Home Cari

artis yang pindah agama - Hasil Pencarian

Jika Anda merasa hasil pencarian kurang akurat, coba deh cari dengan kata kunci yang berbeda :)

Artis Yang Pindah Agama


We provide another result for Artis Yang Pindah Agama at other webs or blogs around the world. This page powered by Google, Yahoo and Bing. You can search anything or different keyword using our powerful Search Form below:


Article Artis Yang Pindah Agama on other source:

0 61
kubah-masjid

Hongaria adalah sebuah negara kecil di peta Eropa Timur, yang biasanya tidak diketahui kebanyakan orang di luar Eropa (dan kadang-kadang asing di antara orang Eropa sendiri). Jika Anda menyebutkan nama pemain sepak bola terkenal seperti Puskás, beberapa dari mereka mulai tahu sedikit. Islam di Hongaria memiliki sejarah panjang, 150 tahun di bawah kekuasaan Daulah Utsmaniah adalah salah satu alasan utama di balik sejarahnya.

Sayangnya, saat ini Islam telah menjadi sesuatu yang asing di negeri ini. Ada sekitar 26.000 warga Muslim, kebanyakan dari mereka memiliki latar belakang Arab atau Turki. Namun, jumlah muallaf Hongaria semakin meningkat pula. Budapest, ibukota Hongaria, memiliki lebih dari satu komunitas Muslim.

Berikut hasil wawancara Onislam.net dengan Szultan Sulak, kepala Organisasi Muslim di Hungaria (MME) mengenai situasi ummat Islam di Budapest, tantangan peluang dan jenis kegiatan organisasi bagi ummat Islam juga sebagai non -Muslim, yang tertarik untuk mengetahui tentang Islam.

Organisasi Muslim di Hungaria dan sejarah berdirinya Masjid Budapest

Organisasi Muslim di Hungaria didirikan pada tanggal 22 September tahun 2000 di bawah undang-undang tentang kebebasan beragama. Tapi organisasi ini bukan organisasi baru, telah terintegrasi dengan kegiatan Islam di Hungaria sejak 1987 ketika organisasi Islam pertama, Himpunan Mahasiswa Muslim didirikan.

Kami mulai sebagai organisasi yang sangat miskin berbagi tempat dengan komunitas Islam lain yang disebut Masjid Dar As-Salam. Bukanlah tugas yang mudah untuk berada di bawah atap yang sama dengan kelompok lain, sebab kami jadi bekerja dalam tempat yang terbatas dan khawatir saling mengganggu aktivitas masing-masing. Setelah beberapa waktu, kesempatan datang kepada kami untuk pindah ke bangunan lain, dengan kapasitas untuk sekitar 100 orang. Tapi jama’ah saat itu sudah tak tertampung, bahkan mulai berdesakan hingga keluar bangunan. Kami membutuhkan tempat yang jauh lebih besar.

Meminta dukungan dari negara-negara Muslim yang berbeda, alhamdulillah , kami memperoleh donator di salah satu negara Arab yang membantu kami dalam proyek ini. Jadi, kami berhasil membeli sebuah bangunan dan kami mengubahnya menjadi masjid dan diberi nama Masjid Budapest.

Masjid yang pertama kali dibuka di bulan Ramadan 2011 ini adalah sebuah bangunan besar dengan 3 lantai dan tempat parkir. Masjid Budapest dapat menampung sekitar 200 siswa sekolah Sabtu.

Sejak itu, orang-orang yang biasanya sholat di masjid berwakaf guna menutup biaya operasional masjid.

Sejujurnya, sangat sulit untuk mempertahankan seluruh oprasional masjid dengan cara ini, karena kami sedang berjuang untuk membayar banyak tagihan. Kami harus mencari donatur dari luar negeri jika ingin menerbitkan buku-buku Islam atau mengatur sebuah kamp musim panas bagi anak-anak Muslim. Jama’ah sadar bahwa menjaga masjid adalah tanggung jawab orang-orang yang beribadah di dalamnya. Sayangnya, mayoritas Muslim di Hungaria berpenghasilan di bawah rata-rata angka pendapatan nasional. Oleh karena itu, meskipun mereka berada di Uni Eropa, kebanyakan dari mereka tidak memiliki cukup uang untuk disumbangkan untuk masjid terus-menerus.

Pembatasan organisasi keagamaan oleh pemerintah

Hukum Tahun 1990 tentang kebebasan beragama adalah hukum yang sangat liberal. Ada lebih dari 300 organisasi keagamaan yang terdaftar di Hungaria, dan banyak dari mereka benar-benar tidak ada hubungannya dengan agama. Sebenarnya, banyak dari mereka berlabel organisasi bisnis.

Itulah sebabnya hukum baru diadopsi untuk memilah-milah lembaga tersebut dan itu adalah di mana perjuangan kami bermula. Lebih dari satu tahun kami berjuang untuk diterima sebagai organisasi keagamaan oleh Parlemen. Alhamdulillah, akhirnya kami berhasil mendapatkan izin resmi sebagai organisasi keagamaan.

Sekarang kami adalah salah satu dari ke-35 organisasi itu, yang disebutkan dalam undang-undang dan ditetapkan sebagai tempat ibadah yang mewakili agama-agama mapan.

Kegiatan Ummat

Selain menjalankan Masjid Budapest sebagai tempat ibadah, kami juga memiliki kamp musim panas di tempat yang berbeda dari Hungaria dan sekolah Sabtu untuk anak-anak. Kami menerjemahkan, atau menyusun buku-buku Islam dari sumber yang berbeda, karena kami tidak mengikuti salah satu sekolah tertentu atau madzhab tertentu. Setiap Sabtu, kami menawarkan kuliah tentang berbagai aspek Islam dan dari waktu ke waktu, kami menyelenggarakan kursus di topik tertentu (seperti tentang mendidik anak-anak kita, sesuai dengan ajaran Islam) dan kami memiliki kegiatan amal juga.

Kami mencoba untuk mewakili Islam dan Muslim di semua forum, seperti berpartisipasi dalam dialog antar-agama untuk mengklarifikasi kesalahpahaman orang lain seputar Islam. (adibahasan/arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/news/2014/04/05/masjid-budapest-di-jantung-eropa-tak-sekadar-tempat-ibadah.html

0 41

Sabtu, 26 Muharram 1435 H / 30 November 2013 06:38 wib

JENEWA (voa-islam.com) – Delegasi Ahwaz ikut berpartisipasi selama dua hari, Rabu dan Kamis (27-28/11/13), dalam pertemuan sesi keenam untuk urusan minoritas di Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Istana Konferensi Jenewa.

