap makruh pernikahan Muslim dengan wanita Ahlul Kitab. Umar Ibnu Al Khaththab Radhiallaahu anhu pernah memerintahkan Hudzaifah agar melepas istrinya yang beragama Yahudi, beliau berkata, “Saya tidak mengklaim itu haram, namun saya khawatir kalian mendapatkan wanita-wanita pezina dari mereka.”

    Ibnu Umar Radhiallaahu anhu berpendapat, haram hukumnya menikahi wanita Ahlul Kitab. Beliau berkata saat ditanya tentang laki-laki Muslim menikahi wanita Yahudi atau Nashrani, “Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan menikahi wanita-wanita musyrik atas kaum muslimin dan saya tidak mengetahui sesuatu dari syirik yang lebih dahsyat dari perkataan wanita, bahwa Tuhannya adalah Isa, atau hamba dari hamba Alloh Subhanahu wa Ta’ala.”

    Namun sebenarnya ada perbedaan antara syiriknya orang-orang musyrik dengan syiriknya Ahlul Kitab, yaitu kemusy-rikan di dalam keyakinan orang musyrik adalah asli (pokok) ajaran mereka, sedangkan syirik pada Ahlul Kitab adalah bid’ah di dalam agama mereka, ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh.

    Dan perlu diingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya membolehkan menikahi wanita Ahlul Kitab, jika wanita itu wanita yang selalu menjaga kehormatannya, selain mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya. Selanjutnya kita patut bertanya, “Adakah wanita ahlul kitab yang mampu menjaga kehormatannya?” Realitas menunjuk-kan, wanita-wanita muslim pun banyak yang tak sanggup menjaga kehormatan diri mereka, yang di antaranya disebabkan oleh profokasi wanita ahlul kitab. Yang terpengaruh sudah begitu parah keadaannya, bagaimana lagi yang mempengaruhi (yang merupakan sumber kehinaan diri). Untuk itu, setiap muslim dituntut agar bersikap selektif dan waspada demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi dalam hal yang menyangkut keselamatan akidah dan masa depan Islam dan kaum muslimin. Wa Allahu A’lam.

    Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd/aktivis anti pemurtadan dan aliran sesat.

    Sumber dari buku Menikah dengan Non Muslim, penulis: Syaikh Hasan Khalid, Terbitan: Pustaka Al-Sofwa, Lenteng Agung- Jakarta, 2004M, dll.

    (azm/arrahmah.com)

    Source: http://www.arrahmah.com/kontribusi/hina-islam-seret-jonas-rivanno-pengadilan.html