Delegasi Ahwaz tersebut bertemu dengan Pejabat Urusan Minoritas di PBB, Rita Isaac, dan Sekretaris UNPO dan memberikan laporan-laporan tentang pelanggaran HAM di wilayah Ahwaz, yang didomisili oleh mayoritas Arab.

Delegasi yang hadir dalam konferensi tersebut adalah Shaleh al-Hamid dan Amir al-Sa’idi perwakilan dari Organisasi HAM Ahwaz dan Wijdan Abdurrahman dan Muhammad Bani Said sebagai perwakilan dari Partai Solidaritas Demokrasi Ahwaz.

Dana menurut laporan Al Arabiyya net, Shaleh al-Hamid berbicara tentang penindasan dan diskriminasi yang dilakukan oleh Pemrintah Iran terhadap Ahlussunnah di wilayah Ahwaz, barat daya Iran.

Ia memberikan contoh penindasan terhadap Ahlussunnah Iran, dimana mereka dilarang melaksanakan syiar-syiar agama mereka atau mendirikan masjid yang khusus buat mereka. Dan satu-satunya Imam Masjid Ahlussunnah, Syaikh Abdul Hamid Ad-Dausury, senantiasa diasingkan ke daerah terpencil setelah dibebaskan dari penjara selama 6 tahun.

Shaleh menyebutkan bahwa ribuan warga Arab Ahwaz berpindah dari tasyayyu’ menjadi Sunni. Feneomena bertambahnya Sunni di Iran adalah disebabkan reaksi terhadap sikap Pemerintah Iran terhadap warganya dan tidak mencerminkan dengan nama Republik Islam.[usamah/imo]

Source: http://www.voa-islam.com/news/world-world/2013/11/30/27855/delegasi-ahwaz-adukan-pelanggaran-ham-pemerintah-iran-ke-pbb/

0 145

Muslimdaily.net - Tanggal 21 Oktober, 215 tahun silam, Masjid Agung Al Azhar di Kairo, Mesir, dibombardir oleh Napoleon Bonaparte. Tak kurang dari 5.000 umat Islam Mesir dibantai. Masjid Al Azhar pun porak poranda mengalami kerusakan parah. Ribuan umat Islam berguguran.

***

Pada 1798, Napoleon memimpin tentara Prancis ke Mesir. Perjalanan ke Mesir sebenarnya bukan tujuan utama pasukan Prancis. Tujuan utama mereka sebenarnya adalah ke India dan negeri timur lainnya (Asia). Namun dikarenakan Prancis saat itu bersaing dan berkonfrontasi dengan Inggris, maka Napoleon harus singgah terlebih dahulu di Mesir. Itu dilakukannya untuk mengamankan jalur armada perdagangan Prancis dari serangan Inggris.

Saat pertama mendarat di Alexandria pada tanggal 1 Juli 1798, Napoleon berpidato di depan pasukannya, “saya berjanji, setiap tentara yang kembali dari ekspedisi ini saya jamin akan memiliki uang yang cukup untuk membeli tanag seluas enam arpents (satuan luas di Prancis_red).” Napoleon menambahkan, “Masyarakat yang akan kita hadapai adalah umat Muslim. Mereka memiliki keyakinan iman bahwa ‘tidak ada Tuhan selain Allah dan Mahomet (Muhammad maksudnya_red) adalah nabi-Nya’. Jangan membuat konflik dengan mereka, perlakukan mereka seperti kalian memperlakukan orang-orang Yahudi dan orang Italia. Hormati mufti, imam-imam, dan pemuka agama mereka seperti Anda menghormati rabi dan uskup. Junjunglah tinggi toleransi yang sama untuk Al Quran, untuk masjid mereka, seperti yang Anda lakukan juga untuk biara, rumah-rumah ibadat agama Musa dan Yesus Kristus. Legiun Romawi datang untuk melindungi semua agama. Kalian di sini akan menemukan kebiasaan yang berbeda dari orang-orang Eropa, karena itu kalian harus terbiasa dengan kehidupan mereka. Mereka yang akan kita hadapi memperlakukan wanita dengan cara yang sangat berbeda dengan cara kita memperlakukan wanita di Eropa. Kota pertama yang akan kita hadapi dibangun oleh Alexander Agung. [Wikisource — Full text of the ''Déclaration du général Bonaparte au peuple égyptien'', 1798" (in (French)). Fr.wikisource.org.]

Sementara kepada rakyat Mesir yang mayoritas beragama Islam, Napoleon menyampaikan propaganda,”sudah terlalu lama mereka yang memerintah Mesir telah menghina bangsa Prancis dan menutupi pedagang mereka dalam kubangan fitnah. Satu jam hukuman mereka telah datang. Terlalu lama gerombolan budak ini (Mamluk_red), menjadi tiran di bagian bumi yang paling indah, tetapi Allah tempat semua manusia bergantung, telah menetapkan bahwa kerajaan mereka akan segera berakhir. Wahai rakyat Mesir, mereka mengatakan kepada kalian bahwa saya datang untuk menghancurkan agama kalian, jangan percaya omongan mereka itu, saya datang untuk mengembalikan hak-hak kalian, menghukum perampas, dan saya menghormati Tuhan kalian, Nabi-Nya dan Al Quran lebih dari Mamluk. Katakan kepada mereka bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Allah. Kebijaksanaan, bakat, dan kebajikan adalah satu-satunya hal yang membuat satu orang berbeda dari yang lain. Apakah ada tanah yang lebih indah? Ini milik Mamluk. Jika Mesir adalah tanah pertanian mereka, maka mereka harus memberikan sewa sebagaimana Tuhan menyerahkan tanah ini kepada mereka untuk itu. Beritahu orang-orang di sekitar kalian bahwa kami adalah Muslim sejati juga. Bukankah kami juga menghancurkan Knights of Malta? Bukankah kami juga yang menghancurkan Paus yang membuat perang terhadap umat Islam? Bukankah kami dalam setiap saat telah berteman dengan Tuhan dan musuh musuh-musuh Tuhan kalian? Tiga kali bahagia adalah mereka yang akan bersama kami! Mereka akan berhasil dalam keberuntungan mereka dan pangkat mereka. Berbahagialah mereka yang memilih netral! Mereka akan mengenal kami dari waktu ke waktu, dan bergabung dengan barisan mereka dengan kita. Tapi sungguh tidak akan bahagia, tiga kali tak akan bahagia bagi mereka yang akan mempersenjatai diri bersama Mamluk untuk melawan kami! Tak akan ada harapan bagi mereka. Mereka akan binasa. [Wikisource — Full text of the ''Déclaration du général Bonaparte au peuple égyptien'', 1798" (in (French)). Fr.wikisource.org.]

Pada tahun itu pula, dengan cepat bala tentara pasukan Napoleon berhasil menaklukkan Alexandria dan Kairo. Ia sampai di Kairo pada Rabu, 25 Juli 1798. Prancis berhasil mengalahkan kekuatan Mamluk yang semula menguasai Mesir dalam Perang Piramida. Sebenarnya wilayah Mesir merupakan bagian dari Provinsi di bawah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmani, namun secara de facto dikuasai Mamluk. Setelah menguasai Kairo, perlawanan terhadap pasukan Prancis dilakukan oleh rakyat Mesir.

Perpindahan kekuasaan dari Mamluk ke pasukan Prancis di bawah pimpinan Napoleon awalnya tidak terlalu mendapatkan gangguan dan perlawanan rakyat Mesir. Apalagi Napoleon datang tidak menghancurkan masjid-masjid dan melarang rakyat Mesir menunaikan ibadahnya. Namun, pada bulan Oktober tahun itu, tiba-tiba terjadi pemberontakan oleh penduduk Kairo yang mengejutkan pasukan Prancis. Penduduk kota menyebarkan senjata di jalan-jalan dan memperkuat benteng-benteng pertahanan terutama di Masjid Agung Al Azhar. Komandan Prancis Jenderal Dupuy tewas dibunuh. Setelah mendapatkan dukungan dari para syekh dan imam, penduduk Mesir bersumpah untuk memusnahkan semua orang Prancis -di rumah atau di jalan-. Massa penduduk Kairo berkumpul di gerbang kota untuk mendesak pasukan Bonaparte mundur dan dipaksa mengambil jalan memutar untuk masuk melalui gerbang Boulaq.

Sebuah manifesto diterbitkan dan disebar secara luas di seluruh Mesir. Seruan-seruan perlawanan dan jihad digelorakan. “Orang-orang Prancis adalah bangsa kafir, keras kepala, dan penjajah. Mereka memandang Al Quran, Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru sebagai dongeng,” demikian diantara kalimat-kalimat yang disebarkan.

Mendapat serangan yang meluas dan dalam jumlah yang besar dan mendadak, pasukan Prancis segera merespon dengan menyiapkan meriam di benteng dan menembaki penduduk Mesir yang melawan di Azhar dan daerah sekitarnya. Malam harinya, pasukan Prancis langsung pergi menghancurkan barikade-barikadi yang dibuat rakyat Mesir . Kavaleri memaksa masuk ke komplek Masjid Al Azhar dan menewaskan sejumlah orang. Penduduk Mesir berhasil dipukul mundur ke padang gurun. Setelah pasukan Prancis berhasil mengendalikan suasana, penduduk terkonsentrasi di Masjid Agung. Mereka bertahan di saa. Setelah Bonaparte mengatakan, “Tuhan terlambat, kalian sudah memulai maka sekarang saya yang akan menyelesaikan,” ia kemudian segera memerintahkan pasukan menembaki Masjid Al Azhar dengan meriam. Pasukan Napoleon berhasil merobohkan gerbang dan menyerbu ke dalam gedung, membantai rakyat Mesir yang berlindung di Masjid. Sejarah mencatat sekitar 5.000 sampai 6.000 orang gugur dan luka-luka.

Perlawanan rakyat Mesir hanya bertahan semalam. Meski sudah berhasil memobilisasi massa rakyat Mesir, mereka masih dapat dipatahkan oleh pasukan Napoleon. Dipenuhi rasa amarah, Napoleon Bonaparte langsung menangkap para penulis, propagandis, dan penyeru-penyeru perlawanan. Beberapa orang Syekh dihukum karena ikut berpartisipasi dalam perlawanan. Sebagian mereka dieksekusi. Napoleon juga menetapkan pajak yang tinggi serta membentuk sebuah komisi militer sebagai hukuman kepada rakyat Mesir.

Meski serbuan dan serangan Napoleon Bonaparte dengan pasukannya terhadap Masjid Al Azhar sangat melukai umat Islam, ada satu hal kontradiksi yang ia pernah ungkapkan tentang Islam. Pada tahun 1817 dia mengungkapkan komentarnya tentang Islam. “Saya suka agama Mohammedan (Islam_red) sebagai agama terbaik. Agama ini memiliki sedikit hal-hal tak masuk akal dari pada agama kita (Katolik Roma_red). Menurutku, Mohammaedan (Islam_red) merupakan agama terbaik dibanding yang lainnya.” [Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne, Memoirs of Napoleon Bonaparte. Scott, Webster & Geary. 1839. p. 586.]

Tim Muslimdaily.net

Referensi:

Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne, Memoirs of Napoleon Bonaparte. Scott, Webster & Geary. 1839. p. 586.
The Encyclopedia of Islam. H.A.R. Gibb E
Muqarnas, An Annual on The Visual Culture of The Islamic World. 1996
http://www.touregypt.net/hfrench.htm, June 20th, 2011, akses 21 Oktober 2013

Source: http://muslimdaily.net/artikel/santai/bulan-oktober-215-tahun-silam-masjid-al-azhar-dibombardir-pasukan-napoleon.html

0 62

lanjutan ARTIKEL Pertama

Oleh: Ady C. Effendy

Pengalaman Sejarah Hilangnya Adab

Islam telah masuk ke Asia Tenggara semenjak awal abad ke-7 M, abad ke-10 M atau ke-13 M – menurut para sejarawan lainnya, ketika para pedagang berkebangsaan Arab, Persia, dan India membawa keyakinan Islam untuk masyarakat asli nusantara. Para pedagang ini banyak dipengaruhi oleh ilmu tasawuf dan mendirikan jaringan bisnis mereka di sana, menikah dengan wanita dari penduduk asli dan membangun keluarga menurut hukum Islam. Sebagian besar penduduk asli menemukan bahwa Islam memiliki lebih banyak hal yang ditawarkan kepada mereka daripada Buddhisme atau Hindu. Ajaran Sufi dalam Islam dirasakan sangatlah menarik bagi para mantan umat Buddha atau Hindu yang mewarisi kecenderungan ruhaniah yang kuat dari kedua agama India itu. Selain itu, Islam juga mengajarkan konsep-konsep dalam interaksi sosial yang menunjukkan bahwa insan manusia berkedudukan sama di hadapan Allah SWT dan mereka hanya berbeda satu sama lain berdasarkan pada tingkat kesalehan atau umum disebut sebagai taqwa.

Kecenderungan tabiat Islam yang merakyat telah menantang sistem kasta yang sangat kaku yang ditawarkan oleh agama-agama sebelumnya, khususnya Hindu. Tidak adanya diskriminasi telah membuka secara luas kesempatan bagi para Muslim yang baru untuk berpartisipasi dalam tanggung jawab dan mendapatkan penghargaan dari pemerintah setempat. Selain itu, tersebarluasnya lembaga pendidikan tradisional yang disebut pondok pesantren, yaitu pesantren klasik yang didirikan oleh para ulama Islam traditional telah berhasil melatih siswa setempat dalam keilmuan Islam klasik. Para siswa ini, pada gilirannya, menyebarkan dakwah ke desa-desa setempat guna memperkenalkan dan menyebarkan firman Allah kepada sebagian besar masyarakat yang beragama Hindu dan Buddha di kawasan sekitar. Karena tasawuf dan madrasah tradisional tersebut, keyakinan atau iman yang baru ini menyebar secara cepat di antara populasi pengikut Hindu dan Buddha yang sudah mapan, yang secara bertahap mendorong konversi (perpindahan agama) beberapa penguasa setempat dan berdirinya sejumlah kerajaan Islam. Semua kerajaan Islam pada periode tersebut berasal dari penduduk pribumi. Oleh karena itu, penduduk tidak pernah memiliki persepsi bahwa mereka menjadi jajahan kekuatan asing Islam. Model kegiatan dakwah Islam yang lebih berupa gerakan pendidikan akar rumput juga telah menjamin dampak abadi dari dakwah Islam di Nusantara.

Adalah dibawah keadaan demikian ini, Muslim Asia Tenggara menegaskan kehadiran mereka dan menjalani kehidupan mereka yang harmonis di bawah kesultanan Islam yang berkuasa di kawasan-kawasan tertentu.

Persaingan politik di antara para penguasa Muslim, tentulah tidak bisa diabaikan, juga telah terjadi selama era tersebut. Persaingan ini, bagaimanapun, tidaklah sampai merusak Islam dan warisan tradisinya karena adanya ketaatan penguasa secara umum terhadap Syariah, penghormatan yang tinggi terhadap ulama dan warisan tradisi Islam oleh para elit yang berkuasa.

Islam dan tradisinya dilestarikan baik oleh sultan atau faksi oposisi yang menantang sultan, bahkan janji untuk melaksanakan pelestarian ajaran dan tradisi Islam secara lebih baik telah menjadi faktor pembenaran utama oleh setiap faksi oposisi untuk merebut kekuasaan politik dan memperoleh dukungan besar dari kaum muslimin.

Dalam keadaan demikian, hubungan yang harmonis antara kekuasaan dan agama berkembang melalui hubungan antara ulama dan sultan. Kesultanan dan pusat pemerintahan didirikan oleh penguasa Muslim yang mencari restu ulama untuk mendapatkan legitimasi mereka sementara pada waktu yang sama sang penguasa mendelegasikan kekuasaan kehakiman untuk ulama yang akan mendasarkan segala putusan peradilan berdasarkan hukum Islam (syariah). Berdasarkan pola hubungan ini di dalam kesultanan Islam, para ulama mampu mengoptimalkan peran mereka sebagai pendidik dan pada saat yang sama sebagai hakim Islam (qadi) dan penasihat hukum Islam (mufti) bagi sultan. Namun demikian, peranan tersebut berubah setelah penghancuran lembaga peradilan Islam oleh kekuatan kolonial seperti yang akan dijabarkan pada halaman selanjutnya.

Namun, kondisi harmonis ini berubah sepenuhnya setelah kedatangan kekuasaan kolonial Barat di kawasan Asia Tenggara selama abad ke-16 masehi.

Sebuah rentetan kekuatan kolonial Eropa mulai menduduki wilayah ini dimulai dari para penjajah Portugis, kemudian Spanyol, Belanda, dan Inggris yang menjelajahi wilayah yang diperintah oleh kesultanan Muslim dan kerajaan Hindu-Buddha.

Wilayah ini berhasil dikendalikan baik secara politik, militer dan ekonomi oleh kekuatan kolonial tersebut sampai pertengahan abad ke-20, terlepas dari kegagalan besar dalam penyebaran iman Kristen kepada penduduk asli di bumi Melayu – Indonesia yang secara bertahap masuk kedalam Islam bahkan di sepanjang periode penjajahan yang cukup lama.

Upaya kegagalan kristenisasi di dunia Melayu – Indonesia dapat ditelusuri dari beberapa alasan utama yang mencakup ketidakmampuan kekristenan secara umum untuk mengakomodasi tradisi lokal, kemauan penjajah asing untuk bekerja sama dengan para sultan Islam meskipun harus mengorbankan kerja-kerja misionaris dan kristenisasi mereka, kurangnya kemahiran dan penguasaan bahasa setempat, kekurangan pendeta untuk membina mereka yang masuk agama Kristen sehingga menyebabkan banyak dari mereka yang kembali ke agama mereka sebelumnya, dan terakhir adalah kurangnya dukungan politik dari induk kerajaan kolonial di Eropa. */bersambung

Penulis Mahasiswa S2 MA Contemporary Muslim Thought and Societies Qatar Faculty of Islamic Studies Hamad Bin Khalifa University

Source: http://www.hidayatullah.com/read/2013/10/19/6896/pengaruh-penguasa-tiran-dan-pengalaman-hilangnya-%E2%80%99adab%E2%80%99-di-kawasan-asia

0 54

Oleh Ustadz Irfan S Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

(Arrahmah.com) – PADA hari yang barakah ini, patutlah kita bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita lahir dan batin, yang menerangi hati dari kege-lapan, menuntun jiwa dari kebingungan, dan menunjuki akal dari kesesatan, sehingga kita tetap terpilih sebagai pemeluk Islam.

Shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah diutus Allah bagi seluruh alam, sebagai uswah hasanah (tauladan terbaik) bagi manusia. Nabi Muhammad adalah manusia idola sepanjang masa. Sekalipun berulangkali orang-orang kafir, termasuk pengikut aliran sesat, berusaha melecehkan beliau, tapi dengan menampilkan riwayat hidupnya saja, Islam mampu membendung segala macam penistaan dari lawannya, kapan dan di mana pun juga. Tidak ada riwayat hidup manusia, tokoh apa pun di dunia ini yang ditulis sedetail dan sejelas riwayat hidup Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam; bahkan suasana tempat tidur dengan isterinya pun terekam dalam catatan sejarah. Tidak ada aib, dan tidak ada hal yang jahat yang membuat kita malu maupun takut untuk menampilkannya. Karena itu mengikuti ucapan dan menaati perbuatan beliau merupakan amal shalih.

Rahmat Allah subhanahu wa ta’ala semoga dilimpahkan kepada para kader Islam dan anak didik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan shahabat beliau, yang sukses gemilang menciptakan sumber peradaban dunia yang tidak pernah kering dari mata air kebenaran, keadilan, kejujuran, keterus terangan dan tanggung jawab. Setiap kali mereka datang ke suatu negeri, baik sebagai da’i, pedagang, diplomat, ataupun panglima perang, adalah membawa misi untuk mentauhidkan Allah, membebaskan masyarakatnya dari kesesatan, membela mereka dari penindasan, dan melepaskan mereka dari kezaliman.

Oleh karena itu, kita ridha Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Sesungguhnya tujuan segala ibadah di dalam Islam adalah taqwallah, yang dilakukan dengan cara membersihkan jiwa dari segala bentuk kesyirikan dan meneranginya dengan dzikrullah. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)

“Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar. Dengan begitu, niscaya semua yang kalian lakukan hasilnya akan menjadi baik dan dosa-dosa kalian akan diampuni Allah. Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia memperoleh kemenangan yang sangat besar.” [Al-Ahzab, 33: 70-71]

Ibadah Qurban

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد …

Di hari ‘Idul Adha ini, tanggal 10 Dzulhijjah 1434 H ini, berjuta-juta kaum Muslimin dari segala penjuru dunia terhampar di padang ‘Arafah, menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Inilah hari besar kemanusiaan dan keimanan, yang ditandai dengan syi’ar penyembelihan hewan kurban, untuk mengenang peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah beliau menerima wahyu llahy melalui mimpi, yang memerintahkan beliau menyembelih puteranya, Ismail.

Seorang ayah yang sudah berusia lanjut, dan sedang mencurahkan kerinduan hatinya, harapan pun tertumpah pada kader muda penerus risalahnya, sekaligus putera beliau yang sedang menanjak dewasa. Dalam keadaan demikian, datanglah perintah Allah untuk menyembelih putera kesayangan dan satu-satunya itu. Sungguh ujian keimanan yang amat sukar dan berat dilaksanakan, bahkan tidak terbayangkan dari segi kemanusiaan.

Ketika Nabi Ibrahim bersiap-siap hendak menyembelih putera kesayangannya, dengan pisau tergenggam di tangan, dan Ismail pun siap menyerahkan lehernya, tiba-tiba terdengar panggilan Allah:

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)

“Maka Kami berseru kepadanya: “Wahai Ibrahim, kamu telah membenarkan mimpimu. Sungguh Kami akan memberi pahala kepada orang-orang yang beramal shalih.” Sungguh perintah Allah kepada Ibrahim itu merupakan satu ujian keimanan yang sangat jelas. Kami ganti Ismail dengan seekor domba yang sangat besar.” [Ash-Shaffat, 37: 104-107]

Ibrahim ‘alaihissalam, bapak para Nabi itu sadar, ternyata Allah Yang Maha Rahman sedang menguji keimanannya. Apakah rasa sayang dan kecintaan kepada putera lelakinya, menghalanginya untuk menaati perintah Allah? Tekadnya bulat, tidak ada kebimbangan maupun keraguan, perintah Allah wajib dijalankan apapun resiko serta pengorbanan yang mesti diberikan. Nabi Ibrahim, akhirnya lulus menghadapi ujian Ilahy.

Keikhlasan dan kepasrahan Nabi Ibrahim dalam melaksanakan syari’at Allah sekalipun dengan mengorbankan harta, jiwa, bahkan putera kesayangannya. Dan kesetiaan Ismail untuk menaati ayahandanya dalam rangka melaksanakan Syari’at Allah, walau harus menyerahkan nyawanya sendiri, terpancar melalui pernyataan spektakuler dan inspiratif berbasis tauhid.

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102)

“Ismail berkata: “Wahai ayahku tersayang, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.” [Ash-Shaffat, 37: 102]

Kronologi sejarah ‘Idul Qurban ini merupakan peristiwa agung yang memantul dari keteguhan iman, kerendahan hati, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah Rabbul Alamin. Dan balasan Allah subhanahu wa ta’ala atas ketaatan mereka berdua sungguh menjadi dambaan setiap orang beriman. Mereka dianugerahi kemampuan mengalahkan hawa nafsunya demi mematuhi perintah Allah. Selain itu, mereka berdua mendapatkan pujian dan keridhaan Allah, mengangkat derajatnya serta memberikan syafaat bagi keturunan yang mewarisi pola hidup tauhid yang beliau dakwahkan.

Peristiwa bersejarah ini mengandung pelajaran, bahwa anak yang shalih dan shalihah hanya dapat lahir dari keturunan dan lingkungan keluarga yang shalih juga, sekalipun selalu ada pengecualian. Laksana pepatah, “daun jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.”

Lebih dari itu, peristiwa ini mengajarkan kita bagaimana menjadi hamba Allah yang taat dan patuh melalui pengamalan Syari’at-Nya. Menjalankan perintah Allah dengan ikhlas, dan rela berkorban harta bahkan nyawa, itulah totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail ‘alaihimassalam.

Sekiranya umat Islam dewasa ini, mengamalkan Syari’at Allah menauladani kepatuhan dan kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam, niscaya umat Islam akan dianugerahi kemenangan menghadapi musuh-musuhnya, ditinggikan derajatnya serta dinampakkan kemuliaan di hadapan lawan-lawannya.

Namun apa yang terjadi di kalangan umat Islam sekarang? Munculnya tokoh-tokoh agama Islam yang menggunakan lisannya, bukan saja untuk merusak citra Islam di mata orang kafir, tapi juga menjadi kontributor orang kafir untuk merusak citra Islam di mata orang Islam sendiri. Mereka mencerca ajaran jihad sebagai terorisme, menganggap busana jilbab bagi Muslimah sebagai Arabisme, bahkan menolak formalisasi Syari’at Islam di lembaga Negara dan menganggapnya sebagai sektarianisme. Dengan pemahaman seperti itu, mereka mengadili ajaran Islam menggunakan parameter demokrasi dan memvonis perbuatan umat Islam berdasarkan UU HAM.

Segala kebaikan ajaran Islam, seakan hanya absah, bisa diterima bila mendapat rekomendasi demokrasi dan lolos sensor dari kontrol hak asasi manusia (HAM). Tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang percaya, bila menginginkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tercapai, kita harus menjalankan demokrasi secara sempurna. Masih ada yang percaya, perekonomian Indonesia akan maju bila kapitalisme global yang menghalalkan riba dan menjual barang haram menjadi sistem perekonomian Negara. Kata mereka, kemajuan teknologi dan kesejahteraan Negara hanya bisa diraih bila menggunakan sistem hidup yang tanpa embel-embel agama, seperti di Amerika dan Eropa.

Mengapa mereka selalu berfikir negatif terhadap agamanya sendiri? Mengapa umat Islam bersikap apriori terhadap Islam, lalu memilih dan memilah manakah dari ajaran Islam yang bisa dilaksnakan tanpa menyinggung rasa kemanusiaan masyarakat, dan tidak dianggap radikal oleh orang kafir. Mereka mencoba merevisi ajaran Islam agar sesuai dengan semangat toleransi ala barat dan tidak bertentangan dengan HAM versi imprialis.

Pada gilirannya, ajaran Islam yang paripurna dan mulia itu malah dibonsai oleh umatnya sendiri. Lihatlah akibatnya, di hadapan orang-orang kafir, bobot umat Islam semakin ringan. Ibarat buih yang mengapung di atas permukaan gelombang, mudah dipermainkan dan diadu domba orang kafir. Tidak percaya diri dengan Islam menyebabkan kaum Muslimin mudah ditaklukkan di banyak sektor kehidupan: politik, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Padahal orang-orang kafir di barat maupun timur, Amerika maupun Eropa, yang mempropagandakan paham demokrasi, selalu mengancam eksistensi umat Islam. Jika mereka memasuki negeri kaum Muslimin, baik sebagai diplomat, tentara maupun pengusaha, adalah untuk menjajah rakyatnya, mengeksploitasi kekayaan alam, menghancurkan moral, dan menghinakan masyarakat yang mulia di negeri itu. Persis intimidasi AS dengan pendekatan stick and carrot: “Jika kalian mengikuti cara hidup kami, akan kami beri dolar, tapi bila kalian melawan dan menolak misi kami akan kami kirimkan rudal.”

الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد …

Inilah potret dan realita sejarah tatkala kaum kafir dan musyrik menghadapi umat Islam:

لَا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ (10)

“Kaum musyrik tidak mau memperhatikan hak ikatan kekerabatan dengan seorang mukmin sedikit pun, walaupun telah diadakan perjanjian. Mereka itu adalah orang-orang yang suka melanggar perjanjian.” [At-Taubah, 9: 10]

Pada masa awal Islam, orang-orang yang memeluk Islam amat dibenci oleh masyarakat Arab Jahiliyah, bahkan diperangi dan diputus hubungan kekeluargaan. Apabila dalam posisi kuat dan menang, orang-orang kafir dan musyrik selalu menindas orang Islam, memperlakukannya secara biadab dan tidak manusiawi. Dan setiap kali mengadakan perjanjian dengan orang Islam, pasti orang-orang kafir berkhianat dan melanggar perjanjian tersebut.

Apakah potret sejarah masa lalu yang telah lama tenggelam dalam kegelapan, sebagaimana diinformasikan Al-Qur’an, hanya dilakukan oleh orang-orang Arab Jahiliyah, Romawi maupun Persia? Ternyata tidak. Realita sejarah kegelapan itu menginspirasi penguasa sekuler di zaman modern ini.

Pemusnahan biadab dan terkutuk yang dilakukan para penganut paganisme Budha di Rohingya, Burma, terhadap penduduk minoritas Muslim merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Mereka tidak peduli dengan hubungan kemanusiaan sesama masyarakat Burma. Begitu pula, perlakuan kaum Syi’ah yang bersekongkol dengan komunis di Suriah. Sedemikian biadabnya bahkan setanpun tidak akan bertindak sekejam itu.

Tragedi kemanusiaan yang menimpa Mesir, penangkapan besar-besaran terhadap anggota Ikhwanul Muslimin pasca penggulingan kekuasaan Presiden Muhammad Mursi di Mesir, 3 Juli 2013, adalah contoh warisan sejarah masa Fir’aun. Kekuasaan Mursi hanya bertahan kurang dari setahun, karena rongrongan dari pihak Kristen Koptik bersekongkol dengan militer yang di dukung Amerika dan zionis. Padahal Muhammad Mursi menjadi Presiden Mesir hasil pemilu demokratis.

Terdapat kerjasama antara komunisme, salibisme, liberalisme, paganisme dengan penguasa-penguasa sekuler yang sedang melakukan pemusnahan terhadap gerakan Islam. Mereka saling membantu berupa uluran tangan persahabatan dan dana untuk mengkhianatai perjanjian yang disepakati.

Korelasi Haji dan Kehidupan Sosial

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد …

Menyaksikan segala fenomena ini, banyak orang bertanya-tanya. Di negeri yang subur makmur, terdiri dari puluhan ribu pulau, dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Masjid-masjidnya indah bertebaran di seluruh pelosok negeri, pesantren dan perguruan tinggi Islam ribuan jumlahnya. Ulama, kyai, muballigh bergelar profesor, doktor, bahkan santri penghafal Qur’an begitu banyak, jauh lebih banyak dari artis sinetron atau penyanyi dangdut. Mereka berdakwah melalui TV, media massa. Para kyai dan ulama yang tadinya hanya mengelola pesantren, kini banyak yang menjadi anggota legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Mengapa segala fasilitas kebaikan ini tidak memberi pengaruh positif bagi bangsa Indonesia? Laju kemungkaran, narkoba, pornoaksi di satu sisi; kemiskinan, bencana alam, penyakit epidemi, seakan telah menjadi kekayaan bangsa ini. Kriminalitas dan dekadensi moral terus saja menghantui kehidupan generasi muda. Tindak pidana korupsi, sekalipun ada UU anti korupsi dan ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tapi koruptor seakan tak habis-habisnya diberantas. Subhanallah!

Apa sesungguhnya yang terjadi pada masyarakat kita? Setiap tahun tidak kurang dari 200 ribu orang berangkat naik haji ke Baitullah, Makkah al-Mukarramah. Mereka yang masih memiliki akal sehat tentu bertanya-tanya, mengapa semakin banyak manusia Indonesia pergi menunaikan ibadah Haji, baik rakyat maupun kalangan pejabat, ternyata belum berpengaruh positif bagi perbaikan dan peningkatan kehidupan sosial rakyat negeri ini?

Al-Qur’anul Karim memberikan jawaban yang mencengangkan atas pertanyaan di atas, dengan mengungkapkan karakter masing-masing jamaah haji. Terdapat dua golongan manusia yang menunaikan ibadah haji. Satu golongan yang hanya mementingkan kehidupan dunia. Ibadah Haji dimaksudkan hanya sebagai kebanggaan, ajang mencari popularitas dan kemegahan dunia. Mereka sibuk hanya dengan urusan dunia, hingga terpancar dalam do’anya kepada Allah.

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200)

“Ada orang-orang yang ketika wukuf di Arafah berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berilah kami kesenangan di dunia.” Orang semacam ini kelak di akhirat tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun.” [Al-Baqarah, 2: 200]

Inilah contoh manusia yang selalu ada pada semua generasi dan semua tempat. Persepsi sebagian besar umat Islam tentang haji, hingga sekarang masih seperti orang-orang jahiliyah dahulu. Banyak para pejabat, tokoh politik, anggota DPR, MPR berulangkali pergi haji atau umrah dengan maksud sekadar wisata rohani. Ada juga artis, penyanyi atau hartawan muda pergi haji guna memohon kesuksesan usaha, naik pangkat, mencari jodoh, dll. Karena tujuannya hanya duniawi, maka seringkali mereka tidak peduli darimana mereka mendapatkan harta untuk pergi haji. Apakah dari harta yang halal atau haram, apakah dari usaha maksiat ataukah usaha yang benar, apakah hasil korupsi dan dari jual beli barang haram, tidak dipedulikan lagi.

Golongan kedua, adalah orang yang beribadah haji untuk mencari keridhaan Allah, sehingga lebih luas cakrawala pandangannya dan lebih besar jiwanya. Mereka berdo’a kepada Allah untuk kebaikan nasibnya di dua negeri (dunia dan akhirat):

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201)

“Ada juga orang yang ketika wukuf di Arafah berdo’a: ‘Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.” [Al-Baqarah, 2: 201]

Orientasi ibadah golongan kedua ini lebih jauh jangkauannya. Ia menginginkan kebaikan di dunia tanpa melupakan nasibnya di akhirat. Apabila seseorang melakukan ibadah haji hanya untuk tujuan yang bersifat duniawiyah belaka, dan melupakan nasib akhiratnya, maka tidak ada bedanya dengan hajinya kaum jahiliah.

Ibadah haji yang tidak mendorong seseorang untuk berubah supaya lebih ta’at kepada Allah, tidak meningkat amal kebajikannya berarti belum memenuhi fungsi ibadah untuk taqarrub ilallah. Ibarat pepatah: “Ontanya Nabi Musa naik Haji, pulangnya tetap saja seekor onta”. Tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik.

Maka, penting bagi kita untuk mengingatkan kaum Muslimin yang memiliki kelebihan harta dan berkesempatan untuk haji agar meluruskan niat, akan menjadi golongan yang mana diantara dua golongan jamaah haji itu? Dan terutama mereka yang sudah bergelar Haji dan Hajjah, agar mereka menjadi pelopor kebajikan di wilayah tempat tinggal mereka masing-masing, untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Introspeksi

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد …

Kini, saat kita bersimpuh di haribaan Ilahy, dan beberapa bulan lagi kita akan memasuki tahun baru dan bersiap-siap menghadapi Pilpres 2014. Negara kita menghadapi begitu banyak persoalan hidup, dengan berbagai kejadian serta pengalaman yang memedihkan, seakan kita sedang berdiri di tepian jurang, pada malam gelap gulita. Bangsa Indonesia, tengah menuai akibat dari kelakuan manusia-manusia tidak bermoral, ingkar dan tidak tunduk pada aturan Allah dalam menyuburkan bumi dan mengelola pemerintahan negara.

Kualitas sebuah negeri ditentukan oleh kualitas mayoritas penduduknya, bukan oleh kondisi golongan minoritasnya. Nagara-negara asing masih menilai Indonesia sebagai negeri ‘terbelakang’ karena mayoritas penduduknya umumnya masih miskin, menjadi TKI dan TKW, sedang pendidikan rata-rata setingkat SD, dan kesehatan masyarakatnya rendah.

Sungguh memperihatinkan. Dalam pengelolaan bangsa dan negara, posisi umat Islam kian lemah, terpinggirkan, dan panggung kekuasaan berpindah-pindah dari tangan penguasa yang satu kepada penguasa lainnya, semuanya menolak Syari’at Islam. Memang benar, pejabat negara, menteri, termasuk anggota partai berbasis agama, nasionalis maupun sekuler, mayoritas beragama Islam. Akan tetapi keadaan mereka seperti firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ (204) وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (205)

“Wahai Muhammad, ada orang-orang yang jika berbicara tentang kehidupan dunia ini mempesona kamu. Orang itu bersumpah dengan nama Allah bahwa dia mencintai Islam, padahal sebenarnya dia sangat keras mengingkari kebenaran Islam. Wahai Muhammad, apabila orang itu berpisah dari kamu, dia melakukan perbuatan-perbuatan dosa, merusak pertanian dan peternakan. Allah tidak menyukai perbuatan-perbuatan dosa semacam itu.” [Al-Baqarah, 2: 204-205]

Ayat ini membongkar identitas dan jiwa aportunis manusia. Banyak di antara tokoh Islam yang lihai berbicara tentang ajaran Islam dan mempesona pendengarnya, seolah-olah dia pembela Islam. Mereka meyakinkan masyarakat tentang ketulusan dan kebaikannya, padahal hatinya penuh dengan kedengkian, culas dan menentang Islam. Mereka merajut dusta, sehingga berbeda omongan dan fakta. Padahal mereka punya kesempatan dan otoritas di pemerintahan untuk meninggikan Islam, tapi tidak dilakukan. Bahkan mereka menjadi penentang berlakunya syari’ah Islam di lembaga negara.

Kaum munafik pandai memoles diri dengan kata-kata. Di depan orang Islam nampak lebih Islami dari orang Islam lainnya. Sebaliknya di depan orang kafir, dia lebih berani memusuhi Islam daripada orang kafir. Mereka memuji kebaikan Islam, tapi diajak memperjuangkan Islam tidak mau. Mereka mengkritik kebobrokan sistem komunis dan kapitalis, tapi diajak melaksanakan sistem Islam mereka menolak. Inilah hasil bimbingan setan, mereka kehilangan akal sehat dan terjauh dari rahmat Ilahi.

Sejak awal kemerdekaan para ulama dan politisi muslim menawarkan jalan selamat dengan menerapkan Syari’at Islam, tapi selalu diabaikan. Kaum nasionalis sekuler malah menerima ‘petunjuk’ orang kafir dalam segala urusan. Akibatnya, negeri ini terjerumus pada kesesatan, syirik dan berbagai kejahatan yang hanya merisaukan kehidupan dan merusak pergaulan. Keadaan mereka seperti firman Allah:

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ (206)

“Jika ada orang yang mengingatkannya: “Takutlah kamu kepada Allah” maka orang itu dengan congkak meneruskan perbuatan dosanya. Cukuplah baginya neraka Jahanam. Adapun neraka Jahanam adalah tempat tinggal yang sangat buruk.” [Al-Baqarah, 2: 206]

Bila mereka diminta untuk beragama Islam secara kaffah, mereka berdalih negeri kita adalah negeri pluralis, menghormati semua keyakinan agama. Tapi giliran diminta supaya hukum di Indonesia juga diberlakukan prinsip pluralis, mereka menentang dengan keras. Jika konsekuen dengan paham pluralisme, maka di Indonesia seharusnya tidak hanya berlaku satu macam hukum, tapi semua macam hukum berhak untuk dijalankan sesuai aspirasi kelompok masyarakat yang menuntutnya. Tapi, bila kita menuntut hal semacam ini, kelompok nasionalis yang bangga dengan bhinneka tunggal ika menuduh lawannya sebagai anti NKRI, memaksakan kehendak, politisasi SARA dan sebagainya.

Namun demikian, menghadapi penolakan pengamalan syari’at Islam, harus dilakukan secara cerdas. Jangan bereaksi menggunakan filsafat korek api. Punya kepala tetapi tidak punya otak. Setiap kali terjadi gesekan kecil, korek api itu langsung terbakar dan membakar. Kita memiliki kepala dan otak, karena itu jangan bereaksi seperti korek api, mudah dibakar dan diadu domba oleh orang kafir. Umat Islam jangan disibukkan dengan fanatisme sektarian, lebih senang berkelahi dengan sesama Muslim dan membiarkan musuhnya menghancurkan rumah Islam.

Marilah kita muhasabah, meluruskan aqidah dan memperbaiki akhlak, sekaligus koreksi total atas dosa serta kesalahan yang selama ini kita lakukan. Momentum Idul Adha kita jadikan kesempatan untuk instrospeksi. Jadikan segala tantangan sebagai saksi atas segala ikhtiar perjuangan yang kita lakukan.

Kita memang tidak dapat mengubah arah angin, tetapi bukankah kita dapat mengatur layar perahu ke arah tujuan kita berlayar? Mari kita ber-Islam tidak dengan retorika, tetapi dengan mengamalkan tuntunan Islam secara kaffah, baik dimensi pribadi, keluarga, bangsa dan negara, demi terwujudnya Indonesia yang sejahtera dalam bingkai kemanusiaan yang adil dan beradab. Untuk itu renungkan, perhatikan, dan laksanakan firman Allah ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)

“Wahai kaum mukmin, ikutilah syari’at Islam itu seluruhnya. Janganlah kalian mengikuti bujukan-bujukan setan. Sungguh setan itu adalah musuh kalian yang nyata-nyata merugikan kalian.” [Al-Baqarah, 2: 208]

Munajat

الله أكبر ، الله أكبر، الله أكبر ، ولله الحمد …

Mengakhiri khutbah ini marilah kita berdo’a dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan menjernihkan fikiran, semoga Allah memperkenankan do’a hamba-Nya yang ikhlas:

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بِهِ بَيْنَتَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَاتُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَآئِبَ الدُّنْياَ . اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَاأَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلاَتَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا ، وَلاَتَجْعَلِ الدُّنْياَ أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَمَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَتُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا . اَللَّهُمَّ الْعَنِ الْكَفَرَةَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ ، وَيُقَاتِلُوْنَ اَوْلِيَآءَكَ . اَللَّهُمَّ اَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ ، وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَاَبْصَارِنَا وَقُلُوْبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ . وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ .

Ya Allah, ya Tuhan kami, bagi-bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yangdapat kiranya menghalangi antara kami dan ma’siat kepada-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu apa yang sekiranya dapat menyampaikan kami ke surga-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu dan demi suatu keyakinan yang kiranya meringankan beban musibah dunia kami.

Ya Allah, ya Tuhan kami senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembela kami terhadap orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami dari menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau jadikan musibah kami mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami.

Ya Allah, laknatilah orang-orang kafir ahli kitab dan orang-orang musyrik yang menghalang-halangi jalan-Mu, mendustakan Rasul-rasulMu, dan membunuh kekasih-kekasih-Mu

Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan dan entaskanlah kami dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Jauhkanlah kami dari kejahatan yang tampak maupun tersembunyi dan berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, hati-hati kami dan isteri-isteri serta anak keturunan kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkaulah yang maha pengampun lagi Maha Penyayang. Shalawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahli keluarga serta sahabat-sahabat beliau semuanya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

(Ukasyah/arrahmah.com)

Source: http://www.arrahmah.com/rubrik/khutbah-idul-adha-1434-meluruskan-motivasi-qurban-haji.html